Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
95. Kesalnya Malik


__ADS_3

”Maafkan saya Pak Malik, saya ke sini buat menanyakan perihal lamaran untuk adik saya itu saja,” jelas Eric.


”Kamu yakin? Tidak bisa dipercaya paling cuma modus!” kesal Malik. Dia tidak habis pikir kenapa berani sekali datang ke rumah kenapa tidak ke kantor saja bukankah kepentingannya di sana bukan di rumah.


”Datanglah besok ke kantor bawa sekalian adikmu ke sana biar sekalian saya yang akan melakukan interview secara langsung,” ucap Malik.


”Baik, maaf sudah mengganggu waktunya saya permisi dulu.”


Eric pergi meninggalkan rumah Malik, dengan sedikit kecewa niat hati ingin menanyakan baik-baik tapi melihat ekspresi Malik membuatnya sedikit kesal.


Di sisi lain Malik sendiri langsung balik menatap Hana penuh kekesalan kenapa istrinya begitu naif dan masih saja mau berhubungan dengan orang yang telah membuatnya terluka di masa lalu.


Malik diam dan tidak menanggapi perkataan Hana tentu saja membuat Hana merasa bersalah dia sadar telah membuat suaminya cemburu tapi sungguh tidak ada niatan untuk berbohong padanya.


”Maaf Bang, tolong jangan diperpanjang Hana minta maaf,” lirihnya.


”Kamu mau Abang hukum!”


Hana langsung menatap wajah Malik, sungguh baru kali ini dia melihat suaminya dalam keadaan marah seperti itu dan seketika dia menundukkan wajahnya karena takut.


Malik segera masuk ke kamar meredakan kemarahannya itu, dia pikir ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga tapi ternyata dia harus merasa kesal dengan kehadiran tamu tak diundang itu. Malik sendiri tidak bisa marah berkepanjangan mengingat dia sangat mencintai Hana.


Malik menarik nafasnya perlahan, kenapa dia terlalu posesif terhadap istrinya apakah karena dia pernah merasakan kehilangan sehingga dia tidak mau merasakannya kembali. Kehilangan Tiara istri pertamanya membuatnya trauma karena dia sendiri harus mengasuh Emil putranya sendirian selama beberapa tahun.


Hana akhirnya memilih duduk di ruang tengah bersama dengan Aydan sedangkan Alvin sendiri sedang bermain dengan Emil dan kucing kesayangannya.


”Non, ada mamanya di depan,” ucap Bik Surti mengagetkan Hana yang sedang terdiam melamun memikirkan Malik suaminya.


”Eh? Suruh masuk saja Bik,” sahut Hana.


”Baik.”


Hana menetralkan hatinya jangan sampai kedua orangnya tahu jika Malik sedang marah padanya dengan cepat dia menyambar ponselnya dan mengirimi pesan pada Malik.


”Na, bagaimana kabarnya mama dengar Malik sedang keluar kota?” sapa Rita menghampiri putrinya.


”Bang Malik udah pulang kok Ma, sekarang ada di kamarnya,” balas Hana.


”Dimana cucuku Na? Katanya Alvin menginap di sini semalam?” ucap Soleh duduk bersebelahan dengan Rita mengambil alih Aydan yang sedang digendong oleh istrinya.

__ADS_1


”Jangan begitu Pa, mama masih ingin gendong Aydan, mama juga kangen dengan dia.” Rita mempertahankan Aydan dalam gendongannya.


Keduanya rebutan cucu, membuat Hana mengurai senyumnya dia bahagia karena kehadiran Aydan membuat semua orang ikut merasakan kebahagiannya.


”Hana titip Aydan sebentar ya Ma, Hana panggilkan Bang Malik dulu.” Hana berpamitan ke kamarnya meminta suaminya menemui orang tuanya.


"Ma, Pa, kalian datang buat jemput Alvin kan?” seru Alvin tersenyum bahagia dengan kedatangan orang tuanya.


”Opa sama Oma datang juga, udah lama gak ke Jakarta memangnya Opa di Jogja banyak kerjaan ya?” tanya Emil.


”Hem, kalau nanya satu-satu dong,” sahut Soleh membuat Emil cekikikan.


”Papa kesini buat lihat cucu papa bukan untuk jemput kamu Alvin.”


”Astaghfirullah, Alvin kayak anak tiri!” keluh Alvin.


”Kamu udah dewasa seharusnya pergi tuh pamitan jangan bikin orang tua khawatir!” Giliran Rita yang marah pada putra bungsunya.


