Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
104. Perhatian Kecil


__ADS_3

”Alvin!” teriak Hana. ”Ngapain kamu seperti ini di rumah orang!” suara Hana mengagetkan Alvin.


”Kak Hana, nga-ngapain ke sini?”


”Justru kakak yang harusnya tanya sama kamu, kenapa kamu di sini mengganggu anak orang iya!” Hana tidak dapat menyembunyikan kekesalannya pada adiknya.


Pintu rumah dibuka Untari pun menemui Hana dengan sedikit ragu karena dirinya pun takut pada Alvin. ”Mbak Hana, maaf ya merepotkannya. Jujur saya gak enak sama tetangga dan juga apa kata rang nantinya.”


Hana mengerti apa yang dikhawatirkan oleh Untari, ”Aku ngerti kok maafin Alvin ya. Alvin ayo kita pulang!”


”Bang tolong ajak Alvin pulang dulu gih, aku mau ngomong sama Untari dulu.”


Malik mengiyakan permintaan istrinya karena dia tahu jika istrinya itu akan bicara dengan Untari. Keduanya pun pergi meninggalkan rumah saudaranya Ustadz Amir.


”Apa benar yang dikatakan oleh Alvin jika kamu sudah dilamar sama Ahmed?” tanya Hana yang sudah ingin segera selesai masalah adiknya itu.


”Benar Mbak, tapi memang aku belum kasih jawabannya sih.” balas Untari.


”Apa kamu mau menerima laki-laki itu?”


”Aku tidak tahu Mbak, karena yang melamar diriku itu orang jauh dan rasanya gak mungkin buat Untari nerima dia bagaimanapun Untari gak bisa ninggalin negara ini karena dia itu asli penduduk sana. Berat buat Untari harus ninggalin Abi.”


Hana mengangguk paham dengan penjelasan Untari, ”Jika Alvin yang melamar dirimu bagaimana?”


Untari kaget dengan pernyataan Hana.


”Tak perlu terkejut, aku yakin kau juga ada rasa sama dia. Anggap saja aku melamar kamu untuk adikku, jika kau masih ragu lebih baik kamu sholat Istikharah lebih baik untukmu jika sudah tahu jawabannya segera hubungi aku ya.”


”Baiklah Mbak, nanti Untari akan coba bilang sama Abi, semoga beliau mau menerima masukan dariku karena awalnya Abi mendukung sekali lamaran Ahmed tadi siang.”


Hana berpamitan setelah mengatakan semuanya dan Malik sudah datang menjemputnya, dia harus segera pulang ke rumah mengingat dia meninggalkan Aydan bersama dengan Bik Surti.


Malik melihat Hana yang terlihat lelah seharusnya sekarang dia sedang istirahat di rumah tapi karena ulah adiknya membuatnya harus keluar menyelesaikan urusan adiknya.


”Semua sudah beres kan?” Malik tetap fokus pada kemudinya.


”Iya.” Hana memalingkan pandangannya ke arah Malik.


”Kenapa memandangku seperti itu, bikin deg-degan aja!" ucap Malik menoleh ke arah Hana sekilas.

__ADS_1


”Memangnya gak boleh pandang suaminya sendiri seperti ini.”


Malik tersenyum kecil, ”Boleh saja Sayang, hanya saja rasanya ada yang aneh karena kamu gak biasanya bersikap manis begini pasti ada maunya.”


Hana berbalik dengan wajah ditekuk mendengar perkataan Malik. ”Gak usah ngambek, gitu aja marah.”


”Abisnya Abang gitu sih, padahal kan Hana beneran sedang ingin diperhatikan.”


”Maaf, kenapa lagi hem!” Malik menghentikan mobilnya di bahu jalan. ”Abang haus bentar ya beli air minum dulu.”


Malik masuk ke minimarket membeli air minum dan beberapa camilan, dia merasa sangat lapar dan ini sudah waktunya makan malam. Dia teringat kondisi istrinya yang tidak bisa menahan lapar sedikit saja, Malik khawatir Hana sakit perhatian kecil yang selalu dia berikan untuk keluarganya yang tidak pernah dia tinggalkan.


”Makan dulu, buat mengganjal perut.” Malik memberikan sebungkus roti pada Hana dan sebotol air minum.


”Makasih Bang.” Hana membukanya dan menikmati rotinya dalam diam. Malik pun kembali melanjutkan perjalanannya pulang.


***


”Abang berangkat dulu,” pamit Malik bersama dengan Emil yang telah bersiap di mobil milik Malik.


”Aku boleh mampir gak Bang, nanti setelah jemput Emil.”


”Silakan saja, tapi jika Abang gak ada di ruangan tolong tunggu dulu ya. Mungkin Abang sedang meeting tapi hanya sebentar saja kok jadi tolong ditunggu jangan kemana-mana oke.”


