
Mendengar kabar berita mengejutkan Malik dan Hana segera datang ke rumah mertua Alvin untuk mengkonfirmasi kebenarannya karena bagaimanapun beliau adalah orang yang menjadi saksi penghubung pernikahan mereka berdua saat di Jogjakarta.
Rumah tampak ramai terlebih beliau adalah sosok yang baik dan warga setempat pun cukup terkejut mendengar berita duka itu. Malik dan Hana masuk menyelinap di antar ramainya orang-orangnya yang ingin bertakziah.
”Sayang aku temui Untari dulu, Abang bisa langsung ke depan temani Alvin.” Malik hanya mengangguk singkat. Begitu masuk ternyata Rita mamanya telah ada di dalam menemani Untari.
”Kau datang, bagaimana dengan anak-anak?” tanya Rita.
”Hana titipkan sama mama Maryam di rumah.” Hana melihat Untari dirinya menepuk bahu adik iparnya itu. ” Yang sabar ya,” ucap Hana menguatkan Untari. Wanita itu hanya mengangguk pasrah dia sudah tahu harus bagaimana bersikap meskipun sedih tetaplah semua harus kembali pada pemiliknya.
Acara pemakaman pun selesai tepat jam satu siang semua orang pulang ke rumah masing-masing begitu pula dengan Hana dan rombongan kecuali Alvin dan Untari memang masih berada di rumah itu bersama Ustadz Jaka dan beberapa kerabat lainnya.
"Vin, ini rumah kamu tempati ya?” ucap Jaka membuat Untari menatap kakaknya tak mengerti.
”Kalau kita tinggal di sini lalu bagaimana dengan Mas Jaka?” tanya Untari.
”Aku mau pulang ke Jogja, di sana lebih banyak hal yang dapat aku lakukan kalau di sini rasanya gak mungkin.”
”Gak mau Mas, biar diurus keluarga yang lain saja, kami udah ada rumah gak mungkin juga rumahnya Mas Alvin bagaimana Mas? Lagipula di sana lebih dekat ke tempat kerja.”
”Benar yang dikatakan sama Untari, Mas. Sebaiknya rumah ini dipakai saudara yang lain atau jika tidak ada kan bisa dikontrakkan,” sahut Alvin.
”Kau benar, baiklah jika demikian aku setuju saja sih.”
Alvin dan Untari pun pulang ke rumah, di sana Pak Soleh dan Rita sudah menunggu mereka berdua. ”Yang sabar,” ucap Rita menguatkan menantunya Untari yang hanya mengangguk.
”Biarkan mereka istirahat Bu, sejak pulang mereka kan langsung ke rumah sakit jadi belum bisa sepenuhnya istirahat dengan baik,” ucap Pak Soleh.
Alvin pun mengajak Untari untuk beristirahat.
Di rumah Malik.
Semenjak kepulangan keduanya Emil nampak sedih karena tidak diajak pergi ke tempat Untari, ya meskipun baru beberapa kali ketemu keduanya cukup akrab dibandingkan dengan kekasih Alvin yang lainnya. Seperti saat ini Emil tengah kesal karena tida diberitahu sama sekali perihal kepergian Ustadz Amir.
”Bagaimanapun dia juga kakek Emil, Ma. Kenapa mama tidak mengajak Emil pergi tadi pagi.”
”Maaf, di sana banyak orang dan mama gak bisa jamin jika kau akan betah, lagipula kau kan bisa bertemu dengan mereka di rumah Oma Rita. Besok mama antar bagaimana, sekarang biarkan Tante sama Om kamu itu istirahat sejenak mengerti?”
__ADS_1
Emil hanya mengangguk cepat. ”Baiklah jika begitu ijinkan Emil ikut Oma sekarang, Emil mau main dengan Lala.”
”Tidak boleh!” sahut Malik tegas.
Hana dan Emil langsung menoleh ke arah Malik. ”Kenapa Pa?”
”Kamu main sama Lala dan gak ingat Aydan di rumah juga cari teman, kelakuanmu itu.’’ Malik sedikit kesal dengan putra sulungnya yang lebih mementingkan anaknya Sabrina daripada adiknya sendiri.
”Ya biarkan saja kan Bang, namanya juga anak-anak,” sanggah Hana membela Emil, dia tidak tega melihat raut wajah Emil yang berubah kesal karena ucapan Malik.
