
”Bapak Eric,” panggil perawat.
”Iya saya Sus, ada apa ya?” tanya Eric.
”Bapak dan keluarga bisa pulang sekarang, tolong segera panggil taxi dan jemput bayinya di ruang perawatan bayi,” terang perawat.
”Tapi Sus, maaf sebelumnya kami sama sekali belum melunasi administrasinya kenapa bisa pulang hari ini?”
”Oh soal itu kami tidak tahu, kami hanya menjalankan prosedur rumah sakit jika memang administrasinya sudah lunas maka pasien sudah boleh pulang,” terang perawat.
”Apakah saya boleh tahu siapa yang membayarnya?” tanya Eric.
”Maaf Pak itu sudah menjadi privasi antara rumah sakit dan orang yang telah membayar biayanya jadi kami tidak bisa memberitahukannya pada Pak Eric.”
”Baiklah sekali lagi terima kasih.”
Eric bisa bernafas lega meskipun pada akhirnya dia akan kebingungan karena tidak memiliki biaya untuk membeli susu anaknya, Ayu menolak untuk memberi asi pada putrinya.
”Ayo kita pulang!” ajak Eric setelah mengemasi barang-barang istrinya. Dewi menggendong cucunya sedangkan Eric membawa barang bawaannya dan menggandeng Ayu.
”Kira-kira siapa ya yang sudah membayar biaya rumah sakitnya,” ucap Dewi penasaran bukan hanya dia saja Eric dan Ayu pun masih bertanya-tanya siapakah dermawan itu.
”Sudahlah Bu, yang terpenting kita sudah keluar dari rumah sakit perkara siapa yang membayarnya aku hanya bisa menebaknya saja meskipun sebenarnya ragu,” sela Eric.
Dia masih ingat betul kemarin bertemu dengan Hana dan suaminya, Eric menebak dialah yang membayarkan biaya rumah sakitnya sejak dulu Hana memang selalu saja suka membantu orang lain dan kini dirinya pun dibantu olehnya meskipun dia telah membuat luka di hati wanita itu.
”Ayu, aku harap kau mau merawat anak kita karena dia butuh perhatian darimu,” ucap Eric.
”Setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya merawat anak ini tapi setelah dua tahun, aku akan meminta cerai darimu, aku tidak sanggup jika harus hidup serba kekurangan kecuali jika kau bisa menjadi seperti dulu maka aku tidak akan memintamu untuk ber ...”
”Jika aku seperti dulu maka bukan kau istriku, camkan itu!” Eric sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya sejak berada di rumah sakit dan mungkin sekaranglah waktunya dia mengeluarkan uneg-unegnya.
”Kau pikir siapa yang akan betah hidup bersama denganmu kau memang keterlaluan Ayu!”
Ayu yang tidak mau disalahkan pun akhirnya memilih pergi ke kamarnya meninggalkan pembicaraan yang belum selesai.
”Ish, kenapa dia jadi sangat menyebalkan!” gerutu Eric.
Dewi yang mendengar pertengkaran tersebut hanya bisa menggelengkan kepala, anak dan menantunya memang sama, sama-sama keras kepala.
***
”Ma, kau tahu di sekolahku ada murid yang nyebelin banget,” ucap Emil seraya mengusap-usap kucingnya dengan pelan.
”Benarkah? Kok bisa begitu siapa namanya?” tanya Hana.
__ADS_1
”Kalau gak salah namanya Azizah.”
”Namanya cantik sekali Sayang, tapi apa kau yakin dia itu ngeselin seperti yang Bang Emil katakan itu,” selidik Hana.
”Benar Ma, masa dia merebut susu kotak milik Emil padahal kan Miss Nina sudah kasih dia satu masa milik Emil mau diambil juga lalu Emil minum apa?” curhat Emil.
Hana tersenyum betapa Emil sangat lucu ketika bercerita dan ini adalah pertama kalinya dia bercerita tentang teman-temannya di sekolah.
”Bang, kalau Abang punya sesuatu mau gak berbagi dengan teman?” Hana menatap Emil menunggu jawaban bocah itu.
”Ya mau masa berbagi gak mau sih Ma,” balas Emil.
”Nah kayak gitu yang Emil lakukan dengan Azizah, gak apa susunya diambil sama dia asalkan diminum jangan dibuang kan sayang kalau dibuang lagipula belinya juga pakai uang kalau gak punya uang berarti gak bisa minum susu.”
