
Hana dan Malik berangkat bersama, Malik sendiri yang berinisiatif menjemputnya begitu sampai di depan kantor puluhan mata memandang ke arah mereka membuat Hana merasa risih dengan situasinya. Bisik-bisik antar pegawai mulai terdengar.
”Kau lihat tadi kan?”
”Lihat apa?” tanya yang lain.
”Itu Pak Malik satu mobil sama Bu Hana atau jangan-jangan mereka ada hubungan khusus ya?"
”Maksudnya mereka berkencan?”
”Bisa jadi, karena putranya itu kan dekat sama Bu hana.”
”Beruntung itu namanya habis dibuang langsung dipungut jadi permaisurinya raja, kali ini raja sungguhan. Pak Eric itu gak ada apa-apanya dibandingkan Pak Malik yang jelas tajir melintir dan Bu Hana pasti langsung menerima karena jaminannya hidup anti susah."
”Dah jangan ghibahin atasan nanti kalau ketahuan kena semprot tahu rasa!”
”Pak Malik, saya mau minta tolong,” ucap Hana.
”Apa? Selama itu tidak memberatkan diriku aku akan membantumu, katakan!”
”Tolong jangan berlebihan di kantor.”
Malik berhenti dan berbalik, ”Memangnya kenapa kalau saya berlebihan sama kamu, gak ada yang salah kan berlebihan pada orang yang saya sukai.”
”Tapi saya gak nyaman dengan perkataan teman-teman di kantor,” keluh Hana.
”Abaikan, biarkan mereka bicara sesukanya,” tegas Malik.
”Tapi Pak, saya ... ”
Belum selesai Hana bicara Malik sudah merengkuh pinggangnya membuatnya menabrak dada bidang pria itu dan Hana menjadi salah tingkah.
”Kau, kalau kerja hati-hati ya!” seru Malik pada petugas kebersihan yang hampir saja menabrak Hana karena janitor trolley cleaning berjalan terlalu ke tengah.
”Maaf Pak Malik saya gak sengaja,” ucapnya.
”Sudahlah lagian bapak ini gak sengaja kan, saya juga gak apa-apa,” sela Hana.
”Nanti makan siang jangan kemana-mana saya akan jemput kamu, kita makan siang di luar.”
Malik meninggalkan Hana yang sudah berada di ruang kerjanya bergegas ke ruangannya sendiri.
Hana bisa bernafas lega karena bisa lepas dari pria itu jujur Hana selalu tidak tenang bersama dengan Malik karena jantungnya berdebar kencang hal yang tidak pernah dia alami saat bersama dengan Eric.
”Kamu beneran ada hubungan sama Pak Malik?” selidik Indah begitu wanita itu masuk ke ruangan tersebut.
__ADS_1
”Astagfirullah, kau mengagetkan diriku saja,” ucap Hana.
”Beberapa kali aku call kamu tapi gak diangkat!” ucap Indah mengerucutkan bibirnya.
”Maaf, tadi aku ke sini juga bareng sama Pak Malik. Lah lagi nunggu taxi keburu dia datang.”
”Beli mobil sendiri kenapa, aku yakin kamu mampu beli,” ucap Indah.
”Bukan masalah mampu beli atau gak? Rumahku itu sempit gak ada garasi rencananya mau aku rubah dulu bagian samping buat garasi, masa iya aku beli mobil parkir di depan tiap hari kan gak mungkin,” ucap Hana.
”Iya juga sih, besok kita jadi kan? Aku mau nanyain itu saja kalau iya biar aku kosongkan jadwalku,” ucap Indah yang menagih janji liburan bersama ke pantai bersama.
”Boleh, aku gak ada janji dengan siapapun juga dan lagi otakku lagi sedikit panas belakangan ini mungkin memang sudah waktunya healing ya,” ucap Hana terkekeh.
”Tapi aku bareng sama Ario ya, gak apa kan?” tanya Indah dia khawatir jika Hana akan menolaknya.
Hana mencebik kemudian, ”Kok gak bilang kalau mau ajak dia ke sana, lalu aku bagaimana? Masa iya jadi obat nyamuk.”
”Kamu bisa ajak Emil bagaimana?” usul Indah.
”Gak mau lah,” tolak Hana.
”Hem, sinyal gagal piknik nih!” seru Indah.
”Beneran ya?” Hana hanya mengangguk, dia kembali ke meja kerjanya dan memulai aktivitasnya.
***
”Bagaimana kabar Hana Ma, apakah dia ada kasih kabar lagi?” tanya Soleh pada Rita istrinya.
