
Malik tengah bersama Cindy di apartemennya, wanita itu bertemu di restoran saat Malik sedang makan siang dengan kliennya. Malik hendak pulang ke kantor tapi wanita itu mengaku merasa pusing lalu meminta tolong pada Malik untuk mengantarkannya ke apartemen miliknya dan di sinilah mereka berdua.
”Eugh, rasanya pusing sekali,” keluh Cindy.
”Apa perlu aku panggilkan Dokter kemari?” tawar Malik.
”Tidak perlu, tolong ambilkan obat di kotak obat di lemari dapur,” pinta Cindy.
”Oh baiklah.” Tanpa banyak kata Malik segera mengambil kotak obat yang dimaksud oleh Cindy dengan segelas air putih dan setelahnya Malik langsung memberikannya.
”Istirahatlah, aku harus balik ke kantor karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” pamit Malik segera bangkit dan merapikan bajunya ketika hendak melangkah Cindy menarik lengannya alhasil Malik terhuyung dan menimpa tubuh Cindy. Keduanya saling pandang.
Menyadari ada kesalahan Malik segera bangkit. ”Ingat kita tidak memiliki hubungan apapun lagi Cindy, aku telah menikah dan aku sangat mencintai istriku.”
”Aku masih mencintaimu Malik bahkan aku rela bercerai dengan suamiku karena obsesiku padamu,” ujar Cindy.
”Lupakan semuanya karena kita tidak akan pernah bersama sampai kapanpun, jadi jangan berharap lebih akan apapun yang memang tidak akan pernah menjadi milikmu.”
”Kau benar-benar keterlaluan Malik!” Cindy mulai gusar. ”Apa kurangnya diriku hah!”
”Hatiku sudah milik istriku dan sampai kapanpun hanya ada dia, Hana wanita yang sudah sabar mengurusku dan juga anak-anakku.”
”Aku tidak yakin dia orang yang setia,” ucap Cindy.
”Bagimu mungkin dia wanita biasa yang terlihat kurang sexy di hadapan orang banyak, tapi buatku dialah segalanya. Tidak hanya cantik dan baik dia sexy hanya untukku, aku harap kau bisa belajar darinya.”
Perkataan Malik sangat menohok buat Cindy yang notabene suka berpakaian terbuka dan label sexy tersemat padanya.
”Kau keterlaluan.”
”Sudahlah aku mau pulang dulu.” Malik segera pergi sebelum Cindy terlalu banyak berbicara padanya.
Kesal itulah yang dirasakan oleh Cindy karena tidak berhasil membawa Malik berlama-lama di apartemennya. Pria itu sudah banyak berubah dan sepertinya memang sulit sekali untuk mendapatkan hatinya kembali.
Malik sendiri langsung kembali ke kantornya hari sudah sore dan dia tidak yakin jika Hana masih ada di sana, Malik meraih ponselnya dan naasnya baterainya habis.
”Aish, dia pasti gelisah karena aku tidak memberinya kabar,” gumam Malik. Dirinya lebih memilih memutar kemudinya pulang ke rumah daripada harus balik ke kantor Malik sangat yakin jika Hana sudah berada di rumahnya.
Malik mempercepat laju mobilnya berharap dia segera sampai di rumahnya, begitu sampai dia langsung memarkirkan mobilnya asal yang terpenting dia segera bertemu dengan istrinya.
”Sayang, apa kau sudah pulang?” seru Malik membuat Rita yang sedang bersama dengan cucunya Aydan keheranan karena Malik pulang sendirian.
”Ma, apa Hana sudah pulang?” tanya Malik pada mertuanya membuat Rita kebingungan dengan maksud pertanyaan menantunya.
__ADS_1
”Belum, dia belum pulang,” sahut Rita. ”Apa kau sudah mencoba untuk menghubunginya?”
”Ponselku mati kok Ma, jadi Malik gak bisa hubungi dia.”
Rita segera mengambil ponselnya dan menghubungi anaknya.
”Ma, ada apa meneleponku. Apakah Aydan rewel?”
”Tidak Sayang, ini Malik menanyakan keberadaan dirimu. Dimana kau sekarang?”
”Ya ampun Ma, Hana juga hubungi Bang Malik puluhan kali tapi gak ada balasan.”
