
Hana tengah kerepotan karena harus mengurus kedua putranya sendirian jangan ditanya kemana Malik, pria itu sibuk menelepon rekan bisnisnya yang tiba-tiba datang dari London. Malik tidak ingin kehilangan kesempatan kedua karena bisnisnya inipun sangat penting buatnya.
”Ma, dimana kaus kaki Emil?” tanya bocah cilik itu berlari kesana kemari mencarinya.
”Ada di laci Sayang, memangnya papamu belum selesai?” balasnya seraya merias wajahnya di depan meja rias.
”Belum, papa juga menutup pintu balkonnya berarti belum selesai Ma dan akan memakan waktu yang sangat lama jika hal itu terjadi,” jelas Emil. Bocah cilik itu seakan faham dengan kebiasaan papanya itu.
Hana yang melihat perubahan wajah Emil pun bergegas menuju ke arahnya dan memeluknya. ”Kamu gak perlu khawatir kan ada mama yang akan ditemani Bang Emil sama Dek Aydan, ingat gak?”
Emil mengurai senyumnya Hana memang sangat ahli membuatnya tersenyum bahagia dan Emil sangat bersyukur karena masih bisa bertemu dengan orang sebaik Hana, mamanya kini.
Hana pun menyiapkan semua perlengkapan kedua putranya dan membawanya ke mobil Dirinya sendiri ingin segera pergi ke rumah mengingat jam sudah semakin mepet tapi Malik belum keluar dari kamarnya. Dirinya mondar mandor di ruang tengah menunggu suaminya itu.
”Aduh Bang Malik kok lama banget sih!” keluh Hana. Kedua putranya terlihat sangat gelisah sesekali Hana melihat jam tangannya hampir jam sembilan dan Bang Malik belum selesai apakah dia melupakan janjinya tadi sebelum menerima telepon itu.
Hana menarik nafasnya gusar dirinya mulai tidak sabaran, dititipkannya kedua putranya pada Bik Surti dengan segera dia naik ke lantai dua mengecek keadaan suaminya. Hana terkejut karena Malik justru sedang di tepi ranjang dan diam.
”Apa yang terjadi Bang?” tanya Hana. ”Kok malah di sini gak segera turun, anak-anak udah nungguin loh Bang.”
Malik menangkup wajah istrinya yang sedang cerewet itu dan tersenyum. ”Maafkan Abang Sayang, ayo kita berangkat ke rumah mama.”
***
Suasana nampak ramai di rumah keluarga Soleh mereka akan pergi ke rumah mempelai wanita sejak tadi Alvin mondar-mandir karena Hana dan Malik belum juga datang ke rumah hal itu membuat Alvin gusar.
”Ish Kak Hana kok lama banget sih?” ujar Alvin sesekali menarik lengan bajunya melihat jam tangannya.
__ADS_1
”Sabar, kakakmu itu ada bayi yang harus diurus misalkan telat ya maafkan,” terang Soleh. Hana sendiri sudah mengkonfirmasi lewat telepon jika dia akan datang terlambat karena harus bertemu dengan seseorang lebih dulu,” ucap Rita mengingatkan anaknya.
”Semua sudah siap kan? Jika sudah mama akan kasih tahu papa biar beliau sedikit tenang gak kepikiran lagi.”
”Baik Ma.” Tanpa bertanya lagi Alvin ke depan menemui beberapa temannya yang memang sengaja dia undang untuk menyaksikan acara pernikahannya termasuk Aryo dan Bima.
”Kamu gak ajak Aisha, Bim?” tanya Aryo penasaran karena biasanya Aisha akan ikut kemanapun Bima pergi.
”Tidak, aku dan dia sedang berantem!” jawab Bima santai.
”Kalian berantem kenapa?” Aryo semakin kepo.
”Biasalah urusan ranjang sama uang.” Aryo menggelengkan kepalanya mendengar pengakuan Bima kenapa dia dengan mudah bicara terbuka dengan teman-temannya bukankah seharusnya dia tidak mengumbar masalah pribadinya di depan orang lain.
