
”Kok cemberut saja ada apa Mas?” tanya Ayu yang melihat Eric pulang ke rumah dengan wajah masam.
”Aku gak mau kerja di bagian gudang angkat-angkat barang berat emangnya siapa dia main perintah saja!” kesal Eric seraya duduk di ruang tamu.
Dewi yang melihat putranya pulang pun segera membuatkan minuman untuknya. ”Memangnya kau benar-benar menemui Hana?”
”Tidak Bu, aku hanya menemui mamanya Hana karena sekarang Hana ikut suaminya kebetulan kemarin aku ke sana dan mamanya yang ada di rumah,” jelas Eric.
”Nak, sebaiknya kau usaha sendiri di rumah kau bisa jualan gorengan atau bakso misalnya,” tawar Dewi dia tak ingin melihat anaknya mengemis pada Hana meskipun anaknya yang salah.
”Aku tidak mau!” tolak Eric cepat.
”Lalu jika kau tidak mau, kau mau makan apa? Ibu tidak mau kau merendahkan harga dirimu pada Hana, ingat Eric apa yang terjadi padamu saat ini adalah kesalahanmu sendiri jadi jangan lagi mengulanginya.”
”Tapi Bu, Eric hanya mau kembali bekerja seperti biasa itu saja dan Eric janji gak akan mengulangi kesalahan yang sama,” ungkap Eric terlihat jelas sekali raut penyesalan di wajahnya.
”Ibu tahu, masalahnya sekarang Hana itu sudah bersuami dan apapun keputusannya tidak mungkin dia ambil sendiri pastilah dia akan meminta pendapat suaminya,” jelas Dewi.
”Ibu ada simpanan uang kau bisa pergunakan untuk usaha jualan bakso di depan kampus sebrang jalan sana pasti laris karena biasanya banyak anak kampus yang nongkrong di pinggir jalan.”
"Bu, Eric malu jika harus berjualan masa iya wajah tampan begini jualan bakso keliling,” keluh Eric.
”Terserah kau saja, ibu hanya memberi saran diterima atau tidak itu urusanmu dan ibu tidak berhak memaksamu,” ucap Dewi segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.
”Duh Mas kamu ini ya tinggal bilang 'iya' saja sama ibu apa susahnya sih kalau sudah begini bagaimana coba? Kan lumayan uangnya bisa buat arisan sama beli susu hamil.”
”Kamu bisa diem gak sih Yu? Kamu gak tahu ya bagaimana malunya aku karena harus mengemis pekerjaan pada suaminya Hana. Jika sampai aku tidak dapat kerja, mau makan apa kau nanti atau kamu mau bekerja menggantikan aku?”
”Ck! Jangan harap itu terjadi Mas, aku itu istrimu tukang rusukmu jangan kau paksa ku menjadi tulang punggung keluarga ini,” balas Ayu tak kalah pedas.
”Maka dari itu lebih baik kau diam daripada salah bicara, aku tidak mau merepotkan ibuku sebejat-bejatnya diriku, aku masih punya harga diri untuk tidak meminta padanya karena seharusnya aku yang memberikannya nafkah karena beliau itu seorang janda.”
Ayu terdiam setelah Eric mencecarnya dengan rentetan kalimat itu.
”Lalu bagaimana denganku apakah kau juga akan memberiku tempat seperti ibumu?”
Eric mengacak rambutnya sendiri, ”Dengar ya Ayu, beliau itu bukan ibuku tapi juga ibumu jadi tolong hormati beliau sama kayak kamu menghormati ibumu.”
Ayu masih merasa kesal dan memilih pergi meninggalkan Eric di meja makan. Tak selang berapa lama Dewi keluar dan memberikannya setumpuk uang pada Eric.
”Pakailah ini buat modal usaha tolong pergunakan dengan baik, ibu percaya padamu,” ucap Dewi.
