Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
87. Sebuah Penjelasan


__ADS_3

”Itu semua tidak benar Bang!" bantah Alvin pada seluruh keluarga yang ada di rumah Malik.


”Bang, dia pernah menjelaskannya padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi, jadi Abang jangan terprovokasi pada berita yang nara sumbernya tidak jelas.”


”Tidak jelas bagaimana, ini sudah jelas Alvin mana mungkin mereka menulis berita bohong!” tukas Hana.


”Kak, beri Alvin kesempatan buat menemuinya dan membawanya ke sini,” ucap Alvin.


”Tidak perlu,” teriak Angela. ”Maaf saya ke sini atas panggilan dari Pak Malik,” jelas Angela.


”Berita yang beredar itu bohong dan itu fitnah! Itu hanya rekayasa, sungguh aku tidak pernah melakukan hal seperti itu meskipun aku hidup dalam kebebasan,” jelas Angela.


”Aku tahu kalian pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan tapi itulah faktanya, mereka hanya ingin memeras harta orang tuaku,” lanjutnya.


Alvin pun tersenyum dia tahu Angela bukanlah gadis yang kotor, dia ingin mendekat tapi Angela justru mundur hal itu membuat Alvin bertanya-tanya kenapa sikap Angela berubah tidak seperti tadi pagi waktu bertemu di lobi kantor.


"Maafin aku Alvin, mulai sekarang hiduplah seperti keinginan orang tuamu.”


”Apa maksudmu?” Alvin sedikit kesal mendengar perkataan Angela.


”Aku mau balik ke negaraku, mungkin memang benar kita tidak berjodoh dan jika dipaksakan untuk bersama tidak akan ada baiknya jadi berpisah sekarang itu lebih baik sebelum semua terlambat.”


”Kamu bisa melanjutkan hidupmu bersama dengan pilihan orang tuamu, aku pamit.”


Angela pergi dari rumah itu setelah menjelaskan semuanya, Alvin terpukul karena penolakan dan juga sikap Angela yang tidak mau berjuang bersama dengannya. Alvin kecewa!


”Syukurlah jika semua sudah berakhir,” lirih Rita.


”Mama senangkan?” Alvin melirik lalu pergi meninggalkan semuanya. Rita ingin mengejarnya namun Malik melarangnya.


”Biarkan saja Ma, Alvin sedang butuh waktu untuk sendiri biarkan dia berpikir secara dewasa,” ucap Malik.


Hana sendiri bisa bernafas lega setidaknya adiknya bisa terlepas dari bayang-bayang Angela.


”Mama nginep aja di sini ya, Malik tidak bisa jamin jika Alvin akan baik-baik saja selama di rumah.”


”Tapi apa tidak masalah Bang meninggalkannya sendirian?” tanya Hana.


”Sayang, adikmu sedang butuh waktu biarkan dia sendiri oke. Sekarang ganti pakaiannya dan kita makan di luar.”


Hana mengangguk dan mengganti pakaiannya dia membawa serta Emil dan baby Aydan, mamanya Rita pun diajak serta Malik pikir ingin melepaskan beban berat yang belakangan ini tengah dirasakannya.


”Kalian sudah siap?”


Ketiganya mengangguk bersamaan. ”MasyaAllah kompaknya,” puji Malik.


Malik melajukan mobilnya ke restoran yang terbilang cukup mewah di ibu kota. Dia sengaja melakukannya karena ingin memberikan kenyamanan untuk keluarganya.


”Duduk dulu, aku mau panggilkan costumer service-nya lebih dulu,” pamit Malik.


Hana dan yang lainnya duduk di ruangan VIP yang telah dipesan oleh Malik.

__ADS_1


”Ma, kenapa sih papa ajakin kita ke sini masih mendingan makan cap cay bikinan mama lebih enak,” ucap Emil.


”Benarkah?” Hana membulatkan matanya.


”Iya Ma, Emil suka itu apalagi kalau sup yang ada baso sama jamurnya tiada bandingnya pokoknya.”


”Mama kamu memang pintar memasak, bahkan Oma sendiri kalah sama mama,” puji Rita pada Hana.


”Jangan berlebihan Ma,” sela Hana.


”Fakta.”


”Kamu juga sedang di sini juga? Masuklah ke ruang VIP nomor lima kami sekeluarga berada di sini. Oke, aku tunggu kalian berdua.”


Bip.


”Siapa Bang?” tanya Hana setelah Malik mematikan sambungan ponselnya.


”Faris sama Sabrina, dia juga sedang berada di sini tadi dia melihat kita masuk tapi ragu jadi dia menghubungi abang barusan,” jawab Malik.