”Ma, Alvin sudah pamitan ya kemarin siang,” bantah pemuda tampan yang sedang mengalami dilema cinta.


”Kamu itu pamitannya ke kantornya abangmu bukan ke rumahnya,” pekik Rita gemas menjewer Alvin.


***


”Bang, mama sama papa datang loh, udah jangan marah ya maafkan Hana lain kali gak akan Hana ulangi lagi. Dan lagi Hana juga gak tahu kalau dia akan datang lagi ke rumah. Tempo hari Hana udah bilang sama dia kalau Abang gak di rumah dan sebaiknya datang lagi aja ke kantor dia atau tiga hari lagi,” cerocos Hana.


Cup!


Kecupan singkat mendarat di kening bibir Hana terkesiap melotot melihat aksi Malik.


”Gak boleh protes!”


Malik segera keluar dan tersenyum senang karena bisa sedikit menjahili istrinya itu. Malik tahu jika kedatangan mantannya Hana ke rumah bukan atas keinginannya tapi memang Eric sendiri yang sengaja mencari penyakit dengannya biarlah besok dia sendiri yang akan menanggapinya di kantor.


”Pa, Ma, maaf baru menyapa kemarin Malik gak di rumah.” Malik duduk di samping Alvin.


”Bisnisnya lancar kan?” tanya Soleh.


”Tentu saja Pa, papa sendiri bukannya udah gak urus sekolah lagi?” Malik tahu jika Soleh papa mertuanya sudah pensiun menjadi kepala sekolah.

__ADS_1


”Ya beginilah namanya juga pegawai jika sudah pensiun ya tinggal menikmati saja hari tua beda sama kamu.”


Malik tersenyum mendengar perkataan Soleh lalu beralih ke Alvin, ”Kamu sendiri kapan akan mulai bekerja di kantor?”


Alvin mengusap tengkuknya merasa canggung sebenarnya dia sudah siap ke kantor hanya saja jadwalnya ke rumah sakit masih ada beberapa kali lagi dan itu tak ingin mengganggu pekerjaannya nanti.


”Dia masih harus cek up dan therapy, jadi Alvin khawatir akan mengganggu pekerjaannya nanti makanya memilih untuk tetap meliburkan dirinya,” papar Rita.


”Kalau begitu besok mulai berangkat ya, soal cek up kan bisa libur atau ijin dulu jika memang waktunya tidak lama di rumah sakit.”


”Baiklah besok aku mulai berangkat ke kantor.”


”Nah gitu dong masa masih muda gak semangat,” ucap Malik mensupport adik iparnya tersebut. ”Ingat pakai taxi saja jangan naik motor!”


”Ish, mana ada aku pakai motor jalan aja masih pakai kruk begini,” keluh Alvin.


Keakraban keluarga tersebut membuat Hana tersenyum bahagia bagaimanapun dia merasa bersyukur karena Malik benar-benar menjadi suami yang baik untuknya.


Faris pun datang ke rumah membawa beberapa berkas yang dibutuhkan Malik, tadi sewaktu di kamar pria itu menyuruh asistennya membawakannya ke rumah.


”MasyaAllah lagi pada kumpul ternyata, kamu juga di sini Vin?”


”Iya Bang, semalam aku tidur di sini.”


Faris mengangguk lalu memberi kode pada Alvin jika dia akan masuk ke ruangan Malik menyerahkan dokumen penting.


”Bang, kok pulangnya lebih cepat bukannya hari ini Abang baru pulang apakah ada masalah di sana sehingga Abang lebih memilih pulang lebih awal?” berondong Faris membuat Malik menaikkan alisnya sebelah.


”Kamu ini kalau nanya gak pakai titik maupun koma?”


”Maaf Bang, soalnya terkejut saja biasanya Abang kalau pergi mesti sesuai jadwal dan ini lebih cepat berarti kan gak ada masalah di sana, apa benar. Lalu siapa wanita yang ada di sebelahnya Bang Malik, maaf Bang waktu Abang video call aku gak sengaja lihat dia pakai pakaian sexy lagi.”


”Dia Cindy cinta pertamaku, aku gak sengaja ketemu sama dia kemarin dan ternyata dia itu baru saja bercerai dengan suaminya,” jelas Malik.


Prang!


Suara gelas jatuh terdengar di depan pintu dimana Malik dan Faris tengah berbincang bincang.


”Siapa di sana?” seru Malik memandang ke arah Faris memintanya untuk mengeceknya.

__ADS_1


__ADS_2