
Malik melangkah lebar masuk ke perusahaannya, hari ini dia memutuskan untuk masuk ke kantor setelah sekian lama absen karena mengurus Emil di Singapura.
”Pak Malik rapat akan segera dimulai,” ucap Hasan menghadang Malik yang sedang berjalan menuju lift.
”Baiklah dimana Faris kenapa tidak terlihat?” tanya Malik.
”Ada di ruang direksi Pak,” balas Hasan.
Hari ini dia akan memecat beberapa orang yang terlibat skandal dengan perusahaan Mr. Robert karena mereka dia harus kehilangan hampir empat puluh lima persen laba perusahaan yang seharusnya masuk dalam pendapatannya bulan lalu. Malik tak mau kejadian yang sama terulang dan lebih memilih memberikan sanksi tegas dengan memecat mereka.
”Pak Malik silakan,” sapa Faris mempersilakan bosnya aka kakak iparnya untuk duduk di kursinya.
”Terima kasih, apakah mereka sudah masuk semua?” tanya Malik.
”Sudah ini daftar nama-nama orang itu.” Faris menyerahkan berkas pada Malik membuat semua orang penasaran apa yang sebenarnya akan terjadi mengingat sudah lama Malik tidak pernah datang dan hari ini akan ada perubahan daftar staf pegawainya.
"Maaf membuat kalian penasaran tapi saya melakukan ini untuk kemajuan perusahaan ini bukan hanya untuk saya saja melainkan untuk semua pegawai yang ada di sini.”
Faris menyalakan layar proyektor semua orang terkejut melihat data nama-nama pegawai yang dikeluarkan dan nama pegawai yang dipindah kerjakan di bagian lain menggantikan posisi orang yang keluar.
”Apa ini yakin Pak Malik?” tanya Hasan.
”Seperti yang bapak lihat dan saya sudah mendiskusikannya bersama Pak Faris.”
”Terima kasih karena telah mendengar suara kami jujur mereka-mereka itu meresahkan kami,” ucap Indah.
”Sama-sama, nanti setelah pulang kerja mampirlah ke rumah Hana merindukan kamu,” ucap Malik.
”Baik Pak.”
Semua yang ada di dalam ruangan itu merasa lega karena beberapa orang yang terlibat skandal dengan perusahaan sebelah telah dikeluarkan. Malik pun keluar menuju ruangannya.
”Kau diam-diam saja, apa begini caramu menyambut kakak iparmu?” sindir Malik.
Faris terkekeh mendengar perkataan Malik, ”Lah harus bagaimana Bang? Maaf semalam mau datang ke rumah tapi papa melarang karena tak mau Emil jadi ikut heboh dengan pernikahan kami.”
”Itu pasti tapi dia juga harus tahu kalau tantenya udah nikah sama om jelek ini,” ucap Malik.
”Ya ampun Bang orang ganteng begini dibilang jelek kalau aku jelek mana mungkin adikmu mau sama aku,” kilah Faris.
”Ya dia mau karena terpaksa saja coba ada yang lain sudah pasti kamu dibuang,” ucap Malik.
”Udah jangan nakut-nakutin, Bang Malik juga kalau gak akan laku kalau hanya ngandelin tampang doang kok. Gak percaya tanyakan saja pada mbak Hana,” balas Faris.
”Sok tahu.”
”Ini daftar karyawan yang dipecat Bang, silakan mau ambil karyawan baru atau tidak yang jelas ini bagian manager masih kosong jika mbak Hana mau kembali silakan jika tidak lebih baik secepatnya mencari pengganti karena aku gak bisa handle semua secara bersamaan,” papar Faris.
__ADS_1
”Aku akan menggantinya dengan kandidat baru yaitu Alvin adiknya Hana tapi tunggu dia selesaikan kuliahnya dulu kemarin dia sempat cuti karena membantuku waktu Emil di Singapura.”
”Abang yakin?”
”Yakinlah, dia anaknya cerdas dan berbakat kok sama seperti Hana. Dia sendiri bahkan menolak menjadi guru dan lebih senang mengikuti jejak kakaknya itu.”
”Oke baiklah nanti aku akan bantu dia jika memang Bang Malik mau mempekerjakannya.”
”Saat ini dia masih di Jogja nanti jika dia sudah pulang aku akan langsung ke kampusnya dan mengurus semuanya.”
