
”Hana terserah Bang Malik saja Ma, lagipula sebentar lagi Emil juga masuk sekolah kan?” ucap Hana.
”Pergilah sebelum Emil masuk sekolah masih ada satu pekan lagi kan, kalian bisa berlibur,” jelas Maryam.
Hana menatap ke arah Malik, ”Apa Emil boleh diajak?”
Malik menautkan alisnya, ”Kalau dia diajak bagaimana kita bisa berpacaran, aku tidak yakin dia tidak akan mengganggu kita berdua. pasti akan ada saja usahanya untuk membuat kita tidak bisa berduaan.”
”Lah, cemburu kok sama anak kecil,” ucap Hana.
Bukannya marah, Malik justru tersenyum mendengar perkataan Hana, ”Aku bahagia dapat istri sepertimu yang tidak mementingkan diri sendiri tapi juga orang lain. Bagaimana Ma, apakah boleh Emil ikut?”
”Terserah kalian saja, tapi harus extra hati-hati jika bawa dia mengerti!” ucap Maryam.
Hana menghampiri Emil sedangkan Malik mengikuti Maryam ke dapur. ”Syukurlah jika semua berjalan lancar, Mama senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan kerjaan dia kantor apakah dia mau resign?”
”Untuk sementara mungkin belum Ma, tapi nanti jika dia mau keluar ya sudah Malik akan menyetujuinya. Malik gak maksa dia untuk kerja ataupun dia harus keluar terserah dia bagaimana nyamannya dia.”
”Kau memang yang terbaik, bawa ke depan kasih Hana makan ini oleh-oleh dari papamu,” ucap Maryam.
’Cup’
”Makasih Ma,” ucap Malik.
Malik berlalu ke ruang tengah dilihatnya Emil sedang berbaring di pangkuan Hana. ”Sayang kita jalan-jalan yuk!”
”Ayo Pa,” sahut Emil antusias.
”Papa ngajak Mama kok kamu yang semangat!” seru Malik.
”Iya lagian ke Jogja gak ajak-ajak Emil kan juga pengin tahu rumah Oma di sana.”
”Lain kali kita ke sana Sayang, maafkan Papa ya kemarin benar-benar tidak bisa membawamu ke sana,” sesal Malik.
”Sebagai gantinya ayo kita pergi jalan-jalan ke mall, bagaimana?”
Malik mengangguk, ”Baiklah ayo kita berangkat!”
Malik pun berpamitan pada Maryam dia akan pergi ke mengajak keduanya ke mall membeli beberapa barang untuk Hana.
”Yuk ke sana!” ajak Malik pada sebuah toko lingerie.
”Ngapain kita ke sini Bang?” tanya Hana curiga.
”Aku mau beliin kamu kok kenapa? Pilihlah yang kamu suka?” jawab Malik.
Hana membelalakkan matanya, ”Tapi Bang aku gak terbiasa pakai pakaian begitu,” bisik Hana. ”Baju tidur Hana di rumah juga masih bagus-bagus,” lanjutnya.
Malik meraih pinggang Hana, ”Abang pengin kamu beli Sayang, bukankah menyenangkan suami juga berpahala,” bisik Malik membuat Hana merona.
Hana bukannya tidak tahu tapi dia terlalu malu. Hana pun segera mengambil beberapa potong dan langsung membawanya ke kasir Malik yang melihatnya pun tersenyum senang melihatnya.
__ADS_1
”Apalagi yang kau butuhkan Sayang, aku akan memberikannya padamu,” tanya Malik.
”Aku gak butuh apapun karena aku sudah punya semuanya,” jawab Hana .
”Hana, kamu di sini juga?” sapa Eric sumringah dia belum menyadari keberadaan Malik yang sedang duduk di kursi.
”Iya, ke mana istrimu kenapa tidak diajak?” tanya Hana menatap tangan Eric yang menenteng susu ibu hamil.
”Dia sedang hamil dan sedang tidak ingin jalan-jalan. Oh iya sama siapa kau ke sini?”
Hana menunjuk pria yang ada di kursinya duduk santai dengan ponselnya. ”Hallo Om,” sapa Emil membuat Eric tersenyum kecut melihatnya.
Eric menarik lengan Hana sedikit menjauh dari Malik dan Emil membuatnya sedikit terkejut dengan sikap Eric.
”Awwh, lepasin gak!” seru Hana membuat Malik terkejut dan langsung menatap tajam ke arah Eric.
”Lepasin dia gak?” teriak Malik membuat pengunjung yang lain mengalihkan perhatiannya pada mereka bertiga.
