Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
54. Malik Butuh Bantuan


__ADS_3

”Bik Surti,” teriak Emil.


”MasyaAllah Den Emil bagaimana kabarnya, Ya Allah Alhamdulillah kami udah sehat ya,” ucap Bik Surti bahagia.


”Sudah Bik, Bony di mana Bik?” tanya Emil.


”Sudah jangan mikirin Bony dulu sekarang kamu istirahat dulu gih, kan Emil masih capek nanti jika sudah istirahat baru cari Bony,” ucap Hana.


”Tapi Ma, Emil kangen sama dia. Emil boleh lihat bentar aja ya pengen meluk dia,” pinta Emil penuh permohonan.


”Mama bilang tidak ya tidak, nanti jika Emil sudah istirahat baru ketemu sama dia kamu tenang saja Sayang, dia aman kok di kandang,” jelas Hana.


”Tuh dengerin apa kata mama, sayang kamu hanya harus nurut saja pasti akan cepat sembuh,” papar Malik.


Malik dan keluarga memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal karena kesibukan Malik dan juga proses penyembuhan Emil menjadi lebih mudah jika ditemani oleh orang-orang terdekatnya.


”Hallo Faris, tolong siapkan rapat direksi besok pagi laporan keuangan sudah aku terima nanti biar aku cek ulang di rumah.”


”Abang udah pulang?”


”Sudah baru saja sampai.”


”Oke siap Bang, nanti aku kirimkan ke rumah sekalian jenguk Emil.”


”Oke kalau bisa secepatnya ya!”


”Siap Bang Bos!”


Bip.


”Diminum dulu Bang,” ucap Hana begitu meletakkan teh hangat di meja kerja Malik.


”Emil ... apa sudah tidur?” tanya Malik kemudian.


Hana mengangguk singkat, ”Maaf ya bukannya aku tidak memberikannya ijin untuk bermain dengan Bony, tapi aku pikir lebih baik dia istirahat dulu baru setelahnya bermain dengan Bony. Hana tahu kok kalau dia kangen sama kucingnya.”


“Abang tahu kok Sayang, dia memang butuh banyak istirahat bahkan nanti ada rencana mau nyari tutor juga buat ajarin dia belajar di rumah.”


Hana memanyunkan bibirnya begitu mendengar Malik bicara begitu. ”Kenapa?”


”Aku tidak setuju Bang, aku aja bisa kok ajarin dia belajar calistung kenapa undang tutor segala,” sungut Hana.


”Kamu ini jadi sensitif sekali ya, baiklah kalau kamu tidak setuju gak perlu ngambek ya!” bujuk Malik.


”Aku bisa ajarin Bang, setidaknya gak perlu tutor bisa hemat pengeluaran Hana tahu kok perusahaan juga lagi tidak baik-baik saja.”


Malik mengangkat wajahnya mendengar perkataan Hana.


”Darimana kamu tahu?” tanya Malik menyelidik.


”Maaf, tanpa sengaja Hana dengar pembicaraan Bang Malik dengan Faris waktu masih di Singapura.”


”Hm, menguping ini.”


”Tidak, kan sudah bilang tadi tanpa sengaja,” kilah Hana.

__ADS_1


”Tolong doakan yang terbaik ya,” ucap Malik memeluk erat Hana dari belakang menyesap wangi istrinya itu.


”Hana pasti bantu Abang kok jadi tenang saja,” ucap Hana menepuk punggung tangan Malik.


”Makasih Sayang, karena selama ini tidak pernah menuntut apapun dariku.”


”Sudah kewajibanku Bang, sebagai istri harus bisa mensupport keadaan suaminya.”


”Buruan istirahat gih, kamu juga harus jaga kesehatan demi dia yang ada di rahim kamu.”


Hana hanya tersenyum mendengar perkataan Malik lalu beranjak ke ranjang setelah mencium bibir Malik.


”Sudah mulai nakal rupanya,” bisik Malik.


”Tidak, Hana hanya melakukan apa yang seharusnya Hana lakukan. Yuk bobo!”


Tanpa menunggu lama Malik menyusul Hana dan bersembunyi di balik selimut, pergumulan terjadi tanpa dapat dihindari.


***


”Bang ini laporan bulan kemarin ya selama Abang gak ngantor dan pelakunya itu dari pihak luar,” ucap Faris.


”Maksudmu?” Malik belum sepenuhnya faham.


”Perusahaan kita memutuskan kerja sama dengan King Brother Company beberapa bulan yang lalu kan?”


Malik mengangguk, ”Lalu ada hubungannya apa dengan mereka?”


