Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
52. Kepulangan Emil


__ADS_3

”Hallo bos, istri Anda sekarang berada di luar rumah sudah jam sita.”


”Bagus terus awasi dia, jika dia menanyakan keberadaanku bilang saja kalian tidak tahu sama sekali.”


Bip.


”Lani sekarang dalam kebingungan karena rumah disita dan dia hanya memiliki sedikit tabungan di rekeningnya,” ucap Tony pada Malik.


”Papa benar-benar melakukannya, Malik tidak percaya dengan apa yang terjadi membayangkannya saja tidak berani,” sahut Malik.


”Papa hanya ingin tegas dalam hal ini dan tidak mau jika wanita itu terus merongrong papa.”


”Apa kalian akan langsung pulang ke Indonesia?” sambung Tony.


”Yang lain mungkin akan langsung pulang, kami masih tetap di sini mungkin satu pekan lagi, papa sendiri bagaimana?” sahut Malik.


”Papa bebas mau kemanapun papa mau, semua urusan perusahaan sudah papa pasrahkan pada orang kepercayaan papa jadi tidak khawatir lagi.”


Malik mengerti keadaan papanya yang sekarang memang lebih baik daripada sebelumnya, ”Kalau begitu bersenang-senanglah.”


Tony segera pamit pergi meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan Emil cucunya.


”Pa, Emil sudah boleh pulang kan? Sebulan lebih di sini Emil kangen masakan mama,” ucap Emil.


”Boleh Sayang, tapi ingat kamu harus mendengarkan apa kata mama sama papa mengerti!” seru Dokter Stevens menimpali.


”Thanks ya Dok, udah bantu Emil sembuh,” ucap Emil tulus.


”Berterima kasihlah sama Allah karena-Nya kamu bisa sembuh lewat doa orang yang sayang sama Emil karena doanya dikabulkan oleh-Nya, Emil jadi sehat dan bisa main lagi sama mereka.”


”Itu juga atas bantuan dari Dokter Stevens, kami mengucapkan banyak terima kasih,” tukas Hana.


”Kalau begitu saya permisi dulu masih ada pasien yang harus saya periksa. Emil, semangat ya!” ucapnya memegang pipi Emil yang sekarang sudah tidak chuby lagi wajahnya jadi kurus karena penyakitnya.


”Sayang, kita pulang ya oma dan tante pasti sudah menunggu di apartemen,” ucap Hana.


”Om Alvin juga masih di sini kan Ma?” tanya Emil.


”Masih tapi sekarang dia sedang pergi ke Jurong east bertemu dengan kenalan teman sosmed-nya.”


Malik menoleh ke arah Hana, ”Yakin?”


Hana mengangguk, "Tentu saja dia pergi jam delapan pagi, naik MRT sudahlah dia sudah dewasa aku yakin bisa memilah mana yang terbaik untuknya.”

__ADS_1


”Bukan begitu Abang pikir dia serius dengan gadis yang tempo hari bersamanya di teras rumah,” jelas Malik.


”Aisha standarnya tinggi banget Bang, aku sendiri gak yakin apa Alvin bisa mengalahkan saingannya itu.”


"Jangan dianggap saingan kalau dia anggapnya gitu ya berat!”


”Nanti jika anaknya dah pulang Abang akan beritahu dia bagaimana menaklukkan wanita,” ucap Malik membuat Hana mendelik mendengarnya.


”Pasti dulu Abang begitu ya?” selidik Hana.


”Tidak juga hanya saja pernah mencobanya tapi belum berhasil.”


”Ck! Aku kira sudah berhasil.”


Malik tersenyum samar, ”Kalau yang terakhir iya berhasil modal nekad ke Jogja dan itu juga ada desakan dari mama.”


”Jadi selama ini gak bener-bener sayang gitu maksudnya?” Hana mencebik setelah mendengar pengakuan suaminya.


