Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
85. Banyak Gaya Makin Pusing


__ADS_3

”Mbak, aku udah lakuin apa yang mbak Hana minta, walau sebenarnya Tari gak bisa,” ucap Untari.


”Maaf ya jadi merepotkan kamu,” sesal Hana dia tidak ingin adiknya jatuh pada penyesalan dan sebelum semua itu terjadi Hana ingin membuka hati Alvin sebelum semuanya terlambat.


”Oh iya mbak, aku juga ketemu sama Aisha di sana tapi kalau dilihat sepertinya dia ada rasa Alvin apa itu benar?”


”Mungkin, karena aku juga hanya beberapa kali saja ketemu sama dia itupun sebentar waktu di rumah jadi gak bisa mengenal lebih lanjut. Aku kira mereka juga saling suka ternyata Aisha menikah dengan temannya Alvin namanya Bima.”


Untari mengangguk tanda mengerti, "Bisa jadi mereka berdua saling mencintai Mbak, karena Tari melihat sorot mata Aisha seakan sedang merindukan Alvin.”


”Bisa jadi tapi jika memang iya harusnya dia menolak lamaran temannya Alvin itu, kenapa dia nerima coba?”


”Iya juga sih, lalu dengan yang sekarang bagaimana mbak?”


”Maksudnya dengan Angela?”


”Iya.”


”Mama kurang sreg sama dia karena pekerjaannya itu sebagai model kita gak tahu dia di luar negeri konsep hidupnya bagaimana, soalnya dia hidup sendiri jadi kan bebas.”


”Hah, orang tuanya bagaimana mbak kok kasih ijin?”


”Namanya juga keluarga gak harmonis uang nomor satu, keluarganya kaya tapi kepeduliannya dengan keluarga gak ada itu yang pernah Alvin ceritakan padaku waktu itu.”


”Kamu sendiri bagaimana apakah setelah ini mau mundur atau lanjut?”


Untari diam, ”Enaknya bagaimana ya Mbak?”


”Kalau menurut mbak sih jangan, biarkan Alvin berpikir sendiri nantinya yang penting dia udah ketemu sama kamu,” saran Hana.


”Tapi jika kamu penasaran dan dengannya silakan saja dengan syarat ada apa-apa kasih tahu kita biar kita juga ikut mantau perkembangannya,” lanjut Hana.


”Tari pikir-pikir dulu deh Mbak, takut juga kalau nyatanya bikin patah hati,” ucap Untari nyengir gigi kuda.


”Kamu ini, sekali lagi aku makasih banget loh ya untuk bantuin kita.”


”Udah mbak tenang aja asalkan Tari masih bisa bantu pasti akan bantu kok,” sahutnya.


”Mbak gak enak aja apalagi pernah menolak kakakmu itu,” sela Hana.


”Bukan menolak mbak, lebih tepatnya memang belum berjodoh gitu jadi ya tetap saja gak bakalan bersama sampai kapanpun,” jelas Untari.


”Aku balik ya mbak, makasih cookies-nya besok nambah juga mau,” ucap Untari.

__ADS_1


”Jangan nanti Emil marah kalau kamu bawa semua makanannya,” seru Hana.


”Baik, besok kalau ada waktu InsyaAllah Tari pasti mampir kok mbak, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


***


”Tampaknya ada yang sedang bahagia nih?” seru Malik begitu masuk rumah dia sudah melihat Hana dan kedua putranya ada di meja makan.


”Dah pulang Bang, sini aku bantuin bawa tasnya ke atas,” tawar Hana.


”Tidak perlu, aku bawa sendiri saja sekalian mandi. Tunggu Abang ya cuma sebentar kok,” ucap Malik terburu-buru masuk ke kamar dan beberapa menit kemudian dia muncul dengan pakaian santai di rumah.


"Bang apa Alvin tadi bertemu Abang?”


”Tidak, kenapa lagi?”


”Hana kira bertemu dengan Abang lalu dia menghindar karena masih kesal gitu,” ucap Hana.


”Gak ada, tadi meeting aja dia ijin. Apa ada masalah baru?”


”Tidak ada Bang, masalahnya masih sama soalan wanita itu. Apa Hana datangin aja Angela dan bicara dengannya baik-baik ya Bang, bagaiman menurut Abang soal ideku ini?"


