
”Angela,” lirih Alvin.
”Hallo Vin, kita ketemu lagi,” bisik Angela.
”Kalian sudah saling kenal?” tanya Malik.
”Sudah Bang, dia itu teman ...”
”Teman ketemu gak sengaja di Singapura,” potong Angela dia tak mau orang lain tahu jika dia pun melakukan kencan buta demi mencari cinta sejatinya. Angela tak mau orang lain tahu jika dia sebenarnya sedang mencari cinta yang belum dia temui di dunianya.
”Oh begitu rupanya,” ucap Malik dia menangkap sesuatu yang tidak biasanya dari Alvin tapi dia berpura-pura tidak tahu apapun.
”Baiklah karena kalian sudah saling mengenal aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Sekarang kau bisa balik ke ruanganmu nanti Faris yang akan menunjukkannya padamu. Miss Angela, mulai besok kita akan bekerja sama tolong saling kooperatif dengan sesama.”
”Oke. Saya permisi dulu, sampai jumpa besok!” Angela pun pamit meninggalkan ruangan Malik.
”Alvin kau yakin jika kalian hanya berteman saja?” selidik Malik.
”Memangnya kenapa Bang, apakah ada yang salah?” tanya Alvin.
”Tidak ada hanya saja terasa aneh kamu kok bisa kenalan dengan dia?”
”Ya kita ketemu juga gak sengaja kok Bang,” ucap Alvin.
”Oke kalau begitu, besok kau harus bikin iklan dengannya tolong kerjasamanya ya, jangan bikin abangmu ini kecewa.”
”Siap bos!”
Alvin pun segera keluar meninggalkan Malik yang masih menyimpan tanda tanya pada Alvin dan Angela.
”Faris tolong kau awasi Alvin dan Angela,” ucap Malik pada Faris.
”Kenapa apa ada yang aneh dengan mereka berdua?” tanya Faris.
”Sepertinya mereka berdua menyimpan sesuatu deh!”
”Seperti apa?”
”Sepasang kekasih?”
Faris tergelak mendengar tuduhan kakak iparnya itu, ”Meskipun mereka adalah sepasang kekasih kita tak ada hak Bang, biarkan saja mereka begitu kan masih muda. Abang dulu juga gitu sama mbak Tiara.”
Malik melotot mendengar nama almarhumah istrinya disebut oleh Faris.
”Maaf, tapi memang begitu kan faktanya?” ucap Faris.
”Jangan heboh kamu,” kilah Malik.
”Fakta Bang, biarkan mereka mencari cintanya sendiri. Alvin itu masih muda kok cakep lagi sama kayak Angela cantik masih sama-sama muda.”
”Masalahnya adiknya Hana itu baru saja patah hati jadi aku ragu apakah Alvin itu benar-benar suka sama Angela atau hanya ingin melampiaskan kekesalan hatinya lewat Angela.”
”Positif thinking saja deh dia anak baik dan gak akan ngelakuin hal-hal yang buruk, kamu harus percaya Bang kalau Alvin bisa jaga diri.”
”Ya sudahlah, mau diapain juga tetap saja aku kalah,” ucap Malik.
”Ayo nyali kerja lagi!”
***
__ADS_1
”Ma, itu tukang bakso tempo hari yang kasih Emil bakso.”
Hana menatap ke arah jari telunjuk Emil dengan perlahan Hana menggandeng Emil mendekati Eric.
”Baksonya ya sepuluh bungkus,” ucap Hana.
Eric terkejut melihat siapa yang ada di belakangnya.
”Ha-hana,” panggil Eric gugup.
”Iya, tolong baksonya ya sepuluh bungkus kosongan saja tanpa mie sambal n saosnya dipisah.”
”Baik.”
”Nanti Bik Surti sama Mang Tejo juga makan baksonya ya, Ma?”
”Tentu saja Sayang, bagikan juga dengan Pak sekuriti nanti.”
”Baik Ma, mama memang yang terbaik.”
”Bagaimana keadaanmu Na?” tanya Eric.
”Seperti yang kamu lihat sekarang,” jawab Hana.
”Kamu memang pantas bahagia.”
Suara tangisan bayi membuat Hana dan Emil terkejut karenanya, Hana mencari-cari sumber suara dan terkejut melihat bayi mungil tengah menangis.
”Itu anakku Na, Ayu gak mau mengasuhnya jadi aku bawa dia keliling,” ucap Eric.
”Na, terima kasih ya karena kamu udah nolongin aku lagi, saat aku sedang kesulitan biaya operasi Ayu di rumah sakit,” sambungnya.
”Ibuku sedang beli susu di minimarket depan karena susunya habis.”
