
Wanita mana yang suka jika ternyata suaminya masih bertemu dengan mantannya, meskipun mereka beralasan sudah tidak lagi memiliki rasa bisa jadi karena pertemuan tersebut kembali menumbuhkan benih-benih cinta yang lama.
”Siapa dia Bang Malik?” tanya Cindy pada Malik yang masih kebingungan.
Malik memandang ke arah Cindy sekilas lalu beralih ada Hana, ”Dia istriku, Hana.”
”Apa istrimu?” ulang Cindy merasa tidak percaya dengan jawaban Malik karena wanita yang ada di depannya saat ini berpenampilan seperti seorang pembantu memakai piyama sandal rumah dan jilbab ala kadarnya.
”Benar,” jawab Malik tegas. ”Memangnya kenapa dengannya?” sambung Malik.
”Oh, tidak aku tidak percaya saja jika kau telah menemukan pengganti Tiara. Jika saja belum ada aku akan ikut antri untuk mendapatkan kesempatan menjadi pendampingmu,” ungkap Cindy.
”Maaf, tapi aku sudah menikah dan sudah memiliki dua orang anak dan tidak mungkin bagiku untuk berkhianat apalagi mereka sangat aku cintai.”
Hana terlihat bahagia mendengar perkataan Malik dia sedikit terhibur meskipun awalnya dia merasa kesal karenanya. ”Jadi sudah jelas ya Mbak Cindy, saya istrinya Bang Malik bukan pembantu di rumah ini!”
Hana kesal karena dikira pembantu di rumah ini, lebih baik dia menegaskan diri jika dia adalah Nyonya di rumah ini.
”Sudahlah Sayang, dia begitu karena belum tahu.”
”Terus saja membelanya, kalau Abang gak jujur bisa saja dia kejar Abang terus dan faktanya dia berani datang ke sini,” ucap Hana kesal.
”Ada keperluan apa kamu ke sini?” tanya Malik mencoba untuk tetap tenang meskipun dia sadar jika Hana tengah memperhatikannya dalam diam.
”Aku pengin cari kerjaan di kantormu, apa ada lowongan?” ucap Cindy.
”Gak ada!” jawab Hana cepat dia tak mau suaminya dekat-dekat dengan wanita itu karena penampilannya yang tidak Hana sukai wanita di depannya terlihat sangat sexy.
”Sayang tolong jangan begitu,” tegur Malik.
”Faktanya memang begitu kan, bahkan beberapa karyawan juga di rumahkan karena produksi sedang menurun. Jangan ambil resiko Bang, tempo hari adiknya Eric juga melamar pekerjaan apakah Abang udah kasih jawaban sama dia? Utamakan yang datang lebih dulu Bang, dia datang belakangan jadi jangan diterima.”
__ADS_1
Malik hanya dapat menghela nafasnya memang benar yang dikatakan oleh istrinya jika dia harus mengutamakan yang lebih dulu daripada temannya itu. ”Maaf Cindy karena apa yang dikatakan oleh istriku benar dan untuk ke depannya aku sedang tidak membuka lowongan pekerjaan apapun.”
”Padahal aku berharap kau bisa membantuku karena aku sedang kesulitan saat ini,” ujar Cindy memasang wajah iba pada keduanya.
”Sayang sekali Nona Cindy dan bukankah Anda dari keluarga kaya kenapa Anda harus berkerja? Dasar aneh!”
”Sayang,” tegur Malik menggelengkan kepalanya manakala Hana akan kembali melanjutkan perkataannya itu.
Cindy kesal tentu saja karena baru kali ini ada yang berani padanya. ”Baiklah aku permisi dulu.” Cindy bangkit meraih sling bag-nya dan segera keluar.
”Sayang tolong jangan kasar lagi ya jika temanku datang, Abang gak mau kamu begitu lagi mengerti!”
”Lagian siapa suruh menghinaku, Hana bisa berubah menjadi apa saja yang Hana mampu untuk melindungi apa yang Hana miliki. Abang juga sih lemot kenapa tidak jujur dari awal sehingga wanita sepertinya tidak akan pernah datang lagi ke rumah, masih mending iparnya Abang si Flo dia masih sedikit sopan karena penampilannya masih wajar lah dia tadi?” Mendadak Hana bergidik mengingat kedatangan Cindy.
