
”Alvin jangan membuat seorang menangis mengerti!” Hana mencoba mengingatkan adiknya karena bagaimanapun apa yang diinginkan oleh Untari tidaklah salah.
”Maafkan aku Kak, sebenarnya aku hanya ingin memiliki banyak waktu bersama kak Hana tahu kan jika selama ini kami tidak pernah berpacaran sebelumnya.”
Hana menggeleng pelan, ”Anak bukan penghalang buat kalian justru akan saling menguatkan satu sama lain, percayalah.”
Alvin terdiam mencerna perkataan kakaknya itu. ”Baiklah jika memang seperti itu keinginan Untari, Alvin tidak akan menghalanginya lagi.”
”Makasih dan maaf karena menurut dengan perkataannya,” ucap Untari mengurai senyumnya bahagia tentu saja karena Alvin tidak lagi menyalahkan dirinya yang sudah beberapa kali tidak menggunakan pil KB. Untari ingin hamil dan menjadi wanita sama halnya seperti Hana dan wanita yang lainnya.
”Sebenarnya Untari juga sudah telat, maka dari itu Untari ingin mengatakannya juga jika Untari sedang ... ”
Alvin segera memeluk Untari erat membuat semua orang yang ada di sana bersorak dan tersenyum.
”Kau ...?”
"Iya, tapi belum aku cek ke Dokter sih baru testpack doang.”
”Alhamdulillah.” Alvin pun bahagia mendengar berita tersebut.
"Syukurlah semoga dengan apa yang menimpa kita bisa dijadikan pelajaran hidup untuk kita semua,” ucap Hana.
”Untari sangat berterima kasih Mbak, karena selama ini Untari telah merepotkan Mbak Hana.”
"Tak perlu sungkan bagaimanapun kita semua adalah saudara.”
Daniel dan Maryam asyik bercengkrama dengan Emil, Lala dan Aydan. Jangan lupakan Rita yang juga bersama dengan mereka sedangkan Faris dan Sabrina berduaan di sofa menonton tv membiarkan orang tuanya bersama dengan cucu-cucunya.
"Faris, sebenarnya aku ingin menaikkan jabatanmu tapi setelah aku pikir-pikir lagi jika kau naik jabatan siapa yang akan menemaniku di kantor,” celetuk Malik.
”Astaga, kau kan bisa merekrut pegawai baru Bang!” usul Faris.
”Tidak gampang mencari karyawan apalagi mendadak begini.”
”Cari solusi lain,” ujar Faris.
"Aku ingin menempatkan dirimu di cabangku yang baru, setelah aku pikir-pikir lagi sepertinya akan berat buatku karena nanti pastinya aku akan kerepotan jika harus pergi ke luar kota.”
”Terserah bagaimana baiknya saja Bang, tidak masalah membantu mengurusnya asalkan gajinya juga double. Benar kan Sayang?” Faris menyenggol lengan Sabrina yang sedang fokus dengan gadgetnya.
”Eh, ada apa?” sahutnya terkejut.
”Tidak ada.” Faris kesal karena Sabrina tidak mengiyakan perkataannya.
”Maaf, aku sedang fokus menggarap desain mumpung baby bersama dengan mama,” ucap Sabrina.
”Lanjutkan!” Faris mengelus kepala Sabrina perlahan.
__ADS_1
Malik yang melihat semua itu hanya bisa tersenyum, Malik bahagia karena mereka berdua tampak akur. "Besok urus segala keperluannya kita ganti prosedur perusahaan yang lama dengan yang baru, semoga saja ada perubahan lebih baik lagi ke depannya.”
”Siap.”
***
”Mama beneran nih mau antar Emil ke sekolahan?” ucap Emil tampak antusias sekali.
”Tentu saja, ayo kita segera bersiap!” ajak Hana begitu melihat Emil telah siap dengan seragam dan tas di punggungnya.
”Sayang jangan pergi dulu bantu aku memasangkan dasinya!” teriak Malik yang tidak mau kalah dengan putranya dirinya pun ingin diperhatikan seperti anak kecil.
Hana segera berbalik dan menarik dari yang melingkar di leher suaminya.
”Astaga apa kau mau membunuhku?” pekik Malik yang hampir saja terjatuh ke ranjang karena posisi Hana yang duduk di pinggirannya.
”Emil sudah telat loh Bang, kasihan dia,” gerutu Hana seraya memasangkan dasi di leher Malik.
”Maafkan aku, tapi sungguh aku masih teringat yang semalam dan rasanya ingin kembali mengulanginya,” goda Malik.
”Cukup! Sekarang bukan waktunya untuk mengingat hal-hal seperti itu waktunya bekerja dan beraktivitas Bang!” balas Hana.
”Maaf, baiklah nanti malam kita ulangi lagi ya!” Malik mengecup kening Hana.
”Ayo berangkat!” Hana menarik lengan Malik keluar kamar. Di meja makan Emil dan Aydan sudah menanti keduanya.
