
”Kak, tadi papa telpon bilang kalau Kak Hana mau dijodohin sama ustadz Jaka.”
Hana membulatkan matanya mendengar penuturan Alvin, ”Duh papa ini ada-ada saja, dia kan penggemarnya banyak mana mau sama aku.”
”Mm, bukannya dulu Kak Hana juga jadi salah satu fansnya?”
”Kata siapa? Itu hanya rumor dan kakak itu sama sekali gak ada rasa sama dia. Sepertinya aku harus meluruskan sesuatu nih.”
”Jangan menolak rejeki Kak, soalnya kakak gak tahu bagaimana Mas Jaka sekarang selain sholeh dia juga handsome yakin gak tertarik?”
Hana menghela nafasnya memikirkan kedua orang tuanya di Jogja.
”Mungkin papa tidak mau kau tertipu lagi Kak, jadi beliau berinisiatif mencarikan jodoh terbaik untuk Kak Hana,” ucap Alvin.
”Ya tapi kan gak segitunya kali Vin, duh kepala rasanya semakin pusing.” ucap Hana memijat kepalanya sendiri.
”Jangan dipikirkan terlalu dalam bilang saja di sini juga ada yang sedang pendekatan,” goda Alvin.
”Siapa?” Hana menghentikan kegiatannya menatap Alvin.
”Ya bapaknya anak ini yang sedang kakak buatkan cookies,” seru Alvin bersiap-siap lari menjaga diri jika Hana marah.
”Kamu salah besar, kita gak ada hubungan apapun Vin, sebatas bos dan pegawai,” terang Hana.
”Tidak mungkin. Kak, aku kasih tahu ya sama Kak Hana. Sebagai laki-laki Alvin tuh tahu mana yang jatuh cinta dan tidak. Alvin tahu banget kalau bosnya Kak Hana itu memiliki perasaan lebih terhadap Kak Hana tanpa dia sadari.”
”Sok tahu, kayak peramal saja!” ujar Hana terkekeh.
”Lah pikirkan saja sekarang Kak, buat apa dia datang ke sini hanya untuk menjenguk Kak Hana yang sedang sakit padahal kan Kakak itu hanya pegawainya saja gak ada hubungan apapun selain bos dan pegawai kan.”
”Kemarin Alvin gak sengaja menguping pembicaraan kakak sama dia, jelas kok dia mengakui kalau dia itu khawatir begitu mendengar Kak Hana sakit dan langsung ke sini. Di antara ribuan pegawainya kenapa hanya kakak saja yang diperlakukan begini?” lanjut Alvin.
”Duh kamu semakin kritis aja mengomentari orang lain. Vin, kakak kasih tahu ya, dia itu khawatir jika pegawainya sakit nanti siapa yang akan bantu pekerjaan dia? Aku butuh uangnya dan dia butuh tenaga dan pikiranku udah gitu aja sih kakak mikirnya.”
"Kakak terlalu polos!”
”Terserah!”
”Kak, mama saja kemarin terkejut ketika bosnya Kak Hana datang ke rumah dan sebenarnya beliau itu khawatir sama kakak, makanya Alvin disuruh cepat-cepat balik ke Jakarta karena takut putrinya gak ada yang jagain.”
”Duh jadi terharu punya adik sayang sama kakaknya,” puji Hana.
”Alvin serius Kak, kok Kak Hana malah gitu!”
”Iya deh, nanti kakak akan pikirkan lagi.”
Hana mengangkat cookies yang sudah matang dan memasukkannya ke dalam toples kecil.
”Kak,” panggil Alvin.
”Mama sama papa itu ingin yang terbaik buat kita meskipun kadang cara mereka itu terlalu berlebihan tapi mungkin itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang ada anak-anaknya,” ucap Alvin.
”Ish, Alvin kakak kasih tahu kamu ya, udah deh jangan sok tua menasehati kakak. InsyaAllah kakak tahu mana yang terbaik untuk kakak sendiri, mending kuliah aja belajar yang bener kalau lulus dengan nilai terbaik kakak yakin orang tua pasti bangga sama kamu. Oke!” seru Hana.
__ADS_1
”Ya ampun kak, terserah kakak saja deh!” Alvin memilih pergi karena merasa lelah berdebat dengan Hana.
***
”Tanya atau gak ya, bukannya dia temannya Hana?” gumam Malik.