”Sudah jangan bahas lagi, ayo segera sarapan Abang harus antar Emil juga ke sekolahan dan juga kamu mau ikut kan ke rumah sakit jenguk Sabrina nanti?” tukas Malik dia tak mau berlarut-larut dalam keadaan seperti itu.
Hana pun hanya mengangguk singkat. dan masuk ke ruang tengah, meskipun kesal dia tetap harus memaafkan suaminya.
***
”Yang kamu tanyakan mejanya yang kosong atau adminnya yang belum datang?” sindir Faris.
”Astaga Bang, jangan begitu dong, aku beneran tanya nih sama Abang dan lagi kenapa Abang tergesa-gesa begitu kayak mau melahirkan aja!” goda Alvin kemudian.
”Iya memang habis melahirkan, istriku tapi.”
Hampir saja Alvin percaya sebelum kata terakhir keluar dari mulut Faris.
”Gak lucu Bang, jadi kak Sabrina udah lahiran? selamat ya moga jadi anak yang soleh/hah, aamiin. Lalu Abang ke sini mau ngapain?”
Faris malas meladeni perkataan Alvin demi apa coba dia tanya begitu padanya. ”Ya mau kerja masa mau makan!” Faris mulai terpancing emosinya.
__ADS_1
”Kalem Bang, jangan pakai urat toh aku juga nanyain nya baik-baik.”
”Kamu aja yang gak jelas udah tahu Abang kerjanya di sini kok masih nanya, Ck!”
”Lah kan istri habis lahiran Bang, siapa tahu temani istrinya sampai benar-benar sehat baru kerja masa iya sih Bang Malik gak kasih toleransi pada pegawainya,” ucap Alvin semakin membuat Faris kesal.
Faris memang harus tetap berangkat karena pekerjaannya hari ini sangat penting sekali dia didapuk oleh Malik untuk mewakilinya pergi ke perusahaan rekanan untuk memperluas jangkauan pemasaran produknya hingga ke luar negeri dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh bosnya itu sebagai pembuktian jika dia layak diperhitungkan sebagai pegawai yang kompeten jika tugasnya berhasil nanti.
”Sudahlah kamu jangan buang-buang waktuku aku mau segera ke ruanganku mengambil berkas di sana.” Faris mengambil langkah seribu meninggalkan Alvin dia tak mau adu mulut lagi mengingat waktunya sudah tidak memungkinkan lagi.
Alvin sendiri kembali celingukan karena sudah tidak ada lagi yang bisa dia ajak berdebat, entah kenapa dia tidak tenang sebelum bertemu dengan Untari hingga Maya teman satu mejanya terlihat sedang menata mejanya. Alvin memberanikan diri untuk bertanya padanya.
”May, kamu gak bareng sama Untari?” tanya Alvin membuat Maya sedikit terkejut karena baru kali ini ada pegawai di lantai atas yang mau menyapanya di luar pembahasan tentang pekerjaan.
”Oh kamu cari dia atau cari aku? Kalau dia memang tidak masuk hari ini menurut keterangan dia sakit dan ijin tidak masuk,” jelas Maya.
”Sakit? bukankah kemarin dia baik-baik saja.”
Maya mengedikkan bahunya, ”Namanya juga sakit datangnya tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi kalau tahu itu sih kayak ramalan cuaca itu saja kadang bisa meleset.”
Maya kembali menata tumpukan kertas yang berserakan di mejanya, ”Btw, ada hubungan apa kamu sama dia?”
”Kepo!” Alvin berlalu meninggalkan Maya seraya mengulas senyum di wajahnya, Alvin merasa jika Untari sakit karena teguran dari Bang Malik kemarin siang apakah gadis itu memikirkan perkataan abangnya sehingga dia sakit.
Alvin menggelengkan kepalanya dan lagi-lagi dia tersenyum.
”Hei, lama-lama jadi gila kamu!” tegur Malik yang melihat gelagat adiknya seperti itu.
”Eh, Bang boleh tanya sesuatu gak?”
Malik memandang ke arah Alvin, ”Apa?”
__ADS_1
”Bagaimana rasanya kalau mau melamar seorang gadis, apakah Bang Malik berdebar-debar?”
”Siapa yang akan kamu lamar?”