Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
47. Go Singapore


__ADS_3

”Mantanku?” ulang Hana.


”Iya itu bakso dari Eric dia jualan bakso di ujung komplek.”


Uhuukkk...!


Hana tersedak mendengar perkataan Malik. ”Gak usah panik, minum dulu!” Malik memberikan segelas air putih pada Hana.


Malik pun menjelaskan pada Hana karena tak ingin dia salah sangka dan mengira tak mau membantu Eric padahal sudah jelas Eric sendiri yang menolaknya.


”Ya sudah kalau memang dia gak mau, daripada bikin masalah baru lagipula Ayu juga kelihatannya sangat posesif sama Eric itu,” ucap Hana.


”Hahaha ... sepertinya Mbak Hana cemburu nih, ada bau-bau gimana gitu,” kelakar Faris membuat Malik menatap tajam ke arahnya.


”Ops! maaf Bang,” sesal Faris.


”Jangan suka berlebihan kalau bercanda mengerti!”


”Sayang, semua udah siap kan?” tanya Malik dan Hana hanya mengangguk.


”Kalau gitu aku pulang dulu Bang, Mbak Hana titip mereka berdua ya, nanti aku sama mama akan balik lagi ke sini mengantar kalian ke bandara.”


Hana mengangguk, ”Hati-hati jangan ngebut di jalan!”


”Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


”Sayang, tolong bantu aku ya karena Emil sangat membutuhkan support dan doa darimu,” ucap Malik wajahnya terlihat lelah.


”Pasti Bang, apakah Abang sakit?” tanya Hana.


”Jangan khawatir hanya masuk angin biasa kok nanti juga sembuh,” balas Malik.


Hana menyentuh keningnya dan terasa panas, ”Bang, kau demam sebaiknya kau istirahat dulu sebelum pergi aku tidak yakin pergi jika kondisimu saja seperti ini.”


”Baiklah.”


Malik segera ke kamarnya Hana sendiri ragu apakah dia bisa menghandle dua pria itu sendirian nantinya karena Malik sendiri dalam kondisi yang tidak sehat dia yakin jika Malik sangat tertekan dengan keadaan Emil tapi dengan rapi dia menyembunyikannya dan berpura-pura kuat.


”Non, yang kuat ya,” ucap Bik Surti membuyarkan lamunan Hana.


”Iya Bik itu sudah pasti, tolong doakan Emil segera sembuh ya Bik,” sahut Hana.


”Pasti Non, karena dia itu anak yang baik dan cerdas. Bik Surti gak nyangka jika dia akan kembali sakit padahal dia sangat aktif apalagi setelah Non Hana menikah dengan Pak Malik dia sangat bahagia sekali tapi ternyata itu hanya sebentar saja dia kesakitan dan kita tidak tahu.”

__ADS_1


”Sudahlah Bik, lebih baik kita doakan saja dia cepat pulih dan kita bisa bersama lagi dengannya. Oh iya tolong Bik Surti siapkan bubur ya buat Bang Malik dia juga kurang sehat mungkin karena keadaan Emil juga yang membuatnya jadi seperti ini.”


”Baik Non, saya siapkan sekarang.”


Hana melangkah ke kamar Emil memeriksa anak itu berharap agar Emil segera sembuh adalah keinginannya.


***


”Sudah habis Mas, kok jam segini udah pulang?” tanya Ayu yang sedang duduk santai di teras rumah.


”Mas lelah dan memilih untuk istirahat,” jawab Eric.


”Apa, istirahat? Yang benar saja ini masih siang Mas baru juga jam dua masa udah lelah, biasanya tuh Abang bakso jualan keliling sampai sore bahkan pulang ke rumah hanya untuk ambil tambahan bahan baksonya,” seru Ayu membuat Eric malas mendengarkannya.


”Kamu ini suami pulang bukannya dikasih minum sama makan malah ngomel!” ucap Eric kesal.


”Mas tuh capek keliling komplek dari pagi, bahkan Mas tuh belum makan apapun sejak berangkat kamu ini benar-benar istri gak bisa bersyukur!” sambung Eric membuat Ayu semakin kesal.


”Apa Mas, aku tuh gak mau ya kalau kamu itu atur-atur aku dan bilang aku gak bersyukur harusnya kamu berkaca! Apakah kamu udah jadi suami yang baik untukku? Kamu sendiri lalai dan tidak memberiku perhatian tuh sedang hamil Mas dan butuh perhatian lebih!” teriak Ayu tidak mau kalah dengan Eric.


