
”Dia itu baru saja putus cinta Bik, jadi gak mungkin saya tiba-tiba langsung nembak dia lalu mengajaknya menikah soalnya dia juga masih muda kan? Saya takut kalau ternyata dia masih ingin bebas seperti kebanyakan anak muda jaman sekarang, misalnya jalan berduaan kemana-mana sedangkan saya sudah memiliki satu orang anak,” ungkap Malik.
”Ya ampun Pak Malik, jangan memikirkan soal itu saya melihatnya berbeda Pak, dia lebih dewasa dan keibuan tadi dia mengaku baru dua puluh empat tahun rasanya gak percaya saya kira dia sudah dua puluh delapan gitu,” jelas Bik Surti.
”Setua itu?”
”Bukan tua Pak Malik, tapi wajahnya itu terlihat sudah dewasa sudah faham tentang kehidupan itu sih intinya.”
”Emil juga sayang sekali sama dia,” ungkap Malik.
”Nah, yang penting itu Emil mau menerima dia karena nanti selain jadi istrinya Pak Malik, dia juga langsung jadi ibu buat Emil. Ayo gaskeun Pak, apa Nyonya besar sudah tahu soal ini?” tanya Bik Surti.
Malik hanya mengangguk pelan.
”Beliau kasih restu gak?” tanya Bik Surti.
”Iya.”
”Nah tunggu apalagi?” seru Bik Surti bersemangat.
”Sudah keluar sana Bik, kepalaku kok jadi sakit mendengar keluhannya Bik Surti.” Bukannya marah Bik Surti justru terkekeh ucapan Malik.
Malik memijat pelipisnya apa yang diucapkan oleh Bik Surti memang ada benarnya juga tapi apakah Hana akan menyambut niat baiknya sedangkan Hana pasti masih trauma dengan kejadian yang menimpanya.
Bukannya bekerja Malik justru memikirkan sosok Hana dengan segera dia bangkit dan menuju ke kamar putranya.
”Loh Emil?” Malik tampak kebingungan melihat Hana baru saja keluar dari kamar putranya.
”Dia baru saja tidur Pak Malik mungkin karena hujan dan lagi hawa dingin mendukung jadi dengan mudah dia terlelap,” jelas Hana.
”Terima kasih ya,” ucap Malik.
”Untuk apa?”
”Karena sudah menemaninya beberapa terakhir belakangan ini, dia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya itu yang membuat saya ikut senang.”
”Sama-sama Pak Malik,” sahut Hana.
”Oh iya mengenai tawaran saya tempo hari apakah kamu sudah memikirkannya?” tanya Malik.
”Tawaran yang mana ya Pak?” balas Hana.
Giliran Malik yang salah tingkah dia menggaruk tengkuknya merasa salah action. ”Tawaran saya waktu di dapur rumahmu itu,” ucap Malik.
”MasyaAllah, Pak Malik serius kirain Hana Pak Malik sedang bercanda,” ucap Hana.
”Memangnya waktu itu saya terlihat sedang bercanda gitu?” ucap Malik.
__ADS_1
”Mm, tidak sih Pak saya gak lihat itu di wajah Pak Malik.” Hana menundukkan wajahnya tidak berani menatap ke arah Malik.
”Lalu?”
”Lalu apa Pak?”
”Iya, kamu kasih jawaban apa pada saya?”
”Saya belum kasih jawaban Pak dan saya sendiri sedang kebingungan mau kasih jawaban apa buat Pak Malik.”
”Mau saya kasih saran bagaimana menjawab dengan baik?” ucap Malik dan Hana pun mengangguk.
”Kasih jawaban ’Ya’ karena itu adalah jawaban terbaik yang pernah ada.”
”Tapi Pak, saya kan juga punya hak untuk menolaknya kan?” protes Hana.
”Silakan tapi saya tetap akan memaksamu untuk menerima saya,” tegas Malik.
”Pak Malik egois dan pemaksa ya!” bisik Hana.
”Katakan apa yang mengganjal di hati kamu? Apakah tentang kejadian kemarin yang membuatmu belum bisa menerima pria lain?”
”Itu salah satunya Pak,” sela Hana.
”Apa kau begitu mencintainya?” selidik Malik.
