Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
27. Mencuri Kesempatan


__ADS_3

”Kok malah bengong, ayo mandi atau mau aku mandiin?” goda Malik.


”Jangan Bang, Hana masih bisa mandi sendiri,” sahut Hana.


”Buruan Abang tunggu ya, cepetan!” seru Malik tersenyum puas karena bisa menggoda Hana.


”Ya Allah apa itu tadi? Dia terlalu sexy!” lirih Hana kemudian memukul keningnya sendiri.


”Dasar mesum!”


Buru-buru Hana mandi namun dia tidak segera keluar membuat Malik di luar khawatir dengan keadaannya.


”Sayang, apakah kau sudah selesai?” seru Malik di depan pintu kamar mandi.


”Aneh sudah tidak terdengar suara air tapi kenapa dia belum keluar?” lirih Malik mondar-mandir di depan kamar mandi.


”Sebentar Bang,” teriak Hana.


Perlahan pintu di buka Hana menutup kepalanya dengan handuk namun bukan dililit melainkan dia tutup seperti sedang memakai jilbab tentu saja hal itu membuat Malik tidak dapat menahan tawanya.


”Aku kira kau tidur di dalam kamar mandi,” ucap Malik.


”Tidak.”


”Ke marilah!” titah Malik mengulurkan tangannya dan membawa Hana duduk di depan meja rias lalu membuka handuk yang ada di kepala Hana.


”Kenapa masih ditutupi? Bukankah kita telah menikah?” ucap Malik lalu mengambil hair dryer di dalam laci dan mengeringkan rambut Hana.


”Kamu cantik sekali Sayang,” puji Malik setelah selesai mengeringkan rambut Hana.


”Yuk istirahat!” ajak Malik menuntun Hana ke ranjangnya.


”Duh semoga dia gak menuntut haknya,” gumam Hana.


”Kamu tidur di sini ya, aku mau selesain berkas pernikahan kita dulu,” ucap Malik berbalik ke meja kerjanya.


”Bukankah besok masih tanggal merah?” ucap Hana.


”Iya, aku mau selesaikan ini dulu biar besok tinggal urus punyamu jadi Senin bisa langsung mengajukannya ke KUA, aku gak mau bikin orang tuamu di Jogja khawatir dengan status putrinya di rumah orang,” jelas Malik.


Hana menatap Malik tak berkedip penampilannya saat ini sangat jauh berbeda dengan dia yang selalu tampil rapi di kantornya, hanya dengan kaos singlet putih yang pas di tubuhnya dipadukan celana panjang training hitam sudah membuatnya terlihat tampan.


”Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Malik tiba-tiba pria itu sudah ada di belakangnya memeluknya dengan erat.


”Sejak kapan ada di sini?” balas Hana.


”Sejak tadi, kau melamun terus. Apa ada yang mengganjal hatimu katakan Sayang,” tanya Malik sesekali mencium tengkuk Hana membuatnya merinding seketika.


”Tidak ada,” sahut Hana lalu mencoba berganti posisi dengan memandang langit-langit kamar tersebut.


”Tidurlah aku gak akan memaksakan dirimu untuk segera menerimaku, aku akan menunggumu sampai kau siap,” bisik Malik.


”Kita pacaran saja dulu,” lanjut Malik membuat Hana tersenyum kemudian dan mengangguk tanda setuju.


Perlahan Hana dapat memejamkan kedua matanya terlelap dalam pelukan Malik namun tidak dengannya yang justru gelisah menahan hasratnya sendiri secara hampir lima tahun lebih dia menahan hasratnya sendiri dan sekarang diperlukannya ada seorang gadis cantik yang telah menyandang gelar istrinya.


Malik berjuang mati-matian meredam hasratnya agar tidak menyentuh Hana terlalu jauh dia tak ingin memaksa gadis itu dan ingin meminta haknya dengan akal sehat tanpa paksaan.

__ADS_1


”Astaghfirullah, semoga cepat pagi,” gumam Malik.


***


”Pak Malik, mau sarapan sekarang?” tanya Bik Surti begitu melihat majikan prianya sudah keluar dari kamarnya.


”Iya siapkan saja dulu Bik, nanti tunggu Hana keluar kita mau sarapan bareng-bareng,” jawab Malik.


”Pak Malik, mm ... apa benar feeling saya kalau Pak Malik sama Non Hana udah nikah?” tanya Bik Surti lagi.


Malik mengangguk, ”Iya Bik, kami sudah menikah siri di Jogjakarta kemarin sore besok Senin baru saya daftarkan ke KUA di sini karena kemarin ke Jogja kan gak bawa surat-surat dan kemungkinan besar nanti kalau udah resmi saya mau adakan syukuran kecil-kecilan di rumah ini.”


