Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
63. Menunggu Kabar


__ADS_3

”Hujannya lumayan lebat ya, Emil dimana Bony kenapa dia tidak terlihat?” Hana mencari-cari kucing kesayangan Emil.


”Palingan sedang mainan di samping rumah Ma, biarkan saja nanti juga dia kembali,” sahut Emil.


”Hujannya lebat loh Nak, kalau dia sakit bagaimana? Di luar itu dingin! Mama akan cari dia kamu diam ya di sini, Om Alvin tidur kan?”


”Iya Ma,” balas Emil dengan segera Hana meninggalkan Emil mencari kucing kesayangan putranya itu.


”Bony ... kamu dimana? Bony ... kemana dia kenapa tidak terlihat,” gumam Hana.


Hana berjalan keluar melihat ke rumah kaca barangkali terlihat kucing yang sedang dia cari.


Nihil, tak terlihat sama sekali Hana berbalik dan terkejut melihat kucingnya sedang meringkuk kedinginan karena kehujanan.


”Astaghfirullah Bony.” Dengan cepat Hana membuka pintu kacanya dan keluar untuk menggendong kucing tersebut namun dia lupa jika lantainya licin alhasil dia terpeleset dan jatuh.


”Awwh ... Emil tolong mama!” teriak Hana.


”Astaghfirullah darah,” ucap Hana terkejut melihat darah yang keluar.


”Mama,” teriak Emil.


”Om Alvin, Bik Surti tolong mama cepetan!” teriak Emil seraya menangis tersedu-sedu.


”Mama maafin Emil Ma, karena Emil mama jadi begini.”


”Astaghfirullah Non Hana, Den Alvin ayo cepat tolong Non Hana bawa ke rumah sakit sekarang juga!”


”Cepat panggil taxi Bik!”


”Gak perlu Den, pakai saja mobilnya Pak Malik saya ambilkan kuncinya,” ucap Bik Surti segera mencari kunci mobil di laci.


”Apa perlu saya yang nyopir Den?” tawar Pak Tejo.


”Gak perlu Pak, tolong jagain Emil ya nanti saya akan hubungi Bang Malik setelah sampai di rumah sakit.”


”Siap.”


Alvin mengemudikan mobil dengan serampangan karena dia dalam kondisi panik bahkan beberapa kali bunyi klakson mobil berbunyi kencang memprotes kelakuannya. Begitu tiba di rumah sakit Alvin langsung berteriak meminta perawat membantunya.


Hana pun dibawa ke ruang tindakan dan langsung ditangani oleh Dokter Septian sendiri. Bolak-balik Alvin berjalan di depan pintu setelah menghubungi Malik kakak iparnya berharap dia segera datang menyusulnya.


”Bagaimana keadaan kakak saya Dok?” tanya Alvin khawatir.


”Anda ...”


”Saya adiknya Hana, bagaimana keadaannya Dok?”


”Oh begitu, dia dan calon bayinya baik-baik saja beruntung cepat dibawa ke sini jika tidak mungkin janinnya tidak tertolong.”

__ADS_1


”Syukurlah terima kasih atas pertolongannya Dok.”


”Sama-sama saya mau keliling memeriksa pasien yang lain, permisi.”


Dokter Septian pun meninggalkan ruang rawat tersebut.


Alvin masuk menatap kesal pada kakaknya yang membuatnya hampir mati karena harus ngebut di jalanan.


”Maaf,” ucap Hana.


”Ish, kau benar-benar membuatku gila Kak. Banyak orang di jalan yang mengecam tindakanku karena mengemudikan mobilnya ugal-ugalan.”


”Maaf Vin, namanya juga kecelakaan.”


”Aku udah kasih tahu Bang Malik bentar lagi dia pasti sampai.”


”Kalau dia marah bagaimana ya Vin?” Hana khawatir jika Malik akan memarahinya karena dia kecerobohannya itu.


”Gak akan dia gak akan marah tenang saja Kak, yang jelas Kakak harus jujur mengatakan semuanya.”


”Emil sendiri bagaimana Vin?”


”Ya ampun Kak, tolong jangan mikirin yang lain dulu deh fokus dengan diri sendiri sekarang. Emil udah ada yang urus pasrahkan saja semua pada Allah,” seru Alvin semakin gemas dengan sikap kakaknya itu.


