Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
58. Bergosip!


__ADS_3

"Duh manten baru udah kerja saja,” sindir Hana pada Faris.


”Habisnya gak biasa di rumah lama-lama mbak, tahu sendiri Sabrina itu orangnya sibuk masa mau honeymoon sendirian di rumah kan gak enak,” sahut Faris.


”Iya deh, lagian kenapa juga kamu gak ambil cuti terus terbang keluar negeri ke Eropa misalnya,” ucap Hana.


”Tanyain tuh Bang Malik, kalau aku ambil cuti kebakaran jenggot nanti dia.”


”Siapa bilang, kalau kamu mau pergi ya pergi aja aku gak akan beratin kamu kok,” tukas Malik.


”Astaga Bang, kalau gak ada aku mana kelar masalah kemarin siang.”


”Kemarin ada masalah apa memangnya?” tanya Hana menatap Malik dan Faris bergantian.


”Gak ada, hanya masalah pegawai tapi udah kelar kok,” jawab Malik.


”Oh begitu ya, syukurlah. Lalu yang menggantikan posisiku sekarang siapa?” tanya Hana.


”Masih kosong mbak, Bang Malik berencana merekrut Alvin tapi karena masih di Jogja jadi belum bisa urus semuanya ke kampus kan ke sana juga harus bawa anaknya juga.”


”Kau benar, nanti aku coba hubungi dia lagi ya.”


”Gak perlu Sayang, karena udah Abang hubungi sendiri kok semalam.”


”Semalam?”


”Iya waktu kamu udah tidur karena gak bisa tidur, Abang keluar kamar dan mencoba menghubunginya dia sendiri belum tidur ya kita berdua ngobrol dong!” ucap Malik.


”Hem, ya udahlah jika memang udah ada kesepakatan darinya,” ucap Hana.


”Alvin mau balik ke Jakarta besok pagi bareng sama mama,” ucap Malik.


”Bareng sama mama?”


Malik mengangguk, ”Sepertinya papa sama mama bertengkar tapi ya besok saja kamu tanya langsung ada mama apa yang sebenarnya terjadi.”


”Baiklah,” balas Hana.


”Kalau udah berdua aja yang ketiga dicuekin!” lirih Faris.


”Ya iyalah bukankah dua orang berlawanan jenis yang ketiganya itu adalah ... ”


”Jangan diteruskan, lama-lama adu mulut nanti,” potong Hana.


”Ya udah lanjut kerja saja sana!” titah Malik pada Faris.


”Baik, aku permisi mbak,” pamit Faris namun tidak pada Malik pria itu hanya melirik singkat.


”Abang jangan gitu loh sama Faris bagaimanapun dia udah banyak bantuin Abang ke sana-sini jadi setidaknya menghargai hasil kerja kerasnya juga dong.”


”Itu pasti Sayang, dia itu pegawai terbaik yang aku miliki,” ucap Malik.


”Oh jadi selama ini aku bukan pegawai yang baik begitukah?” cibir Hana.


”Ya kamu pegawai teladan malahan, karena mampu meluluhkan hati bosnya,” goda Malik.


”Ish, Abang berniat sekali menggoda,” ujar Hana.


”Fakta jika memang iya, karena kenyataannya Abang itu memilih dirimu.”

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


”Masuk!” seru Malik.


”Ini saya mau antarkan berkasnya Pak.” Indah meletakkan map di atas meja Malik.


”Oh iya Pak boleh saya ngobrol sebentar dengan istrinya,” tanya Indah meminta ijin pada Malik.


”Silakan.”


Indah menarik lengan Hana mendekat padanya membuat Hana penasaran dengan apa yang akan dibahas sahabatnya kali ini.


”Ada apa?”


”Aku dengar dari Mila, tetangganya Eric kau ingat kan?”


Hana mengangguk, ”Kenapa memangnya dia?”


”Bentar dong aku belum selesai bicara kamu udah memotongnya,” seru Indah.


”Baik aku akan dengarkan dulu hingga selesai.”


”Bagus.” Indah mengacungkan jempolnya.


”Jadi begini ... Ayu sudah melahirkan di rumah sakit dan anaknya perempuan, tapi sepertinya bakalan lama di rumah sakit.”


”Loh kenapa? Anaknya sehat kan?” ucap Hana menaikkan satu oktaf nada bicaranya membuat Malik menatap ke arahnya.


Hana meringis melihat tatapan mata suaminya itu. ”Jangan keras-keras,” bisik Hana dia lupa jika suaminya ada di ruangan yang sama dengannya.


”Maaf Bang,” ucap Hana.