***


”Apa kau sudah bertemu dengan Ayu?” tanya Dewi.


”Belum Ma, keluarganya tidak ada yang tahu kemana perginya dia,” jawab Eric.


”Astaghfirullah apakah dia tidak ingat sama anaknya yang masih kecil, kasihan Amalia,” ucap Dewi.


”Mau bagaimana lagi keadaannya memang begini, mama tidak perlu khawatir soal dia karena aku masih bisa merawatnya meskipun aku sibuk jualan baso.”


”Ini Bu Dewi kan?”


Dewi menatap sosok wanita yang ada di depannya, ”Jeng Rita, MasyaAllah cantik sekali sekarang,” sahut Dewi.


”Bagaimana kabarnya?”


”Alhamdulillah baik, sekarang sibuk ngapain? Kok bisa di sini bukannya suami di Jogja?” tanya Dewi.


”Aku tinggal sama Alvin di sini, Hana sudah ikut suaminya.”


”Maafkan anak saya ya Jeng, karena dia Jeng Rita sekeluarga harus menanggung malu dan lagi sekarang Eric sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya itu.”


”Maksud Bu Dewi apa ya?”


”Ayu menantuku pergi meninggalkan Eric dan putrinya,” ucap Dewi.


”Astaghfirullah lalu bagaimana dengan asi di kecil?”


”Dia minum ini,” ucap Dewi menunjukkan susu bayi di dalam bag-nya.


”Lalu Eric kemana?”

__ADS_1


”Saya di sini tante,” seru Eric datang dari arah belakang.


”Maafkan Eric tante karena sudah bikin malu keluarga tante waktu itu dan sekarang Eric sudah mendapatkan balasan dari apa yang Eric perbuat.”


”Sudahlah semua sudah berlalu lagian Hana juga sudah bahagia dengan keluarga barunya. Sekarang kamu sibuk kerja dimana?”


”Kami jualan bakso keliling tapi lebih sering nongkrong di depan rumah saja sudah habis, kami ada rencana mau buka kios tapi uang yang kami miliki dibawa kabur oleh Ayu,” ucap Dewi.


”Ma ... sudahlah jangan mengingatnya lagi karena hasilnya kita akan semakin merasa sakit hati.”


”Itu taksinya sudah datang kami permisi dulu ya, jika ada waktu mampirlah ke rumah Jeng.”


"InsyaAllah karena saya sendiri juga sibuk belakangan ini urus Alvin.” Rita menatap bayi cantik yang ada di gendongan Eric sangat cantik sayang sekali, ibunya tidak peduli dengannya.


Ketiganya pergi meninggalkan Rita.


”Tunggu!” teriak Rita seraya merogoh tas tangannya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.


”Ambillah buat beli susu si kecil!” ucap Rita.


”Tapi tante ... ”


”Sudah bawa saja gak apa tante suka dengan anakmu semoga jadi anak sholehah,” ucap Rita.


”Aamiin. Kalau begitu kami permisi dulu tante. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


”Jika dulu kamu bersama Hana mungkin hidupmu takkan begini,” lirih Dewi.


”Sudah jangan disesali Bu, aku sudah memiliki si kecil itu sudah membuatku bahagia kok,” timpal Eric.


”Ibu nyesel udah merestui hubungan kalian jika akhirnya sekarang kejadiannya seperti ini dulu ibu gak akan pernah mau nerima Ayu karena sifatnya tidak seayu wajahnya,” sesal Dewi.


”Bu, semua sudah terjadi jangan disesali lagi yang terpenting kita sekarang bangkit ada dia yang butuh kasih sayang kita.”


”Kau benar.”


”Aduh kenapa ini macet sekali,” ucap Pak supir.


”Ada apa Pak di depan kok macet begini?” tanya Pak supir pada orang yang berjalan di trotoar dari arah yang berlawanan.


”Kecelakaan Pak, kasihan itu padahal cakep orangnya, tapi salah sendiri tadi laju mobilnya kenceng juga dan nabrak pembatas jalan.”


”Kasihan ya,” ucap Eric.


Taxi pun melaju dengan lamban hingga korban terlihat sedang di gotong ke mobil ambulans.


”Bu ... sepertinya aku kenal dengan korbannya, bukankah itu Eric adiknya Hana,” lirih Eric.


Dewi menoleh ke belakang tapi tidak terlihat lagi karena korban sudah masuk ke mobil.

__ADS_1


”Segera hubungi Hana atau suaminya!” titah Dewi.


”Ba ... baik Bu.”


__ADS_2