”Mama benar, jadi Emil harus ikhlas ya Ma.”
Hana mengangguk.
”Tuh Bony minta makan lagi Bang!" ucap Hana pada Emil.
”Ma ... tolong jangan panggil Emil dengan sebutan ’Abang’ lagi dong,” pinta Emil.
”Kenapa?”
Hana mendelik mendengarnya, ”Dapat darimana kata-kata itu Nak?”
”Itu Ma, mamanya teman Emil waktu jemput dia panggil dengan sebutan ’Mas Bro, ayo kita pulang! begitu Ma. Kayaknya keren ya jika Emil dipanggil dengan sebutan itu.”
”Hem, ada-ada saja ya orang jaman sekarang,” ucap Hana.
”Baik jika begitu nanti mama panggil Kak Emil saja bagaimana biar adik nanti juga terbiasa, boleh ya?”
”Iya boleh Ma,” balas Emil.
”Bang kau pulang?” tanya Hana melihat suaminya masuk ke ruang makan.
”Iya, tuh Alvin di depan adikmu itu nampaknya sedang patah hati karena sejak tadi dia diam saja.”
”Bentar Sayang, mama temui Om Alvin dulu ya,” pamit Hana sedangkan Malik menatap Hana yang menghampiri dirinya.
”Apa dia sedang dalam masalah?” tanya Hana.
Malik mengedikkan bahunya, ”Tanyakan saja sendiri sepertinya dia patah hati,” bisik Malik membuat Hana melongo mendengar penjelasan suaminya.
Cup!
__ADS_1
Hana tersenyum karena berhasil mencuri ciuman dari Malik. ”Jangan menggoda atau kau bersiap saja jika nanti malam Abang balas lebih agresif!”
”Hana akan tidur lebih awal.”
”Kak, Emil dimana?” seru Alvin.
”Oh dia ada di sana lagi main sama Bony.” Hana menunjuk arah pada Emil yang tengah asyik bermain dengan kucingnya.
”Aku ke sana dulu ya,” ucap Alvin.
”Bang soal kuliahnya sendiri bagaimana?” tanya Hana.
”Jangan khawatir semua sudah clear walaupun tadi sempat ada sedikit masalah awalnya tapi kamu tenang saja semua sudah selesai dan adikmu bisa ikut wisuda tahun ini.”
”Makasih ya karena sudah membantunya sejauh ini.”
”Tidak masalah asalkan bonus tiap malam lancar, apapun itu akan aku lakukan untukmu,” goda Malik membuat Hana kembali merona.
”Siapkan saja staminanya buat Abang ya,” bisik Malik beranjak ke kamarnya mengambil berkas yang tertinggal di sana.
”Vin, makan di sini ya biar nanti kakak masakin buatmu,” seru Hana.
”Gak perlu Kak, tadi aku udah makan kok di kafe bareng sama Bang Malik.”
”Kalian berdua ke kafe?” Hana serasa tidak percaya karena suaminya jarang sekali mampir ke kafe apalagi semenjak dia menikah.
”Kenapa gak percaya, tanyain saja Bang Malik kalau gak percaya,” ucap Alvin sengaja mengompori kakaknya.
”Memangnya kafe mana yang kalian disinggahi?”
”Kafe deket kampus kok Kak, udah jangan khawatir gak ada kok mahasiswi yang melirik karena yang bersama dengannya jauh lebih tampan,” seru Alvin percaya diri membuat Emil dan Hana terkekeh.
”Om Alvin pintar juga ngelawak!” komentar Emil membuat Hana semakin tak bisa menahan tawanya.
”Ini bukan ngelawak tapi ini fakta, memang Om Alvin lebih kece dari papamu kok,” ucap Alvin tak mau kalah.
”Iya Om kamu benar saking tampannya dia ditolak sama Aisha gadis pujaannya itu,” sambar Malik yang mendengar gurauan mereka.
”Udah Bang jangan malu-maluin Alvin gitu gak lucu lagi!”
"Nah sekarang ketahuan kan siapa sebenarnya di sini yang paling tampan. Coba siapa Sayang, ada yang bisa kasih jawaban ada hadiahnya loh!” Malik menyerigai di akhir kalimat membuat Hana dan Emil berpikir keras.
”Siapa Ma, apakah mama sudah punya jawabannya di antara mereka berdua siapa yang menurut mama paling tampan?” tanya Emil menggoda Hana dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
”Mm ... siapa ya kira-kira?”
__ADS_1