Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
46. Bakso Dari Mantan


__ADS_3

”Kau ... jualan bakso?” tanya Faris terkejut melihat Eric sedang melayaninya.


Eric terlihat cuek dan tidak begitu menanggapi Faris yang masih berdiri menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang karena kemarin siang Eric sempat ke kantor dan menanyakan perihal pekerjaan untuknya. Ternyata Eric menolak bekerja di gudang dan memilih menjadi penjual bakso keliling.


”Silakan dinikmati, tenang saja saya gak menaruh racun di dalamnya,” ucap Eric ketus melihat Emil yang duduk di sebelah Sabrina membuatnya kembali kesal karena dialah Hana sekarang berubah drastis menemukan pengganti yang lebih baik darinya kehidupannya jauh lebih terjamin daripada waktu masih bersama dirinya.


”Om, apakah kita saling kenal?” tanya Emil.


”Tidak kebetulan saja wajahmu mirip dengan musuhku,” balas Eric memalingkan wajahnya tak ingin melihat Emil yang terlihat pucat.


”Apakah dia sedang sakit?” gumam Eric.


”Emil katanya kau mau bakso tadi ayo di makan,” titah Faris.


Emil pun segera memakan bakso tersebut dengan lahap, ”Makasih ya Om, baksonya enak hampir mirip dengan masakan mamaku di rumah.”


”Ya iyalah, aku belajar dari dia,” balas Eric dalam hati.


Faris memberikan uang seratus ribuan pada Eric.


”Uang pas aja karena tidak ada kembaliannya lagipula aku baru saja keluar dari rumah dan kalian adalah pembeli pertamaku,” ucap Eric.


”Gak ada, ya udah ambil saja kembaliannya. Ayo Sayang, kita pulang mama sama papa pasti udah nungguin kita di rumah.”


Faris meninggalkan Eric yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya itu.


”Bang, sepertinya kau kenal orang tadi,” ucap Sabrina.


Faris pun mengangguk. ”Dia itu mantannya Hana dan mantan pegawainya Bang Malik tentu saja kau kenal.”


”Iya wajahnya seakan tidak asing untukku.”


”Dia itu mantan kekasih kakak iparmu.”


"Hah?”


Faris mengangguk, ”Dia itu penghianat,” bisik Faris membuat Sabrina menutup mulutnya dengan telapak tangannya kedua bola matanya membulat sempurna.


”Mbak Hana yang sempurna seperti dia masih bisa dikhianati bagaimana denganku? Awas saja jika kau selingkuh akan aku ...”


Dengan segera Faris membungkam mulut Sabrina karena Eric telah kembali duduk di dekat gerobak baksonya.


”Itu tidak akan terjadi percayalah,” bisik Faris lagi.


”Jika sudah selesai ayo kita pulang, nanti abangmu marah-marah lagi bawa Emil kelamaan di luar.”


”Ayo Sayang,” ajak Sabrina.


”Tante apakah boleh aku menambah baksonya saja buat dibawa pulang?” tanya Emil.


”Boleh, sebentar ya. Pak boleh nambah satu satu lagi dibungkus?” ucap Sabrina.


”Sebentar ya,” balas Eric segera menyiapkan pesanan milik Emil.

__ADS_1


"Ini bawa aja, salam ya buat mamamu,” ucap Eric.


”Waalaikumussalam, memangnya Om kenal sama mamaku?” tanya Emil.


"Kenal sekali, sangat kenal," jawab Eric.


"Ayo kita pulang,” ajak Faris.


"Assalamualaikum.” Faris berpamitan diikuti oleh Sabrina dan Emil.


"Kalian jangan dekat-dekat sama dia,” ucap Faris.


"Kenapa?”


”Kalau abangmu tahu kita baru bertemu dengan dia pasti dia akan marah.”


"Kok bisa begitu?”


”Ya bisalah, kan dia cemburu sama Eric.”


Sabrina memutar bola matanya malas menanggapi perkataan Faris kembali dia yakin abangnya gak bakalan cemburu pada seorang tukang bakso.


***


”Jadi harus segera ya Dok,” tanya Malik pada Dokter Wira.


”Iya benar kebetulan Dokter Stevens sedang bertugas di Singapura jadi bisa langsung bertemu dengannya,” jawab Wira.


”Baiklah jika begitu saya akan segera menyiapkan semuanya hari ini agar nanti sore bisa langsung ke sana,” ucap Malik.


”Berbohong?” Malik dan Hana saling pandang.


