Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
73. Emil Merengek


__ADS_3

”Hallo kebetulan sekali Den Malik telepon, ini Emil merengek terus minta diantar ke rumah sakit.”


”Tolong kasihkan padanya Bik, biar saya bicara dengannya."


”Hallo Pa, Emil boleh ke rumah sakit sekarang kan? Emil mau jenguk adik, boleh ya?”


”Emil Sayang, papa usahakan siang ini mama sudah bisa pulang ke rumah, Emil diam dulu ya di rumah tunggu kami pulang.”


”Yah papa sama mama gak asyik masa mau ketemu sama adik sendiri gak boleh.”


”Bukannya gak boleh Sayang, tapi memang tidak diijinkan anak kecil ke sini tolong Emil mengerti ya.”


”Baik, Emil nurut kali ini tungguin dedek bayi pulang ke rumah, bilangin sama mama jangan lama-lama di rumah sakitnya ya Pa.”


”Siap bos kecil, kalau gitu papa tutup dulu teleponnya ya. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Bip.


”Nak Malik, Hana memanggil dia mau bicara sesuatu sama Nak Malik sekarang,” ucap Rita.


”Baik Ma, ini baru saja selesai telepon Emil dia berharap sekali bisa ke sini.”


”Ya ampun dia pasti kesepian ya di rumah karena tidak ada temannya.”


”Mama sedang menuju ke rumah bersama Sabrina nanti siang InsyaAllah Hana dan bayinya bisa segera pulang Malik akan mengusahakannya.”


”Terima kasih Nak Malik,” ucap Soleh.


”Sama-sama Pa, ini sudah jadi tanggung jawabnya Malik kalau begitu Malik masuk dulu.”


”Iya silakan.”


Malik pun segera masuk ke dalam menemui istrinya yang sedang duduk menggendong putranya.


”Aduh jagoan papa digendong sama mama, sini gantian papa yang gendong,” seru Malik namun Hana mencegahnya tidak mengijinkan Malik menggendong putranya.


”Astaga Sayang, jangan pelit begitu dong Abang kan juga papanya masa gak boleh gendong,” rengek Malik.

__ADS_1


”Nanti dulu, ini habis minum susu jadi tunggu dia bersendawa baru bolwh digendong.”


”Oh begitu ya,” sahut Malik.


”Abang udah siapkan nama untuknya?” tanya Hana membelai rambut putranya yang hitam pekat.


”Belum, halah soal nama pikir belakangan saja. Emil baru saja merengek minta diantar ke sini.”


”Lalu? Abang mengijinkannya?”


”Tidak.”


”Anak kecil dilarang masuk ke sini, katakan saja demikian,” ucap Hana.


”Sudah Abang jelaskan tapi gak tahu juga sih semoga dia mau mengerti, Abang usahakan siang ini bisa keluar karena Abang sendiri juga gak mau ninggalin dia sendirian di rumah.”


”Kan bisa minta tolong mama sama Sabrina buat menemani Bang, nanti kalau Alvin pulang dari kantor biarkan saja dia gantian jaga.”


”Jangan mengharapkan adikmu Alvin karena sepertinya dia sedang sibuk berkencan dengan seorang wanita,” tukas Rita datang menghampiri anak dan menantunya.


”Bagaimana mama bisa tahu jika Alvin sedang jatuh cinta?” tanya Hana.


”Apa, jadi Alvin sedang berkencan? Wanita mana Ma, apakah mama mengenalnya?”


Rita menggelengkan kepala, ”Hanya lihat fotonya sekilas karena samar terlihat kan kencannya dalam suasana malam,” jelasnya.


”Haduh lalu bagaimana ini?” tanya Hana menatap ke arah Malik yang hanya bisa mengedikkan bahunya sebenarnya dia tahu soal itu hanya saja dia memang bungkam tak ingin banyak orang tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di perusahaannya itu.


”Udah jangan terlalu serius dipikirkan Alvin sudah dewasa jadi selayaknya dia ingin memilih pasangannya sendiri kenapa kita meributkannya sebaiknya kita support setiap sesuatu yang bernilai positif itu," cecar Malik.


”Apa yang dikatakan Malik ada benarnya, sebaiknya kita support dia selama itu positif,” sela Soleh yang pro dengan pendapat menantunya.


