Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
127. Kata Maaf


__ADS_3

”Sayang, Abang mau cerita sama kamu tentang sesuatu di masa lalu. Tolong jangan marah lebih dulu ataupun menghakimi sebelum ceritanya selesai,” ucap Malik to the point pada istrinya.


”Apa sih Bang, kayaknya serius sekali.” Hana mendekatkan dirinya di pelukan suaminya. Ya, itu karena posisi mereka saat ini berada di ranjang. ”Ceritakan Bang!”


Malik pun menjelaskan semuanya pada Hana tanpa ditutup-tutupi sedikitpun semua dia bongkar bagaimana dulu dia saat masih muda dan belum terikat hubungan dengan siapapun. Hana sendiri sempat terkejut dan marah karena suaminya tidak jujur di awal dan sekarang setelah pernikahannya hampir dua tahun, Malik baru mengakui semuanya dan itupun karena kehadiran Cindy masa lalunya.


Jika saja Cindy tidak hadir mungkin pria yang ada di depannya ini akan memendamnya sendiri, adilkah ini untuknya.


”Kenapa Abang baru cerita sekarang sama Hana?” Hana menitikkan air mata dan memalingkan tubuhnya membelakangi Malik.


Kecewa!


”Maafkan Abang, Abang gak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu.” Malik memeluk erat Hana, dirinya pun menangis karena tak ingin kehilangan wanita yang dicintainya.


”Jika saja Cindy tidak hadir lagi mungkin Abang gak akan pernah mengakuinya kan?”


”Itu semua masa lalu Sayang, dan sekarang Abang gak pernah berbuat macam-macam apalagi setelah menikah dengan mamanya Emil. Abang menjaga jarak dan bahkan tak pernah berbuat aneh-aneh, jika gak percaya kamu bisa menanyakan hal ini pada mama,” jelas Malik pada Hana.


”Sakit Bang,” ucap Hana terisak.


"Abang tahu itu, Abang minta maaf tolong maafin Abang.”


Hana hanya diam tidak tahu mesti bagaimana. Hana mencoba mengingat ingat kebaikan Malik, suaminya sendiri. Tidak ada yang cacat sedikitpun bahkan dia memperlakukan dirinya dengan baik selama ini hanya satu yang membuatnya masih kesal ketidakjujurannya tentang masa lalunya.


”Abang janji takkan mengulanginya lagi, percaya sama Abang. Bukankah setiap manusia memiliki masa lalu dan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya,” ucap Malik memohon pada istrinya yang juga sedang terdiam namun kedua matanya mengeluarkan cairan bening.


”Hana akan pikirkan Bang, sebaiknya Abang istirahat bukankah besok Abang harus pergi.”


Malik memeluk erat Hana tidak ingin melepaskan wanita yang telah bersamanya selama dua tahun ini, apalagi di antara mereka sudah ada Aydan bocah lucu yang selalu mengobati rasa lelahnya di kala pikirannya penat karena pekerjaannya di kantor.


Malik bisa memejamkan kedua matanya tepat jam tiga dini hari sedangkan Hana dia tidak bisa barang sejenak memejamkan kedua mata pikirannya masih tertuju pada pria yang sedang memeluknya.


Keesokan paginya Hana tetap melakukan kewajibannya menyiapkan sarapan dan juga keperluan suaminya. Hana bertekad memaafkan suaminya dan menata kembali kehidupan rumah tangganya, kisah lalu bukanlah halangan buatnya untuk mendapatkan kebahagian bersama Malik suaminya.


”Sarapan dulu Bang,” ucap Hana begitu melihat suaminya tengah di depan cermin memasang dasinya. Hana menghampiri dan membantunya memasangkannya.


Malik menatap Hana intens jaraknya sangat dekat. ’Cup’ kecupan singkat mendarat di bibir Hana dan wanita itu hanya tersenyum menanggapi hal itu.


”Setelah Hana pikirkan semalam ... Hana mau memaafkan Bang Malik tapi Bang Malik janji ya jangan lagi mengulangi kesalahan itu.”

__ADS_1


”Makasih Sayang, Abang janji tidak akan mengulanginya dan akan bertindak tegas pada Cindy nantinya.”


Hana tersenyum dan mengangguk, ”Pergi dan kembalilah dengan hasil yang memuaskan.”


”Terima kasih atas dukungannya, Abang pasti akan memenangkan tender itu kamu jaga anak-anak ya, nanti akan ada mama dan Untari kan yang bantuin di sini.”


”Iya.”


