Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
126. Harus Berani Jujur


__ADS_3

Masa lalu sebagai pembelajaran ambil yang baik dan simpan yang buruk jangan mengulanginya, itulah sosok Malik yang sebenarnya. Bagaimana dia di masa lalu dia simpan baik-baik dan tak ingin orang lain tahu tentangnya, hingga dia menemukan Tiara sosok wanita cantik yang menjadi istrinya. Namun ternyata wanita itu tidak bisa menemaninya karena penyakitnya dirinya menghembuskan nafasnya di rumah sakit setelah melahirkan Emil putranya.


Malik yang sekarang memang berbeda dengan Malik sepuluh tahun yang lalu dimana dia menjadi seorang pria yang tidak bertanggung jawab setelah mengambil keperawanan seseorang, lebih tepatnya kedua orang tua gadis itu tidak merestui hubungan mereka.


Dialah Cindy, gadis itu dengan rela menyerahkan semuanya pada Malik dan ketika Malik ingin bertanggung jawab, kedua orang tua Cindy justru menikahkannya dengan orang lain.


Salah siapa? Mengingat kejadian itu Malik jadi frustasi sendiri bagaimana dia harus bicara dengan Hana. Malik sadar dirinya bukanlah orang suci tanpa dosa tapi setidaknya dia bisa belajar dari kesalahan dan merubah semuanya menjadi lebih baik.


Malik pulang dengan wajah lesu dan tidak bersemangat tentu saja hal ini membuat Hana penasaran apakah di kantor suaminya banyak masalah, pekerjaan menumpuk atau agenda lain yang belum bisa dia lakukan.


Malik segera ke kamar dan membersihkan dirinya lantas segera turun untuk sekedar menyapa anak-anaknya yang tengah bermain di ruang tengah.


”Apa kabar jagoan papa, apa kalian tidak merindukanku?” tanya Malik dengan mimik wajah yang dibuat-buat olehnya tapi Hana mengartikan lain dari kalimat yang keluar dari bibir Malik.


”Emil kangen sama papa, tapi apakah papa ada waktu buat main sama kita berdua?” tanya Emil pandangannya tertuju ada kedua mata Malik.


”Memangnya harus banyak waktu untuk bermain dengan kalian? Sayang, papa kan juga sibuk kerja buat masa depan kalian berdua,” terang Malik menjelaskan semuanya pada Emil.


”Benar juga sih Pa, tapi rasanya Emil kayak gak punya papa karena gak bisa leluasa bermain denganmu.”


”Astaghfirullah gak boleh begitu Sayang, papa itu sangat sayang kok sama kalian berdua,” sela Hana yang tidak mau Malik disalahkan oleh putranya sendiri.


”Sebaiknya Emil segera istirahat ya, nanti kita menggambar lagi mau kan?” ucap Hana meminta putranya untuk berhenti lebih dulu.


”Baiklah jika begitu, Emil ke kamar dulu ya Ma.” Emil pun berpamitan dan masuk ke kamarnya karena dia tidak ingin mengganggu pembicaraan kedua orang tuanya.


Setelah Emil pergi barulah Hana bertanya pada Malik, ”Apa yang mengganggu pikiranmu Bang?”


”Eh?” Malik terkejut karena ternyata Hana sedang memperhatikannya dengan intens.


”Apa ada yang mengganjal di hati?” ucap Hana.


Malik diam haruskah dia cerita sekarang, ”Ada yang ingin Abang bicarakan denganmu tapi Abang ragu.”


Hana mengerutkan keningnya mendengar Malik berkata demikian. ”Apa itu Bang, katakan saja.”


”Non, ada telepon dari ibu,” teriak Bik Surti.

__ADS_1


”Sebentar Bik. Hana titip Aydan dulu ya Bang.” Hana segera bangkit meraih telepon di tangan Bik Surti.


”Hallo ada apa Ma?”


”Kamu ini mama telepon ke ponselmu tapi gak diangkat, apa Malik jadi pergi kan besok?”


”Sepertinya iya maaf Ma, karena Hana sedang bermain bersama dengan anak-anak dan ponselnya di kamar sedang dicas jadi gak tahu kalau mama telepon.”


”Oke baiklah sampai besok, mama akan ke sana bersama dengan Untari.”


”Baik, terima kasih.”


Bip.


Hana kembali menghampiri suaminya yang tengah bermain dengan Aydan.


