
”Ini hanya kontraksi palsu Pak Malik, sebentar lagi Bu Hana akan melahirkan,” jelas Dokter Septian.
”Sebaiknya Pak Malik stand by di rumah jadi suami siaga buat Bu Hana,” sambungnya.
”Baik Dok, kalau begitu kami permisi dulu.” Malik dan Hana pun pulang ke rumah.
Malik tidak tega melihat Hana yang meringis menahan sakit. ”Apa itu sakit sekali?”
Hana mengangguk, ”Sakitnya melebihi sakitnya datang bulan.”
”Sabar ya, sebentar lagi dia akan keluar,” ucap Malik menggenggam erat tangan Hana.
”Ma, Pa, kalian pulang?” seru Emil.
”Iya Sayang, adikmu belum mau keluar masih malu ketemu dengan Kak Emil,” jawab Hana.
”Istirahat di kamar ya, Abang mau telepon kantor dulu,” ucap Malik. Hana pun ke kamar ditemani Emil yang selalu menemaninya.
Malik nampak mondar mandir di teras samping rumahnya.
”Hallo Bang, ditungguin pegawai nih. Dimana posisinya sekarang?”
”Hallo Faris, maaf aku tidak bisa balik ke kantor karena Hana sudah mulai merasakan sakit jadi aku harus stand by di rumah.”
”Baiklah semoga dilancarkan segala urusannya, mbak Hana dan debay baik-baik saja.”
”Aamiin. Terima kasih.”
Bip.
Setelah sambungan terputus Malik segera ke kamarnya menyusul Hana.
”Apa kau butuh sesuatu?” tanya Malik begitu masuk ke kamar.
”Tidak ada Bang,” jawab Hana.
”Duh ini anak kok malah bobo di sini padahal papa mau ikutan bobo,” bisik Malik mengecup pipi Emil.
”Biarkan dia istirahat jangan diganggu.”
”Kamu gak gerah?" Hana mengangguk singkat.
”Kita pindah yuk, ke kamar sebelah,” ajak Malik.
”Tidak mau,” tolak Hana.
”Kenapa?”
”Aku tahu kok Bang Malik pasti mau ngajakin begituan sama Hana.”
”Memangnya kamu gak mau?”
”Dasar mesum!”
”Ya gak apa mesum sama istri sendiri.”
”Tapi Hana malu Bang.”
”Ngapain malu, kita sudah melihat satu sama lain.”
”Iya juga sih.”
”Bagaimana?”
”Apanya?”
”Kita pindah ke kamar sebelah!” ajak Malik.
”Jangan Bang,” tolak Hana.
”Baiklah jika kau menolaknya.”
Perlahan Hana ikut tertidur di samping Emil dan Malik pun untuk melanjutkan pekerjaannya dari rumah, sesekali dia melihat kedua orang yang berarti dalam hidupnya dan sebentar lagi akan bertambah satu lagi nyawa yang akan menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
Malik memilih ke dapur mengambil air karena tenggorokannya terasa kering sekali. Begitu membuka lemari pendingin netranya menangkap baso yang ada di bungkusan plastik putih.
”Bakso punya siapa ini? Hana gak pernah memakan makanan seperti ini,” gumam Malik.
”Bik,” panggil Malik.
”Ya ada apa Den?” sahut Bik Surti.
”Ini punya siapa?” tanya Malik.
”Oh, ini miliknya Den Emil tadi dia mau makan gak jadi karena melihat Non Hana merintih kesakitan dia yang ketakutan,” balas Bik Surti.
”Jadi ini masih baru?” ucap Malik mengeluarkan isinya dalam panci kecil dan memanaskannya sebentar.
”Itu tadi Non Hana yang bawa katanya beli di taman waktu jalan-jalan, belinya juga banyak semua kebagian.”
Mendengar penjelasan Bik Surti membuat Malik menautkan alisnya.
”Beli di taman?”
”Benar.”
”Jangan-jangan ... ”
Malik pun memasukkan baso ke mulutnya, ”Enak.”
Bik Surti menghela nafasnya bersyukur karena Malik tidak marah karena telah jajan sembarangan.
”Aku habiskan ya Bik.” Dengan cepat Malik menghabiskan bakso milik Emil.
”Yummy, kok Hana pintar sekali sih cari makanan kaki lima,” ucap Malik.
”Lagi hoky aja Den, biasanya dia juga gak pernah beli makanan sembarangan.” Malik membersihkan bekas sisa makanannya dan kembali ke kamar dengan segelas air putih di tangannya.
***
”Bang Faris, itu ... mm, Bang Malik gak balik lagi ke kantor kenapa?" tanya Alvin.
”Nanti aku langsung ke rumahnya saja kalau begitu.”
”Laporannya sudah selesai?”
Alvin menyerahkan laporan di tangannya pada Faris dan segera mengeceknya. ”Bagaimana apa ada yang harus aku perbaiki?”
”Tidak perlu, kau cepat sekali dalam belajar kakakmu pasti bangga padamu.”
