
”Apa di sini ada yang golongan darahnya A?” tanya Suster pada Faris yang tengah menunggu di depan pintu amar bersalin.
”Memangnya kenapa dengan istri saya Sus?” balas Faris cemas.
”Ibu Sabrina mengalami pendarahan dan membutuhkan transfusi darah segera.”
Faris bingung kemana dia harus mencari golongan darah yang sama dengan istrinya, apalagi mertua dan kakak iparnya belum datang. ”Saya usahakan segera Sus, tunggu keluarganya datang ya.”
”Baik tapi tidak boleh berlama-lama karena kami juga harus memastikan keadaan pasien.” Suster pun pergi meninggalkan Faris yang masih kebingungan berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Baginya tak ada pilihan lain selain menunggu keduanya, Maryam dan Malik.
Sesekali Faris melirik jam tangannya, ”Kenapa Bang Malik belum juga datang sih,” gumam Faris dirinya sangat cemas ini adalah hal yang pertama kali dia alami, momen penting karena dia akan menjadi seorang ayah. InsyaAllah.
Dari kejauhan terlihat Malik datang dengan sedikit berlari ke arah Faris.
”Syukurlah kau segera datang Bang, Sabrina butuh bantuan dia pendarahan dan harus segera mencari donor darah.”
”Apa? Dimana Dokternya?” Malik ikut panik.
”Ada di dalam ruang operasi, nah itu suster yang menangani Sabrina. Suster, ini kakak kandungnya istri saya golongan darahnya sama dengannya.”
Suster tersebut pun mengangguk, ”Ikut saya Pak!” Malik segera mengikuti langkah suster masuk ke sebuah ruangan setelah melewati serangkaian tes kesehatan Malik pun mulai mendonorkan darahnya selang infus menancap di lengannya.
Malik tergolek di tempat tidur setelah melakukan transfusi dia beristirahat sebentar sebelum menemui adiknya yang sudah selesai melakukan operasi sesar.
”Maafkan aku ya Bang, aku jadi merepotkan Abang,” sesal Faris.
”Tidak perlu meminta maaf karena itu bukan salahmu lagian sudah jadi jalannya Sabrina melahirkan dengan cara operasi. Bagaimana keadaannya sekarang?”
”Alhamdulillah sudah dipindahkan ke kamar rawat inap dan tinggal menunggu dia sadar, anakku lucu sekali Bang, cantik kayak mamanya.”
”Syukurlah kalau begitu,” sahut Malik. Tiba-tiba Malik bangun dan mengajak Faris untuk menemui Sabrina.
”Abang yakin sudah baikan?”
”Iya, lagipula aku tidak bisa berlama-lama di sana apalagi bau obat,” ucap Malik dia jadi teringat saat dulu menemani Emil bolak-balik ke rumah sakit dia harus menahan diri meskipun dirinya tidak kuat semua dia lakukan demi rasa cintanya pada putranya.
Malik masuk ke ruang VIP room di sana Sabrina tengah terbaring dengan box bayi di samping ranjangnya. Malik bersyukur dia masih memiliki kesempatan untuk menolong adik satu-satunya yang paling dia cintai.
”Keponakanku cantik sekali.” Malik memperhatikan bayi perempuan yang sedang terlelap di box bayi. Keduanya tak menyadari jika jari tangan Sabrina mulai bergerak pelan. Ya perlahan Sabrina membuka kedua matanya, samar-samar.
”Alhamdulillah kamu sadar juga, apa ada yang sakit?” tanya Faris khawatir. ”Aku panggilkan Dokter ya?” Faris hendak melangkah pergi namun tangannya dicekal oleh Malik.
”Gak perlu biar aku yang panggilkan.” Malik segera melangkah keluar mencari Dokter.
__ADS_1
”Makasih Sayang, bayi kita perempuan cantik sekali kayak kamu,” ucap Faris sementara Sabrina hanya tersenyum samar.
Malik datang bersama dengan seorang dokter dan suster. Dokter pun langsung bertindak cepat memeriksa pasien.
”Bagaimana keadaan istri saya Dok?” Faris masih belum bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban dari Dokter yang menangani istrinya itu.
”Alhamdulillah semua berjalan lancar berkat ijin dari Allah juga, semoga cepat pulih ya Bu. Jika ada keluhan jangan sungkan untuk berkonsultasi pada kami,” ucap Dokter.
Faris mengangguk, ”Terima kasih.”
Malik mengambil alih bayi yang ada di tangan Faris, bayi lucu yang sangat cantik mirip dengan adiknya Sabrina.
”Apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya?” tanya Malik sesekali menatap gemas pada bayi tersebut.
Sabrina dan Faris saling pandang. ”Belum Bang, karena kita masih yakin jika bayinya laki-laki tapi ternyata perempuan.”