Sudah tiga hari Hana tidak masuk ke kantor dan selama itu juga Malik merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Jangan tanyakan Emil yang tiap kali merengek memintanya untuk mengantarkannya ke rumah Hana.
”Indah,” panggil Malik.
”Kamu yang namanya Indah kan temannya Hana? Eh maksud saya Bu Hana?” ralat Malik.
”Iya ada apa Pak Malik?” jawab Indah.
”Apa dia sudah sehat?” tanya Malik.
”Iya, mungkin hari ini dia masuk kerja soalnya kan akhir bulan juga iya pasti banyak pekerjaan,” balas Indah.
”Oh begitu, baiklah terima kasih informasinya.” Malik segera berlalu meninggalkan Indah di depan meja kerjanya.
Begitu masuk ke ruangannya Flo sudah ada di sana.
”Ada apalagi kau ke sini Flo?” tanya Malik.
”Aku ingin bertemu dengan Emil dan minta ijin padamu untuk mengajaknya keluar jalan-jalan. Apa boleh?”
”Tapi aku tidak yakin dia akan mau pergi denganmu karena kau tidak dekat dengannya,” sahut Malik.
”Aku melakukannya karena permintaan dari almarhumah kakakmu Tiara,” jelas Malik.
”Ini tidak adil!” protes Flo.
”Terserah aku hanya melakukan sesuai amanat darinya,” tukas Malik.
”Bang, boleh aku tanya sesuatu padamu?”
Malik mengalihkan pandangannya pada Flo, ”Apa yang ingin kau tanyakan?”
”Apakah kau sudah memiliki kekasih?”
Malik terdiam sejenak.
”Jika kau diam berarti jawabannya adalah sudah!” ucap Flo.
”Memangnya ada urusan apa sehingga kau menanyakan hal itu?” balas Malik.
”Aku hanya ingin tahu saja, barangkali masih ada kesempatan untukku mengganti posisi Kak Tiara.”
”Tidak.”
”Maksudnya?”
”Aku tidak akan menggantikan posisinya denganmu, mengertilah karena bagaimanapun kau akan selamanya aku anggap sebagai adik tidak lebih.”
__ADS_1
”Egois!”
Tok ... tok ... tok ...
”Masuk!”
”Maaf Pak, saya kira sedang tidak ada tamu,” ucap Hana.
”Tidak apa dia adik iparku, ada apa Hana?” tanya Malik.
”Saya mau kasih ini buat Emil.” Hana menyerahkan toples kecil berisi cookies buatannya.
”Terima kasih dia pasti akan senang sekali.”
”Kalau begitu saya balik ke ruangan saya permisi.”
Hana tersenyum mengangguk pada Flo tapi Flo tidak menanggapi senyuman Hana dan terlihat acuh padanya.
”Siapa dia Bang? Kelihatannya akrab denganmu?” tanya Flo.
”Dia pegawaiku,” jawab Malik.
”Bukan itu yang aku tanyakan tapi hubungan kalian?” desak Flo.
”Dia hanya pegawaiku!” kesal Malik dengan Flo yang seakan sedang mengulik tentang kehidupannya.
”Jangan bohong Bang, jika hanya pegawai mana mungkin dia kasih perhatian lebih pada Emil?”
”Terserah kau saja, percaya atau tidak itu urusanmu kan,” ucap Malik.
”Aku akan menemui Emil, dia ada di rumah kan?” Flo segera bangkit dan bergegas pergi namun belum sampai di pintu Malik mencekalnya.
”Jangan coba-coba mempengaruhinya mengerti!” lirih Malik.
”Tidak akan, aku yakin dia anak yang cerdas dan pastinya sudah tahu mana yang baik dan buruk untuknya,” balas Flo.
”Bagus jika kau sadar akan hal itu.”
Malik mengusap wajahnya begitu Flo pergi dari ruangannya. ”Ya Tuhan kenapa dia datang mengganggu kehidupanku,” ucap Malik.
***
”Ada hubungan apa kau dengan Malik?”
Hana terkejut melihat Flo sudah berada di depannya bersandar pada dinding.
”Saya tidak ada hubungan apapun dengan Pak Malik.”
”Jangan bohong karena aku melihat dia menatapmu dengan tatapan yang berbeda.”
”Apa maksudmu?” Hana tidak habis pikir dengan perkataan wanita yang ada di depannya ini.
”Maaf saya sibuk!” Hana pergi meninggalkan Flo yang masih merasa kesal dengannya.
__ADS_1