
”Loh kita mau kemana bukankah ini bukan jalan menuju rumah kita?” tanya Pak Soleh begitu memasuki area Jakarta.
”Udah papa diam aja deh, nanti juga kita sampai mungkin Pak sopir mau lewat jalan lain biar cepet!” jawab Rita.
”Jalan lain bagaimana udah jelas ini berlawanan arah Ma, jalan tikus kali!” gerutu Pak Soleh.
Rita diam begitu suaminya kembali membalasnya.
”Kalau begini mending berangkat sendiri mana sepertinya semakin jauh padahal bokongku rasanya udah panas!” sambung Soleh.
Pak sopir yang merupakan orang suruhan Malik pun hanya bisa menahan tawa karena dia khawatir kedua mertua bosnya itu tersinggung terlebih logat jawanya Pak Soleh yang masih terdengar kental.
Dua puluh menit mereka tiba di sebuah rumah megah dan keduanya pun langsung disambut oleh penjaga rumah tersebut.
”Pak Malik ada di rumah kan?” tanya Sofyan sang sopir tersebut.
”Ada kok Mas, belum berangkat kerja,” jawab Dito satpam muda yang baru bekerja beberapa hari di rumah Malik.
Sofyan pun langsung masuk dan membawa barang bawaan keduanya masuk ke rumah.
”Assalamualaikum bos!” seru Sofyan.
”Waalaikumussalam, udah datang aja kamu cepet bener pasti ngebut ya?” tebak Malik.
”Enak aja, kita gantian sama Azis jadi gak mungkinlah kalau kita gak gantian jam segini udah sampai.”
”Oke makasih ya,” ucap Malik.
”Langsung temui saja di depan sepertinya mertuamu sedang marah,” ucap Sofyan membuat Malik menautkan kedua alisnya.
”Marah?” ulang Malik pelan tanpa membuang waktu Malik segera ke ruang tamu.
”Pa, Ma, bagaimana perjalanannya apa menyenangkan?” tanya Malik.
Rita tersenyum senang tentu saja dia bahagia karena bisa kembali ke Jakarta meskipun hanya sebentar, berbeda dengan Pak Soleh yang masih memasang wajah garangnya pada Malik membuat Malik bertanya-tanya dan kembali menatap ke arah Rita.
”Kenapa kamu gak jujur dari awal kalau kamu itu seorang duda Malik!” seru Pak Soleh membuat Malik malah tersenyum mendengar pertanyaan itu.
”Bagaimana saya mau bicara kan Papa sendiri gak nanya, papa tahu darimana kalau saya seorang duda?” tanya Malik.
”Dari mama kamu ini,” balas Pak Soleh.
”Jika mama kamu gak bilang pasti Papa gak bakalan tahu,” sambungnya.
__ADS_1
”Maafkan Malik Pak, tapi jujur Malik gak ada maksud apapun apalagi mau mempermainkan orang tua,” ucap Malik.
”Dimana putramu?” tanya Pak Soleh netranya mencari-cari sesuatu.
”Ada di meja makan sama Hana sedang sarapan. Ayo Papa sama Mama masuk ke dalam ikut sarapan bareng kami,” ucap Malik.
Keduanya pun mengikuti langkah Malik masuk menuju meja makan.
”Ma, ini rumah apa istana? Ini bukan mimpi kan, dan Hana tinggal di sini?” tanya Soleh.
”Iya ini memang rumah, milik menantu kita beruntung Hana lepas dari Eric dan menemukan pengganti yang jauh lebih baik,” balas Rita.
”Ma, Pa, kok ada di sini?” tanya Hana melihat kedua orang tuanya berada di rumahnya Malik.
”Abang sengaja bawa beliau ke rumah ini, kan kamu di sini masa harus balik ke rumah lama,” papar Malik.
”Kan di rumah juga ada Alvin,” ucap Hana.
”Nenek kita ketemu lagi,” sapa Emil pada Rita lalu meraih tangannya dan salim begitu juga pada Soleh.
”Ya ampun kamu bikin gemes nenek saja!” ucap Rita.
”Ini juga berkat Hana, dia telaten sekali merawat putra saya,” ucap Malik.
Malik tersenyum menanggapi perkataan mertuanya itu, ”Mana mungkin saya memperlakukan Hana begitu Pa, saya mencintainya dan akan memperlakukannya dengan baik.”