”Jangan belain dia Sayang, Abang gak mau jika dia jadi anak yang manja.” Emil segera berlari ke kamarnya membuat Hana menggelengkan kepalanya melihat ke arah Malik.
”Keterlaluan Bang.”
Malik mengedikkan bahunya singkat lalu ke kamarnya sedangkan Hana lebih milih ke kamar Emil menenangkan perasaan anak itu.
***
”Sayang kenapa kamu gak jujur,” ucap Malik menghampiri Hana yang tengah memakai hijabnya di depan cermin.
”Kemarin ada tamu kan? Dan dia adalah Cindy, kenapa kamu gak cerita jika dia yang datang," ucap Malik menatap Hana penuh kekesalan.
”Masalahnya apa Bang, jika aku gak kasih tahu lagipula dia ke sini buat bikin kesal orang,” ucap Hana.
”Sayang, kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi.” Malik mengacak rambutnya sendiri, berharap Hana tidak mendapatkan masalah dari Cindy.
”Maafin Abang Sayang, Cindy itu orang yang selalu saja menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan Abang itu khawatir jika dia mencelakai kamu dan anak-anak.”
”Tapi dia sendiri yang datang sendiri ke sini mencari masalah Bang, dia kita Hana bodoh apa.”
Malik harus lebih hati-hati lagi sekarang dan harus mengawasi keluarganya khawatir Cindy akan nekad seperti dulu saat dia hampir mencelakai Tiara.
”Kamu harus bilang padaku setiap kamu mau pergi, Abang harus mengawasimu setiap saat.”
”Ya ampun Bang, apalagi ini. Aku gak ngelakuin kejahatan kenapa harus diawasi setiap saat,” keluh Hana.
”Sayang, mengertilah Cindy itu bukan wanita yang dengan mudah memaafkan seperti Flo maupun tante Lani. Jika keinginannya belum terwujud dia akan terus berusaha untuk mengganggu,” jelas Malik.
__ADS_1
”Terserah Abang saja deh kalau begitu, Hana juga gak akan kemana-mana kok.”
Hana segera keluar mengurus kedua putranya, Emil yang sedang asyik bermain dengan Bony sedangkan Aydan yang tengah duduk di lantai bersama dengan Bik Surti.
”Non, saya pamit ke pasar dulu ya.” Bik Surti pamit belanja ke pasar karena banyak stok bahan makanan yang habis.
”Minta diantar Mang Tejo saja ya Bik,” ucap Hana.
”Pasti Non, soalnya belanjaannya banyak.”
Hana mengambil alih Aydan dan menggendongnya keluar menghampiri Emil. ”Bony sudah kau masih makan Bang?”
”Sudah Ma, lihatlah dia senang sekali bermain bola. Besok kalau ke toko makanannya tolong beliin mainan baru dong Ma,” pinta Emil.
”Boleh dong, nanti mama bilang dulu sama papa ya,” ucap Hana.
Ketiganya asyik bermain di belakang, diam-diam Malik memperhatikan mereka dari balkon kamarnya. Dirinya gelisah khawatir dengan keadaan keluarganya bagaimana nanti jika Cindy datang dan membuat semuanya menjadi buruk, dia masih ingat bagaimana dulu Cindy hendak mencelakai Tiara saat pertama kali bertemu dengannya.
Malik merogoh ponselnya dan menggulirnya hatinya tidak tenang dengan keselamatan keluarganya.
”Ada apa Bang, tumben liburan menghubungiku apa ada sesuatu hal yang mendesak?”
”Iya kamu benar, tolong carikan aku orang untuk mengawasi rumahku dan juga keluargaku.”
”Ada masalah apalagi Bang?”
”Pokoknya kau carikan dulu beberapa orang, segera ya aku gak mau menunggu soalnya ini udah darurat semoga saja yang aku khawatirkan sih tidak terjadi.”
”Kau ini bikin orang deg-degan saja sih Bang.”
”Udah pokoknya penuhi saja permintaanku ya, besok aku jelaskan di kantor.”
Bip.
”Apa aku juga boleh tahu Bang?” Malik berbalik terkejut melihat Hana sudah ada di belakangnya.
”Sejak kapan kau ada di sana?”
__ADS_1