”Ma, ayo kita berangkat!” ajak Emil yang sudah tidak sabar untuk segera ke sekolahan.
”Pa, Emil tuh udah kangen dengan suasana sekolahan papa tahu sendiri kan jika beberapa waktu lalu Emil gak sekolah,” ucap Emil bibirnya mengerucut ke depan membuat siapapun yang melihatnya gemas.
”Ya ampun lihatlah Ma, putramu ini!”
Hana menoleh mendengar Malik memanggil dengan sebutan ’Ma’ sedangkan mamanya tidak ada di tempat itu.
”Ya kamu Sayang, siapa lagi!”
”Aku?”
”Iya, bagaimana?”
”Akh, kedengarannya gimana ya. Aku lebih senang dipanggil kamu, sayang ataupun yang lain rasanya kau belum siap untuk itu.”
”Lalu kapan kau siap? Bukankah kau ini seorang mama buat anak-anak kita?”
Hana meringis mendengar perkataan Malik.
”Baiklah terserah papa saja, mama akan menurut! Begitukah?” Keduanya pun tersenyum bersama.
__ADS_1
Selepas mengantarkan Emil ke kantor Hana dan Aydan mampir ke supermarket untuk berbelanja sedikit kebutuhan yang habis di rumahnya. Aydan yang ada di troli sangat antusias apalagi melihat warna-warni yang ada di rak.
”Kau suka?” ucap Hana pada Aydan. ”Mama sebenarnya gak suka ajak bayi pergi ke market tapi berhubung papa gak bisa jagain kamu makanya kamu ikut.” Hana terus mengajak bicara pada putranya. Dan tidak menyadari jika di depannya ada orang.
Brak!
Sesama troli bertabrakan, Hana buru-buru menenangkan Aydan yang hendak menangis.
”Hana.”
Hana mendongak dan melihat kembali siapa yang memanggil namanya itu. ”Mas Eric! Kau kerja di sini?”
”Iya, ini sedang menata barang,” sahutnya.
”Bukankah kemarin jualan bakso, makasih ya kemarin dikasih bakso yang dititipkan lewat Bayu. Kenapa sekarang gak jualan lagi?”
”Maafkan saya karena sudah bikin keluargamu dalam bahaya tempo hari, sungguh aku nyesel sekali udah mau dihasut sama Flo waktu itu,” sesal Eric.
”Dia sudah masuk penjara Mas.”
”Iya dialah yang menghasut diriku agar kembali memperjuangkan dirimu lewat Bayu, awalnya aku menolak tapi dia tetap saja membujukku dan seperti inilah hasilnya. Aku diusir sama adikku sendiri.”
”Jadikan pelajaran berharga Mas dan tolong jangan lagi diulangi.”
”Benar, Bayu sudah mengingatkan berkali kali tapi aku mengabaikannya dan sekarang aku sendirian karena dia menolak kerjasama denganku untuk mendapatkan kembali cintamu. Dia lebih milih ibu daripada harus tinggal bersama denganku.”
”Lalu dimana Ayu? Bukankah kalian sejatinya belum bercerai?”
”Dia justru pergi dengan pria lain sama seperti sebelumnya. Gugatan perceraian sudah aku lakukan tinggal menunggu hasilnya.”
”Semoga semua berjalan dengan lancar dan kau bertemu dengan orang yang tepat Mas.”
"Aamiin makasih doanya ya.”
”Kalau begitu aku pamit dulu ya, soalnya sudah waktunya si kecil istirahat. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Hana sengaja mempercepat belanjanya karena tidak ingin terlalu lama mengobrol dengan Eric terlebih dia pun tak ingin membuat orang lain jadi salah faham dengan apa yang sedang dia katakan pada mantannya dulu.
Begitu sampai di rumah dirinya segera membereskan semuanya dan meminta Bik Surti membantunya mengemas beberapa pakaian dan juga persiapan untuk berlibur. Ya selama perjalanan ke mengantar Emil, Malik bilang akan mengajak mereka berlibur ke luar negeri untuk memenuhi janjinya pada Emil.
Setelah semuanya beres Hana segera mengabarkan pada keluarga yang lain agar ikut serta pergi berlibur, namun hanya keluarga Alvin dan Faris saja yang bersedia ikut karena yang lain memiliki kesibukan sendiri-sendiri.
Begitu hari H Emil tampak antusias karena ternyata Azizah diajak serta oleh Hana dia sengaja ingin berbagi dengan sahabat putranya itu.
”Apakah kalian bahagia?” tanya Hana.
__ADS_1
”Tentu saja, makasih ya Tante karena sudah mengajakku ikut berlibur ini adalah hal yang belum pernah Azizah alami selama ini.”
”Semoga kalian suka. Ayo berangkat!” ajak Malik setelah memasukkan barang-barangnya ke mobil kali ini tujuan mereka adalah Turki.