Malik menautkan kedua alisnya. ”Setidaknya ijinkan saya mengisi kekosongan hati kamu sekarang, apakah kamu bersedia?”
Hana mengangkat wajahnya menatap ke arah Malik sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke samping Hana merasa malu karena ditatap intens oleh Malik.
”Kamu hanya tinggal kasih jawaban iya atau tidak itu saja dan saya juga tidak akan memaksamu. Setidaknya jika kau memberikan kesempatan saya akan mencobanya, mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu dan jika jawabannya tidak saya akan mencari yang lain.”
Hana meremas ujung jilbabnya berhadapan dengan Malik membuat jantungnya berkerja dua kali lebih cepat dari biasanya.
”Bagaimana?”
”Baiklah saya akan mencobanya Pak Malik,” lirih Hana.
”Maaf kurang jelas bisa sedikit lebih keras?” ucap Malik.
”Saya akan mencobanya Pak Malik,” ucap Hana menaikkan satu oktaf suaranya membuat Malik tersenyum mendengarnya.
”Nah gitu dong, saya bisa mendengarnya dengan jelas. Saya juga akan berusaha kasih yang terbaik buat kamu,” ucap Malik.
Hana merona mendengar penuturan Malik.
”Saya titip dia ya, saya akan balik ke kantor dulu ada yang harus saya selesaikan,” ucap Malik segera bangkit meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
”Oh iya terima kasih, saya akan usahakan pulang lebih cepat,” bisik Malik seraya tersenyum membuat jantung Hana kembali tidak normal.
”Duh lama-lama aku bisa jantungan dekat-dekat dengannya,” gumam Hana.
***
”Kok lama banget ke sekolahan Emil, kamu itu daftar sekolah apa daftar nikah?” sindir Faris.
”Dua-duanya,” balas Malik.
”Maksudnya Bang?” tanya Sabrina.
”Iya daftar sekolah sekaligus daftar nikah kenapa? Ada yang salah?”
”Jangan bilang Abang habis melamar Hana?” tebak Sabrina.
”Ya begitulah kurang lebihnya,” sahut Malik.
”Astaga benarkah? Satu kemajuan ini, lalu ... lalu jawabannya apa Bang?” tanya Faris.
”Kamu ingin tahu banget ya?” seru Malik.
”Iya dong kalau bosku ini punya pendamping pekerjaanku jadi ringan,” sahut Faris.
”Aku bakalan bilang ke mama kalau Bang Malik gak jujur sama kami!” ancam Sabrina itulah cara ampuh buat Malik terbuka.
”Iya baiklah, intinya dia mau mencoba membuka hatinya dan menerima apa yang sedang kami jalani saat ini,” jelas Malik.
”Alhamdulillah Sabrina ikut senang mendengarnya Bang, semoga Emil juga bahagia dapat mama pengganti kayak Hana kalau aku lihat dia sabar banget sama anak kecil dan tolong jangan kecewakan dia ya Bang jika memang Abang udah mantab sama dia,” ucap Sabrina.
”Doakan saja dia berhasil mengalahkan saingannya,” tukas Faris.
”Eh memangnya dia punya saingan siapa saingannya Bang?” tanya Sabrina.
”Udah jangan bahas dia aku sedang tidak mood ngomongin si Jaka, itu urusan belakangan yang penting sekarang Hana sudah membuka hatinya buatku saja itu sudah lebih dari cukup soal dia aku pikirkan belakangan saja ya,” ucap Malik.
”Saingan abangmu ini seorang ustadz dan dia adalah pilihan papanya Hana,” terang Faris.
”Eh, kok jadi kamu yang jelasin sama adikku?” tukas Malik.
”Lah daripada adikmu penasaran kan kasihan,” kilah Faris.
”Lalu Bang, kalau ternyata Hana pilih Mas ... mas siapa tadi, duh kok aku jadi lupa,” kesal Sabrina.
”Mas Jaka,” ralat Faris.
”Nah, kalau Hana pilih dia bagaimana?”
__ADS_1
”Sebelum itu terjadi, aku bakalan terbang ke Jogjakarta buat lamar dia jadi istriku bagaimana, apakah kalian akan mendukungnya?”