Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
98. Semua itu Takdir


__ADS_3

”Kamu kok melamun aja sejak pulang dari kantor, apa sedang banyak masalah di sana?” tanya Ustadz Amir merasa khawatir dengan perilaku putrinya tersebut.


”Gak ada kok, Bi. Untari hanya sedang gak enak badan saja?” jawab Untari asal tatapannya kosong seakan tak bernyawa.


”Kalau sakit ajak ponakanmu ke Dokter, Abi gak mau kalau kamu sakit-sakitan apalagi ini di rumah orang,” keluh Amir.


Untari hanya mengangguk saja mau bagaimana lagi, dia harus menurut pada perintah sang Abi jika ingin tetap berada di Jakarta. ”Baik nanti Untari minta tolong Mas Asep buat nganterin ke Dokter Chaca.”


Untari pergi ke Dokter langganan keluarga neneknya ditemani kakak sepupunya Asep meskipun dia tak mau membuat khawatir keluarganya di Jakarta.


”Bagaimana keadaan adik saya Dok?” tanya Asep pada Dokter Chaca.


”Dia hanya terlalu capek saja apa sedang banyak masalah tekanan darahnya rendah sekali sebaiknya istirahat yang cukup dan jangan lupa minum vitamin jika ingin segera pulih. Ini resepnya tolong ditebus ya,” balas Dokter Chaca.


Sepanjang perjalanan pulang Untari hanya diam dan hal tersebut membuat Asep curiga karena biasanya adiknya ini akan cerewet sekali dan selalu membahas apapun yang dilihatnya.


”Apa sih yang sedang kamu pikirkan? Jika itu masalah yang berat kamu kan bisa berbagi cerita denganku!” seru Asep.


”Mas nikah itu enak gak?”


Asep menatap tajam ke arah Untari, ”Katakan siapa pemuda itu biar Asep kasih tahu caranya melamar anak gadis orang dengan baik, jangan malah bikin gadisnya sakit-sakitan karena menahan rindu.”


”Ya ampun Mas, jangan menggodaku ya kami hanya berteman hanya saja belakangan ini dia bersikap beda padaku, tepatnya lebih perhatian gitu.”


”Mas Asep bakal kasih tahu Lek Amir (Om Amir) nanti jika putrinya sedang jatuh cinta pada seorang laki-laki, paling tidak beliau pasti punya solusi gak mungkin anak gadisnya dibiarkan begitu saja apalagi berpacaran.”


”Jangan bilang-bilang nanti Untari kena ceramahnya Abi, Untari gak mau jangan bilang-bilang ya, please,” ucap Untari memohon pada kakaknya.


”Siapa namanya anak mana?” selidik Asep. ”Jangan ditutup-tutupi kalau bohong Asep bakal bicara kasih tahu Lek Amir (Om Amir) soal hubunganmu di luar sana.”


Untari mengigit bibirnya ternyata keputusannya untuk bicara pada Asep memang salah padahal niatnya hanya ingin berbagi, bisa jadi setelah ini Asep akan mengadu pada Abi.


”Dia anak satu kantor, Abi kenal kok orang tuanya jadi Mas Asep jangan khawatir ya!” Untari mencoba bernegosiasi dengan Asep.


”Siapa namanya, Mas Asep tuh hanya butuh namanya saja bukan rupanya ganteng atau gak, kaya atau miskin tapi apakah dia benar-benar pemuda yang baik? Jangan sampai kau tertipu seperti kebanyakan gadis-gadis yang lugu,” cecar Asep.

__ADS_1


”InsyaAllah gak akan Mas, doakan saja yang terbaik ya buat kita.”


Asep melotot mendengar kata ’kita’ yang keluar dari mulut Untari. ”Jadi kalian sudah jadian?”


***


”Bang ditunggu papa di ruang tamu,” seru Hana setelah Soleh papanya datang ke rumah. Soleh datang atas panggilan dari Malik yang sengaja akan membahas perihal Alvin adik iparnya itu.


”Tunggu dulu ya, Abang mau ke toilet dulu,” pamit Malik.


Hana menemui papanya yang sedang bermain bersama Emil. ”Kenapa gak ngajak mama sih Pa?”


”Mamamu sedang sibuk urus Alvin yang mau cek up ke Dokter, jadi papa ke sini sendiri.”


”Pa,” sapa Malik menantu kesayangan Pak Soleh.


”Ada apa kamu panggil papa ke sini?”


”Maaf mungkin kesannya kurang sopan jika Malik yang menyuruh papa datang ke sini makanya Malik katakan mengundang papa. Ada hal yang harus Malik luruskan sama papa.”


