
”Bagaimana proses syutingnya?” tanya Faris.
”Lancar Bang,” balas Alvin tak bersemangat.
”Kok kamu begitu apa ada yang salah?” selidik Faris.
”Tidak.”
”Lalu kenapa wajahmu keluar keringat dingin?"
”Astaghfirullah ini karena jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya Bang,” seru Alvin.
Faris tersenyum, ”Jangan bilang kau jatuh cinta pada Angela.”
”Tidak mungkin Bang, tapi tak tahulah kenapa aku bisa begini aku juga tidak mengerti karena memang belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.”
”Hem, bisa jadi kamu itu jstuh cinta padanya Vin.”
”Aku sudah ketemu dengannya kok Bang, jauh hari sebelum dia datang ke perusahaan ini,” jelas Alvin. ”Lebih tepatnya waktu aku sedang di Singapura bantu Bang Malik jagain Emil di rumah sakit.”
”Dia memang cantik sih, wajar saja jika kamu tertarik dengannya.”
”Aku harap ini hanya sebatas tertarik saja Bang, Alvin gak mau terlalu jauh sebelum itu terjadi lebih baik Alvin mundur perlahan deh.”
”Loh kenapa, bukankah dia tipe kriteria wanita yang diimpikan kaum Adam, kalau kamu bisa dapetin dia berarti kamu harusnya bangga dong!”
”Aku gak bisa Nerima profesinya Bang, dia kan seorang model yang cukup punya nama pastinya kehidupan pribadinya pasti akan dikupas habis dan itu Alvin belum siap apalagi menghadapi banyak netizen yang julid.”
”Duh kau memang masih terlalu polos Vin,” ucap Faris membuat Alvin semakin tak mengerti.
”Kalau ada netizen ya hadapi hidup itu ya biarkan mengalir seperti air biarkan arus yang membawa kita tak perlu memikirkan apa kata orang karena mereka hanya bisa melihat dan berkomentar dengan hal yang dilihatnya, memangnya mereka tahu apa yang kita rasakan?"
Alvin menggelengkan kepalanya.
”Hidup itu baik diomong apalagi jelek tambah diomong dibumbui biar semakin wow, apalagi datangnya dari mulut ke mulut hal lumrah sih menurutku, tebalkan telinga, tutup mata yang penting kita tidak merepotkan mereka udah itu saja sih menurutku.”
”Duh Bang Faris jadi ceramah berbusa-busa menjelaskan semuanya, makasih ya Bang udah bagi ilmunya sama aku. Kau memang ya terbaik!” puji Alvin mengacungkan dua jempolnya.
”Udahlah jangan sok memuji kembali bekerja sana, aku mau ketemu klien dulu baru ke rumah Bang Malik nanti. Kalau ada yang tidak kamu mengerti langsung tanyakan pada Pak Basuki beliau ada standby di ruangannya kau tahu kan tempatnya tiga pintu dari pintu ruang utama.”
”Oke Bang makasih banget ya petuahnya Alvin bakalan pikirkan baik-baik bagaimana mengambil keputusan kali ini.”
Faris menepuk bahu Alvin dan segera pergi meninggalkannya ada hal penting di luar sana yang harus dia kerjakan, bertemu klien.
***
"Bik, itu papa sama mama pulang,” seru Emil.
__ADS_1
”Iya, mereka datang Sayang," sahut Maryam. Dia sudah ada di rumah putranya sejak pagi berharap bisa membujuk Emil pergi ke sekolah tapi nyatanya zonk, Emil sama sekali tidak mau berangkat ke sekolah dan hanya menunggu di rumah sesekali dia berlari ke depan berharap Malik dan Hana pulang.
”Papa, mama, mana adik bayinya?” seru Emil.
”Dia sedang tidur Sayang, nanti ya tunggu dia bangun,” jawab Hana.
"Oma, opa,” panggil Emil memeluk keduanya bergantian.
”Sekarang aku punya adik, jadi ada teman main nantinya, benar kan Oma?” seru Emil antusias sekali dalam berbicara.
”Tentu saja Sayang, Emil harus bantuin mama Hana jagain adik kecilnya ya,” ucap Rita.
"Itu pasti Oma, karena sudah lama Emil pengen punya adik.”
”Kamu gak pergi ke sekolah Sayang?" tanya Hana setelah meletakkan bayinya di dalam box bayi.
Emil tertawa renyah seakan tak bersalah, ”Emil bolos Ma, maafkan Emil ya kali ini saja soalnya Emil gak bisa ke sekolah kalau pikiran Emil di rumah dan ingin segera bertemu dengan adik bayi.”
