
Alvin cemberut karena Malik tidak memberikannya ijin besok hari, dia berencana mengajak kedua orang tuanya pergi ke rumah Ustadz Amir melamar Untari.
”Pak Alvin ini daftar yang bapak minta.” Seorang pria seumuran dengannya masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu, lebih tepatnya Alvin tidak mendengarnya karena asyik dengan lamunannya.
Alvin mendesah berat mengingat perkataannya Untari tadi pagi di lobi jika dirinya diijinkan datang ke rumah untuk melamarnya tentu saja hal ini membuatnya bahagia. ”Kenapa Bang Malik pilih kasih!” gumam Alvin. ”Aish, sudahlah jika gak bisa nanti malam juga boleh!” lanjut Alvin.
”Pak Alvin!” tegur Bayu ya yang mengetuk pintu tersebut adalah Bayu adik ya Eric.
”Eh iya ada apa?” Alvin terkejut melihat pegawai baru ada di depan meja kerjanya sejak kapan dia datang kenapa dia tidak mengetahuinya apa karena dia asyik dengan lamunannya.
”Ini laporan yang Pak Alvin minta tolong diperiksa lagi ya.”
Alvin mengangguk dan langsung meminta pegawai tersebut untuk keluar dari ruangannya karena merasa malu sudah kepergok sedang melamun. ”Sepertinya aku harus kasih tahu mama sama papa agar mereka berdua tidak pergi nanti malam.”
Alvin pun segera menghubungi Rita dan memberitahukannya soal rencananya nanti malam, Alvin tidak menyadari jika kakaknya sudah bersandar di pintu sejak awal dia menghubungi mamanya.
”Sudah selesai ngobrolnya?” Hana melipat tangannya di dada.
”Eh, kak Hana sejak kapan ada di sana?”
Hana menghampiri adiknya itu. ”Sejak kamu telepon lah, yakin dengan keputusanmu itu?"
”Tentu saja, lagipula untuk apalagi sih hidup kalau gak cari pasangan nikah punya anak dan tua bersama,” ucap Alvin.
”Kamu benar tapi ... tidak semua itu bisa berjalan dengan mudah Dek, karena banyak banget ujian yang harus dilewati tentunya.”
”Tumben kau memanggilku dengan sebutan itu,” ucap Alvin terkekeh kecil. ”Si kecil gak diajak?”
”Di rumah aku titipkan sama Bik Surti di rumah, kakak ikut nanti malam ya!” Hana segera berbalik keluar meninggalkan ruangan Alvin yang kembali sibuk mengecek berkasnya.
***
”Ini apa Bang?” tanya Hana memperhatikan struk belanjaan yang panjang sekali.
”Oh belanjaan emak-emak biasa,” balas Malik segera merebutnya dari tangan Hana membuat wanita itu jadi curiga.
__ADS_1
”Kok panjang sekali, kalau Hana belanja aja gak sampai segitu panjangnya. Memangnya itu punya siapa, maksud Hana belanjaan siapa?”
”Kepo!” Malik tersenyum kecil melihat Hana yang sedang penasaran dengan panjangnya struk belanjaan tersebut.
”Bang, Hana tuh mau tahu aja.”
”Lalu kalau sudah tahu terus mau apa?” Malik masih saja fokus dengan pekerjaannya. ”Udah kamu pulang aja bareng Emil ya biar Mang Tejo antarkan kalian.”
”Abang ngusir Hana?”
Malik pun menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah Hana, ”Abang tuh sibuk Sayang, kenapa?”
”Ya sudahlah kalau gitu aku pulang dulu. Emil ayo kita pulang Nak!” Hana segera membereskan perlengkapan sekolah Emil yang berantakan di sofa, mendengar ajakan mamanya tentu saja Emil kaget karena anak itu sedang asyik-asyiknya bermain warna. Mau tak mau Emil segera mengikuti Hana dan menoleh ke arah Malik dengan tatapan bingung.
Malik mengambil nafasnya perlahan dia yakin Hana pasti salah faham salahnya sendiri menaruh kertas tersebut sembarangan Malik tidak tahu jika kertas itu ada di mejanya. Diambilnya lagi struk pembelian yang sudah dia buang ke tempat sampah dan dibacanya pelan. Pantas saja Hana marah karena apa yang tertulis di sana tidaklah tanggung-tanggung pembelian dalam jumlah yang besar seakan ingin membuka toko.
