
Demi apapun itu kadang rasa benci hadir saat bayang-bayang masa lalu selalu saja mengikuti kemanapun kaki melangkah. Hana tidak tahu sejak kapan Ayu dan putrinya mengikuti dirinya atau mungkin sejak di dalam toko pakaian anak-anak tadi.
”Kemana Eric kenapa kau tidak bersama dengannya?” tanya Hana mencoba untuk santai.
”Dia tidak ada di sini, aku tidak tahu tapi memang aku sendiri tidak mau tahu terserah dia mau ngapain sih,” ungkap Ayu.
”Astaghfirullah, benarkah
demikian kenapa kau tega memisahkan ikatan seorang anak dan ayahnya,” ucap Hana.
Ayu mengedikkan bahunya, ”Btw putramu tampan juga semoga kelak anak kita berjodoh! setidaknya tidak mendapat papanya bisa diganti dengan putranya benar kan?”
”Hana sebaiknya kita tidak meladeninya, ayo kita cari sesuatu untuk dimakan,” ajak Malik dia tak mau Hana semakin direndahkan oleh Ayu mantan pegawainya.
”Kami permisi dulu.” Keduanya pergi meninggalkan Ayu dan putrinya. Malik tetap mendorong kereta bayinya karena Aydan mulai nyaman dan tertidur di sana.
”Kamu jangan terlalu serius menanggapi perkataan Ayu, kau tahu sendiri kan bagaimana dia yang sebenarnya?”
”Iya Bang maaf, aku hanya tidak suka saja ketika bertu dengannya selalu saja mengungkit masa lalu padahal sampai sekarang aku gak pernah menyesali yang telah terjadi, apalagi mengingatnya.” ucap Hana.
”Itu karena kamu telah mendapatkan yang lebih baik dari mantanmu itu jadi kamu gak merasa dirugikan olehnya, bukankah demikian?”
”Ya ampun Abang sangat percaya diri sekali.”
”Harus, faktanya kau juga menyukainya kan?”
Hana hanya tersenyum menanggapi perkataan Malik.
”Kak Hana!” panggil Alvin dan Untari dari arah pintu masuk. Hana menoleh mendapati keduanya sedang bergandengan tangan dengan mesranya.
”Ehem, apa ada kabar baik?”
”Makasih Bang untuk hadiahnya,” ucap Alvin.
Malik tersenyum kecil dan mengangguk, ”Bersenang-senanglah karena setelahnya kita akan ke London untuk sebuah acara.”
”MasyaAllah, acara apalagi Pak Malik?” tanya Untari.
”Hei, kamu masih saja memanggilku dengan sebutan itu? Panggil saja seperti yang lainnya tak perlu sungkan!” papar Malik.
Untari menatap ke arah Alvin. ”Baik.”
”Kalian sudah makan, bagaimana kalau makan bersama? Duduklah!” Malik mempersilakan Alvin dan Untari.
__ADS_1
”Kami sudah makan kok,” balas Alvin namun tetap duduk di sana bersama dengan Hana dan Malik.
”Pergilah bersenang-senang dan pulangnya bawa kabar baik,” ucap Malik.
”Kami mau menundanya lebih dulu kok Bang, masih ingin menikmati masa berduaan lebih dulu,” jelas Alvin.
”Loh sambil jagain anak juga bisa kok berduaan, kita juga gitu loh Dek!” Giliran Hana angkat bicara dan menatap Untari dan alvin bergantian. ”Tapi itu juga keputusan ada di tangan kalian sih jika maunya seperti itu ya gak masalah.”
”Sebenarnya itu juga keinginan Alvin Mbak, bukan sepenuhnya saya yang mau tapi ya sudahlah terserah jika memang diberi sekarang ya diterima saja kenapa harus menolaknya kan?”
”Nanti selama kamu di sana kakakmu yang akan menggantikan pekerjaanmu dulu, mama mau ke Jakarta dan beliau mau bantu jagain Aydan.”
”Hah? Katanya mama gak mau ke sini kok sekarang Alvin pergi mama datang.”
"Ya tanyakan mama masa nanya ke aku,” sahut Hana.
”Udah jangan berantem, ayo lanjutkan makannya kita pulang udah sore nih!”
***
Faris tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Malik memberi kabar jika Lani mendapat kecelakaan di daerah puncak.
”Bagaimana apa Bang Malik akan ke sana buat menemuinya?” tanya Faris.
”Kapan musibah itu terjadi?”
”Bilang sama Pak Basuki suruh beliau menemaniku pergi ke sana untuk memastikannya. Sejak kemarin aku punya firasat buruk ternyata ini yang terjadi.”
