
”Apa kamu mau pindah ke ruanganku atau tetap di ruangan lama?” tanya Malik begitu sampai di kantor. Setiap pegawai yang berpapasan mengangguk padanya.
”Aku ke ruanganku dulu lagipula gak enak jika tiba-tiba saja aku pindah,” balas Hana.
”Baiklah, tapi janji ya nanti makan siang segera ke ruanganku!”
”Baik.”
”Semua sudah siap kan?” tanya Malik pada Faris.
”Sudah berkasnya sudah masuk dan langsung aku tinggal saja tadi, ternyata orang yang mau kawin banyak banget Bang!” seru Faris.
”Husst, kamu kalau bicara sembarangan aja bukan kawin tapi nikah, kok disamain kayak kucingnya Emil saja,” tegur Malik.
”Lah emang beneran Bang, semua pada antri coba kalau aku gak datang pagi aku jamin pasti telat deh!” seloroh Faris.
”Lah kan ada jadwalnya nanti dan pihak KUA akan kasih kabar ke kita diminta datang ke sana buat bikin buku nikah.”
”Apa perlu kita umumkan ke seluruh kantor jika Abang udah nikah sama Mbak Hana?” tanya Faris.
”Jangan dulu, aku khawatir Hana tidak berkenan aku juga harus menghormati keputusannya.”
”Hem, benar-benar suami idaman,” puji Faris.
”Bukan begitu, orang sudah berkeluarga apapun itu jangan ambil keputusan sepihak tapi dibicarakan bersama-sama agar gak terjadi kesalahpahaman,” ucap Malik.
”Benar juga, sepertinya aku memang harus banyak belajar darimu Bang.”
”Btw, bagaimana dengan malam pertamanya bertahan berapa ronde semalam?” tanya Faris membuat Malik mendelik mendengarnya.
”Tolong jangan terlalu vulgar kalau bicara, lagipula aku dan dia juga belum ngelakuin apa-apa.”
”Apa? Yang benar saja Bang? Dia itu cantik loh masa Abang gak bisa mengalahkannya di ranjang.”
”Astaghfirullah, jangan berlebihan itu karena putraku Emil yang belum bisa terpisah darinya,” ucap Malik.
”Oke aku faham, tapi lucu juga membayangkan Mbak Hana yang seharusnya ada di kamar Bang Malik tapi justru harus beralih ke kamar lain memeluk putramu,” ucap Faris.
”Sudahlah mana laporan hari ini?” tanya Malik sedangkan Faris hanya menunjuk pada meja kerjanya.
”Aku keluar dulu, ada sesuatu yang harus aku urus.” Faris pergi meninggalkan Malik di ruangannya.
Tok ... tok ... tok ...
Eric masuk dengan membawa amplop coklat pada Malik.
”Ada apa kau datang ke sini?” tanya Malik menatap kesal pada Eric terlebih setelah dia menemuinya di toilet mall kemarin sore tanpa sepengetahuan Hana dan memperingatkan dirinya untuk tidak mendekati Hana kembali.
”Saya hanya mau mengembalikan apa yang saya pinjam Pak Malik,” balas Eric meletakkan uang di meja.
”Kau sudah memiliki banyak uang rupanya,” ejek Malik.
__ADS_1
”Ya lebih baik aku bertengkar dengan istriku daripada kau injak-injak harga diriku.”
”Kau itu laki-laki seharusnya memuliakan wanita bukan malah menyakitinya, apa kamu tidak malu dengan Hana? Apa kau menyesal sekarang karena kehidupan dia lebih baik dari sebelumnya?”
”Aku tidak ingin berdebat denganmu ini hutangnya aku bayar dan tolong jangan kau hina aku lagi. Permisi.”
Eric pergi meninggalkan Malik di ruangannya, kemarin sore Malik memang sengaja meninggalkan Hana dan Emil di mall beralasan ke toilet karena ingin menyusul Eric yang lebih dulu masuk ke sana. Eric tidak percaya jika Hana telah menikah dengannya dan Malik memberikan bukti cincin pernikahannya pada Eric, baru dia percaya.
Baru saja menghempaskan tubuhnya di kursi ponselnya berdering.
”Hallo, ada apa Ma?”
”Malik, Mama dengar dari Flo kau sudah menikah lagi? Siapa wanita itu apakah dia cocok dijadikan ibu pengganti buat cucuku Emil?”