”Pernikahan itu kalau gak pegang duit gede bikin pusing! Belum beli skincare, susu bayi, bumbu dapur pengeluaran tak terduga lainnya. Kamu akan tahu nanti jika kamu udah nikah!” papar Bima.
”Bukankah kau udah kerja kenapa mesti pusing? Gajimu kan cukup kalau hanya buat biayain Aisha dan anakmu itu?” ucap Aryo.
”Astaga, serumit itukah hubungan suatu rumah tangga? Aku kok jadi mikir-mikir lagi mau nikah!” ujar Aryo.
Alvin yang mendengar semua itu merasa tidak percaya apalagi Bima termasuk orang yang boros dan perokok berat apakah benar apa yang baru saja dia dengar itu, kasihan Aisha dia pasti sangat menderita karenanya. Alvin sendiri tidak mau mengambil kesimpulan hanya dengan mendengar cerita sepihak saja bisa jadi Bima berbohong mengarang cerita sendiri.
”Kapan-kapan kamu ajak ke rumahku ya,” ucap Alvin.
”Untuk apa?” tanya Bima curiga.
”Ya ampun ya biar kenalan sama istriku lah dia kan belum datang hari ini besok aku bikin acara kita kumpul bareng-bareng khusus yang udah berumah tangga yang masih jomlo dilarang datang!” balas Alvin.
__ADS_1
”Astaga jadi aku gak boleh nih datang ke acaranya nanti?” sambar Aryo.
”Gak boleh kecuali kamu nikah dulu oke!” Aryo kembali menggelengkan kepalanya mendengar para teman-temannya meledek dirinya yang masih single belum memiliki pasangan jangan kan istri pacar saja Aryo tidak punya.
Hana datang dan langsung masuk dengan tergesa-gesa ke rumah hal itu tidak luput dari pandangan orang-orang yang mengagumi kecantikannya meskipun sudah memiliki anak namun kecantikannya tidak pernah pudar bahkan semakin memesona.
Hana segera menemui Rita yang tengah bersiap. ”Ma, memangnya semua sudah pasti?” Hana terkejut begitu mendapat panggilan dari mamanya yang memintanya untuk pulang ke rumah.
”Tentu saja, tanyakan saja pada adikmu itu kenapa dia menikah dengan Untari. Mama juga heran dengan sikapnya yang terkesan terburu-buru begitu, mama hanya mau mengabulkan permintaannya saja tidak lebih.”
”Anak itu baru juga kemarin sore kerja sudah ngebet mau nikah aja,” seru Hana dirinya tidak kalah kesal karena tidak tahu apapun bahkan lamaran pun dia tidak diajak itulah yang membuatnya kesal.
”Ya namanya juga anak muda mau bagaimana lagi, setidaknya sebagai seorang kakak kamu kasih contoh yang baik untuknya.”
”Ya itu sudah pastilah Ma, Hana gak nyangka aja kalau Alvin akan secepat ini menikahnya.Ya udah ayo kita berangkat ke tempatnya Pak Ustadz Amir.”
Semua yang ada di rumah Soleh pun segera melakukan perjalanan ke rumah mempelai wanita dua puluh menit rombongan sampai di sana dan terlihat keluarga wanita tengah menunggu mereka semua.
”Acaranya sudah mau dimulai ya Tadz? Maaf kami datang terlambat karena harus menunggu anak dan menantu lebih dulu,” tanya Pak Soleh.
”Tidak masalah mari masuk dan kita mulai acaranya segera!” ajak Ustadz Amir.
Di dalam ruangan tampak Untari terlihat sangat cantik duduk di lantai menghadap meja kecil dimana ada beberapa tumpukan kertas disana. Ijab qabul pun dilaksanakan dengan khidmat dan lancar oleh Alvin.
”Sah!”
”Sah ... sah ... ”
__ADS_1
”Alhamdulillah, Al Fatihah,” ucap Ustadz Amir yang memimpin langsung doa untuk pasangan pengantin baru tersebut.
Alvin tersenyum bahagia karena dirinya sekarang telah berubah statusnya menjadi suami. Apakah Alvin akan mampu menjadi kepala keluarga yang baik nantinya.