Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
77. Namanya Aydan


__ADS_3

”Kamu yakin bisa mengurus mereka sendirian? Tadi mama bilang jika beliau mau menginap di sini buat bantu kamu setidaknya sampai kau benar-benar bisa melakukannya sendiri,” ucap Malik.


”Mama kemarin juga udah bilang kok Bang, kirain Hana mama gak akan bicara lagi.”


Malik menghela nafasnya kemudian. ”Namanya juga orang tua, mereka lebih faham dengan kondisi kita Sayang karena mereka sudah pernah melalui fase yang sedang kita alami saat ini. Kamu sendiri ditawari pengasuh gak mau, Abang harus bagaimana coba?”


”Bang, mohon Abang ngertiin Hana ya, please! Hana mau lakuin ini sendiri dan lebih baik Hana minta mama buat bantuin daripada harus ambil pengasuh.”


”Baik besok Abang akan meminta mama ke sini biar bisa bantuin kamu, sekarang istirahat gih biar Abang yang gantian jaga baby.”


Inilah yang dilakukan Malik di malam hari dia akan begadang menjaga putra bungsunya itu bergantian dengan Hana. Malik membiarkan Hana beristirahat dia tahu jika istrinya sangat kelelahan apalagi Emil belum bisa menerima adiknya sepenuhnya.


Hingga pagi menjelang Malik hanya dapat memejamkan matanya selama satu setengah jam alhasil pusing melandanya pagi ini.


”Bik, obat migrain ku kenapa gak ada di kotak obat?” tanya Malik begitu mendaratkan bokongnya di meja makan.


”Loh, perasaan masih banyak atau diambil Non Hana siang dia mengeluh sakit kepala,” ungkap Bik Surti.


Malik pun bangkit dari duduknya dan segera ke kamarnya dan benar saja obat yang dicarinya ada di atas nakas dekat tempat tidur Hana.


”Sayang kau meminum obat ini?”


”Iya kemarin kepalaku pusing sekali jadi aku meminumnya, ada apa?”


Malik melangkah menghampiri Hana dan memeluknya, ”Istriku ini pasti capek sekali ya, maafkan Abang.”


”Abang kenapa jadi melow begini?” balas Hana membalas pelukan Malik.


”Kalau siang istirahat yang cukup jika si kecil tidur bukankah kamu juga bisa ikut tidur,” ucap Malik.


”Gak bisa Bang, kalau si kecil bobo otomatis aku menghandle Emil karena dia sendiri gak mau diduakan. Mau gak mau Hana harus mengikuti kemauannya, tapi Bang Malik gak perlu khawatir Hana sedang kasih arahan pada Emil pelan-pelan supaya dia gak terlalu merepotkan.”


”Ya maafkan Abang yang udah salah pikir, Abang ke bawah dulu sekalian antar Emil ke sekolah.”


”Loh Abang gak ke kantor?”


”Ngantor lah nanti rada siangan selepas jemput Emil dari sekolah, kamu udah siapin perlengkapannya kan?”


”Udah kok, tapi anaknya belum bangun tadi aku bangunkan katanya masih ngantuk gitu.”


”Ya udah Abang ke bawah lagi ya.” Malik kembali ke dapur mengambil air minum.


”Pa, Emil boleh libur gak?”


Malik hampir tersedak mendengar perkataan putranya itu. ”Memangnya Emil sakit?”


Bocah itu menggeleng pelan.


”Lalu kenapa mau libur, belajar itu wajib Sayang jadi Emil gak boleh libur selagi badannya sehat. Mengerti?”


Emil mencebik mendengar penjelasan Malik, ”Papa pelit!”

__ADS_1


”Astaghfirullah yang benar saja, papa gak akan pelit sama kamu justru papa ini adalah papa yang paling baik sedunia,” seru Malik.


”Ck! Kalau baik itu pasti udah kasih ijin Emil buat gak ke sekolah. Ya udahlah biar nanti Emil sama mama aja.”


”Udah jangan mengeluh buruan mandi mama udah siapin semuanya masa kamu gak jadi berangkat kamu gak kasihan sama dia yang udah bangun pagi nyiapin kebutuhan sekolahmu.”


Emil bergegas kembali ke kamar untuk persiapan sekolah.


”Loh Emil mana Bang apa dia belum turun?”


”Dia ngambek dan gak mau ke sekolah, tapi lihat saja nanti semoga dia berubah pikiran mau ke sekolah.”


”Nanti aku bujuk lagi biar dia mau pergi ke sekolah, dia udah ketinggalan belajarnya karena kemarin seminggu gak berangkat.”