Malik berpamitan pada Hana dan Aydan segera melajukan mobilnya menuju sekolahan Emil. Begitu sampai Miss Nina sudah standby menunggunya di pintu gerbang.


”Pagi Pak Malik, pagi Boy kamu nampak semangat sekali hari ini,” sapa Miss Nina.


”Dia sedang happy jadi selalu menebar senyumnya, saya titip dia Miss jika ada sesuatu tolong kabari saya.”


”Baik Pak Malik, ayo kita masuk!”


Malik pun pergi setelah berpamitan pada keduanya. Begitu sampai di kantor suasana terlihat sangat ramai kesibukan di awal pekan mulai terasa apalagi ada beberapa karyawan baru yang masih terlihat fresh karena mereka lulusan terbaru universitas ternama di kota ini. Salah satunya adalah Bayu adik Eric yang pertama kali bekerja di perusahaan ternama milik Malik.


”Pagi Pak Malik.”


Seluruh karyawan datang menyapa bos besarnya itu, Malik memang terlihat berwibawa dengan stelan jas hitam membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona.


Termasuk wanita yang sejak tadi menunggunya di lobi.

__ADS_1


”Pagi Malik.”


Malik menghentikan langkahnya begitu ada suara memanggil namanya. ”Kau ... untuk apa kau sepagi ini ke sini.”


Cindy mengeluarkan undangan dari dalam tasnya. ”Datanglah, acara grand opening restoranku.”


Malik membolak-balikkan undangan tersebut, ”Aku tidak bisa janji karena aku sendiri sedang banyak pekerjaan di rumah tapi terima kasih karena masih mengingat jika aku adalah temanmu.”


Cindy tersenyum kecil mendengar penuturan Malik, ”Kamu itu mantanku karena kita pernah bersama meskipun tidak lama.”


Malik menaikkan satu alisnya memang benar mereka pernah bersama tapi itu adalah kesalahannya karena bujukan dari teman-temannya bukan atas dasar dia menyukai wanita itu.


”Sudahlah jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan silakan pulang karena aku sangat sibuk sekali hari ini jadi tidak bisa menemanimu meski hanya sekedar mengobrol.”


”It’s oke, aku permisi samai jumpa besok malam. Bye!”


Cindy melenggang pergi sedangkan Malik hanya bisa menarik nafasnya perlahan merasa lega tentu saja dia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan wanita yang pernah menjadi masa lalunya, baginya semua itu adalah kesalahan yang tidak boleh dia ulang.


”Bang, maaf ya nanti aku gak bisa ikut meeting.” Suara Faris nampak tergesa-gesa menghampiri Abang iparnya itu.


”Memangnya kau mau kemana?”


”Aku mau antar Sabrina kontrol dan juga anakku ikutan demam sejak semalam Sabrina gak bisa tidur kasihan aku melihatnya.”


”Jika masih bayi demam. gak perlu obat cukup berikan saja ASI mamanya yang cukup InsyaAllah bayinya tidak akan kenapa-napa,” ucap Malik.


”Beneran Bang?” Faris merasa tidak yakin dengan penuturan Malik.


”Iya tentu saja, ASI itu banyak manfaatnya buat bayi apalagi jika masih dibawah enam bulan yang penting mamanya makan makanan yang bergizi jangan mie instan melulu!” Malik jadi kesal jika mengingat Sabrina yang suka mengkonsumsi mie instan terlebih jika pekerjaannya menumpuk dia akan malas makan dan hanya mie instan senjatanya.


”Dia sudah tidak lagi makan makanan begituan kok Bang,” seru Faris.


”Syukurlah, segera selesaikan pekerjaan yang ada lalu pulanglah biar aku sama Pak Basuki yang menghandle pekerjaannya hari ini.”


Faris merasa senang karena mendapatkan ijin dari kakaknya Malik memang bukan hanya bos yang baik tapi juga seorang kakak yang penuh pengertian dan juga. sayang dengan keluarganya. Baru saja Malik mendaratkan bokongnya teriakan Alvin dari luar mengejutkannya. ”Astaghfirullah, apalagi ini, kenapa pagi ini penuh dengan drama,” keluh Malik.


”Bang, besok aku mau ijin ya!” ucap Alvin membuat Malik kaget karena permintaan Alvin yang mendadak.


”Untuk apa? aku tidak akan memberikanmu ijin jika sesuatu itu tidak darurat Alvin. Ingat meskipun kau adik ipar ku sekalipun kau harus tunduk pada peraturan perusahaan mengerti!”

__ADS_1


”Ini masalahnya serius Bang.”


”Apa?”


__ADS_2