”Astaghfirullah, ada-ada saja.” Malik mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
”Kenapa Bang?” Faris datang menyela.
”Loh malah balik bertanya, mereka baik-baik saja dan bayinya juga tidak masalah seperti yang Abang sarankan kemarin demamnya turun dengan minum ASI secara kami juga gak mau lah bolak-balik ke rumah sakit.”
”Syukurlah.”
”Abang ada masalah?” Faris mengernyit manakala melihat Malik menyandarkan punggungnya di kursi pasti ada masalah berat.
”Hana sepertinya sedang cemburu karena dia menemukan ini tadi.”
Faris membaca semuanya bahkan Faris sendiri melongo melihat jumlah totalnya di bagian akhir. ”Memang Abang belanja ini semua buat apa? Banyak sekali.”
”Itu modal buat mantan mertuaku Lani.”
”Loh Abang kasih dia barang-barang seperti ini?” Faris geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Malik.
”Iya rumah berikut modal dagangannya karena aku gak mau dia terus menganggu kehidupanku terus, belakangan ini dia selalu saja meneror diriku. Masalahnya bukan aku takut, tapi aku merasa gak nyaman saja dengannya.”
__ADS_1
”Astaga lalu Abang kasih dia semua itu?”
Malik mengangguk, ”Dia bahkan sempat mengancam juga dan balik lagi di antara kami ada Emil bagaimanapun dia adalah Oma buat Emil gak mungkin aku memisahkan mereka juga kan.”
”Astaga, aku kira mereka sudah tidak lagi mengganggu Bang Malik lagi.”
”Kata siapa? Aku gak mau aja Hana ribut gara-gara masalah ini, tapi tetap pada akhirnya ketahuan juga lewat struk ini. Aku belum jelaskan semuanya sih mungkin nanti saja kalau di rumah.”
”Lalu bagaimana dengan Pak Tony apakah beliau tahu soal ini?”
”Aku rasa tidak mereka sudah bercerai waktu Emil berobat ke Singapura waktu itu beliau juga yang ikut membantu biaya rumah sakit Emil.”
”Sudahlah anggap saja itu semua adalah ganti rugi daripada aku selalu dikejar-kejar olehnya. Aku gak mau bikin masalah baru.”
Malik sendiri tidak mengira jika Lani akan kembali menghubunginya tempo hari saat Hana bilang bertemu dengan Flo sebenarnya dia sendiri baru saja bertemu dengan mantan mertuanya tersebut Malik tidak cerita karena dia pikir itu tidak penting dan Malik bukanlah tipe orang yang selalu terbuka untuk berbagai hal. Namun sekarang setelah Hana tiba-tiba marah padanya apakah Malik akan tetap seperti itu.
Malik mencoba mengabaikan masalah pribadinya sebentar dan berusaha profesional dengan mengedepankan pekerjaan saat berada di kantor hingga pukul enam sore dia baru bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Diliriknya beberapa ruangan yang sudah terlihat sepi, karena beberapa karyawan sudah pada balik dek rumah sejak jam lima tadi. Malik melenggang pulang ke rumah berharap bisa bertemu dengan anak dan istrinya lagi.
Jalanan yang macet pun membuat laju mobilnya tidak bisa cepat sesekali Malik merutuki dirinya sendiri, Malik ingin segera sampai di rumah dan segera memeluk Hana meminta maaf pada wanita itu karena tidak jujur di awal dan menyembunyikan pertemuannya dengan Lani mantan mertuanya.
Hingga tepat jam tujuh tiga puluh menit Malik baru bisa sampai di rumahnya, setelah mobil terparkir dengan baik Malik pun bergegas memanggil nama istrinya namun tak ada sahutan darinya dan Bik Surti datang tergopoh-gopoh menghampirinya.
”Maaf Den, Non Hana pergi bawa Aydan dan Emil tadi jam lima sore,” ucap Bik Surti membuat Malik shock dia tidak mengira jika Hana akan benar-benar marah padanya.
”Kemana perginya Bik?”
”Kurang tahu Den.”
Malik lemas seketika dia tidak mengira jika semua akan berakhir seperti ini. ”Hana dimana kamu Sayang.”
Mampir yuk Kak 👆🙏
__ADS_1