”Tapi Bu, ibu lebih membutuhkan uang ini buat bayar sekolah adik-adik,” sela Eric.
”Masih bisa ditunda dan semoga masih ada rezeqi lain jadi jangan khawatir ya.”
Eric terdiam mendengar jawaban ibunya, sungguh wanita di depannya adalah wanita hebat dan dia menyesal telah membuatnya kecewa dengan meninggalkan Hana yang jelas-jelas diinginkan oleh ibunya.
***
”Bang, kok jam segini sudah pulang,” tanya Hana melihat Malik sudah ada di ruang tengah.
”Iya Sayang, Abang sengaja pulang lebih cepat khawatir jika Emil akan kembali rewel seperti semalam,” balas Malik.
Hana meraih tas kerjanya dan menyimpannya di kamarnya. ”Dia sama sekali tidak rewel kok, malah lebih cenderung diam dan itu membuatku khawatir.”
”Di mana dia sekarang?”
”Bermain sama kucingnya yang manis di belakang bersama Bik Surti, tadi bersamaku hanya sebentar karena aku sendiri merasa sedikit pusing.”
”Sekarang bagaimana, apa masih merasa pusing?” Malik menghampiri Hana dan memegang keningnya.
”Sudah berkurang tapi rasa capeknya gak ilang-ilang gak tahu kenapa?”
__ADS_1
"Atau jangan-jangan kamu hamil?” tebak Malik.
”Gak mungkin baru juga sepekan berlalu mana mungkin langsung isi lagipula kita juga belum melakukannya lagi setelah terakhir bulan lalu,” jelas Hana.
Malik mengangguk, ”Kalau begitu bagaimana kalau nanti malam kita ulangi.”
Hana mendelik mendengar ajakan suaminya Malik.
”Kenapa?”
”Jangan bicara begitu masih siang,” ujar Hana.
”Berarti mau ya?” Malik memainkan kedua alisnya membuat Hana tidak dapat menahan tawanya dan Malik pun memeluknya dengan erat dari belakang.
”Abang ganti baju dulu, mau temani Emil di belakang.”
”Mm, aku ke dapur dulu ya Bang, mau nyiapin makan malam request-nya Emil.”
”Gak perlu biar delivery saja, nanti biar Abang pesankan kamu istirahat aja jangan lupa kasih tahu Bik Surti dan sekuriti biar gak jajan di luar.”
”Tumben?”
”Kenapa? Dulu Abang udah sering begini apalagi sejak Emil sakit lebih efisien waktu karena tenaga dan pikiran terfokus hanya pada dia. Dah buruan kasih tahu Bik Surti dan segera istirahat!”
Hana segera keluar dari kamarnya dan memberitahukan pada Bik Surti dan yang lainnya setelahnya dia duduk di ruang tengah menatap keluar dilihatnya Emil, Bik Surti, dan Tejo tengah bermain di kebun belakang.
”Wangi banget udah mandi?” tanya Hana.
”Udah dong, masa udah cakep gini belum mandi,” balas Malik duduk di sebelah Hana.
Malik terlihat berbeda Hana memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan.
”Lihat dia begitu bahagia,” ucap Hana menunjuk ke arah Emil.
”Abang juga udah jadi papa yang baik untuknya, nanti malam jangan lupa ya buat kabulkan permintaannya,” goda Malik mendongakkan wajahnya ke arah Hana.
”InsyaAllah, ponselnya Bang ada telepon masuk tuh!”
Malik segera mengambilnya.
’Faris calling ...’
”Hallo, ada apa?”
”Bang apa kau sedang di rumah sekarang?”
”Iya, ini sedang duduk bareng istri ada apa?”
”Oke. Aku dan Sabrina sedang meluncur ke rumah mau bermain dengan Emil.”
”Datanglah ajak dia main jangan jadi Om yang tidak tahu diri.”
”Astaga Abang kok ngomongnya gitu sih, padahal sejak dulu aku selalu perhatian padanya.”