***
”Ma, mama habis darimana?” tanya Emil begitu melihat Hana masuk ke rumah. Emil. asyik bermain dengan kucingnya Bony.
”Maaf ya mama gak ajak kamu, soalnya mama perginya ke rumah sakit periksa adik bayi,” balas Hana.
”Adik bayi bagaimana Ma? Apakah dia mau keluar?” tanya Emil dengan polosnya.
Hana menggeleng, ”Mama periksa kesehatan adik bayi bagaimana dia ada di dalam perut mama.”
Hana meraih tangan Emil dan meletakkannya di atas perutnya. Emil tersenyum manakala perut Hana bergerak.
”Ma, mama lihat kan dia bergerak!” ucap Emil antusias dengan apa yang baru saja dia rasakan.
”Dia senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan kakaknya,” tutur Hana.
Hana nampak berpikir sejenak, ”Kurang lebih tiga bulan lagi.”
”Asyik semoga adik bayi sehat terus di dalam sini. Oh iya Ma, apakah boleh Emil mulai sekolah? Rasanya bosan tiap hari di rumah.”
”Boleh tapi tetap harus tanya papa dulu, jika papa tidak keberatan maka Emil boleh pergi biar nanti mama yang antar bagaimana?”
”Asyik, beneran ya Ma?”
”Tentu saja, mama ganti baju dulu ya.” Hana pun segera ke kamarnya mengganti pakaiannya jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima sore pertanda Malik sebentar lagi akan pulang dari kantornya.
”Sayang aku ada kejutan untukmu!” seru Malik mengagetkan Hana yang tengah mengganti pakaiannya.
”Astaghfirullah Bang Malik bis gak sih gak ngagetin orang!”
”Abang gak ngagetin kok, kan udah bilang tadi ada kejutan.” Malik memeluk Hana meletakkan kepalanya di bahu istrinya. ”Bagaimana hasil cek up-nya? Maaf karena Abang gak menemani banyak sekali pekerjaan di kantor tadi.”
”Gak masalah semua baik kok,” balas Hana.
Malik mengusap perut Hana, ”Nanti malam boleh ya jenguk anak papa?" bisik Malik.
”Abang yakin?”
__ADS_1
”Tentu saja, bahkan jika kamu bersedia abang juga sekarang mau kok sekarang. Sayangnya di bawah ada tamu, ayo segera temui dia. Abang mau mandi dulu lalu kita makan malam bersama.”
”Tamu?”
Malik mengangguk.
”Siapa Bang?”
”Lihat saja ke bawah.”
”Ish, Abang kok sukanya main tebak-tebakan.”
”Ya biarkan saja, Abang suka kok bikin kamu penasaran. Abang mandi dulu ya!”
Hana pun menyiapkan pakaian untuk Malik dan segera turun menemui tamunya.
”MasyaAllah kamu datang ke sini,” ucap Hana terkejut melihat siapa yang datang.
”Duh bu bos makin cantik saja, aku ke sini juga atas ijin dari Pak Malik beliau yang minta aku datang ke sini. Duh aku kangen sama kamu loh lama banget gak ke kantor.”
”Iya mungkin ke depannya aku akan ke kantor sambil nunggu debay lahir.”
”Memangnya suami kasih ijin? Meragukan!” cibir Indah. ”Perutmu akan semakin besar dan aku ragu jika dia mengijinkan dirimu ngantor.”
Hana meringis mendengar perkataan Indah, ”Tapi di rumah saja juga bosan lah.”
”Indah benar, Abang gak akan kasih ijin kamu ke kantor apalagi kandunganmu makin besar. Biar nanti Alvin yang akan gantiin kamu.”
”Abang yakin?”
”Iya, bentar ya Abang tinggal masak dulu nanti kita makan malam bareng.” Malik meninggalkan keduanya menuju dapur.
***
Eric pulang dengan langkah gontai membuat Dewi dan Ayu saling pandang.
”Apa yang terjadi Mas?” tanya Ayu.
”Aku ditipu.”
”Apa ditipu? Ditipu bagaimana maksudnya?” Ayu segera bangkit namun perutnya merasakan sakit yang luar biasa.
”Aduh sakit sekali, Mas tolongin A-yu.”
Brugh!
Ayu jatuh dan pingsan di tempat.
__ADS_1