
”Loh, kok kamu udah berangkat ngantor aja, bukannya kamu masih sakit?” Alvin segera keluar dari mobilnya menghampiri Untari yang tengah duduk di halte bus.
”Eh, iya nih Vin. Di kantor banyak kerjaan jadi ya harus masuk ijinnya cukup sehari saja gak enak dengan Pak Malik beliau udah baik banget kok sama aku.”
Alvin mengangguk paham, ”Lalu kenapa duduk di sini memangnya gak bawa motor?”
Untari hanya menggelengkan kepalanya singkat dan menjelaskannya pada Alvin jika tadi pagi dia diantar oleh kakaknya Mas Jaka.
”Sekarang dia gak bisa jemput karena motornya dibawa sama Abi, jadi ya gitu deh nunggu bus di sini.”
”Ayo aku antar pulang!” tawar Alvin setengah khawatir bertemu dengan Ustadz Amir karena sejujurnya dia sendiri belum siap tapi jika dibiarkan sendirian pun Alvin takkan tega membiarkan Untari menunggu bus lewat sendirian. Alvin segera membuka pintu mobilnya mempersilakan Untari masuk.
”Memangnya kakimu sudah sembuh?” tanya Untari.
”Belum sepenuhnya masih sedikit ngilu kalau kelamaan jalan,” jawab Alvin tanpa melihat ke arah Untari dirinya fokus pada jalanan.
Sesekali Untari melirik ke arah Alvin dirinya melihat Alvin yang berbeda dia sedikit lebih dewasa meskipun ada dasarnya dia suka usil jika sudah bersama dengan teman-temannya.
”Kenapa?” Alvin sadar jika dirinya sedang diperhatikan.
”Tidak ada apa-apa kok!”
”Bohong! Aku tahu kamu memperhatikan diriku sejak tadi, jangan disimpan sendiri kalau suka bilang nanti takutnya malah digebet orang lain nyesel deh!”
”Ck! Pede banget jadi orang!”
”Harus!”
Keduanya pun kembali diam hingga akhirnya Alvin memberanikan diri kembali bertanya pada Untari.
”Kamu belum punya pacar kan?”
”Apa itu penting?”
Alvin menganggukkan kepalanya, ”Iya tentu saja bahkan saking pentingnya sehingga aku menanyakannya padamu sekarang.”
”Bagiku pacaran gak penting ya, karena yang aku butuhkan itu langsung khitbah bukan pacaran,” ujar Untari.
”Lalu sosok seperti apa yang inginkan?” selidik Alvin dia ingin tahu kriterianya dan apakah dia masuk ke dalam kategori pria idaman gadis cantik nan solehah yang ada di sampingnya ini.
”Kalau baik itu sudah pasti ya, pinter ngaji, tampan dan kaya itu nilai plusnya.”
”Kalau gak pinter ngaji gimana? Apa masih bisa daftar?”
Untari menatap ke arah Alvin sejenak lalu tersenyum sejenak. ”Memangnya kamu gak bisa ngaji?”
__ADS_1
”Gimana mau bisa ngaji kalau disuruh ngaji malah main PS, kalau gak ya main bola sama anak komplek! Bisa juga cuma Alif, ba, ta, doang!” ucap Alvin membuat Untari tertawa mendengarnya.
”Kok malah diketawain?”
”Habisnya kamu lucu, masa iya udah segede ini masih gak bisa ngaji kebangetan sih,” ejek Untari.
Alvin menghentikan mobilnya ketika sampai di tujuan dan dirinya hendak turun dari mobil namun dihentikan oleh Untari. ”Gak perlu Vin, biar aku saja lagipula gak enak dilihat tetangga.”
”Yah elah, kayak di kampung saja. Di sini mana ada tetangga yang mau negur percaya deh, mau kita bagaimanapun mereka mana peduli.”
”Astaghfirullah jangan begitu Vin! Tuh kan Abi pulang mana lihat lagi, duh gimana nih?” Untari buru-buru turun dari mobil Alvin. Alvin sendiri yang kepalang tanggung berada di depan Ustadz Amir pun akhirnya turun dan menyapanya.
”Assalamualaikum Tadz,” sapa Alvin.
”Waalaikumussalam, kamu Alvin putranya Pak Soleh kan?” balas Ustadz Amir.
”Iya benar, masuk dulu.” Ustadz Amir mengajak Alvin masuk kedua mengobrol di teras rumah.
”Papamu sehat kan? Udah lama saya gak bertemu dengan beliau, kalau gak salah setelah pensiun itu karena beliau jarang lewat.
”Iya karena papa lebih menyibukkan dirinya di rumah, kadang ngajar les anak-anak yang mau itu saja sih.”