”Hana tolong katakan sesuatu padaku kau tidak sedang menjalin hubungan dengan dia kan?” desak Eric.
Malik segera menghampiri keduanya dengan santai dan meraih tangan istrinya.
”Bukankah kalian sudah putus lalu untuk apa kau ingin tahu kehidupan pribadinya,” ucap Malik tegas.
”Bukan urusan Anda Pak Malik dan ingat ini bukan di kantor jadi maaf jika saya kurang hormat pada Anda,” sahut Eric.
”Kau benar tapi apakah kau tidak malu karena sudah mengganggu istri orang, atau perlu saya laporkan pada pihak berwajib atas tuduhan tindakan tidak menyenangkan?”
”Itu dulu sebelum kau menghianati diriku Eric dan semua hanya masa lalu jadi tolong jangan ganggu kehidupanku,” ucap Hana.
”Kamu dengar sendiri kan penjelasannya! Sekarang jangan pernah ganggu dia lagi, kamu itu sudah salah pilih melepaskan berlian hanya untuk sepotong sampah!” ucap Malik.
”Ayo Sayang, kita pergi dari sini,” ajak Malik mengandeng tangan Hana dan Emil meninggalkan Eric yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
”Kau tidak apa kan?” tanya Malik pada Hana.
”Tidak.”
”Ma, dia siapa sih kok jahat banget sama Mama?” tanya Emil.
”Dia itu teman Mama Sayang, udah jangan diingat lagi ya apa yang dia katakan tadi,” ucap Hana.
”Kita makan yuk! mendadak Mama lapar,” ucap Hana pada Emil membuat bocah cilik itu tersenyum kembali.
”Emil mau makan di rumah Ma, Emil mau makan masakan buatan Mama yang sayur ada baksonya itu Ma, pakai sosis juga,” papar Emil.
”Mm, baiklah kita ke supermarket depan ya kita beli bahannya dulu.”
”Aku ke toilet sebentar ya, jangan kemana-mana!” ucap Malik.
”Kita ke supermarket ya Bang,” sela Hana.
__ADS_1
”Jangan jauh-jauh mengerti!” Malik segera ke toilet.
Dengan cepat Emil menarik satu troli. ”Emil mau naik?” tawar Hana.
”Memang boleh?”
”Boleh dong, sini Mama angkat.” Hana segera menggendong Emil masuk ke keranjang belanjaan.
”Makasih Ma, jujur ini baru pertama kali Emil naik seperti ini,” ucap Emil.
”Oh iya, memangnya Oma atau Tante Sabrina gak pernah ajak ke sini buat belanja?” tanya Hana.
”Pernah Ma, tapi sebentar dan gak pernah lama,” jawab Emil.
”Kita ke tempat sayuran dulu.” Hana mendorong keranjang tersebut dan mengambil beberapa macam kebutuhannya.
”Kok dikit Ma?” tanya Emil.
”Seperlunya saja Sayang, Mama gak suka simpan barang-barang terlalu lama apalagi sayuran kalau gak fresh gak enak mending beli di tukang sayur yang tiap hari lewat kan bisa bantu dia juga.”
”Tapi di rumah Papa gak ada tukang sayur lewat Ma,” seru Emil.
”Benarkah? Lalu Emil gak pernah makan sayur dong?” sahut Hana.
”Bik Surti akan ke pasar dua atau tiga hari sekali,” jawab Malik.
”Eh sudah selesai?” tanya Hana melihat Malik sudah ada di dekatnya.
”Biar aku yang dorong,” ucap Malik mengambil alih trolinya.
”Makasih.”
”Memangnya mau masak apa?” tanya Malik.
”Ya Emil request capcay,” ucap Hana meringis karena menahan malu teringat terakhir kali Emil makan di rumahnya yang dia suguhkan adalah capcay.
Malik mengangguk, ”Lalu kamu gak tanya aku mau makan apa?”
Hana menghentikan langkahnya dan menatap Malik. ”Memangnya Abang mau makan apa?”
Malik tersenyum menyeringai membuat Hana bergidik melihatnya. ”Jangan nakutin Hana Bang!”
”Emil Sayang, kamu juga di sini ya?” seru Flo tiba-tiba muncul di depan mereka.
”Bang belanja kok gak bilang-bilang, aku ada referensi barang murah tapi gak murahan loh,” ucap Flo.
”Gak perlu Tante, Mama juga bisa kok pilih barang murah tapi bagus,” sahut Emil.
”Mama?” ulang Flo menatap tak suka pada Hana.
”Dia Mamaku Tante, namanya Mama Hana.”
__ADS_1
Flo terkesiap mendengar penuturan Emil, ”Apa? Kapan kau menikah Bang?”