”Kamu tenang saja dia kan anak yang cerdas dan cepat nangkap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Percaya saja dia pasti bisa.”


”Ya sudah aku mau kasih ASI sama si kecil dulu."


”Tunggu Sayang, ngomong-ngomong bagaimana usulan nama dari Emil buat anak kita?”


”Aydan.”


”Oke kita sependapat.”


***


”Ma, bagaimana keadaanmu sekarang?” Flo menjenguk Lani yang tengah terbaring di rumah sakit.


”Sudah tapi ... ”


”Tapi apa?” potong Lani.


”Sebaiknya mama fokus dengan penyembuhan dulu, setelah sembuh tinggallah di apartemenku.”


”Kenapa harus di sana bukankah kau sudah menemukan papamu?” Lani mulai curiga dengan sikap anak tirinya itu.


Flo terdiam sejenak.


”Apa terjadi sesuatu dengannya?” lanjut Lani.


”Ya. Papa ingin Flo yang menjaga mama.”


”Apa? Lalu dimana pria itu?”


”Sekarang papa tidak tinggal di sini melainkan di Jakarta.”


”Apa? Kenapa bisa begitu? Lalu siapa yang mengurus perusahaannya?”


”Perusahaan mana?”


”Ya perusahaannya tentu saja papamu itu kaya, ingat itu!”

__ADS_1


Flo tertawa kecil mendengarnya, ”Mama lupa jika papa sudah bangkrut dia bukan lagi seorang bos sekarang.”


”Tidak mungkin papamu tidak akan pernah bangkrut karena usahanya sangat banyak dan tidak hanya satu atau dua perusahaan.”


”Itu dulu Ma, nyatanya papa sekarang bukanlah papa yang dulu banyak uang, aku pernah bertemu dengannya di Jakarta waktu itu Flo baru saja pulang dari rumahnya Bang Malik menantu kesayangan mama itu.”


”Penampilannya udah tidak sama dengan yang dulu, bahkan miris sekali jika disebut dengan kata bos!”


”Astaga kau tidak sedang bercanda kan?”


Flo menggeleng, ”Untuk apa aku berbohong mama tahu bagaimana aku bukan?”


”Pasti ada yang tidak beres tidak mungkin papamu menyerah begitu saja.”


Flo mengedikkan bahunya, ”Mana Flo tahu yang jelas mana mungkin aku berbohong untuk hal seperti ini, apa untungnya buatku.”


Lani mencoba mencerna perkataan Flo ada benarnya jika memang anak tirinya itu tidak berbohong padanya lalu yang jadi masalahnya kenapa hal itu bisa terjadi, apakah suaminya itu ditipu oleh temannya sendiri.


”Apa nomor ponselnya masih aktif?” tanya Lani lagi.


”Dia sudah tidak lagi memegang ponsel seperti biasanya karena memang dia bukan lagi orang penting!”


”Astaga, kenapa mama merasakan sesak sekali mendengarnya.”


”Maka dari itu setelah ini tinggallah di apartemenku lupakan papa, mulailah hidup dari nol lagi.”


"Mama tidak mau, tolong antarkan mama ke Jakarta dimana kau bertemu dengan papamu itu. Mama tidak percaya jika belum melihatnya sendiri karena yang mama yakini papamu itu sangat kaya.”


”Astaga kenapa mama ngotot begitu,” kesal Flo.


”Apa susahnya kamu mengantarkan mama ke sana."


”Masalahnya aku sedang tidak ada uang Ma, karena aku sedang sepi job!”


”Masa kau tidak memiliki uang sama sekali, itu mustahil!” Lani menggelengkan kepala.


”Mama bisa mengeceknya sendiri ATM ku kosong!” ucap Flo penuh penekanan.


”Baiklah kalau begitu jual saja sisa perhiasan yang mama miliki, kita berangkat ke Jakarta secepatnya.”


”Tidak bisa,” bantah Flo.


”Kenapa?”


”Karena mama belum sembuh dan lagi siapa yang akan membayar biaya rumah sakit ini? Lebih baik jual semua perhiasannya dan segera lunasi biaya rumah sakit ini, itupun jika mama ingin segera keluar dari rumah sakit ini.”


”Kau sama sekali tidak mau bantu mama?”


”Astaga, berada kali Flo katakan, Flo tidak memiliki uang!”


Lani lemas seketika, keinginannya untuk pergi ke Jakarta pupus sudah.

__ADS_1


__ADS_2