”Syukurlah, tolong jaga dia dengan baik.”
”Emil tolong jangan panggil nenek tapi Oma dan Opa sama kayak yang lainnya,” titah Malik.
”Baik Pa,” jawab Emil.
"Ayo Oma, Opa, kita sarapan bersama,” ajak Emil menarik lengan Pak Soleh dan Rita ikut bergabung bersama dengannya.
”Kau ini pintar juga,” puji Pak Soleh membuat Emil tersenyum bahagia.
”Sayang kau tidak perlu ke kantor biar aku yang mengurus semuanya temani Mama sama Papa,” ucap Malik menarik lengan kemejanya melihat jam yang melingkar tangannya.
”Nanti jam sepuluh mama Maryam sama papa Daniel juga akan datang ke sini dan sebelum makan siang aku sudah kembali ke rumah,” sambung Malik.
”Baik, hati-hati di jalan,” ucap Hana.
Malik segera keluar bersama dengan Sofyan dan Azis ke kantor.
__ADS_1
”Kamu beruntung Hana memiliki suami yang tampan dan juga bertanggung jawab,” ucap Rita.
”Ya disyukuri saja sih Ma, papanya Emil memang orang yang baik bukankah begitu Sayang,” ucap Hana.
”Mama Hana juga baik, cantik lagi makanya Emil sayang sama Mama,” akunya.
Kedua orang tua Hana ikut santai di ruang tengah sesekali mereka menggoda Emil dan sedikit bertanya-tanya pada Bik Surti tentang kebiasaan bosnya tersebut.
”Assalamualaikum MasyaAllah ramai sekali,” sapa Maryam begitu masuk ke ruang tamu.
”Waalaikumussalam,” balas bersamaan.
”Kok sendirian Ma, Bang Malik bilang Mama mau datang bersama papa?” tanya Hana.
”Papa ada di kantornya Malik, biasa urusan anak dan papanya. Ini ...?”
”Mereka papa sama mama dari Jogja, kebetulan baru datang tadi pagi dan Bang Malik malah membawanya ke sini,” ucap Hana.
”Oh, jadi kita besan ya? MasyaAllah, selamat datang ya di rumah ini. Ya begini ini rumahnya Malik apalagi ada Emil yang kadang membuat isi rumah jadi berantakan,” canda Maryam.
”Kita juga terima kasih karena diundang dalam acara ini dan lagi Malik gak hanya pria tampan tapi juga bertanggung jawab kami titip putri kami Hana padanya,” tutur Rita terharu dengan penyambutannya ini.
”Aduh Jeng, ini santai saja, kami juga berterima kasih sekali karena Nak Hana mau menerima Malik yang sudah berstatus duda dengan anak satu ya, kami memang sedang mencarikan jodoh untuknya waktu itu dan Hana lah yang terpilih oleh Emil dan Malik,” jelas Maryam.
”Untung kaya dan tampan, kalau tidak mana boleh Hana menikah dengannya,” gumam Pak Soleh.
”Hana apakah persiapan untuk besok sore sudah selesai?” tanya Maryam.
”Sudah Ma, dan mungkin catering akan datang lebih awal karena mereka juga tidak mau mengecewakan Bang Malik.”
Maryam mengangguk mendengar penjelasan Hana. ”Mama gak tahu pastinya akan ada berapa banyak tamu yang datang nantinya tapi yang pasti kita memang akan menyediakan door prize juga buat tamu undangan nantinya,” jelas Maryam.
”Wah, Anda memang hebat kami ikut senang mendengarnya,” sahut Pak Soleh mengacungkan dua jempolnya pada Maryam.
”MasyaAllah ramai sekali rumah kamu Malik, papa senang kau kembali menikah setidaknya ada teman tidur buatmu di malam hari,” seru Daniel membuat semua orang mengarah pada suara tersebut.
”Apaan sih Papa, bicaranya kok begitu ada mama dan papa mertuaku di sini,” sela Malik malu mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Daniel.
”Kenalkan ini papaku tapi ya memang begini orangnya,” ucap Malik mengenalkan Daniel pada Hana dan juga kedua mertuanya.
”Kamu?”
Daniel dan Soleh saling menunjuk satu sama lain.
__ADS_1