Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
29. Baju Dinas


__ADS_3

”Ya kami memang sudah menikah kemarin di Jogja,” ucap Malik.


Flo terlihat shock mendengar penuturan Abang iparnya itu, ”Lalu kenapa gak kasih tahu mama soal pernikahan ini? Abang lupa kalau Emil masih punya Oma di Paris?”


”Abang tidak akan lupa akan hal itu Flo dan tolong jangan menyudutkan siapapun akan hal ini karena semua yang terjadi murni keinginanku dan karena Abang cinta sama Hana,” ucap Malik.


”Apa kau bilang Bang, cinta? Astaga kau benar-benar mengecewakan diriku Bang, jelas-jelas aku menyatakan cintaku padamu dengan merendahkan harga diriku di depanmu kau menolak diriku dan sekarang kau memilih wanita lain yang sama sekali tidak kau kenal luar dalam.”


Flo menyugarkan rambut dan meremasnya perlahan seakan sedang melampiaskan kekesalannya.


”Aku akan menghubungi Mama Lani dan memberitahukannya,” ucap Flo.


”Tidak perlu aku yang akan mengatakan semuanya nanti dan aku tidak butuh bantuan darimu mengerti!” sahut Malik.


”Ayo Sayang, kita pulang sudah beres kan semuanya,” tanya Malik dan Hana hanya mengangguk singkat.


Sepanjang perjalanan Hana hanya diam tapi pikirannya penuh tanda tanya kenapa Flo selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Malik suaminya.


”Jangan dipendam jika perlu keluarkan semuanya biar hatimu lega,” ucap Malik dia tahu jika istrinya memiliki tanda tanya besar dalam hatinya.


”Jangan bahas sekarang Bang, ada anak kecil gak baik jika dia dengar.”


”Baiklah kita bahas nanti di tempat tidur,” ucap Malik meraih punggung tangan Hana memegangnya erat seakan tak ingin berpisah.


Begitu sampai di rumah Hana segera membuat makanan yang di request oleh Emil karena Hana tak ingin putra tirinya itu menunggunya terlalu lama.


”Sayang kamu dimana?” seru Hana mencari-cari Emil.


”Bang lihat Emil gak?” tanya Hana begitu melihat suaminya keluar dari kamarnya.


”Gak ada bukannya tadi lagi nonton tv, mungkin di belakang, biar Abang bantu cari,” jawab Malik.


Hana kembali ke dapur menyiapkan makanan untuk suaminya, asyik dengan dunianya hingga tidak menyadari jika Malik sudah ada di belakangnya.


”Astaghfirullah Bang, bisa gak sih gak ngagetin Hana,” sungut Hana menahan kesal karena Malik mengagetkan dirinya untuk kesekian kali.


”Abang kok suka sekali sih ngagetin orang kalau orang itu punya penyakit jantung bagaimana?”


”Maaf, lagian dari tadi dilihatin gak merasa,” cibir Malik.


”Bukan gitu Bang ini aku sudah siapin makan buat Abang juga.” Hana menyerahkan sepiring nasi goreng pada Malik.


”Kenapa gak mau?” tanya Hana yang memperhatikan raut wajah Malik tampak biasa saja.


”Makasih, besok kalau Abang ada waktu Abang yang masakin buatmu,” balas Malik mengurai senyumnya.


”Memangnya bisa masak, meragukan!” ledek Hana menyunggingkan senyumnya.


”Jangan meremehkan orang lain,” sahut Malik.


”Aku tidak meremehkan dirimu Bang, tapi kalau dilihat dari waktunya sepertinya gak mungkin deh karena Abang kan sibuk urus Emil.”

__ADS_1


”Justru karena Abang sibuk urus Emil di rumah jadi Abang banyak waktu kan di rumah juga ada mama sama Sabrina, mereka yang sibuk jagain Emil.”


Hana mendorong Malik keluar dari dapur menuju meja makan. ”MasyaAllah sudah habis saja, mau nambah gak Sayang?”


”Gak perlu Ma, udah kenyang Emil mau main lagi sama Bony.” Emil buru-buru pergi meninggalkan meja makan segera mencari kucing kesayangannya.


”Bony?” ucap Hana.


”Dia kucing peliharaan Emil, nanti kau juga akan tahu kemarilah Sayang, aku juga mau disuapin kayak Emil!”


Dengan sigap Hana melayani bayi besarnya itu.


***


"Bang, aku mau tanya sesuatu soal wanita yang bernama Flo yang tadi sore ketemu di supermarket,” ucap Hana.


Malik menghentikan kegiatannya dan menatap Hana, ”Kenapa dengannya?”