”Sayang, sepertinya dia haus sejak tadi rewel,” ucap Malik dan dibenarkan oleh Hana.


”Sebentar mama siapkan tempat dulu ya Sayang.” Hana ingin menyiapkan tempat tidur untuk Aydan di dekat televisi dan mulai memberinya ASI.


”Hallo Faris, semuanya sudah fix kan?”


”Sudah Bang tinggal berangkat saja besok pagi, aku juga baru menemui Alvin dan bicara soal mantanmu itu agar dia tidak bertanya terus padamu karena dia mengaku melihatmu sedang bersama dengannya kemarin pagi.”


”Astaga jadi dia menanyakan hal itu padamu dan kau sudah menjelaskannya kan?”


”Iya sudah awalnya dia ragu untuk mengatakan hal itu padaku tapi setelah aku desak, dia mau mengaku jika dirinya penasaran dengan masa lalu Bang Malik.”


”Bagaimana responnya, apa dia marah?”


”Tidak, dia hanya bilang setiap orang pasti memiliki kisah kelam jadi untuk apa diperdebatkan karena yang pasti adalah baginya adalah bagaimana orang itu saat ini. Bang, aku yakin Mbak Hana memiliki pemikiran yang sama dengan adiknya karena keluarga mereka semuanya sangat baik.”


“Itu sudah pasti dan aku juga melihatnya sendiri bagaimana Hana dengan sabar bersamaku selama ini.”


"Baiklah jika tidak ada yang ingin kau sampaikan aku tutup teleponnya ada beberapa yang harus aku urus.”


”Baiklah hati-hati.”

__ADS_1


Malik menutup ponselnya dan kembali menata berkas yang berantakan di mejanya hingga Hana masuk dan memanggilnya untuk makan malam.


”Ayo Bang, makan malam sudah siap. Segera makan dan istirahat besok kau harus melakukan perjalanan jauh bukan?” ajak Hana membuat hati Malik menghangat bagaimanapun dia harus bersyukur karena memiliki istri sebaik dan secantik Hana dan Malik percaya masalahnya pasti akan selesai asalkan dia berani jujur pada istrinya itu.


"Bang!” Hana menepuk bahunya membuat Malik terkejut.


”Eh?”


"Ayo makan! Bang Malik kenapa sih kok sejak kemarin aneh dan sekarang makin aneh.” Mendengar hal itu Malik semakin bingung apakah dia berani jujur.


”Tidak ada kok, ayo makan!” Malik merangkul bahu Hana menuju meja makan.


***


”Kamu besok kan harus pergi kok masih santai?” tegur Rita memperingatkan Alvin yan masih santai di ruang tengah menonton bola.


”Mama lupa jika Alvin punya asisten pribadi, semua sudah diurus oleh Untari kok Ma,” sahut Alvin.


”Ya ampun tapi bagaimanapun kan tetap kau yang akan kerja jadi tetaplah kamu juga harus ikut berbenah diri, cek ulang apa saja yang kamu butuhkan bantu dia mencarikannya bukan malas sebaliknya kamu enak-enak dia yang repot urus semuanya.”


”Iya, itu juga udah selesai benar kan Sayang?” ucap Alvin menoleh ke arah Untari.


”Iya, semua sudah selesai mama tidak perlu khawatir ya.” Untari memotong buah dan meletakkannya di meja.


”Besok kita tidur di rumah Hana, doakan suamimu ini pulang dengan selamat,” ucap Rita pada menantunya.


”Baik Ma, itu pasti jadi mama tidak perlu khawatir soal itu setiap waktu Untari selalu doakan keluarga ini kok,” jawab Untari.


”Oh iya tadi Alvin baru saja bicara dengan Bang Faris, mama jangan kaget ya jika mendengar hal buruk tentang Bang Malik nantinya,” ucap Alvin kemudian dia tak ingin mamanya salah paham dan berpikir untuk memberitahukannya sekarang.


”Memangnya apa yang terjadi di luar? Jangan bikin mama jadi kesel ayo katakan Alvin!”


Alvin menoleh ke arah Untari dan mendapat anggukan dari istrinya. ”Sebenarnya Bang Malik sedang dalam masalah, Ma. Tapi tolong jangan beritahu Kak Hana dulu, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.”


”Kok mama gak diceritain, ayo kamu harus cerita pada mama sekarang!” desak Rita.


Alvin dan Untari saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2