
Alvin masuk ke kantor tapi tidak dengan Untari yang masih menemani Ustadz Amir di rumah sakit. Niat hati ingin segera ke ruangannya karena banyak pekerjaan yang harus dilakukannya mengingat kakaknya Hana tidak bisa sepenuhnya membantu karena Emil tengah sakit.
Langkahnya terhenti ketika seorang wanita cantik sedang berdiri di depan ruangan kakak iparnya Malik. ”Siapa dia, kenapa sexy sekali,” gumam Alvin.
Alvin yang sedikit penasaran pun segera menghampirinya, sayangnya wanita itu keburu masuk ke ruangan Malik.
”Vin, mau kemana?” panggil Faris.
”Eh Bang Faris kebetulan sekali, itu wanita sexy yang masuk ke ruangannya Bang Malik siapa ya? Apa Bang Faris juga mengenalnya?”
Faris mengernyitkan alisnya karena dia sendiri tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Alvin. ”Siapa yang kamu maksud?”
”Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Itu tadi ada wanita sexy masuk ke ruangan Bang Malik, mungkin rekan bisnis ya,” ucap Alvin mencoba menenangkan dirinya dan menghilangkan rasa penasarannya itu.
”Ya sudah kalau begitu.”
Alvin kembali ke ruangannya dan segera mengecek laporan keuangan yang dikirimkan oleh Hana padanya lewat email tadi malam. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah sakit karena harus bergantian menjaga mertuanya.
Dia khawatir Untari capek dan ikut sakit mengingat dia belum istirahat barang sejenak setelah pulang dari Paris. Begitu pekerjaannya beres, Alvin segera membereskannya dan bergegas ke ruangan Malik.
Dengan semangat dia melangkah dan langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. ”Ops, maaf aku kira tidak ada tamu.”
Malik mendorong tubuh Cindy kasar membuat tubuh wanita itu terhuyung ke belakang. ”Kau jangan salah sangka ini tidak seperti yang kau lihat,” pekik Malik kesal dan marah pada Cindy. Ya, wanita itu adalah Cindy.
Alvin ingin mundur tapi begitu melihat keintiman di depannya dengan segera Alvin menghampiri mereka. ”Aku kira aku salah lihat Bang, bagaimana jika kakakku tahu?”
”Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, tolong jangan memperbesar masalah ini, Alvin,” teriak Malik dengan cepat Malik memanggil Faris melalui ponselnya.
Tak butuh waktu lama Faris datang dan membawa Cindy keluar dari ruangan itu.
”Aku pegang perkataanmu Bang, semoga saja semuanya benar,” ucap Alvin lalu meletakkan laporan bulanan di atas meja kerja Malik.
”Aku ijin pulang ya Bang, aku harus ke rumah sakit mengurusi mertuaku,” pamit Alvin dirinya ingin kesal tapi tanpa bukti kuat itu tidak mungkin dia langsung menyalahkan Abang iparnya itu.
__ADS_1
Begitu ke bawah dia bertemu dengan Faris yang melangkah dengan wajah kesalnya. ”Kamu mau kemana, Vin?” tanya Faris.
”Pergi ke rumah sakit Bang, nanti kalau ada waktu aku balik lagi ke sini. Mertuaku sedang dirawat tapi pekerjaanku InsyaAllah sudah beres.”
Faris mengangguk.
”Eh iya Bang, apa Bang Faris kenal dengan wanita yang tadi di ruangan Bang Malik?”
”Dia Cindy sudah beberapa kali datang ke kantor, tapi Bang Malik memang tidak menyukai wanita itu. Tenang saja abang ipar kita bukanlah pria yang suka celup sana-sini dia pria yang setia,” ucap Faris diiringi tawa menggelegar membuat beberapa karyawan yang lewat menatap ke arahnya. Tidak terkecuali Maya dan Susi yang sedang berada di meja kerjanya.
”Astaghfirullah frontal sekali kamu Bang, ya udahlah aku pulang dulu.” Alvin merasa malu sendiri mendengar perkataan Faris memilih langkah seribu sebelum mendengar perkataannya yang lain.
"Hm, baru begitu saja sudah ngacir!” gumam Faris menyunggingkan senyumnya.
***
Hana mengutak-atik ponselnya dengan wajah yang serius sesekali dia menautkan kedua alisnya membuat Emil yang melihatnya bingung melihat sikap mamanya.