"Sudah jangan banyak bicara segera ke sini.”
Bip.
Malik menggulir ponselnya kembali menelpon seseorang.
”Hallo apa ada tambahan lagi Bos?”
”Iya benar Chef, tolong tambahkan daging sirloin karena adikku ke sini.”
__ADS_1
"Oke ada lagi?”
”Tidak cukup itu saja, jangan lupa jam tujuh tepat ya.”
”Siap Bos!”
”Oke terima kasih.”
Bip.
Malik menaruh kembali ponselnya di meja. ”Faris sama Sabrina sedang dalam perjalanan ke sini,” ucap Malik.
”Mereka berdua kapan nikah Bang?” tanya Hana.
”Kurang tahu karena mereka bilang masih nyaman dengan hubungan yang sedang mereka jalani saat ini.”
”Jangan lama-lama Bang, tidak baik dilihat orang bisa menimbulkan fitnah pada akhirnya jika mereka sudah saling mencintai kenapa gak dihalalkan saja,” usul Hana.
"Sabrina itu adik Abang loh, cantik lagi sayang jika hanya dibawa kesana kesini tanpa ikatan pasti.”
”Mereka itu sudah bertunangan Sayang, tinggal nunggu waktunya saja karena Sabrina pengin tahun depan baru nikah.”
"Hah, tahun depan? Lalu apakah selama menunggunya sudah jaminan Faris tidak selingkuh darinya ataupun sebaliknya? Alasannya apa Bang kenapa menunggu terlalu lama?”
”Abang kurang tahu privasi sih katanya sabrina juga gak terbuka sama Abang,” keluh Malik.
”Itu karena Abang sibuk dengan kehidupan Abang coba sedikit waktu buat bicara dari hati ke hati dengan dia, aku yakin Sabrina akan terbuka.”
”Nanti Hana cari tahu, kasihan jika mereka saling menggantungkan hubungan satu sama lain.”
Faris dan Sabrina pun datang mereka bermain bersama dengan Emil di ruang tengah hujan mulai turun, cukup deras setelah makan malam selesai Hana segera menyiapkan semua kebutuhan Emil.
”Mbak, aku mau nginap di sini ya,” ucap Sabrina.
”Boleh.”
”Tapi aku tidur di kamar Emil, aku mau temani dia tidur nanti Faris biar di kamar tamu di bawah.”
”Sudah bilang sama Bang Malik belum kalau kamu menginap di sini lalu mama bagaimana di rumah?”
”Sudah kok, mama ada di tempat saudaranya,” balas Sabrina.
”Baik, aku siapkan selimutnya dulu ya.” Hana segera membuka lemari mencari selimut untuk adik iparnya lalu keluar menemui Malik.
”Darimana saja kamu, sejak tadi Abang mencari?”
”Kamar Emil, itu Sabrina mau menginap apa Abang udah tahu?” tanya Hana.
”Sudah, Faris yang kasih tahu barusan itu Bik Surti juga sedang menyiapkan kamar untuknya. Apa Emil sudah tidur?”
”Iya ada tantenya yang jagain bilangnya dia mau tidur bareng Sabrina ya udah.”
”Yuk ke kamar biar sisanya semua dibereskan sama Bik Surti lagian dapur kan sudah beres.”
Malik dan Hana masuk ke kamarnya dan dengan cepat Malik mengunci pintunya.
”Kita lakukan sekarang ya Sayang,” bisik Malik membuat Hana tersipu malu mendengar ajakan suaminya.
”Tapi Bang, aku belum berias diri,” ucap Hana.
”Tidak perlu tanpa berias pun kau sudah cantik.”
Malik pun menyambar dan ******* bibir Hana membuatnya tidak dapat menahan diri dari serangan suaminya.
__ADS_1
Malik pun segera menggendongnya membawanya ke ranjang menghabiskan malam panas yang sejak beberapa hari yang lalu selalu tertunda.