Ustadz Amir mengangguk dia tahu bagaimana Soleh sahabatnya itu sangat ramah di kampungnya bahkan beliau pun mengajarkan anak-anak tanpa memungut bayaran. ”Kamu gak ngikutin jejak papamu?”
”Assalamu’alaikum.” Seorang pria datang menghampiri keduanya.
”Waalaikumussalam,” jawab keduanya.
”Maaf apa benar ini rumahnya Untari?”
Ustadz Amir menatap lekat pada pria tampan dengan aksen wajah kearab-araban itu. ”Ada perlu apa ya cari putri saya?”
”Ahmed,” seru Untari dari ruang tamu.
”Kamu kenal dia Dek?” tanya Ustadz Amir.
”Kenal Abi, dia teman di Kairo. Kamu ngapain datang ke sini?” tanya Untari.
Merasa mendapatkan tamu yang datang dari jauh Ustadz Amir segera mempersilakannya masuk ke dalam. Alvin merasa cemburu dengan sikap Ustadz Amir yang terlihat berlebihan pada Ahmed.
”Jadi maksud kedatangan saya kemari itu untuk melamar Untari, maaf jika ini terlalu mendadak tapi Ahmed sudah memikirkannya jauh-jauh hari Ustadz. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.”
Mendadak Alvin lemas seketika mendengar perkataan Ahmed, pandangannya beralih pada Untari yang terdiam begitu Ahmed menyelesaikan perkataannya itu.
”Bagaimana Untari apakah kau mau menerima lamarannya?” tanya Ustadz Amir.
__ADS_1
”Kasih saya waktu Abi.”
Alvin pulang ke rumah dengan wajah muram dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada orang tuanya yang pasti dia ingin segera menyelesaikan segera keinginannya untuk melamar Untari terlebih sekarang dia sudah keduluan Ahmed pria yang tidak kalah tampan dengannya.
***
”Apa yang terjadi Ma?” Hana tidak bisa menahan rasa penasarannya dengan apa yang terjadi di rumahnya.
”Adikmu ... dia ... ”
”Kenapa Ma? Jangan bikin Hana penasaran dengan apa yang sedang terjadi!”
Malik memandang ke sekelilingnya tidak ada yang aneh bahkan Alvin sendiri tidak ada di rumah tap kenapa kedua mertuanya tampak gelisah dan bingung sendiri. Malik mengambil Aydan dan membiarkan keduanya untuk berbicara dengan baik.
”Kau urus mama sama papa biar Abang yang handle Aydan dulu.”
Hana mengangguk mengiyakan perkataan suaminya dengan segera dia langsung membawa keduanya ke ruang tengah Malik pun mengikuti tapi dia tidak fokus pada masalah yang sedang dibahas oleh mereka bertiga.
”Jadi itu yang terjadi, lalu kemana sekarang anak itu?” tanya Hana karena sejak tadi dia tidak melihat adiknya itu.
”Dia pergi karena papa tidak menyegerakan permintaannya itu,” ucap Soleh.
”Jadi anak itu marah, lagipula Untari juga belum kasih jawaban kan kenapa dia ketakutan begitu. Nanti biar Hana bicara langsung dengan Untari Pa.”
”Memangnya kamu yakin bisa bantu adikmu?” ucap Rita menyela duluan karena dia khawatir jika nanti keluarga Ustadz Amir akan mengungkit perihal Jaka yang dulu sempat ditolak oleh Hana.
”Jodoh takkan kemana Ma, sekuat apapun kita berusaha jika bukan jodohnya ya takkan pernah bersatu. Biarkan saja dulu Alvin mungkin sedang menenangkan dirinya sendiri.”
Malik dan Hana pulang setelah mendengarkan semua keluhan kedua orang tuanya Hana memilih untuk menghubungi Untari dia ingin bicara berdua sebagaimana adik dan kakak. Begitu tiba di rumah dan membereskan semuanya, Hana segera mengambil ponselnya dan menghubungi Untari.
”Hallo Mbak Hana, apa Mbak lagi cari Alvin?”
”Tidak, Mbak malah mau bicara sama kamu. Memangnya Alvin sama kamu?”
”Sekarang dia ada di depan rumah, Abi sama Mas Jaka sedang pergi Mbak Hana bisa tolongin aku agak Mbak? Alvin memintaku untuk menolak lamaran Ahmed. Alvin ada di luar gak tak bukain pintu. Untari takut Mbak.”
”Astaghfirullah apalagi ini. Kamu tetap di sana jangan bukain pintu sebelum aku datang.”
Bip.
”Bang, antar Hana ke rumah Untari sekarang!”
Malik yang baru saja mandi pun ikut bingung dengan sikap istrinya itu.
”Sekarang?”
__ADS_1