Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
41. Jadilah Penurut


__ADS_3

”Kamu, untuk apa kamu ke sini?” tanya Rita menatap Eric kesal.


”Maaf Tante, jika kedatanganku tidak diharapkan,” ucap Eric merasa tidak percaya jika Rita mamanya Hana masih ketus padanya.


”Aku mau minta tolong sama Tante,” ucap Eric dengan wajah memelas tentu saja Rita dan Alvin pun seakan terhipnotis oleh sikapnya.


”Memangnya apa yang terjadi?” tanya Rita.


”Aku sedang dalam keadaan yang buruk Tante, aku baru dipecat beberapa hari yang lalu dan sekarang aku nganggur tanpa pemasukan. Eric mohon sama Tante untuk membujuk Hana agar dia mau bicara dengan suaminya,” jawab Eric.


”Baru juga beberapa hari belum sebulan ataupun berbulan-bulan,” sahut Alvin kesal.


”Lagian kenapa masih ingat kita sih Mas, bukannya Mas Eric sendiri yang udah ngebuang Kak Hana. Tolong deh Mas, jangan buat huru hara lagi memangnya Mas Eric gak capek apa?” sambung Alvin.


”Maafkan aku jika kedatanganku tidak diharapkan tapi tolong pertimbangkan baik-baik permintaanku Tan, karena aku benar-benar butuh dana besar buat kelahiran anakku nanti.”


Mendengar hal itu Rita merasa kasihan pada Eric. ”Tante gak janji bisa membantumu tapi akan Tante coba bicara sama Hana soal keputusannya nanti Tante rasa bukan sepenuhnya diputuskan oleh Hana melainkan Malik jadi maaf jika nanti keputusannya tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan.”


”Makasih Tan, ku udah benar-benar buntu karena dimana-mana lamaran ditolak dan lagi belakangan lowker memang lagi sepi,” jelas Eric.


”Makanya jangan macam-macam kau pikir hanya kau apa yang paling keren, bersyukur kakakku bisa terbebas darimu,” lirih Alvin masih terdengar di pendengaran.


"Alvin, sebaiknya kau segera berangkat ke kampus bukankah kau ada kelas jam sepuluh,” ucap Rita.


”Kalau begitu aku permisi dulu Tante, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam,” jawab Rita.


Eric pergi meninggalkan rumah Hana dengan senyuman mengembang di wajahnya dia sangat yakin jika rencananya kali ini akan berhasil bisa kembali bekerja dan tidak lagi diremehkan oleh Ayu istrinya.


”Mama kok percaya banget sama dia, bisa saja kan itu hanya akal-akalan dia saja apalagi dia sudah melukai Kak Hana kok Mama masih mau aja dikibuli sama pria itu,” ungkap Alvin tidak dapat menahan Kekesalannya itu.


”Sudah jangan su'udzon sama orang barangkali dia memang benar-benar butuh pekerjaan bukankah lebih baik memaafkan daripada menyimpan dendam bikin tubuh jadi lebih banyak aura negatifnya. Mama yakin Hana kakakmu juga tidak akan sepenuhnya bisa membantu karena bagaimanapun keputusan mutlak di tangan Malik suaminya,” jelas Rita.


”Mama benar, ya udah Alvin ke kampus dulu nanti telat lagi.” Alvin mengulurkan tangannya salim ada Rita.


”Hati-hati ya, jangan ngebut dan ingat jangan berpacaran kalau sedang ada kelas!" seru Rita.


”Baik Mama ratu!” teriak Alvin memakai helmnya dan segera menyalakan mesin motor sportnya.


”Hem, anak muda jaman sekarang memang luar biasa,” gumam Rita.


***


"Bagaimana Dok?” tanya Malik pada Dokter Wira yang merupakan Dokter keluarganya Malik.

__ADS_1


”Kita lakukan tes darah lagi ya, Emil Sayang Om mau minta darahnya dikit aja boleh ya?” pinta Dokter Wira membujuk Emil.


”Itu sakit Dok, tolong jangan lakukan itu lagipula aku sudah sehat kok,” ucap Emil menahan sakitnya dia tidak mau kembali ke rumah sakit.


”Kamu jangan khawatir Sayang, ada Mama di sini yang akan menemani Emil. Lakukan saja Dok, nanti biar saya yang akan menghandle Emil,” ucap Hana.


”Sini Sayang, duduk di sini,” pinta Hana ada Emil agar bocah itu duduk di pangkuannya.


Dokter Wira pun menyiapkan alat-alatnya mengambil sample darah Emil. ”Tenang Sayang, tidak aka sakit ada Mama di sini yang akan jagain kamu,” bisik Hana membuat Emil sedikit tenang dan benar saja Emil meringis manakala jarum menembus kulitnya.


