
”Apa itu?” Malik menatap ke arah Eric.
”Bagaimana jika saya mengembalikan uang tersebut dengan cara potong gaji Pak Malik?” tawar Eric.
Malik menatap tajam ke arah Eric, ”Rupanya dia memiliki cukup nyali dengan memberikan pilihan padaku, memangnya dia siapa?” gumam Malik.
”Apa kau yakin bisa melunasinya? Kenapa kau begitu percaya diri sekali jika saya masih mau mempekerjakan Anda di kantor saya,” ucap Malik.
”Jika bukan dengan kerja di sini lalu saya kerja di mana Pak? Lalu jika saya tidak kerja bagaimana saya bisa bayar hutangnya?” seru Eric.
”Jadi kali ini apa yang kau pakai di perusahaan milikku kau anggap sebagai utang? Apa kau yakin akan membayarnya berikut bunganya per bulan?” tantang Malik.
Eric membulatkan matanya mendengar perkataan Malik. ”Anda jangan main-main Pak Malik saya benar-benar tidak ingin terlibat masalah ini lebih dalam,” seru Eric.
”Saya tidak sedang bermain tapi Anda yang memulainya lebih dulu, sampai di sini Anda faham?” balas Malik.
”Pak Eric bahkan Bu Hana sangat percaya dengan Anda tapi kenapa Anda justru mengkhianatinya, sejauh ini saya melihat kinerjanya sangat bagus meskipun saya tidak pernah ke kantor karena kesibukan saya mengurus putra saya tapi jangan dikira saya tidak mengawasi kinerja pegawai saya dari rumah.”
”Maafkan saya Pak Malik, bukan maksud saya untuk membandingkan cara kerja Anda dengan yang lain tapi sungguh ini membuat saya kecewa,” ungkap Eric.
Malik menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Eric, ”Kau kecewa padaku?” ulangnya lalu tersenyum dan hampir tidak terlihat.
”Kau kecewa karena kau ketahuan menggelapkan dana perusahaan Pak Eric coba saja jika kau tidak melakukannya saya rasa Anda akan merasa nyaman di tempat saya. Apakah benar tebakan saya?” sindir Malik.
Eric tersenyum kecut mendengar ejekan dari atasannya itu. ”Terserah Pak Malik saja mau bilang apa yang jelas saya kecewa sama Bapak.”
Malik meninggalkan Eric dan Ayu di ruang meeting dan meminta Pak Basuki untuk menggantikannya melanjutkan interogasi mereka berdua.
Di ruang kerja Malik.
”Ma, boleh gak hari ini main ke rumah mama?” tanya Emil.
”Tentu saja boleh Sayang, tapi mama kan sedang bekerja bagaimana jika nanti sore pulang dari sini Emil main ke rumah mama tapi ... ”
”Tapi apa Ma?” potong Emil.
”Mm, harus ijin dulu sama papa Sayang, jika dikasih ijin ya pergi jika tidak jangan memaksa karena sore hari pasti kan papa capek seharian sudah kerja di kantor. Emil faham maksud mama?”
__ADS_1
Emil memeluk tubuh Hana erat membuat Hana terkejut karena baru kali ini dia merasakan getaran aneh, Hana mencoba mengabaikan rasa itu dan membalas pelukan Emil diusapnya bahu anak tersebut membuat Emil merasa nyaman dekat dengannya.
”Emil sayang mama. Emil harap mama juga sayang sama Emil.”
Hana tersenyum kemudian, ”Emil Sayang, boleh mama balik ke ruangan mama? Ada sesuatu yang harus mama kerjakan di sana.”
”Emil ikut ya Ma?” ucap Emil. Hana berbalik menatap Malik sejenak memastikan jika dia mendapatkan ijin dari ayah anak itu, Malik pun mengangguk.
”Baiklah kalau begitu ayo kita ke ruangan mama!” Hana segera menggendong Emil menuju ke ruangannya tubuh bocah itu kembali demam membuatnya merasa tidak tega jika harus meninggalkannya.
”Emil tunggu di sini ya, mama mau selesaikan tugas dulu sebentar saja,” ucap Hana dengan mimik wajah sedikit memelas pada Emil.
”Boleh tapi jangan lama-lama ya?”
Hana mengangguk, ”Terima kasih.”
