
Malik tidak habis pikir dengan Alvin kenapa dia berpikir seperti itu tentang sebuah pernikahan apakah ini imbas dari kegagalannya kemarin. Ya, dia dua kali gagal menggaet dua wanita ’Aisha dan Angela dua gadis yang sama-sama cantik menurutnya mungkin karena itu dia tidak mau kembali gagal untuk ketiga kalinya.
”Kamu jangan macam-macam ya, ingat kakakmu gak bakalan kasih ijin jika kamu aja begitu. Pernikahan itu menyatukan dua keluarga jika kamu begitu mana ada yang mau sama kamu,” tegas Malik.
”Tapi Bang, aku takut sama Ustadz Amir beliau galak sih orangnya,” ujar Alvin.
”Gak mungkin!” bantah Malik tegas. ”Bilang aja kamu yang takut duluan, Ustadz Amir itu orang yang sangat berwibawa buktinya dia yang menikahkan Abang sama kakakmu waktu itu.”
Alvin nyengir mendengar perkataan kakak iparnya itu, jika boleh jujur sebenarnya dia itu khawatir jika nanti Ustadz Amir menanyakan sejauh mana hafalannya bukannya apa Untari itu lulusan Kairo sedangkan dia hanya lulusan universitas biasa jika dia datang ke rumahnya dan ditanya berapa juz hafalannya bagaimana dia akan menjawabnya, sudah bisa bacaan sholat lima waktu saja sudah luar biasa baginya bagaimana jika nanti dia ditanya yang lain.
Jujur Alvin dilema karena ini tapi mendengar Untari sakit hatinya tergerak untuk menengoknya ada rasa khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan, Alvin ingin memastikan keadaannya.
”Jenguk aja ke rumah ajak kakakmu ke sana dia lebih faham, tapi nanti setelah dari rumah Faris karena dia mau aku ajak ke sana nanti sore jenguk adikku yang baru melahirkan itu.”
”Boleh ya Bang?” Alvin ingin memastikan jika Malik tidak bohong padanya.
”Iya, udah sana kerja saja jangan mikirin wanita aja, itu kakimu aja belum sembuh total udah mikirin nikah segala ya ampun.” Malik ketar-ketir mengingat keadaan Alvin yang sekarang.
Malik pun segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa segera menjemput adik dan mamanya di rumah sakit, Faris dia tugaskan keluar kota jadi mau tidak mau dialah yang harus mengambil alih tugas Faris.
Tepat jam sepuluh dia sudah keluar dan menyerahkan segala urusan pada Pak Basuki selaku orang kepercayaannya selama ini, mobil Malik meluncur ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi mengingat jalanan sepi karena kesibukan mereka berpindah di dalam ruangan.
”Apa semua sudah beres?” Malik ikut membereskan beberapa perlengkapan bayi yang dibawa Sabrina ke rumah sakit.
”Sudah, kamu dari kantor bagaimana dengan Emil nanti siapa yang akan menjemputnya?” Maryam menggendong cucu perempuannya setelah dirasa semua beres.
”Hana yang akan menjemputnya diantar Mang Tejo nanti. Ayo kita pulang!” Malik menuntun Sabrina dan menarik koper kecil milik adiknya.
”Berapa lama Faris di luar kota Bang?” Sabrina berjalan dengan pelan.
__ADS_1
”Nanti malam dia sudah balik, kenapa? Sudah kangen? Baru aja ditinggal beberapa jam aja udah nyariin bagaimana kalau berhari-hari.” Malik mendengus dengan sikap adiknya yang sudah bucin akut dengan Faris namun meskipun begitu Malik mencoba memahami adiknya yang memang lebih manja.
***
Emil terlihat bahagia karena hari ini dia akan bertemu dengan adiknya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Ya, Hana sengaja membawa Emil ke rumah Sabrina begitu pulang dari sekolah.
”Mang cepetan dong jalannya, Emil udah gak sabaran nih pengen ketemu sama adik,” seru Emil pada Mang Tejo yang menyetir mobilnya.