Faris segera keluar mencari Pak Basuki. ”Eh Mbak Hana mau cari Bang Malik?”
”Iya dia di dalam kan?”
”Heem, tapi mau pergi segera saja temui dia. Aku mau cari Pak Basuki.”
Hana melangkah masuk ke ruangan suaminya yang tengah merapikan mejanya. ”Mau kemana Bang?”
”Pergi ke puncak, Abang dapatkan kabar dari Faris jika Tante Lani kecelakaan di sana. Abang mau pastiin saja kasihan jika tidak ada saudaranya yang tahu.”
”Innalillahi, beneran Bang?” ucap Hana.
”Ada apa?” Malik menghampiri Hana. ”Jangan cemberut begitu!”
”Gak apa, hati-hati ya.”
__ADS_1
”Hem.” Malik segera keluar setelah mencium bibir Hana sekilas. Dia harus benar-benar berangkat sebelum dirinya tidak dapat menahan diri, berlama-lama bersama Hana membuatnya gila.
Hana hanya tersipu melihat Malik yang bersikap salah tingkah karena kehadirannya di kantor ini, jangankan suaminya. Indah yang sudah berteman lama dengannya saja terkejut jika Hana menggantikan posisi Alvin meskipun untuk sementara.
”Kenapa semua orang nampak sibuk hari ini?” ucap Indah melihat bosnya berjalan tergesa-gesa bersama dengan ajudannya aka bodyguard sexy keamanan di kantor ini.
”Mereka mau pergi ke puncak, kamu tahu kan mantan mertuanya bosmu itu baru kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit menurut yang aku dengar dia meninggal dunia.”
”Innalillahi. Kamu gak ikut?”
”Aku gak bisa pergi ada duo malaikat yang harus aku jaga Indah, kamu lupa? Bagaimana dengan Emil dan Aydan jika aku pergi.”
”Benar juga ya. Ya udah lanjut kerja yuk!”
Keduanya pun berpisah Hana kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Baru saja Hana memulai memeriksa berkas Bayu datang ke ruangannya.
”Maaf Bu Hana saya mau kasih titipannya Mas Eric.”
Hana mengerutkan keningnya, ”Titipan?” Hana bingung dengan pernyataan Bayu.
”Ini Mas Eric kasih ini, buat makan siang katanya,” ucap Bayu.
”Oh, kok dia tahu jika saya sedang di kantor?” Hana curiga dengan sikap Bayu.
”Bu Hana jangan kaget, sebelum Pak Alvin pergi dia sudah konfirmasi jika Bu Hana yang akan kembali ke sini untuk membantu pekerjaannya. Kebetulan kita kan sekarang satu rumah jadi saling cerita.”
Hana mengangguk faham, ”Lalu siapa yang menemani Tante Dewi di rumah? Kasihan loh jika beliau gak ada temannya.”
”Ya mau bagaimana lagi, sekarang di rumah sudah gak ada anaknya lagi jadi Mas Eric sedikit bebas dan mulai bangkit dengan membuka usaha barunya. Lumayan sih meski gak banyak tapi sudah mulai bisa merekrut beberapa orang untuk membantunya.”
”Syukurlah, sekiranya demikian aku dengar ceritanya kan ikut senang. Kemarin aku melihat ayu dengan putrinya ada di mall, maaf jika boleh tahu dia bersama dengan seorang pria apakah itu suami barunya?”
Bayu menegang mendengar cerita Hana. ”Apa orangnya berkulit sawo matang rambut sedikit gondrong?”
Hana mengangguk, ”Tepat sekali kau tahu siapa dia?”
”Orang ketiga dalam rumah tangga kakakku,” ucap Bayu.
”Dialah yang memisahkan Mas Eric dengan putrinya, orang itu merebut paksa,” jelas Bayu.
”Astaghfirullah, lalu sekarang gak pernah ketemu lagi?”
Bayu menggelengkan kepalanya, ”Sebenarnya dulu sebelum mereka menikah, Mas Eric sudah diwanti-wanti untuk tidak menikahinya tapi dia nekad karena ternyata Mbak Ayu sudah lebih dulu hamil. Mas Eric sama Mbak Ayu tuh udah pacaran lama, mereka kucing-kucingan.”
__ADS_1
”Oh begitukah,” lirih Hana. pantas saja dulu saat Eric diajak nikah olehnya dia selalu menunda-nundanya dengan alasan belum siap finansial. Sekarang dia tahu sifat asli mereka semua, ”Dasar penipu, jangan-jangan dia pura-pura baik buat ngedeketin lagi. Astaghfirullah kok jadi su'udzon sama orang,” pekik Hana.