
Malik memilih ke dapur mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Bik Surti yang melihatnya pun jadi curiga melihat wajah majikannya yang terlihat lesu.
”Ada masalah Den?” tanya Bik Surti mencoba untuk menanyakan hal apa yang membuatnya terlihat kesal.
”Biasa Bik orang-orang sedang ingin menguji kesabaran ku sejak pagi loh, rasanya gak kuat saja,” keluh Malik.
”Sabar namanya hidup pasti ada aja ujiannya jika memang gak kuat ya pasrahkan saja sama Yang Kuasa gampang to? Hidup sekali jangan dibikin sulit sendiri tapi dinikmati, kalau lulus ujian ya kita naik kelas semakin tinggi levelnya ujiannya semakin menantang!”
Lagi Malik kembali pusing mendengar penuturan Bik Surti yang memang sudah seperti orang tuanya sendiri. ”Entahlah Bik, kok malah bicara begitu bikin Malik semakin pusing saja.”
Bik Surti terkekeh mendengar sahutan dari Malik.
”Oh iya Bik, tadi ada paketan datang kan itu Hana belanja untuk siapa?” tanya Malik gak bisa bertanya pada istrinya dia bisa menanyakan hal lain pada wanita yang sudah lama tinggal bersamanya karena Malik yakin dia pasti juga tahu.
”Oh itu iya tadi ada beberapa paketan datang itu yang belanja Non Hana beli pakaian anak-anak perempuan sama peralatan sekolah juga,” jawab Bik Surti.
”Buat siapa itu Bik, apa Bik Surti tahu?”
”Kurang tahu Den, tapi memang banyak sih tadi ada empat atau lima bal paketan hitam sama dua kardus besar sebesar kardus mie instan.”
”Apa?” Malik melongo mendengar penjelasan Bik Surti.
”Barangnya juga masih ada di kamarnya Den Emil, Non Hana belum sempat buka karena sejak tadi siang Den Aydan rewel terus.”
Malik mengangguk faham kenapa Hana sedikit ketus padanya wanita itu memang sedang kelelahan pantas saja tadi dia tidak bersahabat dengannya rupanya Hana kelelahan.
”Emil sendiri kemana Bik, kok gak terlihat?”
”Mereka masih pada tidur Den, tadi jam satu baru pada tidur itupun Non Hana yang mendesak mereka biar istirahat sebentar karena mereka pengennya main terus sama Bony di kebun belakang.”
”Mereka?”
”Iya Den Emil bawa teman, namanya Azizah dia tidur di kamarnya di ranjang satunya.”
Malik pun mengangguk dan langsung faham apakah Hana belanja pakaian perempuan itu buat anak itu. Hana menghampiri Malik bersama dengan Aydan dalam gendongannya.
”Tuh papa udah pulang Sayang,” ucap Hana menunjuk ke arah Malik.
Malik segera menyambut putranya yang terlihat habis menangis, ”Duh anak papa lagi manja ya nangis terus.”
Hana memutar bola matanya melihat sikap Malik yang berubah lembut padahal tadi ketika baru pulang dia terlihat garang seperti orang yang sedang menahan kesal.
__ADS_1
”Anak-anak belum pada bangun?” tanya Malik Hana hanya menggeleng.
"Duduklah Abang mau menanyakan sesuatu padamu.”
Hana pun menurut duduk di kursi berhadapan dengan Malik. ”Abang boleh nanya?”
”Apa?”
”Buat apa belanja banyak sekali?”
Hana menunduk seketika, ”Itung-itung sedekah Bang. Abang aja mengeluarkan uang 150 juta tidak sayang, sekarang giliran Hana yang ngeluarin uang itu dan kali ini lebih manfaat karena jatuhnya pada orang yang tepat.”
Malik merasa tertohok mendengar perkataan istrinya, ”Jadi kemarin Abang kasih uang Tante Lani gak tepat?”
”Gak karena Abang gak ijin sama Hana, setidaknya Abang kasih tahu Hana,” kilah Hana.
”Lalu apa bedanya sama kamu?” bantah Malik.