”Satu lagi, jika ada orang yang bernama Anton dan Doni tolong kamu jangan curiga karena mereka adalah orang-orang yang sengaja aku bayar buat mengawasi rumah ini. Jadi jika ada apa-apa kau bisa menghubungi mereka nomornya nanti Abang kirimkan.”


”Baik, ayo sarapan.”


Keduanya pun turun menuju meja makan.


***


Hana menghembuskan nafas melihat Malik pergi untuk bekerja, sekarang di rumah ini ada Untari dan juga mamanya. Hana berharap Malik dan adiknya segera pulang ke rumah dengan selamat.


Hana yakin ini adalah yang terbaik untuk keluarganya dan dirinya tidak boleh egois hanya dengan memikirkan perasaannya saja karena masih ada Emil dan Aydan yang membutuhkan papanya.


"Hei, jangan melamun,” tegur Rita melihat putrinya berdiri menatap halaman rumahnya padahal mobil yang ditumpangi Malik dan Alvin sudah tidak lagi terlihat.


”Jangan memikirkan sesuatu seorang diri lebih baik dibicarakan dengan baik.”


Hana berbalik, ”Mama sudah tahu?”


Rita mengangguk, ”Dari adikmu, dia dikasih tahu oleh Faris di kantor karena Cindy datang ke kantor dan menemui Malik di ruangannya.”


”Dia seakan tidak tahu malu dan mempermalukan dirinya sendiri karena mengejar obsesinya padahal Bang Malik sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya.”


”Jadi kau sendiri sudah tahu?” tanya Rita.


”Bang Malik cerita semalam Ma, karena dia tak ingin jika pergi jauh tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya makanya dia berkata jujur semalam.”


”Syukurlah dan yang pasti kau harus memaafkannya ya karena bagaimanapun yang terpenting sekarang adalah bagaimana dia saat ini bukan dia di masa lalu faktanya Malik bisa membuktikannya dengan setia hanya pada Tiara dan juga dirimu saja,” papar Rita.


”Mama benar ayo masuk Ma, sepertinya hujan akan semakin deras,” ajak Hana karena gerimis mulai turun.


Di dalam Untari sedang mengajak Emil belajar bersama. ”Mbak, bukannya Emil belum mulai libur?”

__ADS_1


”Dia meliburkan diri karena suatu alasan kemungkinan pindah nanti tunggu Bang Malik pulang dari London.”


”Apa ini ada kaitannya dengan Cindy mantannya Bang Malik?” tanya Untari.


”Benar, dia itu mantan istrinya pemilik sekolahnya Emil sebenarnya tidak masalah ya, tapi setelah dipikir-pikir lebih baik dipindahkan saja untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.”


”Mama setuju,” sahut Rita.


Ketiganya pun kembali mengobrol dengan santai hingga menjelang siang.


”Mbak aku harus keluar ada sesuatu yang harus aku beli,” pamit Untari.


”Tante aku boleh ikut gak?” Untari memandang Hana meminta ijin dari sang mama.


"Boleh ya Tante?” bujuk Emil.


”Ijin dulu sama mama jika memang mama mengijinkan maka Tante akan mengajakmu.”


”Boleh ya Ma?” rengek Emil.


”Memangnya apa yang mau kau beli Untari?”


”Aku mau konsultasi wajah mau beli pembersih baru Mbak, sepertinya pembersih yang kemarin aku beli kurang cocok dengan kulitku soalnya ada sedikit jerawat di jidat,” ucap Untari kedua matanya membulat ke atas.


”Sayang, jangan ikut ya tunggu papa pulang kita pergi berlibur bersama?” ucap Hana menenangkan Emil. Hana khawatir Emil akan merepotkan Untari.


”Tapi Ma, Emil bosan di rumah terus,” kesal Emil.


”Bagaimana Mbak?”


”Nak, papa gak mengijinkan keluar jika memang tidak penting Sayang, mama janji besok jika papa pulang pasti kita pergi bersama kok.”


Emil cemberut dan langsung menuju ke kamarnya. "Mama gak sayang sama Emil,” teriaknya berlari mengunci kamar.


”Bagaimana ini Na, dia marah,” tanya Rita.


"Hana gak tahu Ma, Hana juga bingung. Hana hanya melakukan perintah Bang Malik saja.”


"Ya sudah nanti kita kasih dia pengertian,” ujar Rita.

__ADS_1


Hana tetap saja tidak tenang sesekali dia melirik ke atas ke arah pintu kamar Emil berharap anak itu membuka pintu kamarnya.


__ADS_2