”Kasih nama Aiza Humairah bagaimana?” saran Malik.
”Nama yang bagus,” ucap Sabrina mengangguk.
”Aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi mengajak Hana dan mama pasti beliau sudah pulang.” Malik berpamitan pada keduanya.
”Abang yakin bisa mengemudi? Maksudku Abang kan habis mendonorkan darahnya,” tanya Faris khawatir.
***
”Bagaimana keadaan Sabrina, Bang?” tanya Hana begitu Malik keluar dari kamar mandi karena begitu pulang dari rumah sakit dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Begitupun dengan Hana yang sengaja membiarkan suaminya lebih dulu, memberi waktu untuk dirinya membersihkan diri. Malik tidak langsung menjawab dirinya duduk di tepi ranjang dan meminta Hana untuk ikut duduk di sampingnya. Hana pun menurut dan segera naik di samping suaminya.
”Sabrina baik-baik saja kok, dia sempat pendarahan tadi dan beruntung Abang tadi segera sampai di sana.”
Hana mengerjap mendengar penjelasan dari Malik. ”Jangan tanya jenis kelaminnya ya, kamu pasti sudah tahu.”
”Ya kalau tidak laki-laki ya perempuan,” ucap Hana membuat Malik tertawa. Hana mencebikkan bibirnya melihat respon suaminya.
”Ya begitulah, anaknya perempuan cantik kayak Sabrina.”
”Istirahat yuk! Abang lelah sekali hari ini,” ajak Malik.
Keduanya pun terlelap kemudian, hingga suara Aydan menangis membangunkan Hana dilihatnya jam di atas nakas. Tepat jam tiga anak itu membangunkan Hana, dengan cepat Hana menyambar jilbab instannya dan menuju ke kamar sebelah. Dilihatnya aydan sudah terjaga dengan selimut yang telah terbuka kemana-mana. Hal yang sudah biasa Hana alami ketika menjelang adzan subuh dirinya selalu dibangunkan oleh Aydan.
Hana membereskan semuanya dan segera ke dapur mengecek bahan makanan untuk sarapan ditemani Bik Surti.
__ADS_1
”Bik, nanti siang masak sop buntut ya. Hana udah lama gak makan, biasanya Bang Malik ada bawain ke rumah ini udah beberapa pekan sepertinya dia lupa mampir ke tempat langganan.”
”Iya nanti ke pasar dulu Non, ada beberapa bahan yang habis soalnya.”
”Tuh Aydan sama Den Malik,” tunjuk Bik Surti pada Malik yang sedang menuruni tangga.
”Maaf Bang merepotkan, kok Abang belum ganti baju kerja?”
Hana mengambil Aydan namun bocah itu menolaknya dan menggoda Hana membuatnya makin senang karena anaknya sudah bisa diajak bermain.
”Abang ke kantor tapi nanti, setelah urusan Faris beres soalnya Abang juga mau antar mama dulu ke sana.”
”Non Sabrina bayinya laki apa perempuan Den?” Bik Surti ikutan kepo.
”Perempuan Bik, cantik kayak mamanya.”
”Alhamdulillah berarti Nyonya Maryam bahagia ini karena cucunya komplit ada cowok, cowok, cewek,” ucap Bik Surti diiringi tawa bersama.
”Ya sudah Abang mandi dulu ya, nih baru aja ngompolin papa kan?” seru Malik.
”Udah buruan mandi sana Bang!”
Malik segera ke kamarnya sedangkan Hana menggendong Aydan.
Ting tong ...
Suara bel pintu utama berbunyi, ”Biar aku buka Bik.”
Hana segera menuju ke pintu utama untuk membuka pintu, perlahan pintu terbuka.
”Hallo mbak, apa mbak asisten rumah tangganya Malik, maksud saya Pak Malik.”
Hana terdiam seketika mendengar perkataan wanita yang ada di depannya. Apakah dirinya seperti seorang pembantu sehingga wanita di depannya berani mengatakan hal itu.
”Maaf Anda siapa ya, bisa lihat kartu identitasnya?” ucap Hana.
Wanita yang ada di depan Hana tampak tidak suka dengan gelagat Hana yang seakan sedang menantangnya.
”Cindy,” seru Malik. Hana menoleh ke belakang suaminya tengah menghampiri mereka berdua.
”Ada apa kamu datang ke sini?” tanya Malik. Hana menatap kesal pada suaminya.
”Tolong kasih tahu sama dia, Bang! Siapa aku yang sebenarnya.” Malik kebingungan dengan sikap istrinya itu.
__ADS_1
”Maksudnya bagaimana Sayang?” Malik semakin tak mengerti dengan sikap Hana sekarang.