Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
110. Itung-itung Sedekah (1)


__ADS_3

Emil pulang dengan hati bahagia karena dia berhasil membawa Azizah pulang ke rumahnya tentu saja dengan dari nenek dan mamanya. Azizah sendiri nampak antusias manakala masuk ke rumah Emil.


”Wow, rumahmu gede banget,” ucap Azizah.


”Bukan wow Azizah tapi MasyaAllah, kalau kamu lihat sesuatu yang menakjubkan itu kata mama Hana.”


”Mama kamu gak di rumah? rumah sebesar ini gak ada orangnya?” Azizah berjalan keliling rumah melihat-lihat isi rumah.


”Ada di kamar mungkin nanti juga dia akan keluar karena sudah tahu jam pulang sekolah, kita main sama Bony yuk di taman.”


Emil mengajak Azizah ke taman belakang ke rumah Bony kucing itu sedang bermain-main sendiri. ”Hai dia sangat lucu!” seru Azizah.


”Kau suka? Dia adalah temanku dulu sebelum ada mama Hana di rumah ini.”


Azizah mengangguk mendengar penjelasan Emil.


”Sayang, masuk dulu Nak, ganti baju!” teriak Hana membuat kedua anak kecil itu menoleh bersamaan. Emil menarik lengan Azizah masuk ke rumah.


”Kalian belum pada makan siang kan? Ayo makan bersama tapi ganti baju dulu ya. Azizah bawa baju ganti gak?” tanya Hana menatap Azizah. Azizah, anak kecil itu menggelengkan kepalanya.


”Azizah gak punya baju bagus Tante jadi gak bawa salin,” jawab Azizah.


”Mama kamu masih ada kan?” Anak itu hanya mengangguk. ”Nanti mama titip sesuatu ya buat mama kalau pulang, sekarang Azizah makan dulu katanya mau main berdua.”


Hana segera menarik kursi dan menyuruh Azizah duduk bersama Emil dengan cepat dia menata makanan di piring dan memberikannya pada kedua anak kecil itu.


”Jangan lupa baca doa!” titah Hana. Dia melihat Azizah makan dengan lahap dia jadi kasihan apakah kehidupannya baik-baik saja selama ini melihat dari caranya makan dia seakan belum makan selama berhari-hari.


”Bagaimana enak?”


Emil hanya mengacungkan jempolnya sedangkan Azizah tersenyum manis. Hana pun meninggalkan keduanya setelah memasrahkannya pada Bik Surti karena dia sendiri harus mengurus Aydan karena tadi dia tinggal saat dirinya sedang tertidur.


”Kamu sudah bangun Sayang, yuk main sama Abang di depan.” Hana menggendong Aydan yang terus saja mengurai senyumnya.

__ADS_1


”Anak pintar!” Hana mencubit gemas pipi chubby Aydan membuat baby itu semakin banyak senyum.


”Kalian sudah selesai? Cepat sekali,” seru Hana menatap anak kecil itu bergantian.


”Ma boleh main lagi ya?” Hana mengangguk dalam diam dia memperhatikan Azizah, dibukanya aplikasi online dan dengan cepat dia mencari pakaian anak kecil seusianya lalu memilihnya beberapa. Hana berharap itu akan bermanfaat buatnya, dirinya teringat di masa lalunya bersama mamanya yang hidup serba kesulitan.


”Azizah kamu mau tidur di sini?” tanya Hana menghampiri kedua anak kecil yang sedang bermain seraya menggendong Aydan.


”Mau banget Tante tapi apa boleh?” balas Azizah.


”Tentu saja, nanti biar Mang Tejo yang kasih tahu nenek sama mama besok berangkat sekolahnya dari sini bareng Emil.”


”Tapi Tante, aku gak bawa baju ganti dan lagi bagaimana dengan seragam besok?”


”Gak perlu khawatir nanti Tante bantu cuci InsyaAllah besok pagi udah bisa dipakai lagi.”


Azizah mengurai senyumnya tiba-tiba memeluk Hana. ”Makasih Tante, Tante baik sekali sama Azizah dan baru kali ini ada orang sebaik Tante yang Azizah temui.”


”Kamu hanya perlu belajar dengan baik,” ucap Hana mengusap punggungnya.


Emil yang mengerti pun langsung membawa Azizah ke kamarnya dan memberikan baju baru miliknya.


”Bagaimana mamaku baik kan orangnya?”


***


”Dasar ipar lucknat!” Malik mengumpat karena keduanya sama-sama menyebalkan hari ini. Faris yang masih suka iseng sedangkan Alvin yang terlalu polos sehingga dengan mudah dibohongi oleh orang lain.