”Jangan gegabah Abang khawatir yang ada Alvin akan semakin membencimu nantinya, ingat dia itu sedang jatuh cinta jadi apapun yang dia rasa hanya milik berdua mengerti! Kayak gak pernah muda aja,” cibir Malik.


”Jangan terbawa suasana ingat kau juga akan mengalaminya kelak apalagi kau memiliki dua putra sekaligus,” ucap Malik.


”Abang benar tapi aku yakin mereka tidak seperti omnya yang kebanyakan gaya itu,” sela Hana.


”Semakin banyak gaya semakin pusing,” ucap Malik disertai gelak tawa keduanya.


***


”Vin, kamu kok sekarang sulit dihubungi?” tegur Angela.


”Mungkin perasaanmu saja kali, kemarin aku banyak pekerjaan di kantor sampai lembur bukannya aku gak bisa dihubungi.”


”Benarkah? Aku kira kau sengaja menghindar dariku Vin,” ucap Angela.


”Tidak, yuk makan es krim!” Alvin mengajak Angela masuk ke gerai es krim di ujung jalan, dan soalnya justru bertemu lagi dengan Untari.


”Sepertinya pepatah jodoh takkan kemana memang benar ya Vin,” ucap Untari.

__ADS_1


”Eh? Siapa dia Vin?”


”Sialan nih cewek ganggu aja! dia temen aku di Jogja dulu namanya Untari,” jelas Alvin.


Untari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Angela memandang ke arah Alvin dan dia pun mengangguk.


”Angela.”


”Untari, mbaknya satu kantor dengan Alvin?” tanya Untari.


”Iya kami sempat satu proyek pembuatan iklan tapi sekarang sudah gak lagi karena kerjasama sudah habis tapi kami masih sering bertemu di luar jam kantor,” jelas Angela.


”Oh gitu ya, pantas saja kalian kok bisa sama-sama as jam istirahat kerja.”


”Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Alvin.


”Gak ngapa-ngapain kok ya sekedar pengen beli es krim sama kakakku tuh,” ucap Untari menunjuk Jaka yang sedang antri di kasir.


Untari benar dia datang bersama dengan Jaka calon mantan kakak ipar Alvin yang gagal audisi dulu.


”Vin, apa kabarmu? Wah kau bawa cewek sekarang? Kemajuan juga kamu,” cibir Ustadz Jaka.


”Wah Mas Ustadz kok gitu, memangnya dulu aku kuper gitu sehingga Ustadz Jaka bisa mengatakan hal begitu padaku,” balas Alvin.


”Oh, ya gak gitu soalnya kamu jalannya sama cewek kebulean gini, coba kamu carikan adikku satu Vin, atau kenalin dia sama teman kamu barangkali ada yang sedang terjadi jomlo sejati sedang mencari cinta.”


”Gak ada Tadz, lagian temanku brengsek semua gak ada yang bener kasihan Untari nanti,” ujar Alvin.


”Ya udah kita duluan ya Vin, dan Angela senang bisa berkenalan denganmu.” Untari dan Ustadz Jaka pun meninggalkan keduanya.


”Dia cantik banget ya, auranya kalem kalau aku jadi pria pasti akan jatuh cinta sama dia,” ujar Angela.


”Kamu juga cantik kok. gak kalah sama dia,” ucap Alvin.


”Kamu hanya menghiburku saja kan? Dia lebih cantik dariku loh Vin, auranya beda apa iya aku harus kayak dia dulu baru mamamu akan memberi restu pada kita?”


”Memang mau mama begitu,” ucap Alvin dalam hati.


”Sampai kapan ya mamamu akan dingin, acuh padaku, rasanya kau mau menyerah deh Vin, aku lelah jika harus seperti ini.”


”Kenapa kamu bicara seperti itu, tidak bisakah kau optimis dan kita berjuang sama-sama hingga akhir.”


”Aku tidak yakin,” ucap Angela.

__ADS_1


”Lalu kau pikir aku diam saja selama ini? Tidak Angela, aku pun berjuang untuk menyakinkan mama kenapa sekarang jadi kamu yang ingin menyerah?” Alvin frustasi mendengar perkataan Angela.


Apakah benar yang diucapkan oleh kakaknya Hana tempo hari jika Angela bukanlah jodoh yang baik untuknya, kenapa sekarang jadi Angela yang seakan ingin lepas darinya.


__ADS_2