
”Kak boleh nanya gak?” bisik Alvin.
”Bagusan kado apa yang menarik buat calon pengantin wanita?” sambung Alvin.
”Kamu jadi datang ke pernikahan Aisha?” tanya Hana tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya itu.
”Iya tentu saja datang Kak, Bima itu teman aku masa aku gak datang.”
”Benar juga sih, ya sudah kalau kamu mau datang, gak perlu bawa kado cukup selembar cek dia pasti bahagia,” goda Hana membuat Alvin cemberut.
”Alvin serius ini Kak, kok Kak Hana malah gitu sih.”
”Ya gimana ya, kakak belum pernah sih dapat hadiah dari laki-laki. Biasanya kado itu berupa bed cover sprei, peralatan dapur, baju couple, peralatan ibadah, buku parenting, atau buket bunga uang ini yang terakhir paling keren dan siapapun paling suka,” ucap Hana meringis setelah menyebutkan semuanya.
”Gitu ya, tapi gak mungkin juga ya Kak, kalau aku bawa-bawa begituan ke sana kasih uang saja kali ya lebih bagus.”
”Ya udah aku pulang dulu, Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam,” jawab Hana.
Malik yang keluar dari kamar kebingungan mencari adik iparnya itu, ada hal yang harus diselesaikan perihal pekerjaannya pekan depan tapi Alvin tampak terburu-buru sekali.
”Dia udah balik Bang, udah besok lagi ngebahasnya dia sedang tidak mood buat mikirin pekerjaan karena hatinya sedang patah hati ditinggal nikah sama Aisha,” jelas Hana.
”Kau benar juga, baiklah besok saja jika suasana hatinya sudah mereda baru aku bicara dengannya.”
”Pa, jadi pergi gak sekarang?” tanya Emil berlari kecil menghampiri keduanya.
”Memangnya Abang janjikan dia apa?" tanya Hana.
Malik meringis kemudian, ”Gak ada kok cuma tadi Abang bilang mau ajak dia pergi jalan-jalan ke Timezone dia kangen pengin pergi ke wahana permainan.”
”Ya udah sana pergi sendiri, maaf Hana gak bisa ikut capek!”
”Ya Allah segitunya sama Abang,” ucap Malik menahan kesal.
”Ya bagaimana Bang, aku seharian ini gak bisa bergerak perut semakin besar gerak semakin terbatas. Lagi urus kamar baby seharian capek banget!” ujar Hana.
Malik mengusap perut Hana, ”Maafin Abang ya, tolong jangan marah. Abang gak tahu kalau kamu kerepotan hari ini ini.”
”Emil Sayang, kita batalin dulu ya perginya besok kalau mama udah sehat baru kita pergi bagaimana?”
Emil menghampiri Hana dan memeluknya, ”Mama capek? Kenapa gak bilang sama Emil tadi di atas, mama suka sekali nyuruh-nyuruh Emil istirahat tapi mama sendiri lupa kapan terakhir mama istirahat, iya kan?”
”Nah tuh dibilang juga apa, ternyata Emil itu diam-diam juga perhatian sama kamu,” tukas Malik.
”Kalau bukan aku siapa lagi Pa, papa kan sibuk di kantor. Iya kan Ma?”
”Iya Sayang, kamu benar,” sahut Hana membenarkan perkataan putranya.
”Ya Allah ternyata aku gak ada yang mendukung!”
***
Pernikahan Aisha dan Bima sedang dilangsungkan Alvin terdiam di pojokan seraya memegang segelas orange juice sesekali dia memainkan air dalam gelasnya.
”Vin, kamu datang juga kenapa gak mendekat ke depan!” seru Aryo.
__ADS_1
”Gak lah nanti saja lagipula masih banyak tamu yang datang ngantri buat salaman.”
”Mereka cocok ya, Aisha dan Bima,” ujar Aryo.
”Iya menurutku mereka berdua memang cocok sekali,” sambar Nadia gadis yang diam-diam menguntit Alvin.
”Kamu sendiri ngapain di sini biasanya kamu juga deketin Bima, sekarang Bima udah nikah kamu mau deketin siapa?” sindir Aryo.
”Dia. Aku mau deketin dia,” aku Nadia membuat Alvin membelalak mendengar pengakuan Nadia.
”Jangan aku nanti kamu nyesel, lagipula aku udah punya nama lain di hati aku kok,” kilah Alvin.
”Siapa, dia yang sedang duduk menjadi ratu sehari di depan sana? Ck! sadar euy, dia udah jadi milik orang lain jadi gak usah ngarep deh!” seru Nadia.
”Kata siapa aku mengharapkan dia? Sok tahu!” bantah Alvin lagi.
”Aku dengar semua kok yang kamu omongin di perpus waktu itu,” bisik Nadia membuat Alvin semakin tidak percaya dwngan ucapan Nadia.