”Kita tunggu Dokter kesini ngecek kesehatanmu ya lalu kita bisa pulang,” ucap Malik.


***


”Bang Faris!” teriak Alvin.


”Apaan sih pagi-pagi udah teriak-teriak mentang-mentang sarapan dua piring nasi goreng aja kamu!” tukas Faris menatap Alvin tak percaya pasalnya pria yang ada di sampingnya ini tampak berantakan sekali.

__ADS_1


”Kamu habis darimana memangnya, penampilanmu itu acak-acakan sekali, dan lihat sekarang udah jam sembilan dan kau baru datang udah telat pakai banget kamu Vin!” protes Faris.


”Maaf Bang, ini baru saja dari rumah sakit Kak Hana udah melahirkan semalam dan ini pagi aku baru saja dari sana dan habis berantem sama Bang Malik jadi ya kayak gini penampilannya jangan komplain ya tapi bantuin kalau bisa.”


”Bantuin bagaimana?”


”Bantuin bilang ke Bang Malik ijin cuti sehari aja.”


”Astaga kau ini baru juga kerja berapa hari udah minta libur, gak bisa yang ada aku yang kena marah Bang Malik bukan kamu. Lagian nih ya kenapa juga kamu mau libur sehari kerjaannya juga belum begitu banyak dan lagi kamu masih dalam pengawasan jadi jangan libur sebelum masa tenggang yaitu tiga bulan training!” ucap Faris tegas membuat Alvin jadi lemas karena tidak bisa pergi kencan dengan Angela.


”Sudah sana masuk!” titah Faris ada akhirnya dia harus berteriak agar Alvin sedikit takut padanya dan dia memiliki wibawa di depan bawahannya meskipun dia adiknya Hana sekalipun Faris tak ingin Alvin seenaknya sendiri dan tidak konsisten dalam bekerja.


Alvin menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya rencananya untuk kencan gagal karena tidak mendapatkan ijin twpi dia tidak kalah akal dia berharap weekend dia bisa liburan bareng dengan Angela karena hanya itu satu-satunya harapan buat Alvin.


”Hai bengong aja, ada pemotretan hari ini apa kamu gak tahu?" tanya Angela tiba-tiba masuk ke ruangan Alvin.


”Ish kau mengagetkan diriku saja, masuk ruangan orang ketuk pintu dulu jangan asal masuk kalau pemiliknya lagi ngapa-ngapain bagaimana?” pekik Alvin.


”Kamu yang sedari tadi diteriakin gak nyambung-nyambung bengong aja, memangnya kamu lagi ngapain?”


”Mikirin kamu!”


”Ish mulai lagi gombalnya,” sahut Angela.


”Memang benar aku baru saja mikirin kamu karena tidak boleh ijin dari kantor jadi kita batalkan saja ya acaranya besok kita ganti saja pas weekend bagaimana?” tawar Alvin.


Angela tampak menimbang karena dia sendiri sedang padat pekerjaan dan lagi pemotretan terus berjalan meskipun di saat weekend sekalipun.


”Sudahlah kita pikirkan nanti saja ya, ayo kita ke ruang pemotretan karena fotografernya udah datang kasihan kan jika harus menunggu kelamaan mereka juga pasti kan memiliki kesibukan lain.”


Alvin bergegas bangkit menuju ruang pemotretan di mana semua kru sudah siap untuk melakukan pekerjaannya.


Sebuah ranjang berukuran king size terpampang jelas dengan sprei dan bed cover cantik. Angela berpose seakan sedang terlelap dari tidurnya dan Alvin datang untuk membangunkannya.


Syuting iklan tempat tidur yang sedang dibuat untuk menarik costumernya pun selesai hanya dengan waktu kurang dari satu jam, itu karena Angela yang bekerja dengan profesional meskipun Alvin tampak canggung karena Angela memakai kimono yang cukup terbuka dan hal itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


”*Syukurlah semua sudah selesai, kalau ada tawaran seperti ini lagi sepertinya aku harus menolaknya. Aku khawatir dengan hatiku sendiri dan tidak bisa mengontrolnya. Dia terlalu cantik dan juga sexy,” gumam Alvin.


”Tunggu, kenapa yang ku rasakan ini berbeda dengan apa yang kurasakan pada Aisha. Ini cinta atau nafsu*?”

__ADS_1


Alvin terus saja bermonolog dengan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.


__ADS_2