
”Nak kok main di sini sendirian?” tanya Hana terkejut melihat Emil sedang berada di taman bermain dengan seekor kucing.
Malik dan Hana pun mendekat menghampiri putra mereka.
”Emil sengaja kok Ma ini sedang bermain dengan kucing yang lucu,” balas Emil tanpa rasa bersalah sedikitpun.
”Emil, dimana kamu Nak?” teriak Bu Amelia.
”Kamu dicariin Sayang, kenapa berada di sini sendirian hem?” tanya Miss Nina memeluk anak tersebut.
”Maaf Miss tadi Emil lihat kucing jadi mengikuti kucing ini sampai ke sini,” ungkap Emil merasa bersalah karena telah membuat gurunya khawatir.
”Tolong jangan diulangi ya Nak,” ucap Miss Nina.
Emil pun mengangguk, Miss Nina menjelaskan apa yang terjadi pada Malik dan Hana keduanya ikut meminta maaf karena Emil sudah membuat khawatir keduanya.
”Kalau begitu kami permisi dulu, terima kasih atas perhatiannya. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Ketiganya pergi menuju restoran untuk makan siang.
”Kamu mau makan apa Sayang?” tanya Hana pada Emil yang duduk bersebelahan dengannya.
”Apa aja mau makan asalkan jangan sayuran Ma,” balas Emil.
”Kenapa kan sayuran biar sehat?”
”Emil sedang tidak ingin makan sayur Ma,” balas Emil.
”Kenapa? Mana boleh kalau mau sehat ya harus makan sayuran Sayang,” jelas Hana.
”Maaf Ma,” ucap Emil.
”Sudah jangan bertengkar kalian berdua, Emil kamu yakin gak mau makan sayur?” tegur Malik.
”Iya Pa, aku mau makan steak aja Pa,” balas Emil.
”Baiklah duduk saja ya biar papa yang pesankan makanannya, tunggu di sini dengan mama.” Malik segera pergi memesan makanannya.
”Kamu kenapa Nak?” tanya Hana.
”Tidak kenapa-napa kok Ma,” jawab Emil.
”Nak, jika ada masalah kamu bisa berbagi dengan mama,” ujar Hana.
”Iya itu pasti Ma, nanti jika Emil ada yang bikin hatiku gak nyaman pasti Emil bakalan cerita kok ke mama,” tukas Emil kemudian.
”Ngobrolin apa haiyo!” Malik kembali menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
Hana tersenyum melihat Malik sudah datang membawa pesanan mereka berdua.
”Ngobrolnya dilanjut nanti makan dulu yuk!” ajak Malik.
”Tolong letakkan di sini ya Kak,” ucap Malik pada pelayan restoran yang membantunya membawakan pesanannya.
”Kok banyak banget Bang, yakin habis ini?” tanya Hana.
”Kamu yang harus menghabiskannya karena kamu sedang hamil, ini juga menu yang sehat kok,” jawab Malik santai.
Hana membelalak melihat banyaknya makanan di meja dan dengan santai suaminya bilang untuknya. ”Ini kebanyakan Bang, aku makannya juga gak sebanyak ini.”
”Dilarang protes! Abang ingin kamu dan bayi kita sehat, mengerti jadi jangan membantah, ayo makan. Emil kau juga ayo cepat makan selesaikan makanannya,” titah Malik.
”Baik Pa,” jawab Emil.
”Good boy!” ucap Malik tersenyum kecil pada putranya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hana yang masih terdiam menatap banyaknya makanan di meja.
”Udah jangan terlalu dipikirkan jika tidak habis ya udah, yang penting kamu harus isi perutmu yang banyak bukankah ibu hamil mudah lapar kok kamu gak gitu Sayang?”
”Ya gak tahu, tiap orang hamil kan beda-beda Bang gak semua sama keluhannya,” sahut Hana mencoba membela diri.
”Ya terserah kamu saja, karena berdebat dengan wanita itu tetap saja kamu yang bakal menang.”
”Kok bisa?”
”Biasanya kan gitu benar atau salah tetap saja benar maka lebih baik Abang yang mengalah,” seru Malik membuat Hana tersenyum lebar.
***
”Kamu udah dapat uangnya Mas?” tanya Ayu begitu masuk ke ruang rawat istrinya.
”Belum sabar dulu ya, aku lagi cari pinjaman sama tetangga dengan jaminan sertifikat rumah milik ibu,” jawab Eric.
”Apa jaminannya sertifikat rumah?”
”Benar, sampai sekarang belum ada yang kasih pinjaman karena aku mintanya cukup banyak,” jelas Eric.