”Sudah selesai Nak, tidak sakit kan?”


Emil menggelengkan kepalanya, "Tapi jangan bawa Emil ke rumah sakit ya Dok, karena Emil sebentar lagi akan masuk sekolah.”


Dokter Wira menggelengkan kepalanya, ”Jika kamu sehat gak akan pergi ke rumah sakit lagi kok jadi jangan khawatir banyak-banyak berdoa ya.”


”Pak Malik kita bicara di luar saja,” ucap Dokter Wira.


”Baik silakan.”


Malik mengikuti langkah Dokter tersebut keluar kamar Emil menuju ruang tengah.


”Sepertinya ini baru gejala, tapi sebaiknya kita berdoa semoga semua baik-baik saja," ucap Dokter Wira.


”Saya permisi dulu jika ada sesuatu yang mendesak jangan sungkan untuk menghubungi saya, InsyaAllah saya standby setiap saat baik di rumah maupun rumah sakit.”


”Terima kasih banyak Dok,” ucap Malik.


Selepas kepergian Dokter Wira giliran Bik Surti yang cemas karena keadaan Emil.


”Bagaimana Pak Malik apakah Den Emil baik-baik saja?”


”Doakan yang terbaik ya Bik, semoga hasil lab-nya negatif dan Emil hanya sakit biasa ada umumnya.”


”Bik Surti istirahat saja dulu, Emil biar diurus Hana lagipula dia sekarang juga sedang rebahan di kamarnya,” sambung Malik.


”Baik, jika ada apa-apa jangan sungkan panggil saya Pak Malik, saya mungkin ada di kebun belakang bersama Tejo.”


Malik mengangguk dan kembali ke kamar Emil. ”Bagaimana keadaannya?”


”Dia sudah istirahat kok mungkin karena pengaruh obat juga.”


”Abang mau makan?” tanya Hana melihat wajah Malik yang sedang tidak baik-baik saja.


”Aku suapin ya, mau?” lanjutnya.

__ADS_1


Malik tersenyum dan mengangguk.


”Aku ambilkan dulu sebentar Abang tolong jagain dia ya,” ucap Hana meninggalkan keduanya beranjak ke dapur mengambil makanan yang telah dia masak tapi belum sempat menikmatinya.


”Astaghfirullah Bik Surti ngagetin Hana saja, ada apa Bik, bukannya Bik Surti diminta Bang Malik untuk istirahat saja.”


”Saya gak bisa Non, pikiran selalu tertuju pada den Emil,” ucap Bik Surti.


”Mohon doanya saja Bik, semoga semuanya baik-baik saja.”


”Iya Non. Ini buat Pak Malik ya Non?” tanya Bik Surti.


”Iya, dia sampai tidak makan siang tadi,” balas Hana.


”Buruan Non, kasihan Pak Malik pasti sudah kelaparan.”


Hana tersenyum mendengarnya, ”Bik Surti perhatian sekali sama Pak Malik.”


”Aduh jangan cemburu deh Non, saya menghormatinya seperti anakku sendiri karena memang Nyonya Maryam memasrahkan sama saya dan sejak saat itu saya merasa dia seperti anakku sendiri.”


Hana terkekeh geli mendengar pengakuan Bik Surti lalu melangkah meninggalkannya kembali ke kamar Emil. Malik pun tersenyum senang ketika tangan Hana menyuapinya dengan telaten.


”Kamu gak capek?” tanya Malik ketika Hana membereskan peralatan makan dan membawanya ke dapur.


”Sudahlah Non, biar Bik Surti saja yang membereskannya nanti malah ikutan sakit kasihan kan nanti Pak Malik siapa yang bantuin dia nanti.”


Hana tersenyum mendengar perkataan Bik Surti. ”Ini juga sudah mulai ada tanda-tanda," balas Hana.


”Aduh jangan Non, udah sana Non Hana istirahat saja di sofa!” ucap Bik Surti menyuruh bosnya istirahat.


Hana terdiam di sofa hingga beberapa menit baru saja dia akan memejamkan kedua matanya panggilan ponselnya menyadarkannya untu tetap terjaga.


”Assalamualaikum, ada apa Ma?”


”Waalaikumussalam Na, bagaimana keadaan Emil?”


”Alhamdulillah sekarang dia sedang istirahat di kamarnya ditemani Bang Malik. Apakah papa jadi pulang hari ini?”


”Iya nanti Sofyan akan menyusul ke sini. Oh iya Na, tadi Eric ada datang ke sini.”


"Apa dia datang ke sana, ngapain Ma?”


Malik datang menghampiri Hana yang sedang terkejut di sofa.


”Siapa yang datang Sayang?” tanya Malik.

__ADS_1


__ADS_2