”Percuma jika menyandang gelar yang terbaik tapi tidak bisa cepat dalam belajar,” tukas Alvin.
”Kau benar, ya sudah kembali ke ruanganmu saja kamu bisa belajar management perusahaan ini.”
”Baik.”
Alvin pun kembali ke ruangannya tampak Indah sudah menantinya di depan pintu ruangannya.
”Mbak Indah, ada apa ya?” tanya Alvin.
”Selamat ya atas terpilihnya kamu di perusahaan ini dan juga aku mau menanyakan kabar kakakmu, apakah dia sudah melahirkan?" balas Indah.
”Makasih ya mbak, Kak Hana belum melahirkan mungkin dalam beberapa hari ke depan tadi sempat ke rumah sakit tapi balik lagi jadi sekarang sedang menunggu masa-masa melahirkan di rumah ditunggu sama Bang Malik, eh maksudnya Pak Malik,” ralat Alvin.
”Semoga lahirannya lancar ya,” ucap Indah.
”Aamiin. Makasih mbak Indah, ya sudah saya lanjutkan pekerjaan lagi ya.”
”Silakan.”
Alvin memilih menyibukkan diri dengan tumpukan berkas di mejanya daripada harus ikutan bergosip di luar ruangannya dia bisa melihat jika para karyawan lain sedang membicarakannya terlihat dari beberapa pasang mata yang selalu saja menatap ke arah ruangannya.
”Kenapa sih mereka suka sekali bergosip, apa untungnya,” gumam Alvin.
”Nanti malam dinner yuk!"
Alvin mengerutkan keningnya melihat pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
__ADS_1
”*Maaf ini siapa ya?”
”Masa lupa baru juga tadi pagi ketemu sudah lupa lagi?”
”Siapa?”
”Angela bukan?”
”Tebak siapa aku?”
”Angela, aku yakin itu kau. Darimana kau tahu nomor teleponku?”
”Dari Pak Malik tadi pagi maaf tidak ijin lebih dulu. Bagaimana?”
”Apanya?”
”Kita dinner malam ini?”
”Berdua?”
”Tentu saja berdua memangnya kau mau mengajak orang tuamu?”
”Boleh sekalian melamarmu.”
”Gombal!”
”Ya begitulah, jadi jangan dianggap serius ya.”
”Apa semua laki-laki sama*?”
”*Ya anggap saja begitu.”
”Baiklah nanti malam datang ya, akan ku kirimkan alamatnya nanti. Bye*!”
Alvin tersenyum kecil dengan apa yang sudah dia lakukan, jujur baru kali ini dia berani menggombal pada wanita sebelumnya dengan Aisha dia benar-benar tidak berani merayu apalagi berbicara yang manis-manis.
Tepat jam enam Alvin keluar kantor dan segera pulang ke rumah.
”Tumben anak mama yang ganteng ini terlihat bahagia apa dapat hadiah lagi dari kantor?" tanya Rita.
”Namanya juga anak muda biarkan saja dia begitu palingan juga dia bertemu dengan seorang wanita benar kan tebakan papa?" ucap Soleh mencoba menebak sikap anaknya itu.
”Ya begitulah Pa, Ma, Alvin pergi dulu ya,” pamit Alvin membuat Rita dan Soleh saling pandang.
”Mau kemana lagi?” seru Rita.
”Ketemu teman Ma, bentar aja kok nanti juga balik gak akan pulang malem-malem Alvin janji.”
”Tapi kamu baru saja pulang Vin, memangnya gak capek apa?" lanjut Rita.
”Assalamu'alaikum.” Alvin segera pergi tanpa memperdulikan perkataan Rita.
”Waalaikumussalam anak itu benar-benar,” balas Rita.
”Udah biarkan saja dia itu sudah dewasa papa yakin dia lebih tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri,” tukas Soleh.
”Karena dia sudah dewasa Pa, mama itu jadi khawatir,” bantah Rita.
”Sudah nanti jika sudah balik kita nasehati dengan baik, percuma menasehati jika dia sendiri sibuk dengan dunianya. Ingat yang terjadi kemarin, dia baru saja patah hati mama juga tahu kan,” tukas Soleh.
”Besok pagi kita nasehati sekarang kita tunggu kabar dari Hana dulu bukankah dia mau lahiran beberapa hari lagi bisa saja kan maju, semoga semuanya berjalan lancar sesuai yang kita harapkan.”
”Aamiin maafin mama ya Pa, saking cintanya dengan anak jadi khawatir dengan hal yang belum terjadi padahal hal tersebut tidak boleh,” ucap Rita.
”Sabar ya.”
Di tempat lain Alvin sedang menunggu Angela yang belum terlihat sama sekali, dirinya mulai kesal karena Angela terlambat datang ke restoran yang sudah di reservasi sendiri oleh Angela.
”Alvin ngapain kmu di sini?"
”Eh, kalian juga ada di sini?”
Alvin tampak salah tingkah dengan dua orang yang ada di depannya itu, apakah dia harus mengajak mereka bergabung dengannya?
__ADS_1