Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
96. Saling Curiga?


__ADS_3

Hana segera berlalu ke dapur begitu mendengar pembicaraan antara Malik dan Faris, kecewa tentu saja kenapa suaminya tidak jujur jika dia sendiri baru saja bertemu dengan seseorang yang pernah dekat di masa lalunya. Padahal kemarin Eric datang ke rumah saja dia sudah marah-marah, sekarang bolehkah dia yang marah.


Niat hati ingin menyuguhkan minuman buat Faris tapi kenapa dia justru mendengar semuanya. Hana meneteskan air matanya di dapur dia menangis dalam diam, pura-pura mencuci piring dan gelas yang ada di tempat pencucian piring. Kesal itulah yang sedang dia rasakan.


”Sayang, apa kau mendengar semuanya? Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Tidak sama sekali, kemarin aku benar-benar sibuk di Surabaya bahkan aku tidak memiliki waktu buat menghubungimu apalagi sekedar ngobrol sama dia,” ucap Malik mencoba menjelaskan kronologinya pada istrinya itu.


”Jangan bohong Bang, tadi aja Abang marah saat tahu jika Eric datang ke sini, Abang curiga kan sama dia? Sama halnya dengan Hana, Abang kira Hana gak kecewa?” ucap Hana sedikit ketus mengingat tadi Malik bersikap seperti apa terhadapnya bikin dia kesal. Hana ingin suaminya juga merasakan hal yang sama sepertinya bagaimana sih rasanya dicurigai?


”Maafkan Abang ya, bukan niatnya mau membuatmu kesal tadi tapi jujur Abang terkejut saja dengan kedatangannya ke rumah. Udah jangan ngambek ya, kalau ketahuan mama sama papa nanti Abang juga yang kena marah.”


Hana yang masih dalam mode kesal pun akhirnya mengalah tidak ingin memperpanjang keadaan, dia yakin jika suaminya telah berkata jujur padanya.


”Udah jangan marah ya, jadi jelek tuh nanti cepet tua loh!”


”Ehem, ngapain di dapur berduaan Bang?” tegur Alvin.


”Suka-suka dong, emangnya kamu suka curi-curi kesempatan sama Untari,” balas Hana cepat, dia juga gak mau kalau ketahuan sedang bertengkar dengan suaminya karena Alvin masih suka ngadu perihal kehidupan pribadinya pada Rita mamanya.


”Udah sana lanjut lagi meeting-nya sama Faris!” Hana mendorong tubuh Malik keluar dari dapur.


”Janji jangan ngambek lagi ya,” ucap Malik seraya menoleh ke belakang Hana hanya mengangguk singkat.


”Haiyo kalian ngapain?”


”Mau tahu aja urusan orang dewasa!” ucap Hana melotot membuat Alvin gemas dengan kakaknya.


***


Malik melangkahkan kakinya masuk ke kantornya, semua karyawannya tentu saja senang karena bosnya telah datang kembali setelah beberapa hari tidak terlihat di kantornya.


”Apa semua sudah beres?” Malik menoleh pada Faris.

__ADS_1


”Iya, aku sudah menyiapkan semuanya.”


”Bagaimana dengan Sabrina apakah dia masih saja rewel dengan kehamilannya?”


”Iya kau pasti lebih faham Bang, karena sudah dua kali merasakan bagaimana istrinya hamil. Kadang aku pusing dengan permintaannya yang di luar nalar, apalagi pas awal-awal hamil, masa iya aku harus cari gado-gado tengah malam yang bener aja. Siapa juga yang jualan begituan malam-malam.”


Malik tersenyum kecil, ”Tapi kau dapat kan barangnya?”


”Ya, tapi begitu aku mendapatkannya dia gak mau memakannya bikin aku mau marah tapi dia itu istriku sedang mengandung anakku,” ucap Faris mengingat masa itu.


”Udah gak perlu berkomentar toh kalian menikmatinya kan saat proses pembuatannya,” kelakar Malik membuat Faris malu mendengar candaan Abang iparnya itu.


”Jangan keras-keras Bang malu didengar yang lain,” protes Faris.


”Biarkan saja yang penting kita tidak sedang ghibahin mereka beres kan? Ajak Sabrina ke rumah Emil sudah kangen sama tantenya itu beberapa pekan gak datang, aku sendiri sibuk Hana mana mungkin bisa membawanya keluar dengan satu baby aja udah kerepotan.”