”Sabar Sayang, nanti juga sampai jangan ngebut Mang Tejo santai saja saya malah takut kalau ngebut kapan hari ada kecelakaan di perempatan jalan keluar dari komplek perumahan kita ya karena saling ngebut berlawanan arah.”
”Baik Non hana.”
”Kamu bahagia sekali?” ucap Hana merapikan rambut Emil yang sedikit berantakan.
”Iya jelas Ma, kan bentar lagi mau ketemu sama adik baru,” sahut Emil.
”Lah kan udah punya adik, ini siapanya Bang Emil?” tunjuk Hana pada Aydan yang ada di pangkuannya.
”Memangnya kenapa kalau laki-laki dan perempuan kan bisa temenan sama Bang Emil semua.”
”Kalau Aydan bisa berkelahi jadi Emil gak perlu jaga dia kalau di rumah tante kan gak bisa mana ada perempuan jago berkelahi, nanti kalau ada yang nakal sama dia biar Emil yang maju.”
”Wah mau jadi jagoan ya, ayo turun!”
Hana melihat Malik sudah ada di rumah Sabrina, ya pria itu memang telah memberitahukannya jika dia akan datang ke sini lebih dulu.
”Sayang kau sudah sampai,” saa Malik mengecup kening istrinya itu. Berbeda dengan Emil yang sudah lari duluan masuk mencari anaknya Sabrina.
”Iya sedikit terlambat karena Aydan sempat rewel tadi, bagaimana keadaan Sabrina?” Malik mengambil alih Aydan dari gendongan Hana.
__ADS_1
”Sudah lebih baik tentunya, oh iya apa adikmu ada memberitahukan sesuatu padamu?"
Hana menoleh ke arah Malik, ”Tidak, memang ada apa?”
”Dia mau melamar Untari.”
”Apa?” Hana tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya karena Alvin sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.
”Aku juga baru tahu tadi pagi, ini hanya rencana dia sih sebaiknya kamu tanyakan langsung padanya hari ini Untari juga gak masuk alasannya sih sakit,” terang Malik.
”Kalau beneran bagaimana ya Bang?” Hana mulai cemas.
”Ya harusnya kamu senang dong itu tandanya Alvin sudah bisa move on dari gadis impiannya.”
”Masalahnya Ustadz Amir itu pengennya yang perfeksionis buat anak-anaknya, Hana khawatir Alvin tidak bisa memenuhi harapan beliau.”
”Hem, kakak sama adik sama saja.”
”Maksudnya?” Hana semakin tidak mengerti dengan perkataan suaminya sendiri.
”Tadi Alvian juga berkata begitu, lah belum juga di coba sudah nyerah duluan,” cibir Malik. ”Ajak Untari ketemuan lalu bicara baik-baik setelah tahu isi hatinya baru kamu bantu adikmu jika memang ada peluang untuk bersama gak ada salahnya kan kita bantu mereka.”
”Akan Hana pikirkan Bang, Hana juga harus bicara dengan mama sama papa dulu beliau kan lebih tahu bagaimana keluarga Ustadz Amir.”
”Silakan, ayo masuk!”
Keluarga besar Daniel Sturridge sedang dalam keadaan bahagia karena mendapatkan anggota baru dengan kelahiran putri pertamanya Sabrina. Seluruh keluarga ternyata sudah berkumpul di rumah tersebut kecuali Faris yang memang sedang bekerja. Faris tidak dapat mengundurkan jadwalnya bertemu dengan klien karena dia sendiri yang telah mengaturnya jauh-jauh hari bersama dengan Malik kakak iparnya itu.
Hingga malam jam delapan Malik sekeluarga berpamitan lebih dulu karena tidak mungkin dia berlama-lama di sana mengingat Emil yang sudah mulai terlihat kelelahan karena seharian tidak berisitirahat.
__ADS_1
”Alvin, ngapain kamu di sini?” Hana terkejut melihat adiknya duduk di teras rumah dengan muka kusut, apa yang terjadi dengannya.