”Tenang rahasiamu aman, Bima gak akan tahu jika kamu menyukai istrinya selama ini,” lanjut Nadia.
”Aku sama Aisha itu gak ada hubungan apapun hanya sebatas teman kamu gak akan percaya meskipun aku bicara jujur sekalipun dan kau salah mengartikan pembicaraan kami berdua.”
Alvin kembali membantah dia tidak mau jika pembicaraannya dengan Aisha menjadi bumerang buat dirinya dan juga Aisha.
”Ya terserah kamu yang penting kau punya bukti di sini.” Nadia memamerkan sebuah file di ponselnya pada Alvin.
”Jangan gegabah Nadia, tolong jangan buat persahabatan kami menjadi hancur hanya karena sikap egoismu itu!"
”Kamu Vin, kamu yang seharusnya jangan gegabah karena aku akan tetap mengikuti dirimu.”
Nadia mengedikkan bahunya, ”Simple, turuti apa kemauanku itu saja sih.”
”Dasar gila aku gak mau!”
”Terserah jawabannya ada padamu, bye!”
Nadia segera meninggalkan Alvin dan Aryo menuju ke pelaminan untuk bersalaman dengan kedua mempelai pengantin.
”Kalian bahas apa sih kok bisik-bisik gitu?” tanya Aryo.
”Hah, dasar gadis aneh gak tahu aku juga terserah dia saja, aku gak peduli buat apa capek-capek tapi gak menerima usulan dari luar!”
”Sabar, yang aku tangkap dari gelagatnya Nadia itu jatuh cinta sama kamu!” seru Aryo.
”Ya begitulah, tapi aku juga gak mau ambil pusing dengan semua ini.”
"Yuk kita ke depan salaman sama pengantinnya barangkali nanti ketularan,” canda Aryo.
”Gak lah, aku belum pengin nikah mau kerja dulu aku gak mau berkeluarga tapi nyusahin orang tua!”
”Tumben otakmu encer!”
”Dari dulu juga encer aku kan salah satu pria tercerdas dan tertampan di kampus, kamu lupa?” sindir Alvin lebih tepatnya mengingatkan sahabatnya itu.
”Percaya kau memang pria terbaik dan tidak pernah aneh-aneh di kampus!”
***
__ADS_1
”Mbak Hana, kita makan di sana saja yuk!” ajak Sabrina menarik lengan Hana menuju kafe.
”Duh ramai begini kalau pesan bagaimana pasti antri lama gak ketulungan, yang sepi saja yuk!”
”Gak apa di sini makanannya enak loh mbak, percaya deh.”
”Tapi ... bentar lagi jemput Emil ke sekolah bagaimana?”
”Gak apa tenang saja nanti sedikit terlambat juga yang penting kita konfirmasi dulu dengan pihak sekolah setelahnya kita bisa santai sebentar di sini sekalian meluruskan kakimu yang lelah,” jelas Sabrina.
”Aku pesankan makanan ya,” ucap Sabrina tangannya ke atas memanggil pelayan.
”Mbak saya mau pesan makanan, yang ini, ini dan ini bisa tolong dipercepat gak mbak?” pinta Hana.
Pelayan pun menoleh ke arah jam tangannya. ”Sepuluh menit bisa menunggu?”
”Baik, terima kasih.”
Hana pun menunggu makanan yang dipesan olehnya namun hatinya tetap tidak tenang karena sebentar lagi waktunya untuk menjemput putranya di sekolah.
”Sabrina, sebaiknya aku jemput dia dulu ya nanti aku balik lagi ke sini.”
”Jangan nanti saja ya kita makan dulu, aku sudah konfirmasi kok kalau mau jemput telat karena banyak kegiatan disini,” jelas Sabrina.
”Tapi bagaimana kalau Emil menunggu kita berdua?”
”Ayolah mbak, kita santai dulu jangan terlalu fokus mikirin hidup, mbak Hana tenang dulu nanti kita pasti jemput Emil kok.”
Ponsel Hana bergetar,
”Hallo Bang ada apa?”
”Hallo Sayang, kamu di mana sekarang?”
”Di kafe bersama dengan Sabrina.”
”Astaghfirullah ternyata biang keladinya adikku sendiri.”
”Kenapa Bang?”
”Pulang sekarang Abang gak mau tahu!”
”Tapi Bang ... ”
Bip.
”Ada apa mbak?”
”Bang Malik marah kenapa ya?”
”Jadi yang nelpon tadi Bang Malik?”
Hana mengangguk, Sabrina menepuk keningnya sendiri.
”Ayo kita pergi!”
Sabrina buru-buru pergi setelah meletakkan uang di atas meja dia takut karena kakaknya sedang marah.
__ADS_1