”Sorry Bang, aku hanya isengin dia aja!” sesal Faris.


"Kebangetan kamu udah tua juga masih suka iseng, giliran dikerjai balik sama Alvin tahu rasa nanti kamu.”


”Maaf.”

__ADS_1


”Alvin minta saja tiketnya sama Faris anggap aja itu hadiah kado pernikahan kalian kemarin,” ucap Malik.


"Loh kok gitu Bang, aduh tahu begini gak usah deh tadi ngerjain kamu. Aku tu iseng aja tadi Vin, beneran deh.”


”Beneran juga gak apa Bang, tapi ya itu seperti kata Bang Malik aku minta kado pernikahanku itu, gak apa ya itung-itung sedekah bagaimanapun kita saudara deket kan?” ucap Alvin dirinya terlanjur merasa kesal dan malu dengan Malik karena baru kali ini dia kena marah pria yang menjadi kakak iparnya itu.


Jika tahu bakal kena marah dia akan memintanya pada Hana kakaknya bukan pada Malik. Dirinya sendiri menyesal kenapa terlalu percaya dengan perkataan Untari istrinya, tidak bukan Untari yang salah tapi istrinya sendiri belum mengenal bagaimana karakter Faris, ralat Alvin.


Ponsel Malik berbunyi notifikasi terlihat dan dia terkejut melihat nominal yang keluar dari m-banking miliknya, siapa yang menggunakannya. Kedua alisnya saling bertaut melihat daftar riwayat pengeluaran pada ponselnya membuat dirinya bertanya-tanya untuk apa Hana membeli pakaian anak perempuan bukan laki-laki dan yang membuatnya terkejut itu dalam jumlah dua lusin. Apakah wanita itu mau membuka gerai pakai anak?


”Ada apa Bang?” tanya Alvin yang khawatir melihat perubahan iparnya.


”Tidak ada.” Malik mencoba menyembunyikannya.


”Sudahlah kalian lanjutkan kerjaannya. Besok akan ada tamu dari London jadi segera selesaikan pekerjaan tepat waktu biar kita bisa menyambut tamunya dengan baik. Dia adalah klien yang sudah lama aku tunggu, jadi jangan sampai kita mengecewakannya.”


Keduanya pun keluar dari ruangan Malik sedangkan Malik sendiri masih bertanya-tanya dalam hati untuk apa semua ini. Malik ingin sekali menghubungi Hana dan menanyakan semuanya tapi dia urungkan mengingat wanitanya itu masih marah padanya lantas apakah ini adalah pelampiasannya.


”Ya ampun kepalaku bisa meledak jika begini,” lirihnya baru saja dapat keluhan dari Lani, kebodohan dua iparnya dan sekarang istrinya ikut menggila.


Malik menghembuskan nafasnya kasar dia tak mengira akan seperti ini pada akhirnya lalu Emil putranya saja tidak membelanya dia lebih mendukung Hana lalu siapa yang akan mendukungnya.


Bukannya bekerja Malik justru bermonolog sendiri dalam hati hingga ponselnya kembali berbunyi dengan cepat Malik membukanya. Layanan delivery service center mengkonfirmasi jika pengiriman barang telah terkirim, tak mau berpikiran macam-macam segera Malik mengambil kunci mobilnya bergegas pulang ke rumah dia tidak peduli dengan pekerjaannya yang menumpuk di mejanya.


Malik melajukan mobilnya dengan cepat dia ingin segera mendapatkan jawaban dari kekesalan hatinya dan dalam waktu lima belas menit dirinya sampai di rumah dan langsung mencari istrinya.


”Hana Sayang, kamu dimana?” teriak Malik seakan lupa jika dia punya baby yang sedang istirahat.


”Ada apa teriak-teriak Bang? Bisa pelankan suaranya sedikit saja Aydan baru saja tidur sejak tadi dia rewel, Abang gak tahu sih bagaimana rasanya mengasuh bayi.”


Niat hati ingin menanyakan hal lain pada Hana berujung pada rentetan kalimat yang membuatnya bungkam seketika, the power of emak-emak memang berlaku baginya jika perempuan sudah mengeluh seperti itu maka mau tidak mau dia harus mengalah.


”Maaf, Abang gak tahu jika Aydan rewel seharian. Abang cuma mau menanyakan soal ... ”

__ADS_1


”Sebentar,” potong Hana. Suara tangisan Aydan kembali terdengar membuat Malik urung menanyakan uneg-unegnya.


”Nasib,” lirihnya.


__ADS_2