”Ponselnya mati kehabisan baterai, dimana kamu sekarang?”
”Rumah sakit, Emil jatuh tadi dan ini sedang mengurus biaya administrasinya sebentar lagi pulang kok. Tolong bilang sama Bang Malik gak usah jemput karena Hana sudah bersama dengan mama Maryam. ”
”Baiklah sampai nanti. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Bip.
”Apa yang terjadi Ma?” tanya Malik penasaran.
”Astaghfirullah, pasti Hana kebingungan karena aku tidak dapat dihubungi sehingga dia memanggil mama Maryam buat menemani.”
”Yang penting sekarang mereka sudah akan pulang jadi tidak perlu menyalahkan keadaan.”
***
”Kita langsung pulang Sayang, makasih ya Miss sudah menemani Emil. Kami permisi dulu,” ucap Hana.
”Iya Bu Hana semoga Emil cepat sembuh, besok istirahat di rumah ya Sayang.” Emil mengangguk mendengar perkataan Miss Nina.
Hana bersama yang lain pun segera pulang dijemput oleh Mang Tejo setelah sebelumnya Maryam meneleponnya.
”Den Malik sepertinya baru pulang tadi Non, saya lihat mobilnya masuk komplek perumahan waktu belok mau nyebrang jalan.”
”Benarkah, tadi mama bilang baterai ponselnya habis Ma, jadi gak bisa menghubungi Hana.”
”Jangan berpikiran negatif ya, semoga semua baik-baik saja.” Hana mengangguk cepat tidak mau membuat mama mertuanya cemas.
Mobil sampai di depan rumah dengan cepat Malik menghampiri mobil tersebut dan segera mengambil alih Emil yang memang belum bisa berjalan.
__ADS_1
"Apa ini sakit, Boy?” tanya Malik menatap Emil iba.
”Iya Pa, sakit sekali,” balas Emil.
Malik meletakkan putranya di sofa ruang tengah, ”Istirahat di sini dulu ya.”
Hana diam tidak menyapa suaminya rasanya masih kesal karena keluar kantor tidak pamit dengannya dan sekarang lihatlah pria itu seakan tidak merasa bersalah padanya. Malik yang merasa sikap Hana yang berbeda pun mencoba memahaminya Malik sadar diri jika dirinya mang salah.
”Sebaiknya kamu ganti baju dulu Nak, baru pegang baby,” seru Maryam yang mencoba membaca situasi ketegangan di antara anak dan menantunya itu.
”Baik Ma.” Hana langsung ke kamar setelah berpamitan pada Rita mamanya. Maryam memberi kode pada Malik untuk menyusul istrinya itu.
”Den Emil makan dulu ya nanti minum obatnya,” ucap Bik Surti yang sejak tadi stand by begitu mendengar bos mudanya jatuh dari pohon.
”Iya Bik, tapi jangan banyak-banyak ya, Emil lagi gak pengen makan,” sahutnya.
”Iya baiklah.” Bik Surti menyuapi Emil dengan telaten meskipun hanya beberapa suap bubur yang masuk ke dalam mulutnya.
Di kamar Malik.
Hana sengaja berlama-lama di dalam toilet karena dia tahu jika Malik pasti sudah menyusulnya ke kamar. Selang lima belas menit Hana keluar dengan handuk terlilit di kepalanya.
”Sayang, maafkan aku.”
”Maaf untuk apa Bang?”
”Karena pergi tidak memberitahukan dirimu,” lirih Malik penuh penyesalan dirinya pun hampir saja terjebak oleh pesona Cindy.
”Sudahlah Bang, lagipula semua sudah berlalu,” ucap Hana seakan tidak peduli dan Malik sadar akan hal itu.
”Sebaiknya Bang Malik buruan mandi dan segera turun kita makan malam bersama kasihan mama pasti sudah lapar karena sejak tadi siang menemani Hana di rumah sakit.”
”Bagaimana dengan Emil, apa dia ... ”
”Dia pasti kesulitan jalan Bang, nyeri pasti ya secara kakinya terkilir dan bagian lututnya menghantam lantai.”
”Ya ampun,” desis Malik.
Hana mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambutnya, dengan cepat Malik merebutnya dan mengeringkan rambut Hana. Hana diam mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
”Kemana Abang pergi tadi siang?”
__ADS_1