”Sudah jangan bertengkar kenapa kalian suka sekali ribut seperti ini apa kalian gak malu didengar tetangga.” Dewi keluar dan langsung menegur keduanya.


”Kamu Eric, segera makan dan lanjutkan jualannya masih banyak begini memangnya kamu jualannya dimana?” tanya Dewi begitu mengecek panci yang masih penuh dengan kuah bakso.


Eric malas menanggapi perkataan ibu dan istrinya memilih masuk ke rumah dan makan siang, dia sangat merasa lapar apalagi harus berteriak-teriak di sepanjang jalan hal yang membuatnya malu ketika digoda oleh ibu-ibu komplek karena penampilannya tidak sesuai dengan Abang penjual bakso lainnya.


Setelah mengucapkan hal itu Ayu masuk ke kamarnya dan membanting pintunya.


Blam!


”Sabar itu adalah konsekuensi yang harus kau terima dan ingat jangan pernah menyesalinya,” ucap Dewi pada putranya.


”Tadi aku bertemu dengan anak tirinya Hana Bu,” ucap Eric perlahan.


”Lalu?”


”Aku yakin sekarang Hana tengah menertawakan diriku karena aku menjadi pria kere dan banyak utang dimana-mana karena telah salah memilih pasangan.”


Dewi menggelengkan kepalanya singkat, ”Hana bukanlah wanita seperti itu, ibu yakin dia orang yang cerdas dan tidak asal bicara.”


”Aku menyesal Bu, sungguh kenapa dulu aku sampai hati menyia-nyiakan dia orang yang selalu ada untukku dan sekarang dia jauh lebih bahagia tanpa diriku.”


”Sudahlah nasib sudah menjadi bubur, sebaiknya kau perbaiki dirimu dan menjaga Ayu dengan baik apalagi kalian akan segera memiliki anak.”


Eric bangkit dari duduknya tanpa menghabiskan makanannya segera keluar dan pergi meninggalkan rumah tanpa membawa gerobak baksonya lagi.

__ADS_1


”Ya ampun bagaimana dengan baksonya ini masih banyak dan terlihat belum berkurang sedikitpun,” gumam Dewi.


Dengan sedikit tenaga dia mendorong gerobaknya keliling komplek perumahan berharap baksonya segera habis dan bisa segera pulang.


***


Changi Airport.


”Sayang, kita sudah sampai yuk Mama gendong.” Hana mencoba menggendong Emil.


”Emil jalan saja Ma, Emil kan udah besar dan masih kuat untuk berjalan,” sahutnya.


Hana menatap ke arah Malik dan suaminya pun mengangguk. ”Kita langsung ke rumah sakit?” tanya Hana.


”Kita taruh barang-barang kita di apartemen dulu baru kita ke rumah sakit, tempatnya dekat kok,” balas Malik segera meraih tangan Hana dan menarik kopernya.


Hana sendiri menggandeng Emil, senyum terlihat jelas di wajahnya seakan sedang tidak merasakan sakit.


Sesampainya di apartemen, Emil kembali mimisan dan hal itu membuat Malik terkejut.


”Sayang, kau tidak apa-apa kan?” tanya Malik dengan sigap menggendong Emil.


”Sayang, kita ke rumah sakit sekarang!” teriak Malik dan Hana yang sedang mengambil air minum pun terkejut mendengar teriakan suaminya, karena panik dia pun segera keluar dan mengikuti langkah suaminya setelah mengunci pintunya.


”Bagaimana Dok?”


Dokter Stevens menghela nafasnya sejenak, ”Kita lakukan kemoterapi segera!”


”Aku tidak mau Dok, itu pasti sakit!” tolak Emil.


”Nak, kamu mau sembuh kan?” tanya Hana mencoba membujuk Emil.


"Tapi Ma ...”


”Kau harus sembuh kamu mau kan pergi ke sekolah diantar sama Mama?” bujuk Hana lagi.


Emil mengangguk, ”Baiklah Emil akan berusaha.”


”Semangat Nak, Mama tahu kau anak yang kuat!” bisik Hana air matanya tidak dapat dia tahan lolos dari kedua matanya dia tidak tega melihat penderitaan anak itu.


”Sabar, kalau begitu saya akan siapkan semuanya,” ucap Dokter Stevens menepuk bahu Malik.


”Tenang Sayang, papa sama mama di sini kok temani Emil,” ucap Malik.


”Jangan pergi tinggalin Emil ya Pa, Ma,” ucapnya.

__ADS_1


Hana memalingkan wajahnya tak kuat melihat Emil yang kembali menangis.


__ADS_2