”Baik besok aku ajak dia main ke rumah, tuh lihat Bang!” Faris menunjuk pada Alvin yang sedang berdiri di depan meja resepsionis dengan tangan kanan memegang kruk.


”Adikmu yang satu itu sedang berjuang memperjuangkan cintanya Bang jadi sebaiknya jangan mengganggunya dan lebih baik Abang mendukungnya kasihan dia kelamaan jomlo.”


”Ya ampun, jadi kamu mendukung mereka berdua?” Malik menggelengkan kepalanya melihat bagaimana kedua insan yang sedang malu-malu tapi mau itu saling berbicara. Alvin yang terlihat agresif sedangkan Untari yang tidak peduli dengan kehadirannya.


”Sepertinya dia harus diberi nasehat Bang, arahan bagaimana merayu gadis dengan baik bukankah Bang Malik sendiri bisaa menggaet kakaknya, sekarang bagi dia ilmunya,” seloroh Faris.


”Ck! kau ini benar-benar mengesalkan mana ada aku waktu hanya buat bercanda hal yang gak penting begitu?”


Alvin melambaikan tangannya ketika melihat keduanya membuat Malik dan Faris mau tak mau menghamburkannya.


”Sedang apa kamu di sini bukankah ruanganmu di lantai lima!” tegur Malik.


”Pagi bos!” sapa Untari.

__ADS_1


Malik hanya mengangguk lalu mengarahkan pandangannya ke arah Alvin, ”Kalau kakakmu tahu dia pasti marah, apa kau sengaja menggodanya?”


”Astaghfirullah Bang, mana ada aku menggodanya yang ada aku tuh lagi berusaha mendapatkan hatinya,” bantah Alvin.


”Sulit dipercaya, segera ke ruanganmu sana waktunya kerja bukan godaan anak orang!” tegas Malik dia tidak mau Alvin kembali terluka jika sampai cintanya bertepuk sebelah tangan seperti tempo hari.


”Kasihan,” bisik Faris mengejek Alvin membuat pemuda itu ikutan kesal karena Faris ikut-ikutan.


Keduanya meninggalkan Alvin yang masih saja santai menunggu jam kerjanya dimulai. ”Adik iparmu sepertinya harus segera dinikahkan deh Bang, dia sama sekali gak takut tuh malah masih asyik di sana godain Untari,” ucap Faris mengompori Malik.


”Dah biarin aja nanti biar aku yang urus, kalau Hana yang urus pasti gak kelar-kelar karena pemikiran pria dan wanita kan berbeda.”


”Sip, aku dukung deh nantinya.”


Malik ke ruangannya begitupun dengan Faris keduanya mulai berjibaku dengan pekerjaan yang semakin hari semakin banyak terlebih Malik memperbesar proyek pembangunan mall di beberapa tempat khususnya di kota-kota besar. Dia ingin menjaring lebih banyak konsumen dan memberikan harga terbaik untuk semua kalangan, meskipun cukup sulit karena persaingan bisnis yang semakin ketat tapi Malik terus berusaha mengembangkannya.


”Bang tumben memintaku datang ke sini di jam istirahat, apa ada sesuatu yang penting?” tanya Alvin tidak biasanya Malik mengganggu waktu istirahatnya pasti ada sesuatu yang penting dan tidak bisa ditunda.


”Duduklah!”


Alvin menurut duduk di sofa, Malik masih menatap ke arah Alvin membuat pria itu salah tingkah. ”Bang kenapa lihatin Alvin begitu, Alvin masih normal kok Bang!”


”Astaga siapa juga yang mau sama kamu, jelas-jelas kakakmu Hana lebih menggoda meskipun sudah mengeluarkan anak satu. Lah kamu?”


Alvin cengengesan mendengar jawaban Abang iparnya itu, ”Lalu apa Bang, kayaknya serius sekali?”


Untari masuk ke ruangan Malik dan langsung diminta duduk di sebelah Alvin. ”Kapan kalian akan siap menikah?”


”Apa menikah?” Alvin dan Untari saling pandang.


__ADS_1


Mampir yuk Kak, 🤗


__ADS_2