”MasyaAllah, kamu tidak tahu bagaimana dia tadi terus merengek meminta mama mengantarkannya ke rumah sakit dia benar-benar berharap sekali tadi tapi memang mama gak kasih dia pergi," ucap Maryam.
”Maafkan ya Ma, karena mama jadi kerepotan.”
”Jangan merasa bersalah begitu Hana, mama hanya ingin kasih tahu kamu saja, dia begitu antusias dengan kehadiran adiknya itu.”
”Mbak, mau dikasih nama siapa bayinya?” tanya Sabrina yang baru saja menengok keponakannya di kamar.
”Soal itu mbak juga belum menemukan nama yang cocok untuknya. Kamu ada ide?” tanya Hana menatap ke arah adiknya lalu beralih ke keluarganya yang lain.
”Iya Ma, Hana memang belum memiliki persiapan nama. Nanti sajalah dipikirkan. belakangan saja.”
”Non Hana, sini makan dulu yang banyak biar ASI-nya berkualitas ini sudah saya siapkan sup daun katuk,” ucap Bik Surti.
”Udah sana makan!” perintah Rita.
”Tapi barusan saya udah makan di rumah sakit loh Bik,” sahut Hana.
”Makan lagi gak apa, ibu menyusui biasanya mudah lapar!” seru Bik Surti.
Melihat menu yang ada di meja saja sudah membuat Hana kebayang duluan karena banyak sayuran yang memang sengaja dibuat hanya untuknya saja.
”Kenapa cuma dipandangi saja ayo dimakan!” titah Malik membuat Hana terkejut karena suaminya sudah ada di belakangnya.
”Atau mau Abang suapin?” bisik Malik.
”Melihatnya saja sudah kenyang Bang, apalagi harus menghabiskannya bagaimana bisa?”
”Pasti bisa ingat kau punya nyawa lain yang menggantungkan hidupnya padamu mengerti!”
__ADS_1
Hana menghela nafasnya perlahan alu mulai menyendok nasi, kuah yang berisikan sayuran dan sepotong ayam. ”Jangan lupa berdoa Sayang,” bisik Malik lalu mengecup pipi Hana. Pria itu sedang bahagia karena kelahiran putranya mengingat sudah ada Emil dan dia berharap putra keduanya bisa menjadi saudara yang baik untuk Emil dan juga jembatan penolong di akhirat kelak. Malik yakin Hana mampu menjadikan keduanya seperti yang dia inginkan.
”Sayang sini Nak,” panggil Malik buat Emil yang sedang bermain dengan kucingnya tadinya anak itu hendak kembali melihat adiknya yang tengah tertidur tapi melihat Malik keluar dari kamar baby membuatnya urung untuk pergi.
”Ada apa Pa?”
”Kamu udah kenalan belum sama adiknya?"
Emil menggelengkan kepalanya, ”Memangnya siapa namanya?”
"Aduh papa juga belum tahu karena memang belum menyiapkan nama yang pas untuknya. Kak Emil ada ide?”
Malik sengaja membiarkan Emil berimajinasi tentang masa depannya bersama dengan adiknya kelak.
”Mm, bagusnya siapa ya Pa?” tanya Emil.
”Sebenarnya Emil ada nama sih tapi apakah papa setuju dengan usul Emil nantinya?”
”Boleh kok, Emil boleh kasih saran sama papa nama yang cocok buat adiknya dengan senang hati papa akan menampungnya lebih dulu. Memangnya nama apa yang mau Emil kasih buat adiknya?”
”Boleh kasih dua nama gak Pa?"
”Wah Emil sudah siapkan banyak nama rupanya bahkan papa sama sekali tidak memikirkan hal itu. Coba papa mau dengar siapa saja namanya?”
”Tapi janji jangan ditertawakan ya Pa?”
”Oke papa janji gak akan tertawa, katakan saja!”
”Aydan sama Hannan Pa,” ucap Emil.
”Aydan, Hannan,” ulang Malik.
”Baik nanti papa bicarakan sama mama ya Sayang, makasih udah kasih papa masukan. Nanti kita lihat adik bayi lagi kalau dia udah bangun ya Sayang,” ucap Malik.
”Bang tolongin Hana dong!” teriak Hana membuat Malik san Emil segera bangun dari duduknya.
”Apa Sayang,” jawab Malik.
”Baby bangun, aku mau menghabiskan ini dulu.” Hana menunjuk ke arah mangkuk yang masih tersisa sayuran daun katuk.
”Baik segera laksanakan tuan putri, ayo Sayang kita ke kamar adikmu,” ajak Malik.
Ting tong ...
Ting tong ...
”Biar saya aja yang buka,” ucap Rita membukakan pintu rumah tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depan pintunya.
__ADS_1
”Alvin ... ”
”Siapa dia Vin, pacar kamu?”