”Memangnya kamu mintanya berapa Mas?” tanya Ayu.
”Gak banyak hanya 100 juta saja.”
”Apa segitu tidak banyak katamu Mas, itu sangat banyak. Kenapa gak coba saja pinjam ke Bank Mas?” tawar Ayu.
”Gak mau kalau segitu terlalu berat cicilan per bulannya, kalau dengan tetangga kita bisa melunasinya kapan saja kita punya jadi gak perlu was-was menunggak dan rumah ibu disita.”
”Tapi aku mau segera keluar dari rumah sakit ini Mas, kamu pikir enak ya tinggal di sini bau obat aku gak betah!” protes Ayu.
”Ya namanya juga rumah sakit, kalau baunya enak ya nasi padang itu bikin lapar!” kesal Eric.
__ADS_1
”Kamu jangan manja deh, aku sudah berusaha menjadi suami yang baik untukmu jadi tolong hargai ya,” lanjut Eric.
Ayu semakin kesal dengan sikap Eric padanya. ”Baik, jika begitu setelah ini biarkan aku yang kerja dan kamu urus itu anak kamu!”
”Tidak bisa kamu tetap urus anak kita dan biarkan aku yang kerja buat keluarga kita.”
”Kerja apa? Jualan bakso keliling komplek? Mas, kau ini harus sadar kebutuhan kita semakin banyak dan kau itu harus bekerja keras kalau hanya mengandalkan jualan gak mungkin terpenuhi kebutuhan kita apalagi kau ini pemula Mas, jadi harus benar-benar berjuang dari nol!” cecar Ayu semakin menambah kekesalan Eric tentunya.
”Bukankah tadi Mas udah bilang jika Mas akan berusaha semaksimal mungkin! Jadi kau meragukan kemampuanku?”
”Ya, aku mau kau kembali bekerja di kantor dan gak bikin aku malu!”
Eric menggelengkan kepalanya ternyata dia salah mengira tentang Ayu, nyatanya wanita ini lebih matre dari perkiraannya dan sifat gengsinya sangat tinggi berbanding terbalik dengan Hana mantannya. Ah, mengingat dia membuatnya menyesali apa yang sudah dia lakukan pada wanita itu, pilihannya dulu justru membuatnya menderita sekarang. Apakah ini karma untuknya?
”Kamu cukup diam di rumah aku yang akan berusaha kerja lebih keras lagi,” ucap Eric pada akhirnya.
”Jika dalam waktu tiga bulan kau tidak mendapatkan hasil maafkan aku, Mas ayo kita bercerai saja.”
Eric mengepalkan tangannya dan keluar dari ruangan itu dia tidak ingin marah dan di sana dan membuat penghuni lain terganggu.
”Ya Allah kenapa sesulit ini,” gumam Eric berjalan gontai menuju ruangan bayi dia hanya dapat memandang dari balik kaca dan melihat bayinya berada di dalam box kaca tengah tertidur lelap.
”Eric.”
Eric pun menoleh mendengar namanya dipanggil.
”Pak Malik, Hana, kalian ... ?”
”Kami mau periksa kandungannya Hana, tempo hari ke sini tapi tidak bertemu dengan Dokter karena sedang melakukan operasi sesar jadi dia memilih pulang dan menggantinya hari ini,” terang Malik.
”Kau juga sedang hamil?” tanya Eric cukup terkejut mengetahuinya.
”Iya Mas, gimana keadaan Ayu dan bayinya?” tanya Hana.
”Mereka sehat kok,” jawab Eric.
”Syukurlah, kalau begitu kami permisi dulu ya,” ucap Hana berpamitan pada Eric.
Eric hanya dapat memandang sepasang suami istri tersebut dengan perasaan yang sulit digambarkan jika saja dia yang menggandeng tangan Hana dirinya pasti akan bahagia tidak menderita seperti ini.
Dia kembali menatap bayinya yang mulai menangis, ”Apakah dia lapar?” gumam Eric tapi dia teringat jika asi milik Ayu belum keluar.
”Pak Eric bisa tolong panggilkan istrinya, sepertinya putrinya lapar dan ingin minum asi.”
”Baik Sus,” jawab Eric dengan segera Eric menuju ke ruang rawat Ayu.
”Yu, buruan ke ruang bayi anak kita lapar dan ingin asi,” ucap Eric.
”Aku mau memberinya asi tapi kau juga harus membayarnya.”
__ADS_1
Bagai disambar petir Eric marah mendengar perkataan Ayu. ”Tega sekali kau Ayu!”