"Dengerin dulu belum juga selesai, awalnya memang Abang tuh sayang sama kamu terlebih Emil merasa nyaman sama kamu ya udah akhirnya aku beranikan diri sebelum keduluan sama Ustadz Jaka.”


”Ayo balik Ma, aku udah gak sabar pengen bermain sama Om Alvin,” seru Emil.


Mereka bertiga pun pulang ke apartemen, di sana Rita dan Maryam sudah menyiapkan makan siang bersama.


”Bagaimana keadaan kalian semua?” tanya Rita.


”Baik Ma, Alvin belum ngabarin mau pulang jam berapa?”


”Tidak, biarkan saja mumpung masih di sini nanti jika dia capek paling juga pulang,” ucap Rita.


”Sayang, duduk di sini mama suapin mau gak?” tanya Hana pada Emil dan hanya mengangguk singkat.


Dengan telaten Hana menyuapi Emil sedangkan Malik justru bersembunyi di kamar karena bau masakan yang menyeruak di Indra penciumannya membuat perutnya kembali mual dan ingin memuntahkannya segera.


”Sudah Ma, cukup Emil sudah kenyang,” ucap Emil.


"Minum dulu.” Hana memberikan segelas air putih untuk Emil.


”Sekarang istirahat ya!”


”Sini biar Oma gendong ke kamar, kamu jangan angkat beban berat Na, ingat kamu sedang hamil muda jaga kandunganmu dengan baik,” ucap Maryam.


”Iya Ma, kalau gitu Hana temui Bang Malik dulu ya,” pamit Hana.

__ADS_1


Hana segera berlalu ke kamarnya dan melihat Malik sedang terduduk di lantai bersandar pada sisi ranjang


”Apa sangat menyusahkan?” tanya Hana menghampiri Malik.


Malik hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Hana. ”Mau makan apa? Nanti biar aku coba carikan?”


”Memang bisa, gak takut nanti nyasar?”


”Lah kan ada google kok takut nyasar,” balas Hana.


”Iya juga sih, Abang gak pengin apa-apa hanya lelah dan ngantuk rasanya pengin segera istirahat itu aja,” ucap Malik.


”Kalau begitu buruan istirahat ya, ayo bangun!” ajak Hana.


Dengan malas Malik bangun dan membaringkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan kedua matanya.


***


”Ada apa kau datang ke sini?” tanya Soleh.


"Apakah aku tidak boleh mengunjungi mantanku sendiri,” balas Sofia.


"Tidak, hanya saja kau datang di waktu yang tidak tepat.”


”Kenapa?”


”Sekarang istriku tidak ada di rumah jadi lebih baik kau pulang saja tidak baik dilihat orang terlebih dulu kau pernah datang ke rumahku ini sebelum aku mengenal istriku yang sekarang, aku tidak mau menjadi salah paham karena kejadian ini.”


”Jadi kau telah menikah lagi?”


"Tentu saja aku juga sudah memiliki dua orang anak dan seorang cucu.”


Sofia hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Soleh tapi apapun itu dia harus menghormati keputusannya karena memang awalnya dialah yang pertama kali pergi meninggalkan Soleh saat pria itu sedang sayang-sayangnya pada dirinya.


”Baiklah kalau begitu aku permisi dulu semoga bahagia,” ucap Sofia berlalu meninggalkan rumah Soleh.


Soleh tidak habis pikir kenapa Sofia kembali setelah sekian lama tidak memberinya kabar apakah pernikahannya dengan suaminya tidak berjalan lancar sehingga dia kembali mencarinya. Apapun itu Soleh berharap semoga Sofia baik-baik saja seperti rumah tangganya dengan Rita.


Ponsel Soleh bergetar panggilan masuk tanpa dia ketahui namanya karena hanya nomor yang tertera.


”Siapa ini?"


__ADS_1


ini visualnya Hana ya Kak reader 😍🙏


__ADS_2