”Dia melarangku bicara jujur soal penyakitnya itu, karena khawatir kalian tidak jadi pergi keluar negeri,” jelas Wira.


”Astaghfirullah sebenarnya meskipun kita pergi, kita berencana ingin mengajaknya juga Dok,” ucap Hana.


”Bisa saja dia tidak ingin menganggu waktu kalian berdua maka dari itu dia memintaku untuk tidak bicara, jujur ku gak bisa kalau bohong apalagi ini menyangkut soal nyawa jika bohong sama aja saya sudah melanggar janji saya sebagai seorang Dokter.”


Malik mengangguk, ”Terima kasih Dok, saya akan langsung mengajaknya berangkat sore ini juga.”


”Baik, nanti akan saya kirimkan email ke Dokter Stevens agar mengosongkan jadwalnya ke depan.”


Malik dan Hana pun pulang ke rumah, Hana segera menyiapkan keperluan Emil selama di Singapura sedangkan Malik membereskan berkas-berkas yang dia butuhkan nantinya.


”Mama, Emil bawa bakso kesukaan mama loh,” seru Emil begitu masuk ke kamar Malik.


"Kamu jajan bakso Sayang, tadi tantemu bilang kamu mau makan bubur ayam kenapa jatuhnya makan bakso gak nyambung deh!” sahut Malik seraya menyiapkan berkas.


"Eh tapi ini baksonya enak loh, Emil yakin Mama pasti suka,” ucap Emil.


”Dimana baksonya Sayang, biar Mama coba sekarang!" sela Hana perutnya sudah mulai meronta minta diisi.


Emil menarik lengan Hana keluar menuju meja makan Malik yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


”Ini pasti Mama suka, Emil berani jamin deh.”


Hana mengambil sendok yang diulurkan oleh Emil dan mulai menyesap kuahnya. ”Bagaimana Ma, enak kan?”


Hana mengangguk, ”Beli dimana baksonya Sayang?”


”Di taman tadi tante sama om juga sempat ngobrol sama abang baksonya dan lagi abangnya titip salam buat mama katanya,” jelas Emil.


”Kok bisa? Emang dia kenal sama Mama?” tanya Hana.


”Ke-nal, Om Faris juga kenal tadi sempat ngobrol Emil lihat.”


Hana dan Malik saling pandang, ”Siapa?” tanya Malik.


Hana mengedikkan bahunya, "Mana aku tahu lebih baik tanya sama Faris saja langsung.”


”Emil nanti sore kita berangkat ke Singapura.”


"Tapi Pa, Emil masih mau bermain di sini bukankah besok senin Emil sudah mulai masuk sekolah,” kilah Emil dia bersikeras untuk tetap masuk sekolah bisa bermain dan bertemu dengan teman-temannya.


”Sayang, nanti kau juga bisa bermain bersama dengan mereka yang penting sekarang kau sembuh lebih dulu mengerti!” ucap Hana.


"Tapi Ma ... ” Hana tidak tega melihat wajah Emil yang mengiba padanya.


”Mama akan temani Emil di sana jadi jangan takut ya,” ucap Hana memeluk Emil dengan erat.


”Janji ya,” ucap Emil.


”Iya janji, Emil harus semangat ya biar cepat sembuh, sekarang Emil istirahat dulu Mama akan siapkan keperluan Emil, Papa sama Mama.”


Emil menurut dan segera masuk ke kamarnya diikuti oleh Hana dia ingin meyakinkan kembali putranya.


”Bang, apa yakin nanti sore berangkat?” tanya Sabrina menghampiri Malik.


”Iya benar, kalian mau kemana?” balas Malik.


”Pulang ajak Mama ke sini masa iya cucunya mau pergi dia gak datang,” ucap Sabrina.


”Em, tunggu sebentar."


”Tadi kalian bawa Emil ke mana, kok bisa dia bawa bakso pulang ke rumah?”


”Oh itu, em ... itu kata Faris ...”


”Penjualnya Eric, dia jualan bakso di taman ujung komplek sana pakai gerobak aku juga kaget tadi waktu tahu jika dia itu jualan bakso,” potong Faris.


”Jadi dia menolak kerja di bagian gudang?” tanya Malik.


”Bisa jadi nyatanya dia memilih untuk jualan daripada kerja terikat,” ujar Faris.


”Ngomongin apa sih kok serius banget?” tanya Hana begitu keluar dari kamarnya Emil.


"Itu mantanmu jualan bakso di taman.”

__ADS_1


”Mantanku?”


__ADS_2