Hana segera menyelesaikan laporannya terkait dana yang dipakai oleh mantan calon suaminya itu dan dia tidak ingin berurusan dengannya lagi tapi apa mau dikata karena faktanya mereka masih berada di satu perusahaan yang sama.
Tiga puluh menit berlalu Hana pun selesai mengerjakan laporan tersebut dan meminta Indah untuk mengantarkannya kepada Faris asistennya Pak Malik.
”Dia suka banget sama kamu Na, nanti lama-kelamaan bapaknya yang kepincut,” bisik Indah.
”Ini udah semuanya?” Indah menata berkas di meja Hana.
”Iya tolong kau bawakan ke tempatnya Pak Faris ya, soalnya aku gak tega kalau harus ninggalin dia tadi aku tinggal meeting sebentar dia udah digendong sama Pak Basuki nyariin aku ke ruang meeting.”
”Baik, jangan lupa traktir aku nanti habis gajian bulan ini.”
”Sip, apa sih yang gak buatmu. Makasih banyak ya,” ucap Hana.
Indah segera berlalu meninggalkan ruangan Hana.
”Ma, apakah sudah selesai?” tanya Emil.
”Sudah Sayang, kau mau apa sekarang?” balas Hana.
”Pulang yuk ke rumah mama, Emil mau istirahat di sana saja boleh ya,” pinta Emil.
__ADS_1
”Sayang, mama masih ada tugas di sini sampai sore kalau ditinggalin nanti siapa yang ngerjain?”
”Kan ada papa biar papa yang ngerjain tugas mama aja,” ujar Emil.
”Ma, tolong antarkan Emil ke ruangan papa ya. Emil mau bicara sama dia biar nanti mama dikasih ijin pulang lebih awal.”
”Ada apa kau mencari papa Emil, apa kau sudah sembuh?” tanya Malik tiba-tiba masuk ke ruangan Hana.
”Eh Pak Malik, dia bilang ingin ke rumah saya Pak tapi berhubung saya masih ada kerjaan jadi saya bilang dengannya untuk menunggu sampai sore dan beristirahat di sini saja.”
Emil menatap ke arah putranya rasa bersalah menyelimuti hatinya, Malik pun menghampiri putranya. ”Kau mau ke rumahnya?”
Emil mengangguk, ”Boleh ya Pa, Emil janji gak bakalan ngerepotin mama kok,” rengek Emil.
”Kau bawa dia ke rumahmu, untuk urusan kantor biar Faris yang handel,” ucap Malik menatap ke arah Hana.
”Baiklah, saya bersiap dulu.” Hana merapikan meja kerjanya dan memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tasnya.
”Ayo Sayang,” ajak Hana sedangkan Emil segera merentangkan tangannya pada Malik meminta pria itu untuk menggendongnya.
”Jalan Sayang, bukankah kau masih kuat jalan?” ucap Malik.
”Pa, Emil lagi sakit kalau sehat pasti juga jalan sendiri,” protes Emil.
”Biar saya yang gendong Pak, jika bapak tidak keberatan,” ucap Hana.
”Tidak perlu biar saya saja yang gendong. Ayo Sayang, papa yang akan gendong kamu.” Malik pun segera menggendong Emil membawanya ke rumah Hana.
Sepanjang jalan ke lantai dasar banyak pasang mata melihat keakraban mereka bertiga hal ini membuat Hana sedikit risih karena dirinya baru saja gagal dalam hubungan asmaranya dia tak mau banyak orang menilainya buruk karena berdekatan dengan Presdir di kantor ini.
”Bukankah itu mantannya Pak Eric yang kemarin gagal menikah itu?”
”Benar dia manager di perusahaan ini, wah hebat ya gak dapat bawahannya malah dapat atasannya.”
”Yah wajarlah kan dia cantik, bodoh saja Pak Eric melepaskan Bu Hana yang jelas-jelas cantik dan baik beda sama Ayu dia gak ada apa-apanya.”
”Itu rejekinya Bu Hana saja karena putra Presdir kita suka sekali dengannya, coba kalau gak ada putranya mana mau Pak Malik sama Bu Hana kan istrinya Pak Malik itu cantik sekali seorang model terkenal di negaranya.”
__ADS_1
”Apa kalian sudah selesai ghibahin orang?”
”Eh?”