”Aku merasa dia itu suka sama kamu Bang,” balas Hana.


Malik pun menarik nafasnya perlahan dan menjelaskan semuanya pada Hana.


”Begitu ceritanya Sayang, jadi misalkan dia bicara apapun padamu jangan dipercaya jika itu bukan bersumber padaku mengerti!” jelas Malik.


”Lalu kapan kita akan pergi ke tempat mantan mertuanya Abang?” tanya Hana.


”Secepatnya, nanti Abang akan atur jadwalnya dulu yang penting kita resmikan dulu ke KUA suratnya udah komplit besok tinggal kita urus ke KUA terdekat.”


”Tunggu bentar lagi Sayang, ini kurang dikit lagi kok,” balas Malik jari-jemarinya masih asyik menari di atas keyboard.


Hana menarik selimutnya hingga sebatas dada, Malik sempat meliriknya sekilas membuatnya tersenyum simpul melihat tingkah istrinya itu.


Malik segera merapikan kembali meja kerjanya yang sempat berantakan karena kertas-kertas yang ada di mejanya dan menyusul Hana dalam selimut.


”Kenapa bajunya gak kamu pakai Sayang?” tanya Malik begitu masuk ke dalam selimut.


Hana berbalik menatap Malik intens, ”Bang aku tuh sebenarnya malu jika harus memakai pakaian seperti itu.”


”Malunya di mana Sayang, kan hanya Abang yang lihat dan baju dinas khusus malam hari.”


”Ya pokoknya malu gitu aja Bang,” sahut Hana tangan kanannya menyentuh pipi kirinya Malik.


”Apa kau sedang mengagumi ketampananku?” tanya Malik.


”Percaya diri sekali kamu Bang, aku tidak menyangka saja bisa menjadi istrimu Bang,” jawab Hana jemarinya bergerak menelusuri setiap inci wajah Malik.


Malik tersenyum kecil mendengar pengakuan istrinya itu. ”Apa kau sedang menggodaku?”


”Tidak.”


”Tapi aku merasa begitu,” ungkap Malik tersenyum menyeringai dengan gerakan cepat Malik mengungkung tubuh Hana di bawahnya.

__ADS_1


”Bang,” lirih Hana.


”Apa kamu sudah siap?” ucap Malik pelan Hana mengangguk merona.


”Aku akan melakukannya dengan pelan,” bisik Malik.


”Apakah itu akan sakit?” tanya Hana.


Malik menggelengkan kepalanya, ”Hanya sebentar saja kok, Abang gak akan paksa kamu jika memang kamu belum siap.”


Malik mulai mencumbu wajah Hana perlahan tangannya aktif membuka piyama milik Hana baru saja setengah terbuka suara ketukan pintu terdengar di pendengaran mereka.


”Siapa ya Bang?” tanya Hana sedikit terkejut.


”Gak tahu, sebentar Abang buka dulu.” Malik segera bangkit dan membuka pintu kamarnya.


”Pa,” panggil Emil.


”Ya ampun Emil kenapa malam-malam begini belum juga tidur Sayang?” tanya Malik haruskah dia kesal karena putranya telah mengganggu ritualnya malam ini.


”Emil gak bisa bobo Pa, bolehkah Emil bobo di sini bareng Mama Hana?” ucap Emil polos.


Malik menatap ke arah Hana dan Hana pun mengangguk.


”Kemari Sayang,” seru Hana menepuk sebelah tempat tidurnya.


Emil pun berlari kecil dan naik ke ranjang dengan hati bahagia. ”Emil boleh bobo sini ya Ma?”


”Tentu saja.”


”Lalu Papa tidur di mana?” tanya Malik.


”Sini Bang, di sebelah Hana bantal gulingnya taruh di pinggir saja biar Emil gak jatuh,” balas Hana.


”Berdoa dulu Sayang, baru tidur,” ucap Hana memberi instruksi pada Emil.


Dengan segera Emil pun terlelap.


”Udah jangan marah Bang, sama anak kecil saja cemburu,” ejek Hana.


Malik merebahkan tubuhnya di samping Hana dan memeluknya dari arah samping.


”Kamu gak tahu sih apa yang sedang aku rasakan sekarang,” ucap Malik.


”Memangnya kenapa Bang?” tanya Hana.


”Adikku sudah turun on tapi gak jadi masuk ke sarangnya,” balas Malik seraya berbisik pada Hana.


Hana dapat merasakannya sesuatu yang keras di bawah sana menempel di pahanya.


”Sabar Bang, ini adalah ujian.”

__ADS_1


__ADS_2