”MasyaAllah tega sekali Ayu, padahal ini anaknya sendiri.”
”Ya ini lebih baik daripada dia ditinggal dan tidak di urus.”
”Sabar ya, semoga Ayu segera tersadar dari kesalahannya,” ucap Hana.
”Sulit sekali dan itu sepertinya tidak mungkin karena sekarang dia justru minta cerai dariku,” ungkap Eric.
”Yang sabar dan jalani semuanya dengan ikhlas, Kak Emil kau lihat adik bayi ini lucu sekali ya,” ucap Hana menoleh pada Emil yang sedang memperhatikan anaknya Eric sesekali dia memainkan jari tangannya yang mungil.
”Benar Ma, dia begitu mungil sekali,” ucap Emil lalu tersenyum pada bayi itu dan sesekali bayi itupun membalas senyuman Emil seakan tahu jika Emil sedang menghiburnya.
”Ini baksonya sepuluh bungkus.”
Hana mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah dan memberikannya pada Eric.
”Ini kebanyakan,” ucap Eric.
”Gak apa, sisanya buat dia beli susu maaf baru bisa melihatnya sekarang. Sehat terus ya Nak, semoga jadi anak sholehah yang bikin papamu bahagia dunia akhirat.”
”Aamiin.”
”Aku permisi dulu ya, Assalamu'alaikum.”
”Waalaikumussalam.”
__ADS_1
Kembali Eric seakan tertampar dengan kenyataan yang baru saja dialaminya dulu dia menyia-nyiakan wanita itu dan sekarang dia datang dan memberinya bantuan dan juga doa.
”Mama kenal dengannya?" tanya Emil tiba-tiba.
”Iya Sayang, sangat kenal.”
”Kasihan ya adiknya gak ke urus gitu, mamanya kok tega banget.”
”Sudah jangan ngomongin orang begitu gak baik ya,” tegur Hana.
”Maaf Ma, lagian memang Emil merasa kasihan kok bayi diajak jualan kalau panas masih mending kalau pas hujan dia mau berteduh dimana?”
Mendengar komentar Emil hati Hana merasa tercubit bagaimana mungkin Ayu tega membiarkan bayinya tidak terurus begitu, ibu macam apa dia bahkan mengandungnya saja sudah sangat melelahkan dan melahirkannya mempertaruhkan nyawanya tapi setelah keluar dia merasa tak menginginkannya.
”Bik,” panggil Hana.
”Ya Non, Ya Allah ini apaan Non?” Bik Surti mengambil alih kantong plastik yang berisikan baso dari tangan Hana.
"Itu bakso Bik, tolong dibagikan pada yang lain ya,” ucap Hana seraya meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba kram.
"Baik, Non Hana gak apa-apa kan?” tanya Bik Surti.
Hana hanya mengangkat telapak tangannya meminta Bik Surti tetap tenang dan pergi membagikan bungkusan itu.
”Den Emil di sini saja ya jagain Mama, Bik Surti mau bagiin ini dulu ke depan.” Bik Surti pergi ke dapur dengan tergopoh-gopoh mengambil mangkok dan nampan, lalu memasukkan bakso yang masih berada di plastik biarlah sekuriti dan Tejo membukanya sendiri.
”Mang,” teriak Bik Surti.
”Tolong bawa ini ke depan ya,” titah Bik Surti.
”Ini juga masih ada kalau mau ambil yang di sini saja biar yang di depan dihabiskan sama mereka.”
”Siap.” Mang Tejo langsung membawa nampan tersebut dan Bik Surti kembali ke ruang tengah melihat Hana yang sedang meringis kesakitan.
”Apa masih sakit Non, perlu ke Dokter atau saya telepon Den Malik buat pulang ke rumah?” cecar Bik Surti yang ikutan panik.
”Gak perlu Bik, mungkin ini yang namanya kontraksi palsu ya," ucap Hana.
”Mungkin tanda-tandanya mau segera lahiran Non, maklum saya belum pernah mengalaminya dulu lahiran dua anak saya sesar semua.”
”Bik tolong panggilkan Bang Malik suruh dia pulang sekarang!"
”Baik Non.”
Bik Surti yang gugup pun menghubungi bosnya di kantor dan memintanya untuk segera pulang.
”Apa Bik, Hana mau melahirkan?”
”Ini Non Hana sudah sakit-sakitan mungkin akan segera melahirkan?”
”Saya pulang sekarang Bik, tolong jagain Hana ya.”
Bip.
Sambungan pun terputus begitu saja.
”Den Malik sedang otw pulang Non, sabar ya.”
Bik Surti dan Emil menatap iba pada Hana yang sedang merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1