Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

”Bagiamana keadaannya Sus?” tanya Alvin begitu sampai di rumah sakit.


”Sudah membaik apakah Anda saudaranya?” balas Suster.


”Bukan, saya temannya di sini.”


”Karena saya tidak asing dengan wajahnya sepertinya saya kenal dengannya, apa benar dia seorang model?”


”Iya benar, astaga bukankah kalian ini adalah model tempat tidur sering bed yang terkenal itu? Boleh saya minta tanda tangannya? say salah satu fans kalian berdua.”


”Baik.”


Setelahnya Alvin menuju ke kamar rawat Angela.


”Dasar bodoh kenapa kau melakukan hal ini huh!” kesal Alvin.


”Apa maksudmu? Itu kecelakaan dan aku sendiri tidak menyangka jika akan mengalaminya memangnya kau pikir aku mau terluka?”


”Oke, maafkan aku. Mana yang sakit?” Alvin memberikan perhatian lebih pada Angela karena Alvin pikir Angela sangat membutuhkannya terlebih gadis itu tidak memiliki saudara di Jakarta.


”Aku mau balik saja ke negaraku,” ucap Angela kemudian.


”Kenapa bisa begitu?” Terkejut tentu saja Alvin tidak mau berpisah dengan Angela.


”Pekerjaanku sudah selesai di kantornya Pak Malik jadi lebih baik aku pulang dulu, mungkin lain waktu aku akan datang ke sini,” papar Angela.


”Tidak boleh!”


”Kenapa?”


”Karena aku mencintaimu, tolong jangan pulang aku akan bicara baik-baik dengan mama dan akan menikahi dirimu secepatnya ku mohon kau bersabarlah.”


”Are you sure!”


”Of course baby.”


”Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari mama tapi kau juga harus tetap di sini ya,” bujuk Alvin.


Angela hanya mengangguk setuju dengan permintaan Alvin karena dia sendiri pun mencintai pria yang ada di hadapannya ini.


”Sus, apakah dia boleh pulang hari ini?” tanya Alvin begitu suster datang menghampiri mereka.


”Sudah yang penting Anda jangan banyak bergerak dulu karena takutnya nanti akan ada masalah lain pada jahitannya dan tiga hari nanti Anda harus kembali datang ke sini buat membuka jahitannya, mengerti!”


”Baik, terima kasih.”

__ADS_1


Kedua pun memutuskan untuk pulang Alvin mengantarkan Angela ke apartemennya dan hanya berselang satu jam saja Alvin berpamitan untuk pulang ke rumah.


”Kamu tega ninggalin aku?” tanya Angela membuat Alvin tidak dapat bersuara.


”Besok aku pasti akan ke sini Angela, aku janji.”


”Aku kita kau akan menginap lagi di sini.”


Alvin menggelengkan kepala, ”Aku ingin mendapatkan dirimu dengan cara yang baik, maka dari itu aku tidak mau jika terjadi sesuatu yang tidak aku harapkan mengerti!”


”Jangan dulu pulang tunggu nanti ya,” pinta Angela.


”Sampai kapan?”


”Sampai aku tertidur baru kau boleh pulang bagaimana?”


Alvin tampak menimbang karena dia sendiri khawatir dengan mamanya, mengingat semua nasehat kakak iparnya semua memang ada benarnya.


”Baiklah hanya sampai kau tertidur ya, setelahnya aku akan balik ke rumah. Kamu jangan khawatir karena besok pagi aku pastikan akan datang ke sini.”


”Memangnya kamu gak kerja?”


”Kamu lupa jika besok tanggal merah dan aku menolak lembur di kantor,” jelas Alvin.


”Sudahlah jangan berlebihan, sekarang kau istirahat ya,” ucap Alvin.


Dirinya sendiri sedang tidak bisa berkompromi Alvin khawatir jika Angela nekad membuatnya jatuh dan melakukan hal yang sudah berkali-kali dia tolak padahal gadis itu selalu saja menawarkannya.


Alvin tetap diam ikut berbaring di ranjang matanya terpejam namun pikirannya tidak menentu hingga sebuah tangan menyentuh rahangnya membuatnya terkejut karena Angela sudah berada dekat bahkan hampir tanpa jarak di depannya.