”Belum ada, dia gak telepon lagi perkara kita titip makanan sama Ustadz Jaka. Apa papa yakin mau menjodohkan dia sama Ustadz Jaka itu?” balas Rita.
”Iya mau bagaimana lagi, anak jaman sekarang kalau dibiarkan biarkan sendiri terlalu lama juga bisa bahaya, apalagi dia seorang gadis,” ujar Soleh.
”Tapi setidaknya dia dikasih kebebasan dalam memilih pasangan hidupnya sendiri Pa, mama gak yakin jika dia mau menerima Ustadz Jaka jadi suaminya, lah bosnya saja jauh dari kata ganteng sudah masuk super ganteng malahan.”
Soleh melotot mendengar pengakuan istrinya itu, ”Darimana mama tahu?”
”Lah kan sebelum mama pulang waktu papa sakit itu Hana pulang diantar sama bosnya itu,” ucap Rita.
”Astaghfirullah lalu mama ngebiarin anak gadisnya ditinggal sendirian begitu?” Soleh menepuk keningnya sendiri.
”Kok mama percaya saja sama Hana kalau dia ngelakuin hal-hal buruk bagaimana?” ucap Soleh mulai khawatir.
”Pa, mama yakin Hana tidak akan melakukan hal-hal buruk dengannya lah dia terlihat orang yang bertanggung jawab kok meskipun penampilan luarnya seperti es,” papar Rita.
__ADS_1
”Ya Allah, sepertinya papa harus bertindak cepat nih!”
”Bertindak bagaimana?”
”Ya menikahkan putri kita segera!”
”Mama tidak setuju!”
Keduanya pun mulai bertengkar lagi karena ketidakcocokan yang ada.
”Papa maunya Hana menikah dengan Ustadz Jaka tolong mama mengerti!”
”Tapi belum tentu Hana mau Pa, karena selama ini Ustadz Jaka itu banyak penggemarnya dan Hana tidak suka akan hal itu apalagi kalau sampai di poligami nantinya,” seru Rita tidak mau kalah dengan suaminya.
”Jangan suka su'udzon Ma, lagipula Ustadz Jaka itu baik dan papa inginkan yang terbaik untuk Hana sendiri untuk dunia akhiratnya,” jelas Soleh.
”Ustadz Jaka bisa membimbing Hana jadi wanita solehah, hidup itu gak cuma untuk dunia tapi juga akhirat,” lanjut Soleh.
”Astaghfirullah Pa, semua harus seimbang! bosnya itu pria mapan, kaya lagi tampan, kalau soal ilmu agama bukankah dia juga bisa belajar buat jadi imam yang baik untuk keluarganya kelak. Papa juga jangan su'udzon sama dia belum tentu juga Ustadz Jaka pilihan papa itu yang terbaik.”
”Kalau memang begitu kenapa gak mama saja yang nikah sama bosnya Hana?”
”Ya ampun Pa, kenapa sekarang jadi senjata makan tuan? Kita sebagai orang tua pasti kasih yang terbaik buat anak-anaknya Pa, gak mungkin kita akan menjerumuskan anak sendiri. Mama yakin Hana sudah dewasa dan bisa belajar dari kesalahan yang kemarin.”
”Terserah mama saja mau bagaimana papa tetap akan menjadikannya kandidat calon menantu terbaik buat Hana.”
”Tidak mama tidak setuju!”
”Harus setuju di sini siapa kepala rumah tangganya, papa atau mama?”
”Siapa yang akan menjalaninya nanti adalah Hana bukan papa, lebih baik kita pasrahkan saja sama dia biarkan dia memilih dengan pilihan hatinya sendiri kita doakan saja yang terbaik untuknya. Kenapa Papa begitu bersemangat sekali memilih Ustadz Jaka itu.”
”Karena dia tetangga kita, dia soleh tahu ilmu agama tidak seperti Eric laki-laki tidak tahu diri itu yang bisanya hanya bikin malu keluarga!”
Soleh mengambil ponselnya dan segera mencari kontak Hana putri tirinya itu.
”Assalamualaikum ada apa Pa, kok tumben telepon Hana siang-siang begini?”
”Waalaikumussalam, bagaimana kabarnya di Jakarta Na? Bisakah kau pulang secepatnya?”
”Kenapa? Apa papa sakit lagi?”
”Bukan tapi papa mau menjodohkan mu dengan Ustadz Jaka.”
”Tapi Pa, Hana mau ...”
__ADS_1