”Katakan saja jika papa bisa bantu papa akan bantu.” Pak Soleh menatap ke arah Malik berharap menantunya segera mengatakan alasannya meminta dia datang.


”Bukan soal penting sih kalau menurut Malik tapi karena sudah pernah kejadian dan bukan maksud Malik untuk ikut campur masalah pribadi seseorang. Apa benar Alvin suka dengan Untari?”


Pak Soleh tertawa seketika mendengar penuturan Malik. ”Papa kira ada masalah penting sekali, anak itu sama sekali tidak bicara apapun padaku maupun sama mamamu jadi kita kurang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.”


”Oh begitukah.” Malik mengangguk singkat.


”Iya, apakah di kantor dia macam-macam? Untari itu adiknya Ustadz Jaka, pria yang dulu hampir saja papa nikahkan sama Hana. Kami kenal baik sama Ustadz Amir beliau tokoh masyarakat di kampung kami dan papa rasa Alvin gak mungkin macam-macam sama dia.”


”Syukurlah jika demikian,” ucap Malik bernafas lega.


”Boleh Hana tanya sesuatu Bang?” Hana ijin bertanya pada Malik dia tak ingin dikata tidak sopan karena telah memotong pembicaraan keduanya.


”Apa Sayang, katakan saja!”

__ADS_1


Hana mengambil nafas lebih dulu sebelum banyak mengucapkan kata. ”Kenapa Abang begitu peduli dengan Alvin, bikin Hana curiga saja!”


”Astaghfirullah, jangan begitu berpikirlah luas jangan asal negatif thinking menilai seseorang. Abang jelaskan ya, point pertama yang harus kamu ingat dia itu bagian dari keluargaku juga, Abang gak mau dong jika dia kenapa napa kan aku ikut kena imbasnya.”


Hana tampak berpikir memahami perkataan suaminya.


”Point kedua dia itu bekerja di perusahaan yang aku pimpin, dia itu karyawan ku jika terjadi sesuatu dengan dia dan dia tidak dapat bekerja siapa yang rugi? Abang dong! Kamu gak ingat tempo hari, Alvin kecelakaan. Hanya karena dia putus cinta Sayang, coba jika Alvin gak mengenal gadis itu maka kecelakaan itu takkan pernah terjadi. Kamu juga ikut repot kan antar jemput anak-anak ke sekolah dan kantor dan yang membuat Abang lebih khawatir lagi takut mereka kebablasan, udah itu aja.”


”Bang, Hana kasih tahu ya semua itu adalah takdir jadi apapun yang telah dilewati kita harus ikhlas,” papar Hana.


Hana merasa bersalah karena telah berbicara seperti itu pada Malik, pasti Malik mengira jika saat ini Hana tidak mendukungnya.


”Jangan gitu Bang, tolong jangan salah paham ya,” pinta Hana. Malik hanya mengangguk dan mencoba tersenyum dia mengaku kalah soal ilmu agama Hana istrinya lebih faham dan karena itu juga merupakan salah satu alasannya memilihnya.


”Maafkan Abang ya, jujur Abang terlalu mengkhawatirkan kalian semua.” Hana pun memeluk Malik erat.


”Papa pulang ya, ini harus ke rumah sakit jemput mama sama Alvin,” pamit Soleh.


”Kirain ada apa sampai panggil-panggil papa segala,” keluh Hana.


”Ya ampun Sayang, Abang tuh lihat sendiri jika Alvin sedang merayu Untari masa Abang bohong sama kamu kalau gak percaya tanyakan saja sama Faris dia yang jadi saksi mata.”


”Tuh ponselnya bunyi!” seru Hana menunjuk ke ponsel milik suaminya.


”Hallo ada apa?”


”Bisa ke rumah sakit sekarang Bang! Sabrina kayaknya mau melahirkan deh tolong ya aku gak ada teman nih.”


Malik dan Sabrina saling pandang karena tindakan Faris yang heboh dengan kelahiran anaknya.


”Segera susul dia kasihan Bang, bukankah mama sedang tidak ada di rumah!”


Tanpa pikir panjang lagi Malik segera keluar rumah setelah berpamitan pada Hana. Jika saja mamanya di rumah menemani adiknya dia takkan panik, Malik pun jadi teringat masa lalunya yang cukup menyakitkan manakala Tiara istrinya melahirkan putranya Emil dan dia tidak ada di sampingnya waktu itu.


”Semoga semua berjalan dengan lancar, tidak ada halangan apapun?” Malik terus merapalkan doa-doa untuk adiknya Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2