”Tentu saja ada Bang, uang Abang itu uangku juga Bang jadi Hana boleh memakainya selama itu buat kebaikan tanpa minta ijin sekalipun. Abang yang kerja dan uang itu anggap saja nafkah dari Abang dan Hana membelanjakannya tepat sasaran.”
Malik kembali melongo dengan jawaban Hana.
Hana bangkit dari duduknya dan menarik lengan Malik membawa pria yang sedang menggendong putranya ke kamar Emil. Di sana dia menunjuk ke arah Azizah yang sedang tertidur pulas dan tumpukan paketan yang masih terbungkus rapi di sudut kamar.
”Dulu Hana juga begitu sebelum bertemu dengan papa Soleh,” ucap Hana.
Mendengar hal itu kini Malik merasa bersalah karena telah berpikiran negatif padanya.
”Maafin Abang ya, jujur Abang tadi sempat berpikiran negatif karena pengeluaran yang mendadak dan juga sekali keluar ditotal udah lumayan banyak.”
”Jangan dihitung Bang, biar jadi pahala,” tegur Hana.
Malik hanya mengangguk dia mengecup kening istrinya dan merangkul bahu mengajaknya keluar dari kamar putranya.
***
Alvin dan Untari pulang bersama mereka berdua saling diam selama di mobil dan itu membuat Untari bertanya-tanya dengan sikap suaminya.
”Apa ada masalah di kantor?” tanya Untari.
”Hm, tidak ada,” balas Alvin cepat.
__ADS_1
”Kenapa diam saja?Jika ada sesuatu kasih tahu ya, jangan bikin orang jadi penasaran lalu menebak-nebak dan akhirnya jadi salah paham.”
Alvin mengangguk, ”Kita makan dulu ya, perutku sudah lapar.”
”Gak makan di rumah saja? Aku kan bisa masak,” tawar Untari.
”Gak perlu kamu udah capek seharian kerja, kita makan di resto depan ya.” Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Alvin segera memarkirkan mobilnya di depan restoran langganannya.
Alvin segera melepas set belt-nya dan segera turun dari mobilnya diikuti Untari. Alvin memperlakukan Untari dengan sangat baik menarik kursi untuknya lebih dulu baru dirinya sendiri.
Alvin sengaja memesan beberapa menu makanan enak untuk istrinya dia ingin memanjakannya.
”Soal ucapan Pak Faris tadi pagi apakah itu benar?” tanya Untari.
Alvin menghentikan kunyahannya dan menatap ke arah istrinya jujur ada rasa malu jika mengingat hal itu. ”Jika dia bicara lagi jangan dipercaya.”
Untari mengerutkan keningnya, ”Kenapa, aku juga tidak tahu soal itu aku kira perkataannya itu bisa dipercaya makanya aku bilang sama kamu. Jika tahu di awal dia itu suka ngerjain orang gak akan deh aku ceritain.”
”Iya, kamu kan masih baru di sana jadi belum mengerti. Jika sudah tahu pasti akan faham wataknya kayak gimana?”
Mereka pun melanjutkan makannya dan sesekali candaan keluar dari Alvin menggoda Untari. Mereka tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan keduanya dari jarak yang sangat dekat sekali.
”Sudah selesai? Yuk pulang kita istirahat di rumah,” ajak Alvin meraih tangan Untari setelah selesai membayar tagihan ke kasir.
”Kita langsung pulang?”
”Iya memangnya mau ngajak ke mana? Besok kan masih kerja akhir pekan saja kita jalan-jalan ke puncak bagaimana?” tawar Alvin.
”Boleh.”
”Nanti pinjam villanya Bang Malik dia kan punya villa di sana.”
"Benarkah?”
”Iya, Kak Hana yang bilang sih. Dia sendiri belum pernah diajak ke sana barangkali nanti dia ikut biar ramai.”
”Terlalu ramai gak asyik!” ucap Untari begitu sampai di samping mobil Alvin.
Keduanya pun tertawa bersama, hingga panggilan seseorang menghentikan tawa mereka.
”Alvin.”
__ADS_1