”Apa yang sedang kau lakukan Angela? Tolong jangan menggodaku,” ucap Alvin suaranya sudah serak Angela terlihat sangat sexy dan begitu berani menggodanya.


”Aku gak mau kamu pergi Vin, tetap di sini ya,” rengek Angela.


Alvin seakan terhipnotis dengan perkataan Angela dan hanya bisa mengangguk pasrah pada gadis itu.


”Ya Tuhan kenapa jadi begini, semoga semuanya akan baik-baik saja,” pekik Alvin dia berjuang mati-matian menahan godaan yang diberikan Angela.


***


”Sayang kau masak apa hari ini? Kenapa banyak sekali cookies di rumah?” Malik memeluk Hana menyesap wangi tubuh istrinya.


”Ini permintaan dari Emil dia ingin berbagi dengan teman sekelasnya, karena dia cocok dengan cookies buatanku dia minta bikin yang banyak dan dikemas seperti ini,” jelas Hana.


”Anak itu pintar sekali merepotkan dirimu!”

__ADS_1


”Sudah biarkan saja, aku juga sengaja bikin sekarang agar besok bisa free time bukankah besok libur jadi bisa full time menjaga mereka tanpa harus diganggu dengan kegiatan lain.”


”Aku mandi dulu ya,” pamit Malik dia sendiri sudah merasa gerah dan ingin cepat-cepat bersihkan tubuhnya.


”Sayang, buruan makan nanti segera istirahat ya, kalian pasti capek seharian bermain benar bukan?” seru Hana.


”Mama gak asyik! Apakah karena papa sudah pulang lalu mama ingin menidurkan kami berdua?” protes Emil.


”Hem, kakak bicara apa sih. Mama tidak seperti yang kau pikirkan Nak, mama tahu kalian itu lelah karena seharian ini pekerjaan kalian ini hanya bermain. Apa kamu tidur siang tadi?” tanya Hana.


Emil, bocah itu hanya menggelengkan kepalanya.


”Makanya mama minta kamu segera istirahat biar gak capek mengerti! Udah sekarang habiskan makanannya.” seru Hana.


”Ada apa ini kenapa ribut-ribut huh?” tanya Malik datang menghampiri Hana.


”Gak ada Bang udah clear!” jelas Hana.


Hana mempersilakan suaminya duduk dan mengambilkan makanan untuknya.


”Aku sudah melakukan apa yang kau minta tadi siang, sepertinya adikmu faham dengan maksudku jadi kau tidak perlu khawatir dengan keadaannya itu.”


”Syukurlah aku tidak bisa diam dan tidak menghawatirkan dirinya mama sudah berulang kali mencoba percaya tapi bisa saja kan mereka itu nekad,” ucap Hana.


”Ya namanya juga anak muda, btw nanti aku juga dapat jatah kan?” goda Malik.


”Eh mau kemana jangan menghindar!” Malik menarik lengan Hana membuatnya jatuh dip pangkuan Malik.


”Kenapa masih saja malu hem,” ucap Malik.


”Lihat di bawah sana sudah turn on, tidurkan anak-anak lebih awal ya please!”


”Iya akan aku coba nanti, karena putramu yang besar tidak seperti biasanya belakangan ini banyak protes!”


”Akh, jangan bergerak Sayang,” bisik Malik frustasi karena dia merasa Hana sedang menggodanya.


”Itu perasaan Abang saja kali, Hana gak gerak kok, udah ya Hana mau beresin dapur dulu bantuin Bik Surti gak enak dilihat mereka.”


”Abang tunggu di kamar ya,” bisik Malik mengecup singkat bibir Hana.


Malik sendiri segera ke kamarnya menahan hasratnya lebih dulu dia sudah tidak tahan lagi jika berada di dekat istrinya itu.


Malik merebahkan dirinya di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Hampir satu jam berlalu dan Malik sendiri hampir ketiduran karena Hana tidak kunjung masuk ke kamar. Hingga yang ditunggunya pun masuk ke kamar dan langsung ikut bergabung masuk ke dalam selimut.


”Ya ampun Bang,” pekik Hana begitu sadar suaminya sudah ....

__ADS_1


__ADS_2