”Gak ada apapun kok, ini mama sedang mencari sesuatu. Apa kamu udah lapar, bilang sama mama biar nanti mama ambilkan makanan.”
Emil menggeleng pelan. ”Ma, Emil udah kangen pengen sekolah lagi udah bosen nih beberapa hari gak ke sekolah.”
”Kamu kan bisa main sama adik di rumah, dia juga suka main sama Bang Emil.”
”Hem, dia itu mainannya jari dimasukkan ke mulut Ma, Emil kesal tiap kali ilernya keluar.”
”Ya ampun.” Hana tertawa mendengar pengakuan jujur putra sulungnya itu. ”Sayang, Aydan masih kecil jadi kalau seperti itu ya wajar sih. Nanti kalau udah gede juga gak, kalau gak percaya Emil bisa tanyain papa kalau pulang dari kantor.”
Emil langsung murung seketika mendengar perkataan Hana, membuat Hana merasa bersalah. "Maaf mama lupa Sayang.” Hana merengkuh tubuh kecil itu dengan erat.
Suara bel pintu pun mengalihkan perhatian keduanya. ”Sebentar ya Bang, mama mau temui tamunya dulu.”
Hana beranjak ke depan ternyata Bik Surti sudah membukanya.
__ADS_1
”Non, ada tamu katanya mau ketemu sama Den Emil.”
”Biar Hana temui dia Bik,” sahut Hana dengan cepat segera ke ruang tamu. Hana membeli di tempatnya melihat siapa yang datang, orang yang dingin dia temui sekarang berada di depannya.
”Selamat siang Hana,” sapa Cindy.
”Tidak usah berbasa-basi untuk apa datang ke sini?” balas Hana tegas dia tidak mau memberi kesempatan pada wanita yang sejak kemarin membuatnya kesal.
”Aku kesini mau jenguk Emil, aku denger dia sakit,” seru Cindy.
”Darimana Anda tahu soal itu bahkan kami tidak memberitahukannya pada orang luar kecuali teman-temannya di sekolah.” Hana mencoba santai dan tidak terpancing emosi karena dia tahu siapa yang ada di depannya ini.
Sama halnya dengan Cindy sepertinya dia lebih pandai membaca situasi dan seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita yang ada di depannya sekarang. ”Anda lupa jika Emil sekolah di tempatku. Aku mengetahuinya dari data yang diberikan oleh guru pembimbingnya. Apa aku salah ingin menjenguk salah satu siswa yang sakit di sekolahku?” ucap Cindy terdengar ketus sekali.
Hana terkejut mendengar pengakuan Cindy bagaimana mungkin dia kecolongan selama ini tanpa dia sadari jika pemilik sekolah putranya belajar adalah wanita yang mengejar suaminya. Dengan cepat Hana menguasai dirinya tidak ingin terpancing oleh perkataannya.
”Oh jadi kamu pemilik sekolah itu karena setahuku pemiliknya adalah Pak Anwar Sanusi bukan Anda.”
”Aku istrinya.”
”Mantan!” ralat Hana tersenyum kemudian. ”Benar kan? Setahu saya Pak Anwar berada di Surabaya dan menikah lagi dengan pengusaha di kaya di sana. Apa itu artinya Anda dicampakkan olehnya lalu mencari suami saya?”
Cindy tidak menyangka jika Hana lebih cerdas dari dugaannya, Cindy kira Hana bisa dia bohongi tapi ternyata dirinyalah yang kena imbasnya sendiri.
”Lupakan Bang Malik dia suami saya, jika memang Anda tidak mau mundur jangan salahkan saya karena saya pasti tidak akan menyerah begitu saja.”
Cindy diam mendengar perkataan Hana yang terdengar begitu tegas padanya.
Hana melangkah dan berdiri tepat di samping Cindy, ”Jangan jadi pelakor di dalam rumah tanggaku, aku bukan wanita bodoh,” bisik Hana kemudian.
”Silakan keluar jika urusannya sudah selesai.” Hana dengan terang-terangan mengusir Cindy.
”Ya Allah maafin Hana, astaghfirullah.” Hana memekik sekarang urusannya dengan Malik suaminya bagaimana jika dia marah karena telah bertindak sesuka hatinya.
__ADS_1