”Selamat Pak Malik semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah, wah kalau Den Emil dengar dia pasti bahagia sekali,” seru Bik Surti.


”Iya dia pasti senang Bik,” sahut Malik.


”Kau sudah bangun, cepat ke sini kita sarapan dulu!” ajak Malik.


”Antarkan aku pulang dulu ya, aku mau ganti baju dulu,” ucap Hana.


”Baik.”


”Kenapa senyum-senyum Bik?” tanya Hana melihat Bik Surti tersenyum melihatnya.


”Gak apa Non, saya sedang bahagia karena keluarga ini bertambah lagi dan Den Emil pasti sangat bahagia mendengarnya nanti.”


Malik pun mengantarkan Hana pulang ke rumah lebih dulu sekalian mengambil berkas milik gadis itu.


”Duh manten baru, baru pulang,” goda Alvin.


”Apaan sih kamu memangnya gak ada jadwal kelas ya jam segini masih ada di rumah?” tanya Hana.


”Iya antar kakakmu ambil berkas sekalian ganti baju,” jawab Malik.


”Duduk dulu Kak, Kak Hana suka lama kalau ganti baju,” seru Alvin segera ke depan menelpon temannya Malik hanya mengulas senyum mendengar perkataan adik iparnya itu.


Bosan menunggu Malik pun menuju ke kamar Hana. ”Sayang, lama banget kamu?”


”Eh, udah selesai kok nih lagi pasang jilbab. Oh iya ini berkasnya sudah aku siapkan.”


”Nah selesai.”


”Kamu waktu sekolah cantik juga ya,” ucap Malik.


”Udah deh jangan mengejek! Ayo berangkat!”


’Cup!’


kecupan singkat mendarat di kening Hana membuatnya kembali merona.


”Kenapa menatapku begitu? Apa mau minta lebih?” tanya Malik.


”Kenapa sih Bang, kok suka sekali mencuri-curi kesempatan?” balas Hana.


”Karena kalau berhasil mencuri itu rasanya bahagia sekali,” ucap Malik terkekeh. ”Udah ayo jalan!”


***

__ADS_1


”Oma, kenapa papa lama sekali ke Jogja?” tanya Emil yang sudah duduk manis di ruang tengah netranya tidak lepas dari tayangan kartun kesukaannya.


”Nanti pasti datang Sayang, kamu tunggu saja ya,” jawab Maryam ada cucu semata wayangnya itu.


”Iya pasti Emil tunggu kok Oma, hanya saja aneh kok tiba-tiba papa pergi ke Jogja biasanya pergi juga ke Bogor atau Surabaya saja,” jelas Emil.


”Iya namanya juga kerja Sayang, gak harus di kota yang sama kan,” sahut Maryam.


Ting tong ...


Ting tong ...


”Siapa yang datang sepagi ini?” gumam Maryam segera membuka pintu rumahnya.


”Malik, Hana, ayo masuk!”


”Bagaimana acaranya kemarin?" tanya Maryam menatap putranya intens.


”Alhamdulillah lancar, iya kan Sayang?” balas Malik.


”I-iya Tante, eh maksud saya Mama,” ralat Hana gugup membuat Malik tersenyum dia tahu Hana belum terbiasa.


”Dimana Emil Ma?” tanya Malik.


”Ada di ruang tengah sedang menonton tv, apa kalian sudah makan?” jawab Maryam.


”Sudah,” balas Malik singkat segera berlalu ke ruang tengah.


”Sayang Papa pulang,” teriak Malik.


”Papa,” teriak Emil.


”Tuh lihat Papa bawa siapa?” tunjuk Malik pada Hana.


”Mama,” teriak Emil berlari kecil menghampiri Hana.


”Emil kangen sekali,” ucapnya memeluk Hana.


”Benarkah?”


”Sayang, mulai malam ini Mama Hana akan tidur bareng sama kita,” seru Malik.


”Yang benar Ma?” tanya Emil.


”Benar Sayang, mulai malam ini benar kan Sayang?” ucap Malik meyakinkan Emil.


”InsyaAllah.”


Maryam memberikan amplop pada Hana. ”Apa ini Ma?”


”Buka saja!”


Hana membukanya dan terkejut melihat isinya. ”Ma, ini ...?”


”Pergilah kalian berdua setelah urusannya beres, Mama harap kalian berdua suka.”


Hana memandang ke arah Malik yang sedang tersenyum padanya.

__ADS_1


”Kamu mau kan?”


__ADS_2