
”Apakah Anda mamanya Emil?” tanya Miss Lina pada Hana.
Hana menoleh ke arah Emil dan Malik. ”Iya dia mamaku, cantik kan?” jawab Emil.
”Baiklah jika begitu lain waktu saya bisa konfirmasikan nanti jika Anda atau Pak Malik yang bisa menjemput Emil ke sini,” ucap Miss Lina.
”Baik, terima kasih,” ucap Malik.
”Emil mulai senin depan kau sudah bisa berangkat ke sekolah kau bisa diantar atau dijemput oleh mereka berdua mengerti,” ucap Miss Lina memberikan penjelasan pada anak didiknya.
”Bu Hana ini kartunya jika Anda menjemputnya gunakan kartu ini, demikian juga Pak Malik,” lanjut Miss Lina.
”Baik terima kasih, kalau begitu kami permisi,” balas Hana.
”Ayo Emil kita kembali ke kantor karena banyak sekali tugas yang harus mama selesaikan,” seru Hana.
”Tidak bisakah kita pulang saja dan biarkan papa yang bekerja, biar mama bisa menemaniku setiap hari,” ujar Emil.
Malik dan Hana saling pandang, ”Emil Sayang, ada saatnya kau akan mengerti nanti untuk saat ini mama tidak bisa menemanimu karena memang mama memiliki tugas lain di kantor atau begini saja Emil ikut mama ke ruangan mama temani mama kerjakan tugasnya jika selesai tepat waktu, mama akan ajak Emil main ke rumah mama nanti bagaimana?”
Malik menghela nafasnya dia sudah menebak jika hal ini pasti akan terjadi. ”Hana, saya mau minta tolong bisakah kau mengikuti kemauannya setidaknya untuk saat ini.”
”Eh? Tapi bagaimana dengan kerjaan saya di kantor Pak?” tanya Hana.
”Jangan khawatirkan soal itu, Faris atau Pak Basuki saya yakin mereka bisa melakukannya, bagaimana?”
”Hanya hari ini kan Pak? Jujur saya merasa tidak nyaman bagaimana tanggapan orang nantinya terlebih saya harus memikirkan perasaan kedua orang tua saya,” ucap Hana.
”Iya saya tahu itu, Emil hanya untuk hari ini ya mama Hana boleh ikut denganmu ke rumah selebihnya tidak karena mama juga memiliki tugas lain yang lebih penting di luar. Ingat kau harus menurut apa katanya jangan buat papa marah mengerti?’’ ucap Malik.
”Baik Pa, Emil janji akan jadi anak yang menurut,” ucap Emil.
__ADS_1
”Baiklah papa antarkan kalian pulang ke rumah lebih dulu baru papa balik ke kantor.”
Malik membukakan pintu mobilnya untuk Hana namun begitu Hana akan masuk, suara menghentikannya geraknya.
”Tunggu!” teriak Flo.
”Flo, kenapa kau ada di sini?” tanya Malik.
”Bukankah ini tempat umum dan siapa saja boleh ke sini, rupanya dia pilihannya Bang Malik, kenapa Bang Malik tidak mengajakku ke sini? Kenapa justru dengan dia yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga kita.”
”Apa maksudmu dengan keluarga kita? Bukankah kau dan aku juga tidak memiliki hubungan apapun selain mantan adik ipar? Ingat kau bahkan bukan adik kandung almarhumah istriku jadi kau pun tidak memiliki hubungan dengan putraku Emil.”
Mendapat serangan balik dari Malik, Flo merasa malu karena memang benar apa yang dikatakan olehnya jika dia pun tidak memiliki hubungan apapun dengan Emil sama halnya dengan Hana wanita yang sekarang berada di hadapannya. Lalu darimana Malik tahu tentang kebenaran semua ini.
”Tak perlu kau tanyakan darimana aku mengetahui semuanya karena Tiara yang telah mengatakan segalanya sendiri sebelum dia meninggal. Sekarang pulanglah dan tak perlu kau ikut campur urusan kami mengerti,” ucap Malik.
”Baiklah jika memang itu keputusanmu Bang, jangan sampai kau menyesal nantinya,” sahut Flo menatap tajam ke arah Hana dan Emil bergantian lalu pergi begitu saja tanpa pamit.
”Ayo sebaiknya kita segera pulang ke rumah sepertinya hujan akan segera turun.”
”Mikirin apa?” tanya Malik memecah keheningan.
”Tidak ada,” jawab Hana.
”Jangan bohong! Saya tahu kamu lagi mikirin sesuatu, semoga yang kamu pikirkan itu adalah saya dan Emil. Benarkan Hana, kamu memikirkan kita berdua, ayo jujur!”
”Waduh Pak Malik percaya diri banget ya kalau ngomong,” ucap Hana terkekeh.
”Percaya diri itu memang harus diterapkan di manapun tempatnya. Tuh benar kan hujan turun, Malik menepikan mobilnya dan membunyikan klakson mobilnya agar pintu gerbangnya dibukakan oleh satpam rumahnya.
”Maaf Pak Romi saya bikin kaget,” ucap Malik.
__ADS_1
”Gak apa Pak Malik silakan.”
Romi kembali menutup pintu gerbangnya kembali.
”Silakan masuk!”
”Ayo Ma, kita masuk dan istirahat di dalam,” ajak Emil menarik lengan Hana.
”Emil, yang sopan ya ingat janjinya tidak boleh merepotkan mama mengerti!” ucap Malik.
”Assalamu’alaikum,” ucap Hana begitu masuk ke rumah besar itu.
”Waalaikumussalam, loh Pak Malik sama Den Emil kok sudah pulang? Lalu ini ... ” Bik Surti memperhatikan wajah Hana.
”Dia itu mamanya Emil, kenalan dulu Bik!” seru Emil.
”Hah?” Bik Surti menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
”Saya Hana,” ucap Hana mengulurkan tangannya.
”Panggil saya Bik Surti ya Neng, maaf tak panggil Neng saja kelihatannya Neng Hana masih sangat muda,” ucap Bik Surti.
”Masa sih Bik, umur saya sudah dua puluh empat tahun loh, sudah tua,” kelakar Hana.
”Bik, tolong buatkan saya minum sepertinya saya undur dulu balik ke kantornya tunggu hujan sedikit reda dulu,” ucap Malik.
”Baik.”
Emil mengajak Hana ke kamarnya, Malik sendiri menuju ke ruang kerjanya mengerjakan pekerjaan kantornya di sana.
”Pak Malik, sepertinya Neng Hana cocok buat calon istrinya Pak Malik, saya setuju jika Pak Malik segera menikah lagi saya lihat Den Emil juga sudah cocok dengan Neng Hana,” ucap Bik Surti seraya meletakkan minuman kopi panas untuk tuannya.
__ADS_1
”Menurut Bik Surti apakah dia cocok jadi mamanya Emil? Saya juga berniat akan melamarnya hanya saja saya masih ragu Bik,” ungkap Malik.
”Kenapa ragu Pak?”