”Kamu kok jadi lebih galak dari kakak,” ucap Hana memalingkan wajahnya kesal dengan sikap Alvin.


”Dah lah capek, Alvin mau rebahan dulu di sofa sambil nunggu Bang Malik datang.” Alvin meninggalkan Hana dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sesekali dia melirik ke arah Hana, rasanya tidak tega apalagi tadi saat dia meringis kesakitan di mobil. Jika dia terlambat sedikit saja pasti calon keponakannya gak ada lagi karena darah. yang keluar cukup banyak.


”*Hallo Bang, kau sudah sampai?”


”Di kamar mana Hana dirawat?”


”Anggrek No.5 Bang.”


Bip*.


Malik mempercepat laju langkahnya ke kamar Hana.


”Sayang, kau baik-baik saja kan?” seru Malik begitu melihat Hana terbaring dengan selang infus yang masih menancap di punggung tangannya.


”Bang Malik,” lirih Hana.


”Bagaimana ini bisa terjadi hem, bukankah kamu sedang bersama Emil dan Alvin di rumah.”


”Aku tidak sengaja Bang tolong jangan marah ya,” lirih Hana.


Malik menggelengkan kepala, ”Yang penting sekarang kau dan calon anak kita baik-baik saja.”


”Alvin, kau bawa sendiri mobil di rumah?”

__ADS_1


”Iya Bang, tadi aku minta kuncinya sama Pak Tejo nunggu taxi juga kelamaan makanya langsung tancap gas.”


”Gak apa kalau kamu mau kamu bisa ambil mobilnya daripada terbengkalai di garasi.”


Alvin menoleh ke arah Hana.


”Gak perlu Bang karena di rumah juga gak ada garasi, dari sebelum aku nikah mau benerin bagian samping tapi belum juga terwujud eh malah udah sampai nikah sekarang gak terealisasi juga.”


”Gak masalah biar besok Abang cari tukang buat bikin garasi dan Alvin bisa pakai mobil itu.”


”Udahlah jangan bertengkar Alvin jadi pusing.”


”Kapan kau bisa balik?” tanya Malik.


”Nunggu infusnya habis baru bisa pulang Bang, Kak Hana juga harus minum vitaminnya sepertinya hari ini dia belum minum jadi oleng dan jatuh.”


”Baiklah mulai sekarang biar Abang yang pantau langsung keadaannya Abang juga gak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”


***


”Bik, apa mama sudah ada kabar?” tanya Emil khawatir karena sejak Hana dibawa Alvin ke rumah sakit belum ada lagi kabar sama sekali.


”Belum ada Den Emil, lah Bik Surti bingung mau hubungi siapa memangnya Den Emil punya nomor ponselnya Om Malik?” balas Bik Surti.


Emil menggeleng pelan, ”Telepon papa saja Bik, Emil yakin pasti Om Alvin sudah kasih kabar ke papa.”


Bik Surti segera mengambil telepon rumahnya dan menghubungi bosnya.


”*Hallo ada apa Bik?”


”Ini Emil nanyain Non Hana terus, bagaimana keadaannya Pak Malik?”


”Oh, katakan padanya jika Hana baik-baik saja sejam lagi bisa pulang ke rumah.”


”Begitu ya, baiklah nanti saya sampaikan pada anaknya. Kasihan sejak tadi dia gak bisa tenang.”


”Iya Bik, katakan saja mamanya baik-baik saja jadi jangan cemas.”


”Baik, saya tutup teleponnya.”


Bip*.


”Mama baik-baik saja Den, jadi tolong jangan khawatir nanti sekitar satu jam lagi bisa pulang ke rumah.”


”Beneran Bik, bagaimanapun mama jatuh karena mau menolong Bony jika saja Bony tidak nakal tadi siang mama Hana tidak akan jatuh dan masuk rumah sakit.”


”Sudah jangan dibahas lagi, doakan saja yang terbaik untuk mamanya ya. Kita tunggu saja sampai mama pulang,” ucap Bik Surti menenangkan Emil.


Tin ... tin ...

__ADS_1


”Nah itu dia mama sama papa pulang,” ucap Bik Surti.


”Mama ...” teriak Emil namun senyumnya hilang begitu melihat siapa yang datang.


__ADS_2