”Ma, Malik minta tolong sama Mama untuk tidak sepenuhnya percaya pada Flo, karena Malik sendiri yang akan memperkenalkannya pada Mama besok saat Malik pergi ke Paris.”
”Jadi kalian akan ke sini? syukurlah Mama senang mendengarnya.”
”Iya, Malik sedang mengatur pekerjaan dulu jika memungkinkan untuk pergi nanti Malik akan mampir ke Paris.”
”Mampir ke Paris? Memangnya kau akan pergi ke mana?”
”Mama Maryam kasih hadiah tiket honeymoon ke Spanyol.”
”Ya Tuhan, apakah menantunya kali ini sangat spesial untuknya sehingga dia memberikan hadiah spesial juga untuk kalian berdua padahal dulu Tiara tidak pernah mendapatkan apapun padahal dia sudah memberikan kalian seorang cucu yang tampan dan cerdas.”
”Tidak ada yang pilih kasih di sini Ma, dulu kami tidak pergi karena memang Tiara menolak pergi jauh kesehatannya juga tidak memungkinkan waktu itu.”
”Tetap saja Mama merasakan hal yang berbeda.”
Bip.
”Sayang ada apa kau ke sini?” tanya Malik melihat Hana sudah duduk di depan meja kerjanya.
”Ini laporan soal kerjasama yang baru kok ada nama Flo apa benar dia ikut dalam kerjasama ini?” tanya Hana.
”Benar, apa kamu keberatan? Jika iya aku akan membatalkannya buat kamu,” balas Malik.
”Jangan selama itu positif ya tidak masalah aku terkejut saja karena baru tahu sekarang.”
”Iya aku ambil keputusan mendadak tempo hari saat kau pulang bersama dengan Emil,” ucap Malik memperhatikan wajah Hana dengan intens.
”Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Hana merasa malu diperhatikan suaminya sendiri.
Malik menghela nafasnya, ”Habis makan siang kita ke KUA ya.”
”Baik, ada lagi?”
”Kemarilah!” pinta Malik meminta Hana mendekat ke arahnya.
”Aku?”
__ADS_1
”Iya kamu, siapa lagi?”
Hana bangkit dari duduknya mendekati kursi Malik namun belum sampai Malik sudah menariknya lebih dulu membuat Hana terjatuh di pangkuannya.
”Aku merindukanmu,” bisik Malik.
”Jangan begini ini di kantor jika ada yang melihat bagaimana?”
”Tidak akan ada yang melihatnya percaya.”
”Apa ini?” tanya Hana dengan polosnya saat merasakan sesuatu yang aneh pada diri Malik.
”Dia bereaksi,” bisik Malik tersenyum kecil pada Hana.
”Kalau begitu aku jangan di sini.” Hana mencoba bangkit namun dicegah oleh Malik.
”Bang,” panggil Hana.
”Hm.”
”Tolong lepasin ya, nanti dilihat karyawan yang lain,” ucap Hana.
”Gak akan ada yang lihat ini kaca kalau dari luar tidak kelihatan,” ucap Malik.
Hana merasa kasihan saja jika sampai tidak tersalurkan kembali bagaimana dia akan mengatasinya nanti karena semalam pun Malik mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
”Bang nanti saja di rumah ya,” pinta Hana.
”Di rumah ada Emil yang akan mengganggu kita, aku gak akan memintanya aku hanya ingin seperti ini sebentar saja.”
Hana pun menuruti permintaan suaminya itu, Malik semakin erat memeluk pinggang Hana merengkuhnya seakan tidak ingin berpisah darinya hal yang belum pernah dia rasakan dengan istrinya yang dulu.
Hana mengusap rambut Malik gemas dengan perlakuan pria itu.
”Kau seperti bayi besar jika begini,” ucap Hana.
”Biarkan saja,” balas Malik memejamkan kedua matanya.
Tok ... tok ... tok ...
”Bang, mama memintaku mengantarkan i-ni ...”
Malik terkejut begitupun dengan Hana karena yang mereka lakukan dilihat oleh Sabrina.
”Bang, memangnya semalam belum cukup ya untuk kalian berdua?”
”Maksudnya?” Malik merasa tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Sabrina.
”Kak Tiara pernah mengatakannya padaku jika Bang Malik itu ... sudahlah lupakan!”
”Kenapa tidak dilanjutkan?” tanya Hana.
__ADS_1
Sabrina merasa salah bicara tidak seharusnya dia mengungkit kisah lalu kakaknya di depan Hana.
”Maaf,” lirih Sabrina.