”Eric gak ada dana buat bayar operasi istrinya itu,” bisik Indah.


”Memangnya Eric gak kerja?” tanya Hana.


”Kerja tapi katanya dia kena tipu!”


”Kena tipu? Jangan-jangan alasannya aja mau menghindar dari tanggung jawabnya.”


”Ya gak tahu juga tapi dia menggadaikan sertifikat rumahnya sama mamanya Mila buat bayar operasi tapi berhubung gak ada dana segitu ya keluarganya menolak.”


”Hem, rumit juga urusan keluarga mereka,” ucap Indah mulai berkomentar.


”Udah jangan ghibahin orang,” tegur Malik meskipun pura-pura acuh namun dia mendengarkan semua pembicaraan kedua wanita yang sedang duduk di sofa.


”Maaf Bang,” balas Hana.


”Kalau begitu aku ke ruanganku ya,” pamit Indah dia sadar jika Malik sedang memperhatikan mereka berdua.


”Jangan diulangi lagi ya! Tidak baik bergosip apalagi di lingkungan seperti ini.”


”Maaf Bang, kalau aku bantu mereka bagaimana?”


Malik menurunkan kacamatanya mendengar perkataan istrinya. ”Apa Abang tidak salah dengar? Kamu mau bantuin mereka?”


Hana mengangguk.


”Boleh hanya saja jika kamu bantu mereka, Abang khawatir jadi ketagihan akhirnya mereka menggantungkan hidupnya padamu. Abang tahu kok niatmu itu baik tapi tolong dipikirkan ulang dampaknya ya.”

__ADS_1


”Benar juga sih Bang, hanya saja aku merasa tidak tega kasihan sama-sama wanita jika seperti itu pasti akan kebingungan juga.”


”Yakin hanya karena itu bukan karena masih mencintai mantan?” goda Malik.


”Ya ampun Bang mana mungkin ya, jika aku masih cinta sama dia mana mungkin sekarang aku ada di sini sama Abang yang benar saja.”


”Maaf bukan maksud Abang begitu hanya becanda jangan diambil hati.” Malik meletakkan kacamatanya dan berjalan menghampiri Hana.


”Kamu yakin gak pengen apapun?” tanya Malik.


”Maksudnya Bang?”


”Biasanya orang hamil itu sukanya yang aneh-aneh, Abang heran kok kamu gak begitu. Jika kamu ingin sesuatu katakan saja jangan dipendam sendiri mengerti!”


”Tentu saja.”


Hana melihat jam di dinding hampir jam sebelas. ”Kita jemput Emil, sekalian makan siang tapi ingat jangan dipaksa jika memang fisiknya gak kuat!”


”Baik.”


Malik pun segera memanggil Faris memintanya mengecek ulang apa yang baru saja dia kerjakan setelahnya dia pergi meninggalkan kantornya.


***


”Miss Nina apakah mama sama papaku sudah datang?” tanya Emil.


”Belum mereka belum datang Sayang, memangnya kenapa?” balas Miss Nina.


”Gak apa, sebentar lagi pasti mereka datang!” ucap Emil penuh semangat.


”Tentu saja Sayang, karena mereka semua sayang sama kamu mengerti!”


”Benar Miss.”


”Jadi ditunggu dulu ya,” ucap Miss Nina meninggalkan Emil ke toilet sejenak.


Emil pun kembali berbaur berlarian bersama dengan teman-teman yang lain di taman sekolahan karena merasa tak ada teman di sini.


”Emil, kau dimana Nak?” teriak Miss Nina mencari keberadaan Emil yang tidak ada di tempatnya.


”Emil Sayang!” teriak Miss Nina mulai panik jika saja dia tahu Emil akan pergi mungkin lebih baik dia menahan rasa untuk menuntaskan panggilan alamnya pergi ke toilet.


”Bagaimana ini, kemana dia pergi?” gumam Miss Nina.


”Emil kamu dimana Nak?” teriak Miss Nina lagi membuat yang lain ikut terkejut dengan teriakan tersebut.


”Miss Nina ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Bu Amelia ketua sekolah tersebut.


”Itu Bu, anak didik saya yang baru Emil gak kelihatan tadi saya tinggal sebentar ke toilet begitu balik dia suda gak ada.”


”Apa? Bagaimana mungkin?”


”Iya Bu, padahal walinya sedang dalam perjalanan ke sini. Bagaimana ini Bu?”


”Cari sampai ketemu, ayo!”


”Emil dimana kamu Nak?”


__ADS_1


Mampir yuk kak reader ke sini, mohon supportnya dengan membaca like n subscribe-nya terimakasih. 🙏


__ADS_2