
”Makasih Tante karena udah mengabulkan permintaan Emil, jujur kalau Tante gak tidur di sini pasti mama sama papa yang akan tidur di sini dan pastinya mereka gak ada waktu buat berduaan,” ucap Emil.
"Sudah jangan bicara seperti itu lagi ya Sayang, sekarang istirahat besok kita main lagi kan besok libur,” ucap Sabrina.
Emil mengeratkan pelukannya pada Sabrina bagaimanapun dia sudah banyak merepotkan tantenya ini.
Berbeda dengan Sabrina yang menatap iba pada keponakannya, tumbuh dalam asuhan kakaknya seorang diri tanpa kasih sayang seorang ibu membuatnya menjadi anak yang mandiri meskipun dia dan mamanya kerap membantu tapi nyatanya semua itu tidak membuatnya menjadi pribadi yang manja seperti anak-anak lainnya.
”Semoga kau cepat sembuh Nak, jadilah pria yang baik seperti papamu,” gumam Sabrina.
***
”Makasih Sayang,” bisik Malik setelah aktivitas mereka berdua melewati malam panas. Malik memeluk erat Hana seakan tak mau berpisah.
”Semoga di sini cepat tumbuh Malik atau Hana junior,” sambungnya seraya mengusap perut Hana.
”Bang, ada tidak aneh ya tiba-tiba saja Faris dan Sabrina menginap di sini dan mau tidur bersama dengan Emil?” tanya Hana.
Malik tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, ”Aku sudah tahu kok jika itu hanya akal-akalan Emil saja yang meminta tantenya menginap di sini.”
”Oh iya? Kok Abang bisa tahu?”
”Iya tahu asal nebak saja,” balas Malik mengurai senyum.
”Ish, kirain beneran tahu.”
”Tidak sama sekali tapi biarkan sajalah, asalkan Emil bahagia udah itu saja. Bobok yuk! Abang ngantuk sekali.” Malik semakin mengeratkan pelukannya pada Hana.
”Sudah jam tiga Bang, aku mau mandi dulu ya,” ucap Hana.
”Gak boleh!”
”Tapi Bang, bentar lagi kan adzan subuh.”
”Masih ada satu setengah jam lagi Sayang, memangnya kamu gak capek apa hem,” sahut Malik.
Hana pun ikut terlelap karena Malik mengunci tubuhnya tidak membiarkannya bangun hingga adzan subuh menjelang.
Malik terbangun dan Hana sudah tidak ada lagi di sampingnya, Malik tersenyum sendiri mengingat bagaimana Hana semalam yang sudah mulai berani terhadapnya.
Tok ... tok ... tok ...
Malik membuka pintu Hana sudah berdiri di depan pintu tersebut dengan setumpuk baju yang sudah dia setrika.
”Lain kali masukan saja ke laundry biar kamu bisa istirahat!” ucap Malik mengambil alih baju-baju yang ada di tangan Hana membantunya menatanya di dalam lemari.
”Itu hanya sedikit kok Bang, lagipula daripada nganggur, Bik Surti juga sedang buatin sarapan jadi ya aku ambil alih.”
Malik menarik lengan Hana membuatnya terjatuh di pangkuannya, ”Aduh Bang,” teriak Hana.
”Sssttt...! Diam, Abang gak akan ngapa-ngapain kok,” bisik Malik.
”Semalam kenapa kamu begitu agresif?” tanya Malik membuat Hana malu seketika.
”Memangnya gak ada pertanyaan lain ya?” sahut Hana.
__ADS_1
”Gak ada, Abang hanya mau tanyain itu kok,” balas Malik.
”Mesum!” sahut Hana.
”Ya, meskipun demikian kamu suka kan?”
Hana menggelengkan kepalanya membuat Malik kesal. ”Kenapa gak suka?”
”Terpaksa aja,” ucap Hana.
”Yakin?”
Hana menahan tawanya saat Malik memutar bola matanya malas dengan anggukan yang diberikan Hana padanya, beberapa detik kemudian Malik justru menyerang Hana dengan menggelitik perutnya membuat Hana tidak dapat menahan tawanya.
”Ampun Abang, udah stop!” ucap Hana.
Malik pun menghentikan aksinya manakala Hana sudah mengiba meminta ampun padanya. ”Jangan diulangi lagi ya, Abang gak mau dengar kata terpaksa lagi,” ucap Malik.