”Aduh Bang, mereka itu yang udah bikin kita jatuh bangun sekarang.”


”Maaf Bang, saking kesalnya jadi begini.”


”Aku bakal kasih perhitungan dengan mereka, berapa persen yang mereka ambil?” tanya Malik.


”Hampir empat puluh lima persen.”


”Apa? Gila juga mereka mengambil begitu banyak dari kita.”


”Maka dari itu tempo hari aku meminta Abang pulang karena kondisinya sudah genting seperti ini dan tidak mungkin jika aku memutuskan semuanya sendiri Bang, takut salah langkah.”


”Oke baiklah sekarang kamu fokus pada keuangan kita sekarang, aku akan mencoba bertemu dengan pimpinan King Brother Company itu.”


”Abang yakin?”


”Tentu saja, nyawa karyawan kita jadi taruhannya mereka menggantungkan hidupnya ada kita masa kita diam saja ketika tahun keadaan sedang berguncang seperti ini.”


”Baiklah Bang, maafkan Faris jika tidak bisa ambil keputusan tegas selama ini,” sesalnya.


”Tidak kamu sudah benar, biar nanti sisanya aku yang urus.”


Malik memijat pelipisnya ketika Faris telah pergi, bohong besar jika dia tidak khawatir dengan keadaan perusahaannya bukan karena untuk kepentingannya sendiri saja melainkan karena banyak karyawan yang ikut menggantungkan hidupnya di bawah naungan perusahaannya.


”Apa yang harus aku lakukan?” lirih Malik seraya memainkan ponselnya.


”Hallo ada apa Malik?”

__ADS_1


”Pa, bolehkah Malik meminta tolong?”


”Ada apa, katakan!”


Malik pun menjelaskan permasalahan yang sedang dia hadapi tanpa dia tutup-tutupi karena memang dia sangat butuh suntikan dana.


”Baiklah papa akan bantu anggap saja ini investasi jangka panjang untukmu karena papa sendiri belum memberikan hadiah padamu dan Hana.”


”Terima kasih Pa.”


”Bagaimana dengan Emil sendiri?”


”Dia sudah lebih baik Pa, hanya saja dia memang butuh perhatian ekstra.”


”Nanti malam papa akan datang ke rumah menjenguknya.”


”Baik, Malik akan siapkan makan malam bersama nanti kebetulan mama juga akan datang.”


”Oke sampai jumpa nanti malam.”


Bip.


Malik dapat bernafas lega karena ada Daniel papanya yang siap membantu dirinya, masalah satu selesai dan sekarang dia ingin bertemu langsung dengan pemilik King Brother Company yang terkenal sangat sibuk sekali.


”Bang ada Flo datang ke sini,” ucap Faris membuat Malik mengurungkan diri untuk pergi.


”Untuk apa dia datang ke sini?” tanya Malik. Faris hanya dapat mengedikkan bahunya.


”Selamat siang Bang, bisa bicara sebentar?” ucap Flo mengagetkan Malik dan Faris.


Malik memberi kode pada Faris dan pria itu langsung pamit pergi.


”Ada apa kau datang ke sini?” tanya Malik.


”Aku mau minta tolong, bebaskan mama Lani dari semua tuduhan,” balas Flo.


”Apa maksudmu?”


”Sekarang dia ada di penjara karena telah memalsukan data dan sekarang tidak bisa bergerak aku sudah coba hubungi nomor papa tapi tidak bisa, beliau seakan memutuskan akses komunikasi dengan kami.”


Malik menghela nafasnya teringat perkataan mantan mertuanya yang memang akan membiarkan Lani membayar apa yang telah dia perbuat selama ini padanya.


”Maaf Flo, aku tidak bisa bantu soal ini.”


”Kenapa Bang? Apakah Abang tidak lagi menghargai mama Lani sebagai mantan mertua? Bahkan karena dia Abang bisa bertemu dengan Tiara dan memiliki Emil sekarang.”


”Jelaskan alasan Abang tidak mau membantunya kenapa?” desak Flo.


”Kenapa kau begitu berhasrat untuk menyelamatkannya sedangkan kau sangat tahu jika dia sangat membenci dirimu, katakan Flo!”


Flo mengepalkan kedua tangannya rupanya kedatangannya ke sini adalah kesalahan besar karena nyatanya Malik tidak bisa membantunya.


”Cari saja Pak Tony sendiri, aku yakin saat ini dia pasti sudah tahu kabar tentang istrinya dari orang kepercayaannya di Paris.”


Flo terdiam mendengar perkataan Malik, apakah semua yang dialami oleh Lani sengaja di setting oleh Tony papa tirinya?

__ADS_1


__ADS_2