”Aku hanya bercanda kok Bang, jangan diambil hati,” sahut Hana mengecup pipi kanan Malik lalu bangkit dari pangkuan Malik.
”Mau kemana?”
”Lihat Emil di kamar sebelah,” jawab Hana. Malik hanya menatap kepergian istrinya itu dan memilih turun ke dapur mengambil air minum.
”Bik, kok sepi?” tanya Malik melihat Bik Surti sendirian biasanya dia akan ditemani Tejo tukang kebunnya.
”Tejo masih sakit bilangnya sih masuk angin gitu,” sahutnya.
”Apa mau dibikinkan teh hangat?” sambungnya.
”Bang, aku mau ajak Emil jalan-jalan ke taman ya bentar ya,” seru Sabrina.
”Gak sarapan dulu?” ucap Malik.
”Nanti aja di taman kan juga banyak yang jualan Emil bilang mau beli bubur ayam di sana.”
”Ya sudah kalau begitu,” balas Malik.
Sabrina keluar disusul Faris di belakangnya.
”Loh kok sendirian Bang, yang lain mana?” tanya Hana.
”Udah pada jalan ke taman,” balas Malik.
”Kok gak ditungguin padahal bilangnya mau ngajakin,” ucap Hana melihat hal itu Malik terkekeh karena Hana ditinggal oleh mereka bertiga.
”Udah di rumah saja lagian lihat apa sih di taman paling juga lihat orang duduk-duduk doang!”
”Hem, Abang gak pernah kesana jadi mana tahu,” ucap Hana.
”Kata siapa? Abang hampir setiap hari ke taman waktu Emil sakit itu hampir tak pernah absen yang dilihat ya hanya orang duduk-duduk sambil makan gitu aja.”
”Bang apa besok aku boleh ke kantor bawa Emil?” tanya Hana membuat Malik menoleh ke arahnya.
”Kamu yakin akan ke kantor?” balas Malik.
__ADS_1
”Iya, aku hanya mau ketemu teman aja kok Bang, gak apa ya cuma sebentar aja kok.”
”Terserah tapi kalau Emil rewel segera pulang ya,” ucap Malik.
”Makasih ya,” ucap Hana kembali memberikan kecupan singkat di pipi Malik.
”Udah mulai nakal kamu!”
”Biarin!” jawab Hana.
ponsel bergetar Malik segera mengambil ponselnya.
’Dokter Wira calling ...’
”Hallo Dok, bagaimana surat-surat kelengkapannya?”
”Bisakah Anda ke rumah sakit sekarang kami mau menginformasikan sesuatu karena tak mungkin jika saya ke rumah dan bicara di depan Emil.”
”Baiklah saya ke sana segera.”
Bip.
”Sayang, aku pergi dulu ya.”
”Aku ikut!”
”Baiklah segera ya, Abang tunggu di mobil.”
Hana mengangguk dan mengganti jilbabnya segera berlari menyusul Malik yang sudah menunggunya di mobil.
***
”Kamu ini anak kecil nekad banget ya, minta kita berdua tidur di rumah, kalau sekamar sih gak apa,” ucap Faris pada calon ponakannya Emil.
”Diam Om, gak boleh protes ini adalah cara Emil menyatukan papa sama mama, karena Emil tahu jika mereka pasti gak jadi pergi mengingat Emil sakit,” sahut Emil tegas pada Faris.
”Beugh! keponakanmu itu benar-benar ya otaknya dari apa itu bisa cerdas gitu!”
”Udah diam aja, yang penting kan Bang Malik sama Mbak Hana bisa bersama beberapa jam saja udah seneng kok, bukankah begitu Emil?” sela Sabrina.
”Benar Tante, aku cuma pengen mereka berdua punya waktu yang istimewa gak setiap hari sibuk urusin Emil. Anggaplah mereka sedang berlibur dan kita juga sedang menikmati hari bebas!”
”Tante, Emil mau bakso boleh ya?" rengek Emil.
”Biar Om carikan buatmu,” sahut Faris mencoba mencari gerobak bakso yang ada di sekitar lokasi.
”Nah itu dia, yuk kita ke sana,” ajak Faris pada Sabrina dan Emil.
”Bang baksonya tiga ya yang satu kosongan aja gak pakai mie!” teriak Faris.
”Iya Bang tunggu sebentar ya!” sahutnya penjual bakso pun menoleh.
”Kau ...”
Faris pun terkejut melihat siapa yang ada di depannya.
__ADS_1